LIKE FATHER, LIKE SON

Maka Yesus menjawab mereka, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak.
Sebab Bapa mengasihi Anak dan Ia menunjukkan kepada-Nya segala sesuatu yang dikerjakan-Nya sendiri, bahkan Ia akan menunjukkan kepada-Nya pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar lagi dari pada pekerjaan-pekerjaan itu, sehingga kamu menjadi heran.
~Yohanes 5:19-20

Jika Anda bertanya kepada orang lain, “Allah itu seperti apa?” kira-kira jawaban apa yang Anda dapatkan?

Saya sudah sering menerima pertanyaan seperti itu saat menyampaikan pesan kasih karunia. Orang-orang juga menyampaikan bahwa saya kurang banyak mengkhotbahkan penghakiman Allah atas para pendosa. Sepertinya mereka lupa bahwa dirinya juga (dulu adalah) pendosa.

Dalam perjalanan kita bersama Yesus, kita melihat bagaimana Yesus selalu memberi kita pewahyuan baru tentang bagaimana Bapa-Nya yang sebenarnya. Banyak yang berpikir bahwa Yesus itu penuh belas kasih kepada kita sementara Bapa murka kepada kita, dan Yesus menjadi perisai kita melawan murka Bapa-Nya. TIDAK ADA hal demikian dalam Alkitab!

“Sebab Bapa mengasihi Anak dan Ia menunjukkan kepada-Nya segala sesuatu yang dikerjakan-Nya sendiri.”

Yesus melakukan apa yang Bapa-Nya tunjukkan. Dia melakukan persis seperti yang Bapa-Nya lakukan.

Konteks kata-kata Yesus ini adalah sesaat setelah Yesus menyembuhkan seorang pria yang lumpuh selama 38 tahun di hari Sabat. Yang melakukan penyembuhan bukan hanya Yesus, tapi juga Bapa. Bapa ingin menyembuhkan. Bapa ingin Anda berhenti dari usaha berdasarkan kekuatan Anda, dan memasuki tempat istirahat-Nya. Belas kasih Bapa adalah belas kasih Anak.

Apa yang Anak lakukan di bumi adalah apa yang Bapa lakukan. Setiap sentuhan. Setiap momen indah bersama murid-murid-Nya. Setiap sukacita yang Dia bagikan. Setiap penderitaan, bahkan salib.

Paulus berkata bahwa Allah Bapa “Sekarang memperdamaikan dunia kepada diri-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kita kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya… Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan (Kolose 1:22; 2:9)

Jadi, lain kali jika ada yang mengatakan bahwa Allah memberi sakit penyakit sebagai hukuman atas dosa Anda, pikirkan lagi. Lihat dan pandanglah Yesus, Dia sudah menanggung hukuman atas dosa Anda. Pikirkan tentang Getsemani saat Dia meminum ‘cawan’ itu sampai habis. Pikirkan apa yang Dia alami di hadapan penguasa Romawi saat Dia diolok-olok. Pikirkan apa yang Dia alami di hadapan Herodes, saat Dia diludahi dan dihina. Pikirkan saat Dia di salib, menanggung dosa seluruh dunia. Sekarang pikirkan -pada saat semua ini terjadi- Yesus katakan, “Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak. Sebab Bapa mengasihi Anak dan Ia menunjukkan kepada-Nya segala sesuatu yang dikerjakan-Nya.”

Bapa bersama Yesus bahkan saat melewati penderitaan salib.

image

Akhirnya, pikirkan ini, dua pasal sebelumnya, Yesus katakan, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

Untuk direnungkan:
Terima kesembuhan Anda, pemulihan, dan keutuhan dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus.
Itu kehendak Bapa.

[Simon Yap: Like Father, Like Son; 13 June 2013]

https://hischarisisenough.wordpress.com/2013/06/13/like-father-like-son-2/