MENGAPA SAYA MENINGGALKAN TEOLOGI PENGGANTI (REPLACEMENT THEOLOGY)?

Dulu saya mempercayai dan mengajarkan “teologi pengganti” dan tak seorangpun menuduh saya atas apapun. Namun sejak saya meninggalkan teologi pengganti, saya menerima beragam tuduhan berulang kali.

Apa sebenarnya teologi pengganti? Matt Slick, presiden dan pendiri Christian Apologetics and Research Ministry (CARM) menjelaskan demikian:

“Teologi pengganti adalah pengajaran bahwa gereja Kristen telah menggantikan Israel/orang Yahudi dalam rencana, tujuan dan janji-janji Allah… [Dalam] teologi pengganti gereja telah menggantikan Israel sebagai alat utama yang melaluinya dunia diberkati oleh karya Allah… Teologi pengganti juga dikenal dengan supersesionisme, yang berarti gereja Kristen telah superseded (menggantikan) Israel dalam rencana Allah.”

John Hagee, pendiri Christian United for Israel (CUFI) pada tahun 2006 mengatakan hal ini dalam bukunya ‘Jerusalem Countdown: A Warning to the World’:

“Pendukung teologi pengganti percaya bahwa orang Yahudi bukan lagi umat pilihan Allah, dan Allah tidak memiliki rencana masa depan spesifik atas bangsa Israel” (halaman 72)… “Teologi pengganti berarti Israel telah gagal, dan Allah telah menggantikan Israel dengan gereja” (halaman 165).

Saat saya masih mengajarkan teologi pengganti, pemikiran saya sangat sejalan dengan apa yang dikatakan Slick dan Hagee. Saya tidak menggantikan Israel dengan gereja, tapi yang pasti saya menggantikan Yesus dengan negara modern Israel. Dulu saya pasti setuju dengan ilustrasi seperti berikut:

image

Ilustrasi ini melambangkan teologi pengganti yang sudah saya tinggalkan. Karena teologi ini mengambil peran Yesus dan memberikannya kepada negara politis yang penduduknya secara umum tak ada hubungannya dengan Dia. Perjanjian Baru-New Testament jelas sekali menyatakan bahwa lewat keselamatan dalam Yesus-lah semua bangsa diberkati.

Perhatikan progres pewahyuan Alkitab terkait janji yang dicatat dalam Kejadian 12:3:

[1] Janji itu pertama kali dibuat oleh Allah kepada Abraham saja: “Olehmu [Abraham] semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.”

[2] Janji itu kemudian diulangi lagi dalam Kejadian 22:18 dan kali ini diperluas dengan mencakup keturunannya: Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firman-Ku.”

[3] Dalam Kisah Para Rasul 3:25-26, Rasul Petrus, saat berbicara kepada orang Yahudi yang mengerumuni mereka di Yerusalem, dengan jelas mengidentifikasi siapa keturunan Abraham yang menjadi berkat bagi semua bangsa:

“Dan kamulah pewaris nubuat-nubuat itu dan perjanjian yang telah diadakan Allah dengan nenek moyangmu. Ia berfirman kepada Abraham: “Oleh keturunanmu semua bangsa di muka bumi akan diberkati.” Dan saat Allah membangkitkan Hamba-Nya, Ia mengutus-Nya pertama-tama bagi kamu untuk memberkati kamu dengan memimpin kamu masing-masing kembali dari segala kejahatanmu.”

Yesus-lah yang dimaksud sebagai keturunan Abraham, dan Ia memberkati semua bangsa, dimulai dengan pernyataan Injil-kabar baik kepada orang Yahudi di abad pertama.

[4] Dalam Galatia 3:7-8, Rasul Paulus menyatakan bahwa pengikut Yesus adalah keturunan Abraham juga:

“Mengertilah bahwa mereka yang hidup dari iman [mereka yang percaya] adalah anak-anak Abraham. Dan Kitab Suci telah mengetahui lebih dulu bahwa Allah membenarkan orang-orang bukan Yahudi oleh karena iman, dan telah terlebih dahulu memberitakan Injil kepada Abraham: “Olehmu segala bangsa akan diberkati.”

Berdasarkan pengertian yang disampaikan oleh Matt Slick dan John Hagee, Rasul Petrus dan Paulus telah bersalah karena mengajarkan teologi pengganti. Namun menurut apa yang dikatakan Petrus dan Paulus -terkait dengan rencana, tujuan dan janji Allah- Matt dan Hagee berusaha menggantikan Yesus dan Gereja-Nya dengan sebuah negara geopolitik di Timur Tengah. Sangat ironis melihat ada orang Kristen yang nyaman-nyaman saja dengan gagasan menggantikan Yesus, Juruselamat mereka, dengan sebuah negara, tetapi bergandengan tangan dengan orang-orang yang diduga menggantikan Israel dengan gereja.

Galatia 3, secara kebetulan!, selanjutnya menjelaskan dengan lebih jelas bahwa semua janji Allah pertama-tama tercakup dalam Yesus lalu meluas kepada para pengikut-Nya. Paulus mengatakan hal ini dalam ayat 16:

“Segala janji itu diucapkan kepada Abraham dan kepada keturunannya. Kitab Suci tidak mengatakan “kepada keturunan-keturunannya” yang berarti banyak orang, tetapi “dan kepada keturunanmu,” yang artinya hanya satu orang, yang adalah Kristus.”

Yesus adalah penerima tunggal semua janji-janji Allah, dan Dia memperluas janji-janji itu kepada para pengikut-Nya (ayat 29), yang adalah satu di dalam Dia tanpa memandang etnis, status sosial, atau jenis kelamin (ayat 28):

“Tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus. Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham, ahli waris menurut janji Allah” (Galatia 3:28‭-‬29).

Adakah Paulus menyisakan ruang bagi mereka yang berada di luar Kristus untuk menjadi ahli waris janji-janji Allah? Tidak, bahkan bagi orang-orang Yahudi yang berada di luar Kristus. Begitu pula Petrus (Kisah Para Rasul 3:23), dan begitu pula Yesus (misal di Matius 8:10-12, Matius 21:43, Yohanes 8:31-47). Seperti yang Paulus katakan dalam 2 Korintus 1:20, semua janji Allah adalah “ya” dan “amin” dalam Yesus. Bagi mereka yang di luar Yesus? Tidak dan batal.

Salah satu pertanyaan saya untuk Slick dan Hagee adalah ini: Jika rencana, tujuan, dan janji-janji Allah sedang menunggu untuk dijalankan oleh bangsa Israel, apakah itu berarti Allah sengaja mengabaikan semua bangsa lain antara tahun 70 Masehi dan 1948 ketika negara/bangsa Israel tidak ada? Atau apakah tidak ada kemungkinan bahwa rencana, tujuan, dan janji-janji Allah terus dilanjutkan oleh Israel sejati, yaitu, Yesus dan gereja-Nya?

Ingatlah juga apa yang dikatakan Paulus kepada jemaat Roma: Sebab yang disebut Yahudi bukanlah orang yang lahiriah Yahudi, dan yang disebut sunat, bukanlah sunat yang dilangsungkan secara lahiriah. Tetapi orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya dan sunat ialah sunat di dalam hati, oleh Roh ...” (Roma 2:28‭-‬29) … “Sebab tidak semua orang yang berasal dari Israel adalah orang Israel, dan juga tidak semua yang terhitung keturunan Abraham adalah anak Abraham, … Artinya: bukan anak-anak menurut daging yang disebut anak-anak Allah, tetapi anak-anak perjanjian yang disebut keturunan yang benar” (Roma 9:6‭-‬8).

Gereja adalah Israel, yaitu, Israel Allah (Galatia 6:16). Hal ini benar hanya oleh karena Yesus adalah Israel yang sejati, dan kita yang adalah milik Kristus telah menjadi satu dengan-Nya. Satu lagi contoh untuk masing-masing poin ini rasanya cukup. Pertama kita lihat bagaimana Matius mengutip apa yang pernah dikatakan tentang bangsa Israel, yang berlaku bagi Yesus. Lalu, kita akan melihat bagaimana Petrus mengutip apa yang pernah dikatakan tentang bangsa Israel, yang berlaku untuk gereja.

[1] Dalam Keluaran 4:22, Allah memerintahkan Musa untuk mengatakan kepada Firaun, “Beginilah firman Tuhan: Israel ialah anak-Ku yang sulung; sebab itu Aku berfirman kepadamu: Biarkanlah anak-Ku itu pergi, supaya ia beribadah kepada-Ku.” Lalu dalam Hosea 11:1-2 kita membaca, “Ketika Israel masih kanak-kanak, Kukasihi dia, dan dari Mesir Kupanggil anak-Ku itu. Makin Kupanggil mereka, makin pergi mereka itu dari hadapan-Ku; mereka mempersembahkan korban kepada para Baal, dan membakar korban kepada patung-patung.” Siapa Israel dalam teks Perjanjian Lama-Old Testament ini? Jelas yang dimaksud adalah negara kuno yang dikenal dengan nama Israel, yang dimusnahkan tahun 70 Masehi oleh pasukan Romawi.

Namun perhatikan bagaimana Matius menggunakan pernyataan yang sama. Dilatarbelakangi oleh peringatan seorang malaikat kepada Yusuf bapa-Nya, untuk menyingkir ke Mesir bersama keluarganya, karena Herodes berusaha membunuh Yesus: “Maka Yusuf pun bangunlah, diambilnya Anak itu [Yesus] serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir, dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: “Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku” (Matius 2:14‭-‬15).

Empat puluh ayat dari awal Perjanjian Baru, Matius menyatakan, dengan implikasi yang kuat, bahwa Yesus adalah Israel sejati.

[2] Bandingkan apa yang Musa katakan kepada “orang-orang Israel” (Keluaran 19:3) dengan apa yang Petrus katakan tentang gereja. Tidak mungkin melewatkan bahasa paralel dalam kedua pernyataan ini, yang telah saya tandai dengan huruf A, B, dan C:

Untuk Israel nasional kuno:
“Jadi sekarang, jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi [A] HARTA KESAYANGAN-KU SENDIRI dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi. Kamu akan menjadi bagi-Ku [B] KERAJAAN IMAM-KINGDOM OF PRIESTS dan [C] BANGSA YANG KUDUS. Inilah semuanya firman yang harus kaukatakan kepada orang Israel” (Keluaran 19:5‭-‬6).

Untuk gereja:
“Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, [B] IMAMAT YANG RAJANI-A ROYAL PRIESTHOOD, [C] BANGSA YANG KUDUS, umat [A] KEPUNYAAN ALLAH SENDIRI, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib: kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, …” (1 Petrus 2:9‭-‬10).

Petrus tidak menyisakan keraguan bahwa pengikut Kristus telah dipilih untuk tujuan yang sama dengan tujuan bangsa Israel pernah dipilih.

Saya meninggalkan teologi pengganti karena Yesus tak tergantikan, dan saya mengasihi gereja-Nya.

Adam Maarschalk: Why I Abandoned Replacement Theology; February 13, 2013

https://adammaarschalk.com/2013/02/13/why-i-abandoned-replacement-theology/

Advertisements