MEMIKUL SALIB

image

Orang-orang mengajarkan frasa ‘memikul salib’ seolah hidup Kekristenan adalah kehidupan penuh penderitaan. Kebenarannya adalah, itu adalah penafsiran yang keliru atas ayat Kitab Suci, yang dilakukan tanpa mengetahui bagaimana frasa itu dipahami dalam budaya Yahudi.

Komentator terbaik mengenai memikul salib adalah Paulus. Dia pernah mengatakan dirinya telah disalib bersama Kristus (Galatia 2:19), juga mengatakan bahwa dia telah mengakhiri pertandingan yang baik, telah mencapai garis akhir dan telah memelihara iman (2 Timotius 4:7).

Jadi istilah ‘memikul salib’ adalah sinonim dengan ‘disalibkan bersama Kristus’. Mari kita lihat konteksnya.

19Sebab aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus;
20namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku. 21Aku tidak menolak kasih karunia Allah. Sebab sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus.
~Galatia 2:19-21

Perhatikan ayat 19. Disalibkan dengan Kristus berarti mati terhadap Taurat. Itulah artinya memikul salib.

Saat Yesus mengucapkan perkataan-Nya tentang memikul salib (Markus 8:34), Dia belum mati. Jadi salib bukanlah sesuatu yang agung atau mulia, sebaliknya merupakan gambaran kutuk Taurat. Orang yang hidup di bawah perjanjian yang lama (old covenant) menyebut orang yang mati tergantung di atas kayu (mati disalibkan) sebagai orang yang terkutuk. Jadi arti ‘memikul salib’ pada saat itu adalah tidak lagi memercayai Taurat.

Lalu Yesus mengatakan ini,

Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah angkatan yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusia pun akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, diiringi malaikat-malaikat kudus.”
~Markus 8:38

Angkatan apa? Angkatan atau generasi yang hidup di masa-Nya.

Yesus hidup dalam transisi atau peralihan dari perjanjian yang lama kepada yang baru. Yesus berperan sebagai ‘pengantar’ (usher) kepada suatu perjanjian yang baru yang berdasarkan kasih, kemurahan dan kasih karunia. Tapi orang Yahudi berkeras memegang perjanjian yang lama, perjanjian Taurat Musa.

Saat Yesus katakan seseorang yang malu karena Dia, itu artinya seseorang yang malu (menolak) terhadap perjanjian yang baru yang akan disahkan oleh darah-Nya, dan tetap berpegang pada perjanjian yang lama.

Sebelumnya Dia katakan kepada mereka, “Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya” (Markus 8:35-36).

Bagi banyak orang ayat ini menunjukkan kebutuhan untuk diselamatkan, tapi yang Yesus sampaikan di ayat ini bukan mengenai keselamatan. Kehilangan nyawa yang dimaksud Yesus adalah mengenai penghancuran atas Yerusalem tahun 70 Masehi, yang adalah akhir dari perjanjian lama. Jadi ajakan untuk ‘memikul salib’ adalah panggilan bagi orang Yahudi untuk meninggalkan perjanjian Taurat.

Proses meninggalkan perjanjian yang lama dimulai saat Yesus disalib. Dia membawa perjanjian yang baru dalam kebangkitan-Nya. Perjanjian lama resmi berakhir tahun 70, demikian pula Taurat Musa. Jadi yang Yesus dan Paulus maksudkan adalah agar orang Yahudi ‘memutuskan hubungan’ dengan perjanjian lama.

Yesus sudah menderita bagi Anda. Itu sudah cukup. Bahkan, jauh lebih dari cukup.

[Simon Yap: Taking Up the Cross. Post AD70; 12 September 2015]

https://hischarisisenough.wordpress.com/2015/09/12/taking-up-the-cross-post-ad70/

Advertisements