WAHYU 1

image

(Bacaan: Wahyu 1:1-20)

[Catatan terkini ditambahkan tanggal 14 Oktober 2009, ditulis dalam tanda kurung, yang sebagian besar didasarkan pada buku Steve Gregg “Revelation: Four Views (A Parallel Commentary)“.]

A. PROLOG (1:1-3)
[Ayat 1: Tujuan pemberian “Wahyu Yesus Kristus” dinyatakan pada ayat 1. Kepada hamba-hamba-Nya ditunjukkan “apa yang harus segera terjadi.” Pewahyuan ini disampaikan kepada Yohanes, salah seorang dari 12 murid Yesus, oleh malaikat-Nya yang diutus-Nya. Pertanyaan eksegetikal yang bagus adalah: Bagaimana pembaca surat Yohanes abad pertama memahami dan menafsirkan frasa “apa yang harus segera terjadi“? Kita akan diskusikan sebentar lagi.

Steve Gregg (halaman 52) menulis bahwa bahasa Yunani yang menjadi latar ungkapan “Wahyu Yesus Kristus” dapat berarti bahwa Yesus adalah [1] subyek yang diwahyukan/disingkapkan, atau [2] Seseorang yang sedang mewahyukan/menyingkapkan. Opsi pertama tampaknya sejalan dengan pembaca saat Yohanes dengan sangat jelas menggambarkan Yesus dalam pasal 1, 5, 14 dan 19. Gregg mengatakan alternatif kedua “tampaknya lebih sesuai dengan kata-kata selanjutnya di ayat 1, yang berarti isi penglihatan pertama kali diwahyukan kepada Kristus oleh Allah Bapa, lalu oleh Kristus diwahyukan lewat seorang malaikat kepada Yohanes, yang menjadi saksi penglihatan tersebut.”]

Ayat 2-3: “Empat puluh empat kali dalam kitab ini Yohanes menulis “aku melihat” (1:12-13; 4:1, 4; 5:1, 2, 6, 11; 6:1, 2, 4, 5, 8, 9, 12; 7:1, 2, 9; 8: 2, 13; 9:1, 17; 10:1; 13: 1, 3, 11; 14:1, 6, 14; 15:1, 2, 5; 16:13; 17:3; 18:1; 19:11, 17, 19; 20:1, 4, 11, 12; 21:1, 2, 8).”
(Sumber: Dr. Thomas Constable)

Pertanyaan: Ketika di ayat 2 disebutkan bahwa Yohanes menjadi saksi kesaksian yang diberikan Yesus Kristus, apakah itu mengacu kepada penglihatan yang ia diterima sebagaimana dicatat dalam kitab ini, atau apakah itu mengacu pada hal-hal yang Yesus ajarkan selama inkarnasi-Nya? Atau keduanya?

Yohanes menyatakan bahwa apa yang dia tulis adalah “apa yang harus segera terjadi” (ayat 1), dan bahwa “waktunya sudah dekat” (ayat 3). Terdapat dua cara hal ini ditafsirkan: [1] bahwa hal-hal ini akan terjadi segera setelah dituliskan, yaitu dalam abad pertama, [2] bahwa semua peristiwa ini begitu dimulai akan selesai dengan cepat. Menariknya, Daniel, yang menerima pewahyuan serupa, diperintahkan untuk menyembunyikan dan memeteraikan penglihatan yang diterimanya (Daniel 12:4, 9) karena apa yang dia lihat adalah “mengenai masa depan yang masih jauh” (Daniel 8:26, 10:14), sementara kepada Yohanes dikatakan bahwa apa yang dia lihat akan segera terjadi dan supaya ia “jangan memeteraikan perkataan-perkataan nubuat dari kitab ini, sebab waktunya sudah dekat” (lihat Wahyu 22:10).

[Hal ini membuat penafsiran yang pertamalah yang tepat. Jika penggenapan penglihatan ini masih belum terjadi pada masa kita, bagaimana kita menjelaskan dua perintah yang berbeda ini, saat nubuat yang satu diberikan sekitar 2550 tahun yang lalu (kepada Daniel) dan yang lainnya diberikan 1950 tahun yang lalu (kepada Yohanes)? Seperti yang sering ditanyakan Kenneth Gentry, “Jika frasa ini [‘segera’ dan ‘dekat’] tidak benar-benar mengindikasikan kesegeraan, karena mereka disebutkan dari perspektif Allah bukan perspektif kita, kata lain apa yang Allah mungkin gunakan untuk mengkomunikasikan konsep yang demikian kepada kita?”

Sebagaimana yang saya tuliskan dalam artikel lain,

“Yohanes menulis Kitab Wahyu sedemikian rupa sehingga keseluruhan isi kitab itu, bukan hanya suratnya untuk ketujuh jemaat, adalah penting bagi dan relevan bagi jemaat-jemaat tersebut. Pada akhir kitab, Yesus berkata, “Sesungguhnya Aku datang segera. Berbahagialah orang yang menuruti perkataan-perkataan nubuat kitab ini!” (Wahyu 22:7). Allah -berbicara dalam istilah yang bisa dipahami oleh manusia- lewat Yohanes berkata, “Inilah wahyu Yesus Kristus, yang dikaruniakan Allah kepada-Nya, supaya ditunjukkan-Nya kepada hamba-hamba-Nya apa yang harus segera terjadi. … Berbahagialah ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat ini, dan yang menuruti apa yang ada tertulis di dalamnya, sebab waktunya sudah dekat” (Wahyu 1:1‭-‬3). Kita melihat bahwa ketujuh jemaat yang menerima surat ini didorong untuk membacakan seluruh kitab dengan suara keras dalam jemaat dan mengikuti apa yang tertulis di dalamnya. Dapat kita catat pula bahwa kata dalam bahasa Yunani yang digunakan untuk “segera” di sini adalah sama dengan yang Yesus gunakan ketika Ia mengatakan waktu-Nya untuk disalibkan “hampir tiba” (Matius 26:18), dan yang Yohanes gunakan ketika ia mengatakan “sudah dekat hari raya orang Yahudi, yaitu hari raya Pondok Daun” (Yohanes 7:2), suatu perayaan yang memang secara harfiah sudah sangat dekat waktunya. Empat kali Yesus berkata, “Sesungguhnya, Aku datang segera [quickly]” (Wahyu 3:11; 22:7, 12, 20).]

Kata-kata Yohanes di ayat 3 tampaknya mengungkapkan keadaan yang mendesak. Pembaca asli kitab ini (tujuh jemaat di Asia) akan menerima berkat jika mereka membaca kata-kata nubuat ini ketika mereka berkumpul, juga jika mereka akan mendengar dan mengikuti apa yang tertulis.

B. SALAM KEPADA KETUJUH JEMAAT (1: 4-8)
[Ayat 4: Steve Gregg mengingatkan kita bahwa Asia pada masa Yohanes “tidak seperti sekarang, merupakan nama benua, melainkan nama sebuah provinsi Romawi, yang sekarang dikenal sebagai Turki modern” (halaman 54)]. Dr. Thomas Constable mencatat, “Ungkapan ‘ketujuh roh’ mungkin merujuk kepada ketujuh malaikat (lihat ayat 20; 8:2, 6; 15:1; 1 Raja-Raja 22:19-21; Ibrani 1:14). Pandangan lain yang juga mungkin adalah frasa ini merujuk kepada Roh Kudus dalam kepenuhan-Nya (lihat Yesaya 11:2-3; Zakharia 4:2-7).”

Ayat 5-6: Yesus disebut sebagai [a] saksi yang setia, [b] yang pertama bangkit dari antara orang mati (lihat Kolose 1:18), [c] penguasa raja-raja di bumi. Dia [a] mengasihi kita, [b] melepaskan kita dari dosa kita karena darah-Nya, [c] membuat kita menjadi suatu kerajaan (secara korporat), [d] membuat kita menjadi imam-imam (secara individual), bagi Dialah kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya.

[Steve Gregg (halaman 56) menambahkan, “Penyebutan Allah dan Bapa Kristus (ayat 6) mengingatkan kita kepada kata-kata Yesus pada kesempatan lain yang dicatat oleh rasul yang sama: “Sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu” (Yohanes 20:17). Terkait ungkapan “raja dan imam,” yang ditemukan dalam Wahyu 5:10 (dan dalam Wahyu 20:6), Gregg berkomentar (halaman 55-56), “Ini adalah salah satu dari sekian banyak ayat dalam Perjanjian Baru-New Testament yang menyematkan kepada Gereja gelar yang awalnya disematkan kepada Israel (lihat 1 Petrus 2:9-10), menunjukkan bahwa Kerajaan Allah sekarang dihubungkan dengan gereja ketimbang Israel.”

Ayat 7: Ayat ini dimulai dengan frasa, “Lihatlah, Ia datang dengan awan-awan …” Steve Gregg menulis, “Penghiburan yang dikandung oleh janji ini bagi orang percaya menderita aniaya dan peringatan bagi orang tak percaya yang terus menolak dengan keras kepala, akan diuraikan dalam sepanjang Kitab Wahyu” (halaman 56)]. Dr. Constable (yang adalah seorang dispensasionalis) percaya bahwa frasa “setiap mata akan melihat Dia, juga mereka yang telah menikam Dia” mengacu kepada orang-orang Yahudi yang hidup pada angkatan terakhir (berdasarkan Zakharia 12:10-14), atau mengacu kepada semua musuh Yesus hingga kedatangan-Nya yang kedua (peristiwa yang ia percaya sedang dijelaskan di sini). Saya pribadi percaya bahwa ayat ini mengacu kepada orang-orang yang menikam Kristus di kayu salib (dan mereka yang hanya memandang namun setuju), yang berarti bahwa sebagian dari mereka akan masih hidup untuk melihat nubuat ini digenapi tahun 70 Masehi.* Dua kutipan berikut mencerminkan pendapat yang sama:

Kutipan 1:
Tema lain yang menyeruak dari Kitab Wahyu adalah konsep kedatangan Yesus yang segera. Tapi perhatikanlah dalam ayat-ayat berikut ini, kedatangan apa yang sedang dibicarakan [yaitu apakah kedatangan itu merujuk kepada kedatangan Kristus untuk kedua kalinya, ataukah kedatangan-Nya membawa penghakiman (lihat Wahyu 2:5, 16, 3:3)?]. Kemudian, perhatikan kesamaan antara pasal pertama dan pasal terakhir kitab ini.

Wahyu 1:7: “Lihatlah, Ia datang dengan awan-awan dan setiap mata akan melihat Dia, juga mereka yang telah menikam Dia. Dan semua bangsa di bumi akan meratapi Dia. Ya, amin.

Wahyu 22:12: “Sesungguhnya Aku datang segera dan Aku membawa upah-Ku untuk membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya.”

Perhatikan bahwa “kedatangan” ini diarahkan kepada “mereka yang telah menikam” Dia dan bahwa kedatangan itu melibatkan pembalasan-Nya. Seseorang bisa saja memperluas arti “mereka yang telah menikam Dia” menjadi metafora siapapun yang pernah berdosa dalam sejarah, tetapi yang dimaksudkan paling jelas dan secara harfiah adalah mereka yang secara fisik menyalibkan Dia hingga mati, yaitu orang-orang Yahudi dan Romawi… Tidak ada kekeliruan mengenai kata “segera” dalam ayat-ayat ini. Beberapa orang berargumen bahwa ungkapan “segera” adalah mengacu kepada saat peristiwa itu mulai terjadi, bahwa peristiwa itu akan terjadi dengan segera. Tetapi tidak menjawab kesegeraan yang diharapkan dan orang-orang yang diharapkan masih hidup ketika peristiwa ini terjadi.”
(Sumber: David lowman, http: //low5point.wordpress.com/2009/02/17/revealing-revelation-the-early-date-theory-part-1/)

Kutipan 2:
Banyak penulis yang beranggapan tema Kitab Wahyu adalah Wahyu 1:7. Ayat ini sangat mirip dalam konteksnya dengan Matius 24:30.

Wahyu 1:7: “Lihatlah, Ia datang dengan awan-awan dan setiap mata akan melihat Dia, juga mereka yang telah menikam Dia. Dan semua bangsa=kindreds [G#5443] di bumi akan meratapi Dia. Ya, amin.”

Matius 24:30: “Pada waktu itu akan tampak tanda Anak Manusia di langit dan semua suku bangsa=tribes [G#5443] di bumi akan meratap dan mereka akan melihat Anak Manusia itu datang di atas awan-awan di langit dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya.”

… Zakharia 12:10-14: “Aku akan mencurahkan roh pengasihan dan roh permohonan atas keluarga Daud dan atas penduduk (inhabitants) Yerusalem, dan mereka akan memandang kepada dia yang telah mereka tikam, dan akan meratapi dia seperti orang meratapi anak tunggal, dan akan menangisi dia dengan pedih seperti orang menangisi anak sulung. Pada waktu itu ratapan di YerusalemNegeri itu akan meratap, setiap kaum keluarga tersendiri; kaum keluarga keturunan Daud tersendiri dan isteri mereka tersendiri; kaum keluarga keturunan Natan tersendiri dan isteri mereka tersendiri; kaum keluarga keturunan Lewi tersendiri dan isteri mereka tersendiri; kaum keluarga Simei tersendiri dan isteri mereka tersendiri; juga segala kaum keluarga yang masih tinggal, setiap kaum keluarga tersendiri dan isteri mereka tersendiri.”

Jelas, inilah dasar Yohanes menulis pernyataan bahwa “setiap mata akan melihat Dia, juga mereka yang menikam Dia: dan semua bangsa di bumi (atau di wilayah itu) akan meratapi Dia.” Jadi, intinya, Zakharia mengatakan bahwa semua “suku bangsa di bumi” akan meratapi Dia yang telah mereka tikam. Siapakah “suku bangsa di bumi itu”? Penduduk Yerusalem. Hal ini juga menolong kita mengidentifikasi “bumi” dalam Wahyu 1:7. Menurut Zakharia, yang dimaksud dengan “bumi” adalah tanah Palestina, khususnya Yerusalem. Dan suku-suku bangsa itulah, yaitu bangsa Israel, yang akan “memandang Dia yang telah mereka tikam.” Dan karena itu, “yang meratap di Yerusalem akan sangat besar.” Dengan semua informasi ini, kita dapat mengetahui bahwa “bangsa di bumi” dalam Wahyu 1:7 adalah bangsa Israel. Yang dimaksud dengan “bumi” adalah Palestina. Dan bangsa di bumi yang akan meratap adalah Yerusalem.

Jadi, tujuan utama Kitab Wahyu adalah menyingkapkan Yesus kepada bangsa Israel. Tempat penyingkapan adalah Yerusalem. Lalu, penyingkapan ini ditujukan kepada mereka yang telah menikam Dia, yaitu orang-orang Yahudi.”
(Sumber: Richard Anthony, http://ecclesia.org/truth/revelation.html)

[Steve Gregg (halaman 57) menyuarakan pendapat beberapa komentator preteris:

[Mereka] beranggapan bahwa ayat-ayat tersebut tidak menubuatkan kedatangan Kristus kedua kali secara harfiah, tetapi adalah gambaran figuratif kedatangan Kristus untuk menghakimi Yerusalem, tidak secara langsung, tetapi menggunakan pasukan Romawi tahun 70 Masehi … Para penafsir tersebut mempertimbangkan beberapa hal berikut: Ciri utama nubuat tersebut adakah (a) Kedatangan Kristus, (b) kedatangan-Nya dengan awan-awan, (c) setiap mata akan melihat Dia, juga mereka yang telah menikam Dia, dan (d) semua suku bangsa di bumi [atau wilayah] akan meratapi kedatangan-Nya.
(A) Istilah “kedatangan” Tuhan digunakan dalam berbagai konteks yang tidak mengacu kepada kedatangan-Nya yang kedua (Wahyu 2:5; 3:20; lihat Ulangan 33:2; Yesaya 19:1; Zakharia 1:16; Maleakhi 3: 1-2; Matius 10:23), sehingga membuka kemungkinan adanya makna lain;
(B) Ungkapan spesifik “kedatangan Tuhan dengan awan-awan” digunakan dalam Perjanjian Lama-Old Testament mengacu kepada penghakiman dalam sejarah, bukan kepada akhir dunia (Yesaya 19:1; Mazmur 104: 3) yang dapat dipahami demikian juga di sini;
(C) Yesus mengatakan waktu kedatangan-Nya di atas awan-awan akan terjadi pada masa hidup sebagian besar orang-orang sezaman-Nya (Matius 16:28; 24:30, 34; 26:64). Hal ini akan memungkinkan kita untuk memahami bahwa “mereka yang telah menikam Dia” adalah angkatan yang telah menyalibkan Dia, yang adalah pemahaman alami para literalis …
(D) Penghakiman atas Yerusalem tersirat dari ungkapan “semua suku bangsa di bumi” (yang dapat diterjemahkan sebagai “semua suku bangsa di Israel”) akan meratap. Ayat Perjanjian Lama yang disinggung adalah nubuat tentang” penduduk Yerusalem” (Zakharia 12:10). Pandangan ini menemukan dukungan lebih lanjut dalam kenyataan bahwa Israel adalah bangsa yang terbagi ke dalam suku-suku bangsa, sebagaimana bumi terbagi menjadi bangsa-bangsa.]

Seiring pelajaran kita mengenai Wahyu, kita akan melihat bahwa banyak referensi mengenai “bumi” dalam Kitab Wahyu tidak dimaksudkan sebagai lingkup seluruh dunia, tetapi wilayah Israel/Palestina. Dalam pelajaran 3 bagian mengenai hal ini -dimulai dengan artikel ini- saya mencatat hampir 20 penyebutan yang membahas hal ini.

Ayat 8: Untuk kedua kalinya, Allah disebut sebagai “yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa.” [Yang berbicara di sini adalah Yesus].

C. PENGLIHATAN TENTANG ANAK MANUSIA (1:9-20)
Ayat 9: Yohanes berada di Pulau Patmos, pulau penjara Romawi di lepas pantai Turki modern. Berlokasi di Laut Aegea sebelah barat daya Efesus. [Steve Gregg mencatat (halaman 57) “Patmos adalah pulau berbatu-batu berbentuk bulan sabit yang terletak sekitar 37 mil barat daya daratan Asia kecil (Turki modern), di mana ketujuh jemaat penerima surat berada.”] Hanya pemerintah Romawi yang bisa membuang tawanan mereka ke Patmos, jadi dalam pengertian apa Yohanes menjadi “sekutumu dalam kesusahan” bagi ketujuh jemaat? Sebelum penganiayaan yang dilancarkan Nero dari November 64 Masehi hingga Juni 68 Masehi, Gereja mengalami penganiayaan terutama dari orang-orang Yahudi. Ketika Yohanes menulis Kitab Wahyu, mereka (ketujuh jemaat) tampaknya juga mengalami penganiayaan dari orang Romawi. Tidak pernah terjadi penganiayaan dalam wilayah Kekaisaran Romawi yang seintens penganiayaan di bawah pemerintahan Nero.**

Seperti yang saya tuliskan dalam artikel saya yang lain,

Yohanes menulis untuk ketujuh jemaat/gereja bersejarah di Asia kecil (Wahyu 1:4, 11) yang pada saat itu mengalami kesusahan dan penganiayaan yang berat, sama seperti yang dia alami (Wahyu 1:9, 2:3, 9-10, 13, 3:10). Kesusahan dan penganiayaan mana yang lebih berat ketimbang penganiayaan pertama dan terbesar atas Kekristenan di seluruh wilayah kekaisaran yang dilancarkan oleh Nero sejak akhir November 64 Masehi hingga kematiannya pada awal Juni 68 Masehi?

Ayat 11: Yohanes diperintahkan untuk menuliskan dan mengirimkan tulisan ini ke tangan orang percaya di tujuh lokasi. Masing-masing dari ketujuh jemaat tidak hanya menerima surat yang ditujukan kepada mereka, tetapi keseluruhan Kitab Wahyu. Ini artinya seluruh isi Kitab Wahyu itu sangat penting dan dan relevan bagi ketujuh jemaat ini. Kesusahan dan penganiayaan yang dibicarakan dalam pasal 1 disinggung berkali-kali di sepanjang kitab. Sebagaimana dikatakan Kenneth Gentry, “Cobalah tempatkan diri Anda pada posisi orang percaya abad pertama: Mungkinkah Anda berpikir Yohanes sedang berbicara mengenai peristiwa yang akan terjadi berabad-abad setelah runtuhnya kekaisaran yang saat ini menganiaya Anda? Mungkinkah Anda menduga ia tidak sedang benar-benar menyampaikan pesan yang berkaitan dengan Kekaisaran Roma?”***

[Steve Gregg mencatat bagaimana tujuh jemaat berlokasi dan memberi keterangan:

Kota-kota tempat jemaat berlokasi berada dalam urutan logis menerima surat. Dengan asumsi Efesus sebagai penerima pertama, surat itu akan dibawa ke utara kemudian ke timur lalu kemudian ke selatan kembali dalam rute bertentuk tapal kuda.

image

Ayat 12: Steve Gregg menulis (halaman 59), hal pertama yang Yohanes perhatikan adalah tujuh kaki dian dari emas, mengingatkannya kepada ketujuh cabang kandil emas yang cahayanya menerangi para imam saat membakar ukupan di Kemah Suci atau Bait Allah. Sebagaimana disebutkan dalam ayat 20, kaki dian ini mewakili tujuh jemaat yang disebutkan dalam surat. Gereja adalah terang dunia (Matius 5:14; Filipi 2:15; Efesus 5:8-13). Penting diperhatikan bahwa dalam penglihatan Yohanes Kristus berdiri di tengah-tengah jemaat (ayat 13), menunjukkan bahwa di dalam jemaat Kristen yang bersekutu hadirat Kristus dinyatakan di dunia ini (Matius 18:20).]

Ayat 13: John Piper mencatat, “Frasa “jubah yang panjangnya sampai di kaki” tidak digunakan di bagian mana pun dalam Perjanjian Baru, namun dalam Perjanjian Lama frasa ini hampir selalu mengacu kepada jubah imam besar. Dan ikat pinggang emas yang melilit di dada-Nya menunjukkan dua hal: fakta bahwa ikat pinggang itu berada di tempat tinggi -tidak melingkari pinggang tapi melilit dada- dan fakta bahwa ikat pinggang itu terbuat dari emas, menunjukkan bahwa keimaman bahwa dipegang-Nya sangatlah besar.”
(Sumber: http: //www.desiringgod.org/resourcelibrary/sermons/byscripture/17/822_a_yearend_look_at_jesus_christ/)

Ayat 14: “Kepala dan rambut-Nya putih bagaikan bulu yang putih metah” persis sebagaimana yang digambarkan Daniel sebagai “Yang Lanjut Usianya” dalam Daniel 7:9 (yaitu Allah Bapa). Rambut putih biasanya merupakan lambang kebijaksanaan dan martabat dalam Alkitab. Yohanes melukiskan Yesus Kristus dengan gambaran Allah Bapa dalam Perjanjian Lama, dengan demikian memberikan kepada Yesus atribut dan gelar yang sebelumnya disematkan kepada Bapa (lihat ayat 18; Wahyu 2:8; 5:12; 22:13). Hal ini adalah salah satu cara untuk menekankan kesetaraan Yesus dengan Bapa, khususnya pra-eksistensi-Nya yang kekal” (sumber: Dr. Thomas Constable, ibid).

[Ayat 15: Steve Gregg menegaskan (halaman 60) bahwa deskripsi kaki Yesus menjadi “mengkilap bagaikan tembaga membara di dalam perapian” menggambarkan penghakiman-Nya yang tak terbendung di saat kemudian Ia menginjakkan kaki-Nya ke kilangan besar, yaitu murka Allah (Wahyu 14:19).]

Ayat 16: Gambaran Yesus memiliki “pedang tajam bermata dua” yang keluar dari mulut-Nya digambarkan kembali dalam Wahyu 19:15 saat Ia berperang melawan bangsa-bangsa. [Steve Gregg (halaman 60) berpendapat bahwa gambaran ini “hampir tidak dapat mengacu kepada apa pun selain firman-Nya” (Ibrani 4:12; Efesus 6:17). Yohanes melihat wajah Yesus “bersinar-sinar bagaikan matahari yang terik.” Steve Gregg mencatat (halaman 60) bahwa wajah Yesus yang “bersinar-sinar “mengingatkan Yohanes akan apa yang dilihatnya di Gunung Transfigurasi beberapa dekade sebelumnya” (Matius 17:2). Sedangkan tujuh bintang yang dipegang Yesus di tangan kanan-Nya, ayat 20 memberitahu kita bahwa mereka “malaikat ketujuh jemaat.”]

Ayat 17: Yohanes jatuh tersungkur di depan kaki Yesus sama seperti orang yang mati. [Hal ini mirip dengan pengalaman Daniel di mana “hilanglah kekuatannya” dan “jatuh pingsanlah dia tertelungkup dengan mukanya ke tanah” (Daniel 10:8‭-‬9).]

Ayat 18: Yesus mengidentifikasi diri-Nya sebagai “Yang Awal dan Yang Akhir, dan Yang Hidup.” Yesus berbicara tentang kematian-Nya dan kebangkitan-Nya, dan kemenangan-Nya atas kematian dan kerajaan maut.

Ayat 19: Yohanes diperintahkan untuk menuliskan tentang [1] apa yang telah dia lihat, [2] baik yang terjadi sekarang, maupun [3] yang akan terjadi sesudah ini.

[Ayat 20: Steve Gregg berkomentar (halaman 61-62): Apakah “malaikat” setiap jemaat mengacu kepada makhluk surgawi -seperti malaikat pelindung- atau kepada makhluk bumi (Yunani: angelos berarti messenger, utusan), seperti pendeta atau uskup, masih diperdebatkan. Dalam masing-masing surat, malaikat setiap jemaat dituju sebagai penerima. Karena malaikat jemaat ini diharapkan menyampaikan kepada jemaat informasi yang disampaikan kepada mereka oleh Kristus, banyak komentator berpendapat bahwa mereka pastilah makhluk yang terlihat, utusan manusia yang bisa bersentuhan langsung dengan jemaat. Kita sepertinya lebih mempercayai bahwa komunikasi antara Allah dan malaikat-Nya pasti lebih langsung dan tidak membutuhkan surat yang dikirimkan oleh seorang rasul.

* Terkait topik kedatangan Yesus dalam penghakiman tahun 70 Masehi, ketika Yerusalem dan Israel yang murtad dihancurkan sebagaimana yang Yesus nubuatkan, dapat Anda baca dalam: [1] https://kloposmasm.wordpress.com/2009/08/15/pp11-did-jesus-come-in-70-ad-part-1/ [2] https://kloposmasm.wordpress.com/2009/08/15/pp12-did-jesus-come-in-70-ad-part-2/.

** Penjelasan lebih detil dapat dilihat pada: https://kloposmasm.wordpress.com/2009/08/14/pp6-internal-evidence-for-an-early-date-revelation-part-3/.

*** Penjelasan lebih detil dapat dilihat pada: https://kloposmasm.wordpress.com/2009/08/14/pp7-internal-evidence-for-an-early-date-revelation-part-4/.

Adam Maarschalk: Revelation Chapter 1; June 25, 2009.

https://adammaarschalk.com/2009/08/25/revelation-1-study/

Advertisements