RAPTURELESS – BAB 1 (Bagian 3 dari 5)

PENGANIAYAAN

Nubuat Tuhan kita berikutnya berkaitan dengan aniaya yang akan dialami oleh murid-murid-Nya: “Tetapi sebelum semuanya itu kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku;” (Lukas 21:12) – “Kamu akan diserahkan kepada majelis agama dan kamu akan dipukul;” (Markus 13:9) – “Dan beberapa orang di antara kamu akan dibunuh” (Lukas 21:16). Dalam usianya yang masih sangat belia, Gereja Kristen mulai mengalami kekejaman yang bukan karena kesalahan mereka atau dipicu oleh mereka.
Tuhan kita dan pendahulunya, Yohanes Pembaptis, telah terlebih dulu dibunuh. Rasul Petrus dan Yohanes telah dipenjara, lalu bersama rasul yang lain, disesah di hadapan majelis agama Yahudi. Stefanus, setelah memusingkan Sanhedrin karena pidato fasihnya yang tak terbantahkan, dilempari batu hingga mati. Herodes Agripa yang “mengulurkan tangannya untuk menyusahkan gereja” memenggal Yakobus saudara Yohanes, kemudian kembali memenjarakan Petrus, dan berencana membunuhnya juga.

Santo Paulus dihadapkan kepada Mahkamah Agama di Yerusalem dan kepada wali negeri/gubernur Feliks, yang gemetar di kursinya, saat tahanan yang gagah berani ini berbicara tentang “kebenaran, penguasaan diri dan penghakiman yang akan datang!” Dua tahun kemudian, Paulus dihadapkan kembali, kali ini ke hadapan Festus (yang menggantikan Feliks). Raja Agripa yang hadir pada saat itu, sementara sang wali negeri mengejek Paulus, dengan cerdik mengakui kefasihan sang rasul, dan setengah percaya berkata, “Hampir-hampir saja kauyakinkan aku menjadi orang Kristen!” Terakhir Paulus naik banding kepada kaisar (Nero) di Roma. Sebelumnya ia dan Silas diseret ke hadapan kepala penjara di Filipi, dimana keduanya didera berkali-kali kemudian dilemparkan ke dalam perjara. Paulus juga pernah dipenjara selama dua tahun di Yudea, dan dua kali di Roma, masing-masing selama dua tahun. Dia pernah mengalami lima kali penyesahan (pencambukan) oleh orang Yahudi, tiga kali didera dengan tongkat, dan satu kali dilempari dengan batu.

Paulus sendiri, sebelum pertobatannya, juga merupakan alat penggenapan nubuat tersebut. Santo Lukas mencatat Paulus sebagai orang yang “bukan saja telah memasukkan banyak orang kudus ke dalam penjara, setelah memperoleh kuasa dari imam-imam kepala, tetapi yang juga setuju, jika mereka dihukum mati. Yang sering menyiksa mereka dan memaksanya untuk menyangkal imannya dalam rumah-rumah ibadat, dan yang dalam amarah yang meluap-luap mengejar mereka, bahkan sampai ke kota-kota asing”(Kisah Para Rasul 26:10‭-‬11; lihat Galatia 1:23).

Akhirnya, dua tahun sebelum perang Yahudi, penganiayaan massal dimulai karena dorongan Kaisar Nero, “yang,” kata Tacitus, “menjatuhkan hukuman yang luarbiasa menyakitkan atas orang Kristen. Banyak orang Kristen yang mati martir di bawah hujan cemoohan dan hinaan, termasuk di antaranya Rasul Paulus dan Rasul Petrus.

Tuhan kita melanjutkan – “dan kamu akan dibenci semua bangsa oleh karena nama-Ku” (Matius 24:9). Kebencian yang menimbulkan penganiayaan dan penyiksaan seperti yang dikutip di atas bukanlah sesuatu yang timbul karena orang Kristen menolak pemimpin yang berkuasa atau karena melanggar hukum, tetapi sebagai konsekuensi tak terelakkan dari tindakan mereka mempertahankan nama dan menirukan karakter Tuan mereka. “Sebuah perang,” kata Tertullian, “melawan suatu nama; menjadi seorang Kristen saja pun sudah merupakan kejahatan.” Hal serupa dituliskan Pliny dalam suratnya kepada Trajan: “Aku bertanya apakah mereka orang Kristen; dan jika mereka mengakuinya, aku bertanya untuk kedua dan ketiga kalinya, mengancam mereka dengan hukuman, dan bagi siapapun yang bertahan aku perintahkan untuk dihukum mati.” Tuhan kita katakan, “Semua bangsa.” Apapun kebencian dan perselisihan yang pernah ada antara bangsa lain dan orang Yahudi dalam hal lain, tampaknya kapan pun mereka siap sedia bekerjasama untuk menganiaya dan menyiksa para pengikut Dia yang datang menjadi terang bagi yang pertama dan kemuliaan bagi yang kedua.

 

KASIH YANG MENJADI DINGIN

Dan banyak orang akan murtad dan mereka akan saling menyerahkan dan saling membenci” (Matius 24:10). Perihal fakta ini, pernyataan tegas Tacitus berikut cukup jelas. Tentang penganiayaan dan penyiksaan yang dialami orang Kristen di bawah pemerintahan Nero, yang sebelumnya telah disinggung, ia berkata, “Beberapa orang yang ditangkap kemudian mengaku, dan dengan pengakuan itu sejumlah besar orang Kristen lain dijatuhi hukuman dan dieksekusi secara barbar.”

[Catatan penulis: Matius 24:10-12 juga merujuk banyaknya pengajaran palsu pada gereja abad pertama, yang membuat banyak orang percaya meninggalkan kasih Kristus kepada iman yang menyimpang, seperti Gnostik, Yudaizer dan Nikolaus.Seperti ditulis oleh ahli teologi David Chilton:

“Kita umumnya berpikir bahwa periode apostolik merupakan masa ledakan dahsyat penginjilan dan pertumbuhan Gereja, suatu “masa keemasan” dimana mujizat terjadi setiap hari. Gambaran umum ini secara substansi benar adanya, namun dinodai oleh satu kelalaian. Kita cenderung melupakan fakta bahwa Gereja mula-mula adalah adegan dimana terjadi merebaknya wabah penyesatan/bidah paling dramatis.”

Namun masalah penyesatan tidak terbatas pada daerah atau budaya tertentu, namun menyebar dan menjadi masalah yang makin membesar yang terjadi karena kekeliruan pengajaran dan penggembalaan seiring berjalannya waktu. Beberapa bidah mengajarkan kebangkitan sudah terjadi (2 Timotius 2:18), sementara yang lain mengatakan kebangkitan adalah hal yang mustahil (1 Korintus 15:12); ada bidah yang mengajarkan doktrin aneh asketisme dan beribadah kepada malaikat (Kolose 2:8, 18-23; 1 Timotius 4:1-3), sementara yang lain mengajarkan rupa-rupa kecemaran dan menghina Allah (2 Petrus 2:1-3, 10-22; Yudas 4, 8, 10-13, 16). Berulang kali para rasul menuliskan peringatan yang tegas atas tindakan mentoleransi pengajar-pengajar palsu dan “rasul-rasul palsu” (Roma 16:17-18; 2 Korintus 11:3-4; 12-15; Filipi 3:18-19; 1 Timotius 13-7; 2 Timotius 4:2-5), karena telah menyebabkan banyak orang meninggalkan iman, dan kemurtadan semakin besar seiring waktu (1 Timotius 1:19-20, 6:20-21; 2 Timotius 2:16-18, 3:1-9, 4:10, 14-16). Salah satu kitab Perjanjian Baru yang terakhir ditulis, Kitab Ibrani, ditulis kepada seluruh komunitas Kristen yang sedang berada di tepi jurang meninggalkan Kekristenan sepenuhnya. Gereja Kristen abad pertama tak hanya ditandai oleh iman dan mujizat; namun juga ditandai oleh meningkatkan kedurhakaan, kemurtadan dan penyesatan yang berasal dari komunitas Kristen sendiri, tepat seperti yang Yesus nubuatkan dalam Matius 24.]

 

INJIL AKAN DIBERITAKAN DI SELURUH DUNIA

Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah kesudahannya (takdir orang Yahudi) tiba” (Matius 24:14 New International Version). Penggenapan nubuat ini ditunjukkan oleh surat-surat Santo Paulus – yang dialamatkan kepada orang Kristen di Roma, Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, Tesalonika – dan surat-surat Petrus yang dikirimkan kepada orang Kristen di Pontus, Kapadokia dan Bitinia – yang menjadi monumen yang tegak berdiri hingga hari ini. Kedua rasul ini sudah tiada saat pecahnya perang Yahudi. Rasul Paulus, dalam suratnya kepada jemaat Roma, berkata kepada mereka, “Sebab kabar tentang imanmu telah tersiar di seluruh dunia” (Roma 1:8 New International Version) dan kepada jemaat Kolose, “Injil … yang telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit” (Kolose 1:23). Klemen, yang adalah rekan sekerja Paulus, mengatakan, ” Ia mengajarkan kebenaran kepada seluruh dunia, bepergian dari timur ke barat ke arah tepi laut.” Eusebius berkata, “Para rasul memberitakan Injil di seluruh dunia, dan beberapa dari mereka melintasi lautan, dan sampai ke kepulauan Britania”; demikian pula yang dikatakan Theodoret.

“Tampaknya,” kata Uskup Newton “dari para penulis sejarah gereja, sebelum runtuhnya Yerusalem, Injil telah diberitakan tidak hanya di Asia Kecil, dan Yunani, dan Italia, tapi sudah sampai ke utara sejauh Skitia, ke selatan sejauh Ethiopia, ke timur sejauh Parthia dan India dan ke barat sejauh Spanyol dan Britania.” Tacitus menegaskan, “Agama Kristen, yang muncul di Yudea, menyebar ke seluruh bagian dunia, dan menjangkau Roma, dimana para penganutnya, pada masa pemerintahan Nero, telah berjumlah sangat banyak.” Sedemikian banyak hingga menimbulkan keresahan pada pemerintah.

Hal ini sepenuhnya menggenapi sebuah nubuat yang berlawanan dengan setiap kesimpulan yang dibuat berdasarkan peluang, dan dengan pencapaian di tengah segala halangan yang tak putus-putusnya. menghadang. Anak seorang tukang kayu beserta sejumlah nelayan sederhana yang diajar-Nya, dalam sebuah takdir yang miskin insentif duniawi, namun penuh penyangkalan diri, pengorbanan dan penderitaan, berkata bahwa dalam waktu sekira empat puluh tahun Injil akan menyebar ke seluruh dunia. Demikianlah Injil menyebar di tengah tantangan kefanatikan orang Yahudi, terutama para pemimpinnya yang berkuasa, dan di tengah penolakan aktif bangsa-bangsa lain; Injil menyebar pada periode tersebut di semua negeri yang dimasukinya. Adakah yang bisa menyangkal bahwa nubuatan dan penggenapannya sama-sama ilahi?

[Catatan penulis: Akar kata oikoumene, yang diterjemahkan sebagai dunia dalam ayat inj, sesungguhnya berarti “wilayah/area yang dihuni/didiami,” bukan berarti planet bumi secara global (kosmos). Ini adalah kata yang sama yang digunakan dalam Lukas 2:1: “Pada waktu itu Kaisar Augustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia [the inhabited earth].”

Rasul Paulus kemudian juga menggunakan kata yang sama untuk meneguhkan bahwa Injil telah menjangkau seluruh dunia peradaban seperti yang Yesus nubuatkan (lihat Roma 1:8, 10:18; Kolose 1:5-6, 23).

Sebagaimana yang ditulis oleh Phillip Doddrigde tahun 1807:

“Tampaknya, dari sumber yang paling terpercaya, Injil telah diberitakan di Idumea, Siria, dan Mesopotamia, oleh Yudas; di Mesir, Marmorica, Mauritania, dan bagian lain Afrika, oleh Markus, Simon dan Yudas; di Ethiopia, oleh sida-sida Sri Kandaka dan Matias; di Pontus, Galatia dan kawasan Asia yang berdekatan dengannya, oleh Petrus; di kawasan tujuh gereja oleh Yohanes; di Partia, oleh Matius; di Skitia, oleh Filipus dan Andreas; di bagian utara dan timur Asia, oleh Bartolomeus; di Persia, oleh Simon dan Yudas; di Media, Carmania, dan beberapa daerah bagian timur, oleh Tomas; sepanjang jalur yang panjang dari Yerusalem hingga Ilirikum, oleh Paulus, juga hingga ke Italia, dan mungkin bahkan hingga Spanyol, Gaul (Perancis) dan Britania; hampir di segala penjuru gereja Kristen ditanam, dalam waktu kurang dari tiga puluh tahun sejak kematian Kristus, berarti sebelum penghancuran Yerusalem.”

Yesus berkata Injil akan diberitakan di seluruh wilayah kekuasaan Kekaisaran Romawi sebelum Ia datang dalam penghakiman atas Yerusalem dan Bait Allah. Yesus benar. Nubuat ini sudah digenapi, dan tidak akan ada penggenapan lain di masa depan kita. Kita tidak sedang menantikan setiap orang mendengar Injil supaya pengangkatan bisa terjadi.]

 

AWAL PEPERANGAN

Demikianlah catatan sejarah mengenai sejumlah peristiwa dan tanda-tanda yang Tuhan kita katakan akan mendahului penghancuran Kota Suci. Penggenapan nubuat Yesus tentang tersebarnya Injil yang tepat waktu telah meresahkan negeri Yahudi sehingga mereka tak hanya terprovokasi, tapi tampak tak sabar segera ingin terjun ke dalam segala bencana besar yang tak tertandingi yang, pada akhirnya, melumat mereka sampai habis. Dalam penjelasan bagian ini, rasanya tidak mungkin menjelaskan setiap detil kecil awal mula dan proses segala bencana ini. Namun beberapa detil khusus yang merupakan penggenapan bagian lain nubuat dan menjadi alasan penggunaan bahasa yang agak vulgar akan dihadirkan bagi para pembaca.

Sejak penaklukan negeri mereka oleh Pompey, sekira tahun 60 Sebelum Masehi, bangsa Yahudi, dalam beberapa peristiwa, telah menunjukkan tabiat degilnya. Setelah Yudas orang Gaul dan Sadduk orang Farisi mengajarkan kepada mereka bahwa sikap tunduk kepada Romawi akan memuluskan jalan menuju perbudakan penuh kehinaan, kemarahan terpendam mereka nampak dari meningkatnya kejahatan dan kekerasan. Pemberontakan dan pembangkangan menjadi semakin kerap dan menggelisahkan. Untuk menangani hal ini Florus, sang wali negeri/gubernur, bertindak tegas. Kemudian Eleazar, anak Imam Besar, mengajak imam-imam yang bertugas di Bait Allah untuk menolak persembahan orang asing dan jangan lagi berdoa buat mereka. Sebuah hinaan besar dialamatkan kepada Kaisar, dengan menolak memberi persembahan kepadanya, dan dengan demikian perang dengan Romawi mulai disulut.

Gangguan dari pihak orang Yahudi berlanjut, sehingga Cestius Gallus, wali negeri Siria, berbaris bersama pasukannya ke Yudea untuk menumpas gangguan tersebut. Kemana pun ia pergi ditandai dengan pertumpahan darah dan kebinasaan. Ia kemudian bergerak menjarah dan membumihanguskan kota Zebulon dan Yope yang permai dan setiap desa yang dilaluinya. Di Yope, ia membunuh 8.400 orang penduduk. Ia menghancurkan distrik Narbatene dan pasukan yang dikirimnya ke Galilea membunuh 2.000 orang penghasut. Ia kemudian menghanguskan kota Lida, dan setelah menghalau orang Yahudi yang dengan membabi buta angkat senjata melawan dirinya, Cestius lalu berkemah pada jarak sekira satu mil dari Yerusalem. Pada hari keempat, ia memasuki gerbang Yerusalem dan membakar tiga bagian kota itu. Ia bisa saja mengakhiri perang pada saat itu, namun bukannya menikmati kemenangannya, karena bujukan para perwiranya yang licik, dengan mengejutkan ia justru menghentikan pengepungan dan meninggalkan kota dengan terburu-buru.

Orang Yahudi mengejarnya hingga Antipatris dan dengan sedikit korban jiwa di pihak mereka, berhasil membantai hampir 6.000 orang tentara Cestius. Setelah peristiwa ini, orang-orang Yahudi yang kaya (menurut Josephus) meninggalkan kota itu, layaknya orang meninggalkan kapal yang tenggelam. Pada saat itulah orang-orang Kristen -atau Yahudi yang berpindah agama- yang berdiam di Yerusalem, mengingat peringatan Tuan mereka yang mulia, melarikan diri ke Pella, suatu tempat di seberang Yordan yang letaknya di pegunungan (Matius 24:16). Di Pella (menurut Eusebius, yang tinggal tak jauh dari sana), mereka tinggal dan menetap sebelum perang (yang dilancarkan Vespasian) pecah. Beberapa kesempatan mujur lain sebenarnya bisa dimanfaatkan oleh orang-orang yang masih tinggal untuk melarikan diri. Jelas sekali, orang tidak bisa berpikir dengan pikiran saleh jika tidak memiliki rasa hormat dan ketaatan, karena sejarah mencatat tidak satu orang Kristen pun menjadi korban dalam peristiwa pengepungan Yerusalem. Bertahan hingga akhir dan setia kepada Tuan mereka yang diberkati, mereka menghargai kata-kata peringatan-Nya dan luput dari bencana. Dengan demikian tergenapilah ucapan Tuhan kita, “Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya (yakni kesudahan nubuatan ini) akan selamat” (Matius 24:13) dari segala bencana yang melumat semua orang yang terus menerus tegar tengkuk dalam ketidakpercayaan mereka.

 

HARUSLAH KAMU MELARIKAN DIRI (Matius 24:15, 21)

Nero, yang mendapat laporan tentang kekalahan Cestius, segera menunjuk Vespasian, seorang jenderal pemberani, untuk memimpin perang melawan Yahudi. Dia dibantu oleh anaknya, Titus, yang segera mengumpulkan 60.000 prajuritnya dari Ptolemais. Dari sana, pada musim semi tahun 67 Masehi, ia bergerak menuju Yudea, menebarkan malapetaka dan kebinasaan yang paling kejam – serdadu Romawi, dalam banyak kejadian, tidak memberi ampun bahkan kepada bayi atau lansia. Selama lima belas bulan, Vespasian bergerak maju sambil menaklukkan satu per satu kota-kota kuat di Galilea dan di Yudea, membantai setidaknya 150.000 orang penduduk.

Di antara bencana buruk ini, yang pada saat itu menimpa orang Yahudi, apa yang menimpa penduduk kota Yope, yang telah dibangun kembali, perlu mendapat perhatian khusus. Perompakan yang kerap mereka lancarkan membangkitkan amarah Vespasian. Dalam suatu perompakan, saat orang Yahudi lari ke kapal mereka dikejar oleh pasukan Vespasian, mendadak badai menerpa dan menyapu semua yang ada di laut, menunggangbalikkan kapal mereka. Semua saling menghempas, kapal dengan kapal dan dengan batu-batu karang tanpa ampun. Banyak orang Yahudi yang tewas tenggelam, ada yang tewas karena tabrakan kapal, dan lainnya bunuh diri, sementara yang berhasil mencapai pantai langsung dibantai oleh prajurit Romawi yang tak kenal belas kasihan. Garis pantai untuk jarak yang jauh dibanjiri oleh darah; 4.200 mayat manusia memenuhi pantai, dan tidak seorang pun yang selamat untuk melaporkan malapetaka ini ke Yerusalem. Peristiwa seperti ini sudah dinubuatkan oleh Tuhan kita, ketika Ia berkata, “Dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut” (Lukas 21:25.

Setelah maju hingga Yerikho, Vespasian mundur ke Kaisarea untuk mempersiapkan serangan besar-besaran terhadap Yerusalem. Di tengah segala persiapan itu, ia mendapat kabar kematian Nero. Tanpa mengetahui bahwa dirinyalah yang akan diangkat menjadi kaisar berikutnya, dengan bijak ia menunda sementara pelaksanaan serangan tersebut. Jadi sebenarnya Yang Mahakuasa memberikan penundaan kedua, yang berlangsung selama hampir dua tahun. Tetapi orang Yahudi tidak juga bertobat dari kejahatan hati mereka, tidak sedikit pun, justru terus melakukan kejahatan dengan skala makin besar. Pertikaian sipil merebak kembali dengan kemarahan yang lebih bernyala-nyala.

Di jantung kota Yerusalem, dua faksi bersaing demi kekuasaan dan menyerang satu sama lain dengan kebengisan dan kekejaman yang menghancurkan. Satu divisi dari salah satu faksi, yang sempat terusir ke luar kota, memasuki kota dengan kekerasan pada suatu malam. Haus darah dan terbakar api dendam, mereka membantai tanpa pandang usia dan jenis kelamin, bahkan membantai bayi-bayi. Dan pada pagi harinya 8.500 mayat berserakan di jalan-jalan Kota Suci. Mereka menjarah rumah-rumah, dan ketika menemukan Imam Besar, Anaius dan Yesus; mereka tidak hanya membunuh keduanya namun juga menghina mayat mereka dengan membiarkannya tergeletak tanpa dikubur. Mereka membantai rakyat sipil tak ubahnya segerombolan hewan paling buas. Para bangsawan adalah yang pertama kali mereka penjarakan dan cambuk, dan jika dengan segala cara para bangsawan ini tidak juga mau bergabung dengan faksi mereka, mereka menjatuhkan hukuman mati kepada para bangsawan tersebut. Korbannya mencapai 12.000 orang. Dan tak seorang pun berani meneteskan air mata atau mengerang kesakitan karena takut mengalami nasib serupa. Kematian menjadi hukuman atas tuduhan melakukan kejahatan, yang teringan hingan terberat dan tidak ada yang bisa lolos semiskin atau serendah apapun posisi mereka. Siapapun yang mencoba melarikan diri akan dicegat dan dibunuh, dan mayat mereka akan ditumpuk di jalan-jalan umum. Belas kasihan sekecil apapun tampaknya sudah sirna dan bersamaan dengan itu, sirna pulalah segala rasa hormat kepada pihak yang berkuasa, baik sipil maupun rohani.

Sementara Yerusalem dimangsa oleh faksi-faksi pelahap yang bengis ini, setiap wilayah Yudea dihantui dan diresahkan oleh gerombolan-gerombolan perampok dan pembunuh, yang menjarah kota demi kota. Jika menghadapi perlawanan, tanpa ampun mereka membunuh penduduk kota, bahkan perempuan atau anak-anak. Simon anak Gioras, komandan salah satu gerombolan yang terdiri dari 40.000 orang dengan susah payah akhirnya memasuki Yerusalem dan mendirikan faksi ketiga. Hal ini membuat api perang sipil kembali berkobar, kali ini dengan kebencian yang lebih merusak. Ketiga faksi, menjadi gila-gilaan karena kemabukan, kemarahan dan keputusasaan, menambah tinggi tumpukan mayat orang-orang yang mereka bantai, saling menyerang satu dengan yang lain dengan kebiadaban dan kegilaan yang brutal. Bahkan orang-orang yang datang membawa persembahan ke Bait Allah juga dibunuh. Mayat-mayat para imam dan orang-orang yang datang beribadah, baik orang Yahudi asli maupun pendatang, ditumpuk jadi satu, dan danau darah menggenang di pelataran kudus.

John Levi dari Gischala, yang mengetuai salah satu faksi, membakar gudang-gudang penuh bahan pangan, dan Simon, musuh terbesarnya, ketua faksi yang lainnya, segera meniru perbuatannya. Dengan begitu mereka melemahkan diri mereka sendiri. Dalam situasi genting dan kritis ini, intelijen membawa berita pasukan Romawi sedang mendekat. Orang Yahudi menjadi amat ketakutan; tak ada waktu untuk berunding, tak ada harapan bagi perdamaian, tak ada sarana untuk melarikan diri: yang ada hanya kekacauan yang liar dan kebingungan. Tak ada yang terdengar kecuali teriakan kebingungan orang yang bertempur – tiada yang terlihat selain pakaian yang dibasahi darah – tiada yang bisa diharapkan dari para prajurit Romawi kecuali dendam. Teriakan tiada henti para petarung terdengar siang dan malam, namun masih kalah mengerikan dibanding suara ratapan orang yang berkabung. Ketakutan dan teror yang dirasakan mendorong banyak penduduk mengharapkan datangnya musuh asing, yang mungkin bisa membebaskan mereka. Demikianlah kondisi mengerikan yang sedang berlangsung saat Titus dan pasukannya tiba dan berkemah di luar Yerusalem.

Namun, sayangnya, ia datang bukan untuk melepaskan Yerusalem dari deritanya, melainkan untuk menggenapi nubuat dan membuktikan peringatan penuh kasih Tuhan kita: “Jika kamu melihat (Ia mengatakan hal ini kepada murid-murid-Nya) kekejian yang mendatangkan kebinasaan, menurut firman yang disampaikan oleh nabi Daniel, berdiri di tempat kudus dan Yerusalem dikepung oleh tentara-tentara, maka orang-orang yang berada di Yerusalem harus melarikan diri, dan orang-orang yang berada di pedusunan jangan masuk lagi ke dalam kota,” (Matius 24:15-16; Lukas 21:1-10, 20). Pasukan prajurit ini, tidak diragukan lagi adalah pasukan Roma, yang kemudian masuk ke dalam kota itu.

Sejak masa pembuangan ke Babel, penyembahan berhala/idolatry telah dianggap sebagai suatu kekejian oleh orang Yahudi. Rasa jijik nasional juga dirasakan kepada patung-patung dewa dan kaisar Romawi, yang selalu dibawa kemanapun oleh pasukan Romawi. Kita melihat hal ini, di masa saat perdamaian masih terjaga, ketika Pilatus, dan setelah itu Vitellius, karena alasan menghindari berbaris bersama pasukannya melewati Yudea atas permintaan beberapa bangsawan Yahudi. Watak keji yang kini menguasai pasukan Romawi, sejarah perang Yahudi dan terutama penghancuran final Kota Suci menghadirkan contoh mengerikan yang paling baik. Yerusalem tak hanya direbut, namun bait-nya yang sangat dibanggakan itu kini hancur lebur.

[Catatan penulis: Dengan membandingkan Matius 24:15-16 dengan Lukas 21:20, kita bisa memahami bahwa kekejian yang mendatangkan kebinasaan (abomination that caused the desolation) Yerusalem adalah pasukan Romawi yang datang mengepung kota. Untunglah Yesus telah memberi tahu pengikut-Nya bahwa ketika mereka melihat hal ini, mereka harus melarikan diri ke pegunungan. Mereka melakukannya karena mereka mengerti apa yang Yesus maksudkan. Baik Chrysostom maupun Augustine sepakat bahwa yang dimaksud dengan kekejian yang mendatangkan kebinasaan adalah pasukan Romawi. Chrysostom (lahir tahun 347 Masehi di Antiokhia, ibukota Siria) mengatakan, “Karena bagiku jelas bahwa kekejian yang membinasakan adalah pasukan yang olehnya Kota Suci Yerusalem dibinasakan.”

Santo Augustine (lahir tahun 354 Masehi di Afrika Utara) mengatakan, “Lukas, untuk menunjukkan kekejian yang sama dengan yang dinubuatkan Daniel akan terjadi saat Yerusalem ditaklukkan, mengenang ucapan Tuhan dalam konteks yang sama: “Apabila kamu melihat Yerusalem dikepung oleh tentara-tentara, ketahuilah, bahwa keruntuhannya sudah dekat” (xxi.20).]

Kalau-kalau pasukan Titus tidak cukup jelas digambarkan dengan ucapan-Nya, Tuhan kita menambahkan, “Di mana ada bangkai, di situ burung elang berkerumun” (Matius 24:28 American Standard Version). Negara Yahudi, pada saat itu, memang tepat sekali digambarkan sebagai bangkai. Tongkat kerajaan Yehuda -otoritas sipil dan politik, kehidupan agama, dan kemuliaan Bait Sucinya- hancur. Negeri itu, secara moral dan secara hukum, sudah mati. Burung elang yang naluri dasarnya adalah mencuri dan membunuh, tepat sekali menggambarkan watak Romawi yang ganas dan haus darah, dan mungkin, hal ini juga dimaksudkan untuk menggambarkan gambar dalam panji-panji mereka, yang memuakkan bagi orang Yahudi, yang akhirnya ditancapkan di tengah-tengah Kota Suci dan di tengah-tengah Bait Suci.

[Catatan penulis: Dengan kata lain, emblem burung elang terpatri pada perisai dan panji-panji Romawi; demikian pula, Yerusalem digambarkan sebagai bangkai. Seperti dituliskan oleh komentator Barnes:

“Kata-kata dalam ayat ini bersifat kiasan. Burung bangkai dan elang akan segera berkerumun dimana ada bangkai, dan akan lekas-lekas menyantapnya. Demikianlah pasukan Romawi. Yerusalem ibaratnya bangkai mati yang berbau. Kehidupannya sudah musnah, dan sekarang ia siap dimangsa. Pasukan Roma mendatanginya, seperti burung elang mendatangi bangkai, dan akan segera memangsanya.”]

Hari dimana Titus mengepung Yerusalem adalah perayaan Paskah, dan penting dicatat bahwa ini adalah peringatan saat dimana orang Yahudi menyalibkan Mesias mereka! Pada saat demikian, sejumlah besar orang datang dari seluruh negeri tetangga, dan dari negeri yang jauh, untuk merayakan perayaan tersebut. Betapa tepat dan betapa baiknya, jika demikian, nubuat berisi peringatan yang Tuhan kita sampaikan, “Orang-orang yang berada di pedusunan jangan masuk lagi ke dalam kota” (Lukas 21:21).

[Catatan penulis: Buku George Peter Holford tidak membahas Matius 24:16-18, 20:

Orang-orang yang ada di Yudea haruslah melarikan diri ke pegunungan. Orang yang sedang di peranginan di atas rumah janganlah ia turun untuk mengambil barang-barang dari rumahnya. Orang yang sedang di ladang janganlah ia kembali untuk mengambil jubahnya Berdoalah agar saat kamu melarikan diri itu jangan jatuh pada musim dingin atau pada hari Sabat.”

Saya tidak mengetahui pasti mengapa ia melewatkan bagian ini, namun saya akan membahasnya secara singkat. Pada ayat-ayat ini Yesus sedang memberikan nasehat praktis kepada pengikut-Nya bagaimana caranya tetap selamat selama masa penghancuran tahun 70 Masehi. Kita bisa mengetahuinya dari ayat ini dimana Yesus berbicara tentang penghancuran lokal (melarikan diri dari Yudea) dan sebuah latar sejarah (jangan pada hari Sabat). Kecenderungan alami saat orang melihat pasukan mendekat adalah melarikan diri ke Yerusalem demi keamanan. Namun Yesus menyuruh mereka melawan naluri alami mereka dan meninggalkan kota.

Karena Yesus menyuruh mereka melarikan diri, para pengikut-Nya terlindungi. Bahkan, seperti ditulis oleh George Peter Holford enam paragraf sebelumnya, “… sejarah mencatat bahwa tidak satu orang Kristen pun yang mati dalam peristiwa penghancuran Yerusalem.” Komentator lain yang sangat disegani menegaskan hal ini:

Selanjutnya, jemaat gereja Yerusalem, lewat seorang bijak yang …, diperintahkan untuk meninggalkan Kota sebelum pecah perang dan menetap di sebuah kota di wilayah Perea bernama Pella. Ke Pella inilah orang-orang yang percaya kepada Kristus bermigrasi dari Yerusalem; dan begitu orang kudus terakhir meninggalkan kota bangsawan metropolitan Yerusalem dan tanah Yahudi, penghakiman Allah akhirnya turun atas kota itu karena kejahatan mereka yang keji kepada Kristus dan rasul-rasul-Nya, penghakiman yang sepenuhnya menghapus angkatan yang jahat itu dari antara umat manusia.
Eusebius

Dikatakan bahwa ada alasan untuk mempercayai bahwa tidak ada satu orang Kristen pun yang menjadi korban dalam penghancuran kota itu. Allah mengamankan pelarian mereka lewat banyak cara, sehingga mereka melarikan diri ke Pella, dimana mereka menetap saat Yerusalem sedang dihancurkan.
Albert Barnes

… dikatakan oleh beberapa penafsir, yang keanehannya juga dicatat oleh Josephus, bahwa setelah Cestius Gallus menyerbu Yerusalem bersama pasukannya, tiba-tiba tanpa ada sebab, berhenti mengepung dan mundur bersama pasukannya, di saat kota itu dengan mudah dapat dikuasai; dengan demikian nampak suatu sinyal, sebuah kesempatan bagi orang Kristen untuk melarikan diri: yang mereka manfaatkan, dan mereka lari melewati wilayah Yordan, seperti yang dikatakan Eusebius, ke tempat yang bernama Pella; sehingga ketika Titus tiba beberapa bulan kemudian, tidak ada satu pun orang Kristen di kota itu …
 John Gill

Saya menemukan bahwa fakta ini saja sudah merupakan bukti yang luar biasa kuat yang menunjukkan orang percaya abad pertama mengerti bahwa yang Yesus maksudkan adalah peristiwa tahun 70 Masehi.

Penerjemah karya Josephus bahkan menulis:

“Ada sebuah alasan lain yang sangat penting dan sangat menguntungkan di balik mundurnya Cestius; yang -seandainya Josephus adalah seorang Kristen- pasti sudah dicatat juga olehnya; yaitu menyediakan bagi orang Kristen-Yahudi yang tinggal di Yerusalem suatu kesempatan untuk mengingat nubuat dan peringatan yang diberikan oleh Kristus sekira tiga puluh tiga setengah tahun sebelumnya, yakni “bila mereka melihat kekejian yang membinasakan [pasukan Romawi penyembah berhala, dengan bordiran wajah dewa mereka di panji-panjinya, siap menghancurkan Yerusalem] berdiri di tempat kudus; atau “saat mereka melihat Yerusalem dikelilingi oleh pasukan,” mereka haruslah segera “melarikan diri ke pegunungan.” Mematuhi hal ini orang Kristen-Yahudi melarikan diri ke pegunungan Perea, dan luput dari penghancuran … Tidak ada alasan, yang lebih tidak politis, namun yang lebih menguntungkan, yang terlihat dari pada mundurnya pasukan Cestius ini …. Aniaya Besar, yang belum pernah terjadi sejak dunia dijadikan hingga saat itu; tidak, yang juga tidak akan pernah terjadi lagi.”]

Diterjemahkan dari buku Jonathan Welton ‘Raptureless’ 1st Edition, 2012.

Versi aslinya dapat dilihat dan diunduh secara gratis pada tautan berikut: https://weltonacademy.com/collections/books/products/raptureless-first-edition-free-download

Advertisements