RAPTURELESS – BAB 1 (Bagian 2 dari 5)

GEMPA BUMI

Dan akan terjadi … gempa bumi yang besar di berbagai tempat” (Matius 24:7 New International Version). Di antara tanda penting akhir zaman berupa kegaduhan politik, terdapat beberapa peristiwa gempa bumi yang besar seperti isi nubuat Tuhan kita yang terjadi di beberapa tempat. Pada masa pemerintahan Claudius, terjadi satu gempa bumi besar di Roma dan satu lagi di Apamea di Siria, tempat banyak orang Yahudi bermukim. Gempa di Apamea demikian parahnya sehingga kaisar -dalam rangka mengurangi beban penderitaan para korban- membebaskan mereka dari kewajiban membayar pajak selama lima tahun. Kedua gempa ini dicatat oleh Tacitus. Terjadi pula satu gempa pada masa pemerintahan kaisar yang sama, di Pulau Kreta. Gempa ini dicatat oleh Philostratus dalam bukunya ‘Life of Apollonius‘ yang mengatakan bahwa gempa juga terjadi “di Smirna, Miletus, Chios dan Samos, semuanya adalah tempat dimana orang Yahudi bermukim.”

Pada masa pemerintahan Nero, terjadi gempa di Laodikia yang juga dicatat oleh Tacitus. Hal ini juga dicatat oleh Eusebius dan Orosius, yang menambahkan bahwa kota Hieropolis dan Kolose, seperti halnya Laodikia, juga digoncang oleh gempa. Terjadi pula gempa di Campania dalam masa pemerintahan kaisar yang sama (yang dicatat oleh Tacitus dan Seneca) dan di Roma pada masa pemerintahan Galba, yang dicatat oleh Suetonius. Masih ada gempa lain yang terjadi pada malam mengerikan ketika orang Idumea dilarang masuk ke Yerusalem, sesaat sebelum pengepungan atas kota itu dimulai. Josephus mengatakan, “Badai hebat menerpa mereka malam itu; angin yang kencang bertiup, diiringi oleh hujan yang sangat lebat, dan kilat yang menyambar-nyambar, dan petir yang menggelegar, dan gempa yang mengerikan. Tampak seolah seluruh sistem dunia telah dikutuk untuk menghancurkan umat manusia; dan orang pasti bisa menduga bahwa semua kejadian ini bukanlah tanda-tanda kejadian biasa!”

[Catatan penulis: Terdapat banyak catatan terkait periode saat terjadi sangat banyak gempa bumi di suatu wilayah tertentu. Ahli teologi dan penulis J. Marcellus Kik menulis:

“Mengenai gempa bumi, banyak yang disebutkan oleh para penulis pada periode sebelum tahun 70 Masehi. Terjadi gempa bumi di Pulau Kreta, Smirna, Miletus, Chios, Samos, Laodikia, Hieropolis, Kolose, Campina, Roma dan Yudea. Juga menarik untuk dicatat bahwa kota Pompei hancur karena gempa yang terjadi pada 5 Februari tahun 63 Masehi.”

Sarjana Alkitab yang lainnya, Henry Alford, menulis mengenai gempa yang terjadi pada periode ini:

“Gempa besar yang terjadi antara nubuat Yesus dengan penghancuran Yerusalem [tahun 70 Masehi] adalah, (1) gempa besar di Pulau Kreta tahun 46 atau 47 Masehi; (2) gempa besar di Roma pada hari Nero mengenakan ‘toga’ lambang kedewasaannya tahun 51 Masehi; (3) gempa besar di Apamea di Frigia, dicatat oleh Tacitus tahun 53 Masehi; (4) gempa besar di Laodikia di Frigia tahun 60 Masehi; (5) gempa besar di Campania.”

Komentator Edward Hayes Plumptre menulis:

“Mungkin tak pernah ada masa dalam sejarah dunia yang ditandai oleh sedemikian banyaknya kejadian gempa bumi yang mengantarai Penyaliban dan penghancuran Yerusalem.”

Lucius Annaeus Seneca, filsuf terkenal yang adalah guru atau mentor Nero, juga mencatat fenomena ini:

“Betapa banyak kota di Asia, betapa banyak kota di Akhaya, yang diluluhlantakkan oleh sebuah gelombang kejut gempa bumi! Betapa banyak kota di Siria, betapa banyak di Makedonia, yang telah dilumat gempa! Betapa seringnya kehancuran semacam ini meruntuhkan Siprus hingga tinggal puing! Betapa seringnya Pafos hancur digoncang! Betapa tidak jarang kabar-kabar kehancuran total suatu kota dibawa kepada kita.”

Pula banyak gempa yang disebut dalam Perjanjian Baru, termasuk saat kematian Yesus (lihat Matius 17:51-52) dan kemudian saat kebangkitan-Nya (lihat Matius 28:2). Gempa bumi juga terjadi saat orang percaya berkumpul di Yerusalem dimana bangunan bergoyang (lihat Kisah Para Rasul 4:31), juga saat Paulus dan Silas dibebaskan dari penjara di Filipi (lihat Kisah Para Rasul 16:26). Dalam periode nubuat Yesus, gempa bumi merajalela]

 

KELAPARAN

Tuhan kita juga menyebut akan terjadi kelaparan. Kejadian yang paling menonjol adalah yang telah dinubuatkan oleh Nabi Agabus akan terjadi pada masa pemerintahan Claudius, yang berhubungan dengan Kisah Para Rasul. Kelaparan itu dimulai pada tahun keempat pemerintahan Claudius untuk jangka waktu yang lama. Kelaparan itu meluas hingga ke Yunani bahkan hingga ke Italia, tetapi paling terasa di Yudea, khususnya di Yerusalem, dimana banyak orang mati kelaparan karena ketiadaan roti. Kelaparan ini juga dicatat oleh Josephus, yang menyebut “se-homer (sekira 2,5 liter) jagung dijual dengan harga lima drachma” [makanan untuk satu hari dijual seharga upah satu pekan], seperti yang juga dicatat oleh Eusebius dan Orosius. Untuk meringankan bencana ini, Helena ratu Adiabena, yang pada saat itu berada di Yerusalem, memerintahkan pengiriman sejumlah besar bahan pangan dari Aleksandria, dan Izates puteranya menyerahkan sejumlah besar bantuan kepada gubernur Yerusalem untuk diberikan kepada kaum miskin yang menderita kelaparan paling parah. Orang Kristen bangsa lain yang bermukim di negeri asing juga mengirimkan bantuan sesuai permintaan Santo Paulus, untuk meringankan penderitaan saudara-saudara mereka di Yerusalem (lihat 1 Korintus 16:3).

Dion Cassius menyebutkan bahwa terjadi kelaparan serupa pada tahun pertama pemerintahan Claudius di Roma dan bagian lain Italia. Pada tahun kesebelas kaisar yang sama, terjadi kelaparan lain yang dicatat oleh Eusebius. Selain itu terjadi kelaparan yang melanda penduduk di beberapa kota lain di kota-kota di Galilea dan Yudea, yang telah dikepung dan dikalahkan sebelum penghancuran Yerusalem, yang adalah puncak sengsara nasional, sebagai kombinasi sangat lengkap dari kelaparan dan beragam bencana lain.

[Catatan penulis: Kelaparan yang dinubuatkan Agabus dan dibahas di atas disebutkan dalam Kisah Para Rasul 11:28-30 dan 1 Korintus 16:1-3]


PENYAKIT SAMPAR

Tuhan kita menambahkan “penyakit sampar” (lihat Lukas 21:11). Beralasan jika penyakit sampar terjadi, mengikuti kelaparan hebat seperti yang dijelaskan sebelumnya. Sejarah membedakan dua kejadian wabah penyakit sampar sebelum terjadinya perang Yahudi. Wabah penyakit sampar yang pertama terjadi di Babilonia sekira tahun 40 Masehi yang mengamuk demikian mengkuatirkannya sehingga sejumlah besar orang Yahudi yang bermukim di sana mengungsi ke Seleukia demi keselamatan mereka. Yang kedua terjadi di Roma tahun 65 Masehi yang menimbulkan begitu banyak korban jiwa. Baik Tacitus maupun Suetonius mencatat kejadian yang sama pada periode yang sama di beberapa wilayah Kekaisaran Romawi.

Setelah Yerusalem dikepung oleh pasukan Roma di bawah komando Titus, wabah sampar merebak di dalam kota menambah kesengsaraan orang-orang Yerusalem dan menambah kengerian pengepungan tersebut. Wabah merebak selain disebabkan oleh padatnya manusia dalam kota itu, dan oleh karena banyaknya mayat-mayat yang membusuk yang tidak dikuburkan, juga oleh karena kelaparan hebat yang terjadi.

 
TANDA-TANDA DAHSYAT DI LANGIT

Tuhan kita melanjutkan, “Dan akan terjadi juga hal-hal yang mengejutkan dan tanda-tanda yang dahsyat dari langit” (Lukas 21:11). Josephus telah mengumpulkan tanda-tanda yang paling jelas dan memasukkan catatan berisi refleksi keganjilan peristiwa-peristiwa ini, keganjilan yang bisa mendorong orang-orang sebangsanya mengakui keberadaan para penipu-penyesat dan laporan-laporan tak berdasar, namun mengenyampingkan dan mengabaikan peringatan ilahi yang telah mendapat peneguhan, sebagaimana yang Josephus tegaskan, dengan tanda-tanda di bawah ini:

1. “Sebuah meteor, yang menyerupai sebilah pedang, tergantung di atas Yerusalem selama setahun penuh.” Benda ini tak mungkin sebuah komet, karena posisinya stasioner atau tetap, dan terlihat selama dua belas bulan berturut-turut. Sebilah pedang, sekalipun merupakan gambaran yang tepat untuk penghancuran, tetapi tidak tepat digambarkan oleh sebuah komet.

2. “Pada hari kedelapan bulan Zanthicus (sebelum perayaan Hari Raya Roti Tak Beragi) pada jam kesembilan pada malam hari, muncul cahaya bundar di atas mezbah dan pada bagunan di sekeliling Bait Allah, suatu cahaya yang sangat terang bagai siang hari, yang muncul selama setengah jam.” Cahaya ini tak mungkin cahaya kilat, atau cahaya aurora borealis yang terang, karena dikonfirmasi dari beberapa tempat dan terangnya bersinar tanpa putus selama tiga puluh menit.

3. “Saat Imam Besar menuntun seekor lembu betina untuk dipersembahkan di mezbah, lembu itu melahirkan seekor anak domba, tepat di tengah-tengah bait.” Catatan yang sungguh ganjil. Sebagian orang menganggapnya sebagai sebuah dongeng Yunani, sementara sebagian lain menganggap keajaiban ini sebagai teguran atas ketidaksetiaan dan ketidakberimanan orang Yahudi, yang telah menolak Anak Domba yang telah mempersembahkan diri-Nya sebagai korban pendamaian “satu kali untuk selamanya” dan yang -dengan demikian menggenapi rancangan mereka- telah membatalkan sistem persembahan korban Imamat. Apapun itu, apa yang terjadi sungguh mengherankan. Kejadian itu bukan terjadi di sembarang tempat di kota Yerusalem, namun di dalam Bait Allah; bukan terjadi pada sembarang waktu, namun pada saat Paskah -saat peringatan penyaliban Tuhan kita; bukan terjadi pada sembarang orang, namun di hadapan Imam Besar dan imam-imam lain, dan pada saat mereka sedang menggiring persembahan itu ke atas mezbah.

4. “Pada jam keenam malam hari, pintu gerbang timur Bait Allah terlihat terbuka sendiri.” Penjaga yang melihat melaporkan hal ini kepada atasannya, yang kemudian menyuruh orang membantu menutup dan akhirnya dengan susah payah gerbang itu berhasil ditutup. Pintu gerbang ini terbuat dari kuningan padat dan dibutuhkan dua puluh laki-laki dewasa untuk menutupnya setiap malam. Gerbang itu tak mungkin terbuka dengan sendirinya karena “tiupan angin keras,” atau “gempa kecil” karena, seperti Josephus katakan, “Gerbang itu diamankan dengan baut dan jeruji-jeruji besi” yang dimasukkan ke dalam suatu ambang besar yang terbuat dari batu utuh.”

5. “Tak lama setelah perayaan Paskah, di berbagai wilayah negeri itu, menjelang terbenamnya matahari, tampak sejumlah pasukan bersenjata berkereta kuda melintas di atas langit Yerusalem.” Kejadian ini tak mungkin pertunjukan megah yang muncul karena aurora borealis, sebab terjadi sesaat sebelum matahari terbenam; juga tidak mungkin khayalan penduduk desa semata saat mereka menatap ke langit, sebab bisa terlihat di berbagai wilayah negeri itu.

6. “Pada kelanjutan perayaan Pentakosta, ketika para imam melaksanakan tugas pelayanan mereka pada malam hari, mereka merasa ada goncangan, diikuti oleh gumaman tak jelas, lalu suara orang banyak yang dengan jelas mengatakan ‘mari kita pergi dari sini’.” Bunyi-bunyi ini akan mengingatkan pembaca pada peristiwa mengherankan yang terjadi pada hari Pentakosta yang sedang diperingati. Awalnya terdengar goncangan; yang pasti akan membuat para imam memperhatikan, disusul oleh gumaman yang tidak bisa dipahami; hal ini tentu saja makin menarik perhatian mereka, dan kemudian mereka mendengar -kata Josephus- sebuah suara, seperti suara orang banyak, dengan jelas mengucapkan kata-kata “mari kita pergi dari sini.” Dan kemudian, sebelum perayaan tahun berikutnya, perang Yahudi pecah, dan dalam tiga tahun berikutnya, Yerusalem dikepung tentara Romawi, Bait Allah diubah menjadi benteng dan pelatarannya yang kudus dibanjiri oleh darah para korban.

7. Sebagai tanda terakhir dan paling menakutkan,  Josephus mencatat seorang bernama Yesus, anak Ananus, seorang udik kalangan bawah, pada saat perayaan Hari Raya Pondok Daun, tiba-tiba berseru-seru di Bait Allah, “Suara dari timur suara dari barat-suara dari keempat penjuru-suara yang menentang Yerusalem dan baitnya-suara yang menentang mempelai laki-laki dan mempelai perempuan-suara yang menentang semua orang!” Kata-kata ini diserukannya dengan keras tiada henti, siang dan malam, di jalan-jalan kota Yerusalem selama tujuh tahun lima bulan. Dia memulai aksinya ini pada tahun 62 Masehi ketika kota itu dalam keadaan damai dan sejahtera, dan berhenti di tengah-tengah kengerian pengepungan. Pengacau ini berhasil menarik perhatian penguasa dan dibawa ke hadapan Albinus, orang Romawi yang menjabat gubernur. Albinus memerintahkan orang ini disesah. Tetapi bahkan sesahan paling menyakitkan pun tidak membuatnya mengeluarkan air mata atau mengerang kesakitan. Sebagaimana ia tak pernah berterimakasih kepada orang yang membebaskannya, ia juga tak pernah mengeluhkan ketidakadilan orang-orang yang menghukumnya. Dan tak ada kata-kata yang berhasil dikorek dari mulutnya saat ditanyai, kecuali seruan khasnya, “Celaka, celakalah Yerusalem!” yang terus disuarakannya di seluruh penjuru kota, terutama pada saat perayaan, dimana seruannya semakin sungguh-sungguh dan suaranya semakin keras. Kemudian, pada permulaan pengepungan, dia memanjat ke tembok kota, dan dengan suara yang lebih keras dari biasanya, ia berteriak, “Celaka, celakalah kota ini, bait ini, dan orang-orang ini!” Lalu, sebagai pertunjukan kematiannya sendiri ia berteriak, “Celaka, celakalah aku!” Ia nyaris tak sempat mengucapkan kata-kata ini karena sebuah batu melesat dari ketapel Romawi membuatnya mati di tempat.

Tanda-tanda ini, kecuali tanda yang pertama, dicatat oleh Josephus terjadi setahun sebelum pecahnya perang Yahudi. Beberapa di antaranya juga dicatat oleh Tacitus. Apapun faktanya, jelas bahwa peristiwa-peristiwa ini terkait dengan nubuat Tuhan kita tentang “akan terjadi juga hal-hal yang mengejutkan dan tanda-tanda yang dahsyat dari langit” dan seharusnya dianggap cukup sebagai jawaban bagi penentang yang menilai hal-hal tersebut tak cukup layak dicatat.

Diterjemahkan dari buku Jonathan Welton ‘Raptureless’ 1st Edition, 2012.

Versi aslinya dapat dilihat dan diunduh secara gratis pada tautan berikut: https://weltonacademy.com/collections/books/products/raptureless-first-edition-free-download

Advertisements