DARI BUDAK MENJADI SAHABAT

Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku
~Yohanes 15:15

Pernahkah Anda secara serius memikirkan apa maksud ayat ini? Apa Yesus hanya sedang sentimental? Bagaimana sebenarnya Ia memperlakukan para murid-Nya? Sebenarnya, tak ada bedanya jika Ia menyebut para murid sebagai hamba-Nya, iya nggak?

Seringkali kita gagal memahami apa yang Yesus bilang. Yesus sedang menyampaikan sesuatu yang penting disini. Di perjanjian lama, Allah hanya punya SATU sahabat. Sekarang Yesus melipatgandakan jumlah sahabat Allah. Di perjanjian lama, Allah punya seorang sahabat bernama Abraham.

▪ Bukankah Engkau Allah kami yang menghalau penduduk tanah ini dari depan umat-Mu Israel, dan memberikannya kepada keturunan Abraham, sahabat-Mu itu, untuk selama-lamanya? (2 Tawarikh 20:7)

▪ Tetapi engkau, hai Israel, hamba-Ku, hai Yakub, yang telah Kupilih, keturunan Abraham, [sahabat] yang Kukasihi (Yesaya 41:8)

▪Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan: “Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Karena itu Abraham disebut: Sahabat Allah (Yakobus 2:23)

Pernahkah terpikir mengapa Allah memilih Abraham menjadi sobat-Nya semata wayang? Banyak yang berpikir itu karena Abraham melakukan apa yang Allah perintahkan.

Karena Abraham TELAH MENDENGARKAN firman-Ku dan MEMELIHARA KEWAJIBANNYA kepada-Ku, yaitu segala perintah, ketetapan dan hukum-Ku
~Kejadian 26:5

Benarkah itu sebabnya? Mari kita lihat konteksnya:

3Tinggallah di negeri ini sebagai orang asing, maka Aku akan menyertai engkau dan memberkati engkau, sebab kepadamulah dan kepada keturunanmu akan Kuberikan seluruh negeri ini, dan Aku akan menepati SUMPAH YANG TELAH KUIKRARKAN kepada Abraham, ayahmu.
4Aku akan membuat banyak keturunanmu SEPERTI BINTANG DI LANGIT; Aku akan memberikan kepada keturunanmu seluruh negeri ini, dan oleh keturunanmu semua bangsa di bumi akan mendapat berkat,
5karena Abraham telah mendengarkan firman-Ku dan memelihara kewajibannya kepada-Ku, yaitu segala perintah, ketetapan dan hukum-Ku
~Kejadian 26:3-5

Ini berhubungan dengan suatu kejadian penting yang mengubah hidup Abraham, saat ia memandang bintang di langit. Ini dia kejadiannya:

“1Kemudian datanglah firman Tuhan kepada Abram dalam suatu penglihatan: “Janganlah takut, Abram, Akulah perisaimu; upahmu akan sangat besar.”
2Abram menjawab: “Ya Tuhan ALLAH , apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, dan yang akan mewarisi rumahku ialah Eliezer, orang Damsyik itu.” ….
4Tetapi datanglah firman Tuhan kepadanya, demikian: “Orang ini tidak akan menjadi ahli warismu, melainkan anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu.”
5Lalu Tuhan membawa Abram ke luar serta berfirman: “Coba lihat ke langit, HITUNGLAH bintang-bintang, JIKA ENGKAU DAPAT menghitungnya.” Maka firman-Nya kepadanya: “DEMIKIANLAH BANYAKNYA NANTI keturunanmu.”
6Lalu PERCAYALAH Abram kepada Tuhan , maka Tuhan MEMPERHITUNGKAN HAL ITU kepadanya sebagai KEBENARAN.
~Kejadian 15:1-2, 4-6

Lihat ayat 6, Abraham percaya dan Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran. Ini tentang BAGAIMANA Abraham bisa mematuhi ketentuan Allah. Bukan dengan perilakunya tapi dengan IMANnya.

Saya ingin anda sadar ‘kenaikan pangkat’ yang Tuhan kita lakukan kepada murid-Nya, dari hamba menjadi sahabat, berkaitan erat dengan kejadian Abraham ini. Tuhan Yesus sedang memindahkan mereka dari perjanjian yang lama dan menempatkan mereka di bawah suatu perjanjian yang baru.

Tuhan sedang memindahkan mereka dari perjanjian berbasis perbuatan kepada perjanjian berbasis kasih karunia lewat iman. Pengangkatan para murid juga berkaitan dengan pemberlakuan ‘hukum’ yang baru, hukum Kristus. Banyak orang tidak bisa melihat beda antara hukum Musa dengan hukum Kristus.

Yohanes katakan, “Saudara-saudara yang kekasih, bukan perintah baru yang kutuliskan kepada kamu, melainkan PERINTAH LAMA YANG TELAH ADA PADAMU DARI MULANYA. Perintah lama itu ialah firman yang telah kamu dengar” (1 Yohanes 2:7).

Apa itu ‘perintah yang ada padamu dari mulanya’? Apakah 10 Perintah Allah?

Dan sekarang aku minta kepadamu, Ibu — bukan seolah-olah aku menuliskan perintah baru bagimu, tetapi menurut PERINTAH YANG SUDAH ADA PADA KITA DARI MULANYA — supaya kita SALING MENGASIHI
~2 Yohanes 1:5

Apa yang terjadi dengan 10 Perintah?

Sahabat, Yohanes sedang menyampaikan sesuatu yang penting lewat ayat ini. Yohanes menyampaikan bahwa 10 Perintah sudah usang. Itu adalah hal yang sudah tak berlaku. Awal atau permulaan seorang Kristen adalah saat ia ada di dalam Kristus. Saat itu ia seketika menjadi ciptaan yang baru. Ia memulai kehidupan yang baru saat ia bertemu Yesus. Dan sebagai ciptaan yang baru ia terikat pada hukum yang baru.

9“Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu.
10Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, SEPERTI AKU MENURUTI PERINTAH BAPA-KU dan tinggal di dalam kasih-Nya. 11Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.
12Inilah perintah-Ku, yaitu SUPAYA KAMU SALING MENGASIHI, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.
~Yohanes 15:9-12

Perhatikan tiga hal luar biasa ini:
1. Perintah Bapa bukanlah 10 Perintah Taurat tapi berada (tinggal) dalam kasih-Nya.
2.Perintah yang baru adalah saling mengasihi satu sama lain seperti Yesus mengasihi kita.
3.Kasih Bapa hanya dialami oleh orang yang disebut ‘sahabat’.
Bukan berarti Bapa tidak mengasihi yang lain, tapi jika orang tidak mempercayai Dia dan tetap memilih dibawah Taurat, bagaimana bisa mengalami kasih-Nya?

Dua tahun lalu, saya mendapat kritik tentang pesan kasih karunia yang saya sampaikan dari seorang pastor. Ia mengatakan kasih Bapa pada Yesus itu bersyarat, karena Yesus menuruti perintah Bapa-Nya. Saya beritahu apa itu perintah Bapa : TINGGAL DALAM KASIH-NYA. Tuhan Yesus minta kita mengasihi satu dengan yang lain seperti Dia mengasihi kita. Dan Dia mengasihi kita seperti Bapa-Nya mengasihi Dia.

Mengatakan kasih Bapa pada Yesus bersyarat adalah omong kosong. Alasan Yesus menyerahkan nyawa-Nya adalah karena Ia tahu Bapa-Nya mengasihi Dia. Dia katakan, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” Dia mengasihi kita sama seperti Bapa-Nya mengasihi Dia. Yesus tinggal dalam kasih Bapa-Nya itu. Itulah perintah yang Bapa-Nya berikan pada-Nya.

Yesus mengubah para murid dari budak menjadi ‘anak’ bagi Bapa. Sehingga Paulus katakan,

23Sebelum iman itu datang kita berada di bawah pengawalan hukum Taurat, dan dikurung sampai iman itu telah dinyatakan.
24Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman … 26Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus …
28Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.
29Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah.
~Galatia 3:23-29

Anda menjadi anak saat hukum tak lagi berkuasa atas Anda. Anda bisa menghentikan kekuasaan hukum dalam hidup Anda – dengan iman. Saat itu terjadi, Anda tumbuh menjadi anak yang sepenuhnya dewasa. Anda benar-benar adalah keturunan Abraham. Demikianlah Abraham menjadi sahabat Allah. Demikianlah para murid menjadi sahabat Yesus. Dengan iman!

Saya sangat bersukacita dalam hal ini. Allah telah memindahkan saya dari perjanjian berbasis perbuatan menjadi perjanjian ‘peristirahatan’ (covenant of rest). Dia memindahkan saya dari pelayanan yang mendatangkan kematian kepada pelayanan yang mendatangkan hidup. Allah menyebut diri-Nya sebagai Allah Abraham dan Allah ‘orang-orang hidup’. Ini artinya Abraham tetap hidup.

Allah memindahkan saya dari berusaha mencapai kebenaran kepada memberi saya kebenaran-Nya sebagai hadiah. Dia memindahkan saya dari gunung Sinai kepada gunung Sion dimana para malaikat berkumpul.
Dari belenggu kepada status anak.
Dari budak menjadi ahli waris.
Dari Hagar kepada Sarah.
Dari kemandulan menjadi berbuah lebat.
Dari belakang Allah, menjadi di hadapan Allah.

Allah menyebut saya ‘sahabat-Nya’. Dia memulihkan perjanjian yang dibuat-Nya dengan Abraham atas saya. Yesus menjadi kutuk bagi saya dan saya menerima berkat Abraham. Yesus menjadi dosa dan saya menerima kebenaran-Nya.

Dan karena itu, “Tuhan memberkati dia dalam segala hal” (Kejadian 24:1).

Dan Dia memberkati saya dalam segala hal, juga.

Damai sejahtera, sahabat.

[Simon Yap: From Slaves to Friends; July 31, 2013]

https://hischarisisenough.wordpress.com/2013/07/31/from-slaves-to-friends/