RAPTURELESS – BAB 1 (Bagian 4 dari 5)

SEPERTI KILAT MEMANCAR (Matius 24:27)
Kendati demikian, Yerusalem pada saat itu disesaki oleh orang Yahudi pendatang, dan orang asing dari seluruh penjuru sehingga seluruh negeri bisa dikatakan dimasukkan ke suatu ruang penjara sebelum jatuhnya penghakiman ilahi. Menurut Josephus, peristiwa ini terjadi tiba-tiba, menggenapi nubuatan Tuhan kita bahwa kehancuran itu akan terjadi secepat kilat yang “memancar dari sebelah timur dan melontarkan cahayanya sampai ke barat” dan seperti jerat yang dengan tiba-tiba jatuh menimpa semua penduduk bumi ini (orang Yahudi)” (Matius 24:27; Lukas 21:35). Inilah alasan Yesus memberi perintah agar siapa yang melarikan diri dari kota itu harus benar-benar bersegera.

CELAKALAH IBU-IBU YANG SEDANG HAMIL (Matius 24:19)

Pada saat kemunculan pasukan Romawi, seluruh faksi Yahudi bersatu dan dengan penuh kemarahan mengejar dan berhasil memukul mundur legion kesepuluh dengan susah payah. Kejadian ini menyebabkan terhentinya sejenak segala kekejaman dan terbukanya gerbang kota memberi kesempatan kepada orang-orang terbuang untuk lari dari sana. Tadinya mereka tidak dapat melarikan diri dari kota tanpa dicegat karena pasti dicurigai ingin bergabung dengan pasukan Romawi.

Keberhasilan memukul mundur legion kesepuluh ini memberi rasa percaya diri kepada orang Yahudi dan mereka memutuskan untuk mempertahankan kota hingga titik darah penghabisan, tetapi tetap tidak menghalangi gesekan antar mereka terus terjadi. Faksi yang dipimpin oleh Eleazar telah tercerai berai dan bergabung ke dua faksi yang ada, pimpinan John Levi dan Simon. Kedua faksi kemudian terlibat persaingan berdarah, penjarahan dan kebakaran hebat. Bagian tengah kota dilalap api, dan penduduk yang malang dijadikan hadiah bagi pihak yang menang.

Pasukan Romawi pada akhirnya berhasil menguasai dua dari tiga tembok yang melindungi kota, dan ketakutan sekali lagi menyatukan faksi-faksi yang bertikai. Hal ini hampir mampu menunda pertikaian mereka ketika kelaparan mulai merebak di antara prajurit Yahudi. Sebenarnya kelaparan diam-diam sudah menghantui, dan sudah banyak penduduk miskin yang tidak terlibat pertikaian meregang nyawa karena kelaparan. Dengan semakin meningkatnya malapetaka kelaparan ini, anehnya, faksi-faksi yang bersaing kembali beringas, dan kota itu benar-benar menghadirkan gambaran baru keterkutukan. Terdorong rasa lapar yang amat sangat, mereka saling merebut makanan dari tangan orang lain, bahkan ada yang sampai memakan gandum mentah.

Penyiksaan digunakan untuk bisa menemukan segenggam makanan; perempuan-perempuan merebut makanan dari tangan suami mereka dan anak-anak merebut makanan dari bapa mereka, ibu-ibu bahkan merebut makanan dari bayi-bayi mereka; ibu-ibu ini membiarkan bayi mereka yang masih menyusu tergolek lemah di gendongan mereka karena keberatan jika cairan vital yang menyokong tubuh mereka dihisap oleh bayi mereka. Betapa akuratnya saat Tuhan kita menyatakan celaka atas “yang menyusukan bayi pada masa itu” (Matius 24:19). Malapetaka mengerikan ini akhirnya mendorong sejumlah besar orang melarikan diri dari kota menuju perkemahan musuh, dimana pasukan Romawi malah menyalibkan mereka, sedemikian banyaknya sehingga -Josephus katakan- mereka kekurangan lahan untuk menancapkan salib, sementara jumlah salib masih kurang dibanding jumlah para tawanan yang akan disalibkan. Ketika ditemukan terdapat beberapa orang tawanan yang menelan emas, orang Arab dan Siria, yang bergabung bersama pasukan Romawi, terdorong oleh keserakahan, dengan kekejaman luar biasa, merobek perut 2.000 orang desertir dalam satu malam.

Titus, yang tergugah melihat betapa mengerikannya malapetaka yang dialami penduduk Yerusalem, secara pribadi memohon mereka untuk menyerah, tetapi permohonan itu ditolak. Jengkel dengan kedegilan dan penghinaan orang Yahudi, ia memutuskan mengelilingi kota dengan circumvallation [suatu mesin perang yang yang kelilingnya mencapai 39 furlong (1 furlong = 220 yar = 1/8 mil) atau sekitar 4,87 mil (sekira 7,8 kilometer) dan diperkuat dengan 13 kubu/menara], yang dengan menakjubkan mampu didirikan oleh para prajurit dalam waktu tiga hari. Demikianlah hal ini menggenapi nubuat lain dari Tuhan kita saat Ia berkata, “Sebab akan datang harinya, bahwa musuhmu akan mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala jurusan” (Lukas 19:43).

Karena kini tidak ada pasokan bahan pangan yang bisa masuk lewat tembok kota sama sekali, kelaparan semakin merebak dan meningkat semakin mengerikan, hingga berjatuhan korban keluarga demi keluarga. Bagian atas rumah dan relung-relung kota penuh dengan mayat perempuan, anak-anak dan para lansia. Anak-anak muda bergentayangan bagai hantu di tempat-tempat publik dan bertumbangan tanpa nyawa di jalan-jalan. Jumlah yang mati sedemikian banyaknya untuk dikubur, dan banyak yang mati saat sedang menguburkan yang lain. Malapetaka dahsyat ini terlalu besar untuk diratapi. Keheningan dan kekelaman yang pekat dan mematikan meliputi seluruh kota.

Namun bahkan adegan mengerikan yang tersaji di depan mata itu tidak menyurutkan niat para perampok untuk membongkar makam dan melucuti pakaian mayat-mayat disertai tawa liar tanpa perasaan. Mereka menguji ketajaman pinggiran pedangnya ke tumpukan mayat, bahkan kepada orang yang masih bernafas. Pada periode menyedihkan dan mengerikan ini, Simon Goras memilih untuk memperlihatkan sifat bengis dan kejamnya dalam menjatuhkan hukuman mati kepada imam Matias dan ketiga anaknya, yang dituduh sebagai pendukung Romawi. Sang ayah, merasa berjasa sudah membukakan pintu gerbang bagi Simon, memohon agar dirinya yang dihukum mati lebih dulu daripada anak-anaknya. Tetapi sang tiran yang bengis justru menyuruh dia ditempatkan di urutan akhir, dan pada saat Matias akan menghembuskan nafas terakhir, dengan nada menghina Simon bertanya padanya apakah Romawi akan membebaskan dia.

Dalam situasi kota yang suram muram, seorang Yahudi bernama Mannæus melarikan diri kepada Titus dan memberitahu dia bahwa sejak awal pengepungan (14 April) hingga tanggal 1 Juli, tercatat 115.880 mayat yang digotong hanya lewat satu gerbang saja, yang dia adalah penjaganya. Orang ini telah ditunjuk untuk membayar tunjangan publik bagi para penggotong mayat, sehingga berkewajiban menghitung berapa mayat yang telah digotong keluar. Tak lama kemudian, beberapa orang terpandang melarikan diri dari kota menuju perkemahan Romawi dan meyakinkan Titus bahwa jumlah mayat orang miskin yang telah digotong keluar dari gerbang yang lain tidak kurang dari 600.000 mayat. Laporan tentang betapa mengerikannya malapetaka yang dialami Yerusalem membangkitkan rasa iba pada pihak Romawi, khususnya Titus yang kemudian mengangkat tangannya ke langit dan memohon kepada Yang Mahakuasa, mengatakan bahwa bukan dirinya yang menjadi penyebab malapetaka yang demikian dahsyat. Sesungguhnya, orang Yahudi sendirilah, dengan kebejatan, kedegilan dan kekeraskepalaan yang luar biasa, yang menimpakan semua ini atas diri mereka.

Kemudian, atas nama Titus, dengan tulus Josephus membujuk John Levi dan para pengikutnya untuk menyerah, tapi manusia kurang ajar ini menjawab dengan hinaan dan bersumpah, menyatakan keyakinannya bahwa Yerusalem -sebagai kota Allah sendiri- tidak akan pernah bisa direbut. Dengan demikian ia menggenapi nubuatan Nabi Mikha, bahwa Israel, kendati sudah berada di pinggir jurang, dengan pongah “bersandar kepada Tuhan dengan berkata: “Bukankah Tuhan ada di tengah-tengah kita! Tidak akan datang malapetaka menimpa kita!”” (Mikha 3:11).

Sementara itu kengerian akibat kelaparan semakin menyayat hati dan menyebabkan penderitaan yang semakin besar. Orang Yahudi, didorong oleh rasa lapar yang sangat, terpaksa mengkonsumsi ikat pinggang mereka, sandal mereka, kulit yang melapisi perisai mereka, rumput kering, bahkan kotoran lembu. Di titik nadir segala kengerian ini, seorang perempuan bangsawan Yahudi, didorong oleh lapar yang tak tertahankan, membunuh darah dagingnya sendiri dan memasaknya. Dia sudah memakan separuh bagian tubuh anaknya ketika para prajurit, yang tergiur oleh bau harum makanan, mengancam akan membunuhnya jika ia tidak memberitahu asal makanan yang dimakannya itu. Karena ketakutan, ia menunjukkan apa yang tersisa dari jasad anaknya, yang membuat para prajurit ini bergidik dalam kengerian. Pada pertunjukan peristiwa memilukan dan mengharukan ini, seantero kota layaknya kota hantu dan memberi selamat kepada orang-orang yang telah terlebih dulu mati karena dengan begitu terhindar dari mengalami hal-hal yang mengerikan ini.

[Catatan penulis: Kisah horor ini adalah penggenapan yang sangat tepat dari kutuk yang disampaikan kepada Israel: “Dan engkau akan memakan buah kandunganmu, yakni daging anak-anakmu lelaki dan anak-anakmu perempuan yang diberikan kepadamu oleh Tuhan, Allahmu, — dalam keadaan susah dan sulit yang ditimbulkan musuhmu kepadamu” (Ulangan 28:53).]

Sungguh, peri kemanusiaan benar-benar bergidik dan mual membaca narasi ini. Dan tak seorangpun bisa membayangkan betapa menyedihkannya kondisi yang dialami penduduk Yerusalem sampai-sampai perempuan-perempuan yang ada di sana sudah tidak memiliki emosi atau simpati apapun lagi. Dan tak seorangpun bisa menahan air mata saat membaca ucapan Juruselamat kita yang ditujukan-Nya kepada perempuan-perempuan yang meratapi dan menangisi Dia saat Ia dibawa ke Kalvari, dimana Ia merujuk kepada peristiwa ini: “Hai puteri-puteri Yerusalem, janganlah kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu! Sebab lihat, akan tiba masanya orang berkata: Berbahagialah perempuan mandul dan yang rahimnya tidak pernah melahirkan, dan yang susunya tidak pernah menyusui” (Lukas 23:28‭-‬29).

[Catatan penulis: Kematian Yesus adalah kematian yang mengerikan, namun Ia menangis bagi perempuan-perempuan dan anak-anak Yerusalem. Jika dibandingkan, Yesus sedang mengatakan bahwa kematian mereka akan jauh lebih mengerikan daripada kematian-Nya.]

Fakta memilukan di atas sebenarnya juga sudah dinubuatkan oleh Musa: “Perempuan yang lemah dan manja di antaramu, yang tidak pernah mencoba menjejakkan telapak kakinya ke tanah karena sifatnya yang manja dan lemah itu, akan menjadi jahat … terhadap anaknya laki-laki atau anaknya perempuan, karena uri [ari-ari] yang keluar dari kandungannya ataupun karena anak-anak yang dilahirkannya; sebab karena kekurangan segala-galanya ia akan memakannya dengan sembunyi-sembunyi, dalam keadaan susah dan sulit yang ditimbulkan musuhmu kepadamu di dalam tempatmu” (Ulangan 28:56‭-‬57).

Dan penting pula dicatat -sebagai situasi yang menunjukkan betapa pentingnya nubuat ini- bahwa sejarah dunia tidak pernah mencatat peristiwa kebiadaban yang di luar peri kemanusiaan dalam pengepungan di tempat lain atau negeri lain manapun yang serupa ini. Josephus sendiri pernah menyatakan, seandainya tidak banyak saksi mata yang menyaksikan peristiwa ini, ia sendiri tidak akan mencatatnya, “Karena,” ia katakan, “pelanggaran sifat dasar manusia yang demikian menggoncangkan tidak pernah dilakukan bahkan oleh orang Yunani atau barbar,” sehingga penyisipan peristiwa ini bisa saja menurunkan kredibilitas sejarahnya.

Ketika kelaparan berlanjut mengamuk di seantero kota, prajurit Roma -setelah beberapa usaha yang gagal- akhirnya berhasil merubuhkan bagian dari dinding dalam, mengambil alih menara besar benteng Antonia, dan merangsek maju menuju Bait Allah, dimana Titus, dalam sebuah rapat perang, telah memutuskan untuk mempertahankan Bait Suci sebagai ornamen bagi kekaisaran dan sebagai monumen kesuksesannya. Namun Yang Mahakuasa telah memutuskan sebaliknya. Akhirnya hari yang ditentukan itu tiba. Hari kesembilan bulan Av, tibalah hari pembalasan itu (Lukas 21:22), persis hari yang sama dengan hari penghancuran Bait Suci tahun 586 Sebelum Masehi oleh raja Babel!

[Catatan penulis: Dalam Lukas 4:18-19 Yesus membaca sebuah nubuat dari Yesaya 61:1-2:

Roh Tuhan ALLAH ada padaku, oleh karena Tuhan telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan dan hari pembalasan Allah kita…

Inilah ayat sebagaimana yang tertulis di Yesaya, namun ketika Yesus mengutipnya, Ia tidak menyelesaikan ayat tersebut. Yesus berhenti di tengah kalimat. Kalimat yang dicetak tebal, tidak dibacakan oleh Yesus. Namun dalam Lukas 21:22, Yesus menyatakan masa/hari pembalasan [the day of vengeance]. Yesus mengawali pelayanan-Nya kepada orang Yahudi dalam perkenanan Tuhan Allah, tetapi setelah tiga setengah tahun, Yesus akhirnya menyelesaikan nubuat Yesaya dengan menyatakan bahwa hari pembalasan itu sekarang tiba.]

Seorang prajurit Romawi, didorong (menurut dirinya) oleh dorongan ilahi, mengabaikan perintah Titus, memanjat bahu prajurit lainnya dan melemparkan obor yang menyala ke jendela emas Bait Suci, yang seketika membakar bangunan itu. Orang Yahudi, yang sangat kuatir dan ingin menyelamatkan bangunan besar suci yang mereka percayai sebagai jaminan keselamatan mereka, dengan teriakan panik, menyerbu masuk untuk memadamkan api. Titus juga, yang berharap bisa memadamkan kebakaran besar itu, tergesa-gesa menuju lokasi dengan kereta perangnya, diikuti para perwira utamanya. Dengan sia-sia ia melambai-lambaikan tangannya dan berteriak-teriak, memerintahkan prajuritnya untuk memadamkan api; namun kegemparan sangat gaduh dan massa yang kebingungan membuat tidak ada yang mendengar teriakannya. Prajurit Romawi, yang sengaja menulikan telinga mereka, bukannya memadamkan api, justru membuatnya semakin menyebar dan menyebar.

Terdorong oleh kebencian dan dendam yang menyala-nyala kepada orang Yahudi, para prajurit ini menyerbu massa, sebagian dibantai dengan pedang, yang lain diinjak-injak di bawah kaki mereka atau dibantingkan ke tembok hingga mati. Banyak massa yang jatuh lemas di antara reruntuhan beranda dan balkon yang penuh asap, karena kehabisan udara. Orang-orang miskin tak bersenjata bahkan orang sakit dibantai tanpa ampun. Di antara orang-orang tak beruntung ini, banyak yang dibiarkan bersimbah darah. Sejumlah besar orang mati dan sekarat menumpuk di sekeliling mezbah (yang memiliki empat tanduk di setiap sudutnya) yang tadinya mereka tuju demi mendapatkan perlindungan, sementara tangga dari mezbah menuju pelataran luar dibanjiri darah mereka.

Karena sadar tidak mungkin menahan keberingasan dan kekejaman prajuritnya, komandan tertinggi pasukan dan beberapa perwira utamanya, masuk ke dalam Bait Allah untuk mensurvei bagian bangunan yang belum tersentuh kebakaran. Pada saat itu, api belum menyentuh bagian dalam Bait, yang dimasuki dan disaksikan Titus dalam kekaguman. Terperangah dengan kemegahan arsitektur dan keindahan dekorasinya, yang bahkan melebihi berita kemashyuran yang dilaporkan kepadanya, dan menyadari bahwa tempat kudus belum terjamah api, Titus mengulangi usahanya untuk menghentikan kobaran api. Titus bahkan merendahkan diri memohon dengan sangat kepada prajuritnya untuk mengerahkan segala daya dan upaya untuk memadamkan api, bahkan menyuruh pasukan penjaga (centurion) untuk menghukum para prajurit jika mereka kembali tidak mematuhinya. Tapi semua sia-sia belaka.

Kemarahan para prajurit yang kalap sudah tidak mengenal batas lagi. Dengan nafsu menjarah dan membantai, mereka semua seperti serempak mengabaikan permohonan dan ancaman jenderal mereka. Bahkan saat sang jenderal berusaha melindungi tempat kudus, salah seorang prajurit justru dengan sengaja membakar ambang-ambang pintu yang menyulut kebakaran besar ke semua bagian. Titus dan para perwiranya sekarang terpaksa mundur, dan tak ada perwira yang tertinggal untuk mengawasi para prajurit yang sedang mengamuk atau api yang terus merambat. Para prajurit Romawi, yang jengkel sejengkel-jengkelnya kepada orang Yahudi, menangkapi siapapun yang ditemui, tanpa menghiraukan jenis kelamin, usia atau derajat, merampasi barang-barang mereka lalu membantai mereka. Tua-muda, orang biasa atau imam, yang menyerah maupun yang terus melawan, semuanya sama-sama dibunuh dalam pembantaian tak pandang bulu ini.

Sementara itu, Bait Allah terus terbakar, hingga akhirnya, seluruh bangunan dilalap api. Maraknya kobaran api menimbulkan kesan bagi orang yang melihat dari jarak jauh bahwa seluruh kota telah terbakar. Kegemparan dan kekacauan yang ditimbulkan peristiwa ini, menurut Josephus, sulit dijelaskan dengan kata-kata. Para prajurit Romawi mengeluarkan pekikan yang sangat menggetarkan; para pemberontak yang menemukan diri mereka terkepung pedang dan api, juga mengeluarkan teriakan-teriakan mengerikan; sementara orang-orang tak beruntung (yang miskin dan sakit) yang terjebak di antara musuh dan kobaran api, meratap memilukan. Ratapan dan raungan mereka yang ada di bukit dan yang ada di kota seperti saling bersahutan. Orang-orang yang selamat dari kelaparan seolah dibangkitkan oleh adegan mengerikan ini dan seolah memiliki tenaga baru untuk meratapi kemalangan mereka. Ratapan yang terdengar di kota digemakan ulang oleh gunung-gunung yang mengelilingi kota dan tempat-tempat di seberang Yordan. Kobaran api yang melalap seluruh bangunan Bait Allah sedemikian besar dan hebatnya sehingga seluruh bukit tempat bangunan itu berdiri, bahkan pondasinya yang dalam, tampak seolah sebuah bola api raksasa.

[Catatan penulis: Pembakaran Yerusalem adalah perapian yang menyala-nyala yang dicatat di Matius 13:42 dalam perumpamaan gandum dan lalang.]

Darah para korban mengalir seiring dengan hancurnya bangunan bait dan jumlah yang terbunuh sudah tidak terhitung lagi. Tanah bahkan tak terlihat karena tertutupi oleh tumpukan mayat, yang terinjak-injak oleh prajurit Romawi saat mengejar para buronan, sedang suara gemeretak kayu bangunan yang dilahap api, bercampur dengan suara beradunya senjata, rintihan orang yang sekarat, dan raungan keputusasaan, menambah kengerian luar biasa dari adegan yang tak ada bandingannya dalam halaman sejarah ini.

Di antara peristiwa-peristiwa tragis yang terjadi pada saat itu, sebuah peristiwa rasanya perlu mendapatkan perhatian khusus: Seorang nabi palsu, berbohong seolah ia menerima penugasan ilahi, mengatakan bahwa jika orang-orang ingin lari ke Bait Allah, mereka harus memperhatikan tanda pembebasan mereka. Karena itu, sekira enam ribu orang, kebanyakan perempuan dan anak-anak, berkumpul di sebuah balkon yang masih berdiri di luar bangunan. Ketika mereka menanti-nantikan mujizat yang dijanjikan dengan harap-harap cemas, prajurit Romawi, dengan sangat biadab, tanpa alasan jelas sengaja membakar balkon. Orang banyak yang panik karena situasi mengerikan tersebut, berlompatan ke reruntuhan yang ada bawahnya dan mati seketika. Sisanya, tanpa kecuali, mati dilalap api. Demikian pentingnya peringatan Tuhan kita untuk tidak mendengarkan nabi-nabi palsu “yang mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat.”

Bait Allah kini tak lebih dari onggokan puing-puing. Prajurit Romawi, yang merayakan kemenangan mereka, mengangkat dan menegakkan panji-panji di atas bagian yang tersisa dari gerbang timur, dan dengan persembahan rasa syukur mereka memproklamasikan kejayaan Titus dengan segala bentuk demonstrasi kegembiraan.

Dengan demikian berakhirlah kejayaan dan keberadaan Bait Allah yang kudus dan mulia itu, dengan ukurannya yang menakjubkan, kekukuhannya yang solid, dan kekuatannya yang mengagumkan, yang tampaknya mampu menahan segala tindakan kekuatan manusia yang paling hebat sekalipun dan tetap berdiri, seperti piramida, di tengah goncangan pergantian zaman hingga dunia ini berakhir.

Lima hari setelah penghancuran Bait Allah, imam-imam yang berhasil selamat duduk merana kelaparan di atas salah satu dinding yang runtuh; mereka akhirnya turun dan memohon pengampunan dari Titus, yang menolak mengampuni mereka, dengan alasan, “Karena Bait Allah, yang menjadi alasan ia mengampuni mereka, sudah hancur, maka adalah tepat jika imam-imam bait itu ikut binasa bersamanya,” sesudah itu Titus memerintahkan mereka dihukum mati.

Para pemimpin faksi, yang kini terdesak dari segala arah, meminta diadakannya suatu pertemuan dengan Titus, yang menawarkan untuk mengampuni nyawa mereka jika mereka bersedia meletakkan senjata. Atas syarat yang masuk akal ini, herannya, para pemimpin faksi ini menolak. Sebagai reaksi atas kekeraskepalaan mereka, Titus yang jengkel kemudian memutuskan ia tidak akan memberi ampun kepada para pemberontak dan memerintahkan hal tersebut diumumkan segera. Prajurit Romawi kini memiliki izin penuh untuk menjarah dan menghancurkan. Pagi-pagi sekali keesokan harinya, mereka membakar benteng, kantor pencatatan, ruang dewan, dan istana Ratu Helena, kemudian menyebar ke seluruh penjuru kota, membunuh siapa saja yang mereka temukan dan membakar mayat-mayat yang bergelimpangan di setiap jalan dan di lantai hampir setiap rumah.

Di istana kerajaan, dimana harta karun tersimpan dalam jumlah sangat besar, sejumlah orang Yahudi yang serakah membunuh 8.400 sesama mereka lalu menjarah harta milik mereka. Desertir dalam jumlah yang sangat banyak, yang berhasil kabur dari tiran dan memasuki perkemahan musuh, juga dibantai.

Para prajurit, yang lelah membunuh dan kenyang dengan darah yang mereka tumpahkan, akhirnya menurunkan pedang mereka dan sekarang ingin memuaskan keserakahan mereka. Untuk maksud itu, mereka mengumpulkan orang Yahudi yang tersisa, bersama dengan istri dan keluarganya dan menjual mereka secara terbuka, layaknya di pasar hewan. Sejumlah besar orang siap dijual, namun pembeli hanya sedikit. Dengan demikian genaplah ucapan Musa ini: “Dan … kamu akan menawarkan diri kepada musuhmu sebagai budak lelaki dan budak perempuan, tetapi tidak ada pembeli” (Ulangan 28:68).

Pasukan Romawi, yang menjadi penguasa kota bagian bawah, sengaja membakarnya. Orang Yahudi menyelamatkan diri dengan pergi ke bagian atas kota, dari mana -dengan keangkuhan dan kesombongan yang belum lekang- mereka tak hentinya menjengkelkan musuhnya, bahkan memperlihatkan diri untuk menonton kebakaran kota bagian bawah ibarat sedang menyaksikan suatu hiburan. Dalam waktu singkat, dinding kota bagian atas berhasil dihancurkan oleh ketapel Romawi, dan orang Yahudi yang tadinya begitu sombong dan congkak, kini gemetar dan sangat panik, jatuh tengkurap dan menyesali kesombongan mereka. Orang-orang yang berada di menara, yang tampaknya tak mungkin ditembus oleh usaha manusia, menjadi sangat takut, dan anehnya malah meninggalkan menara dan mencari perlindungan di gua-gua dan saluran-saluran bawah tanah. Dalam usaha untuk bersembunyi ini, setidaknya 2.000 orang ditemukan tewas setelah itu. Demikianlah, seperti Tuhan kita nubuatkan, orang-orang malang ini berkata kepada gunung-gunung: “Runtuhlah menimpa kami! dan kepada bukit-bukit: Timbunilah kami!” (Lukas 23:30).

Karena dinding kota kini sepenuhnya telah dalam penguasaan Romawi, para prajurit mengibarkan bendera di atas menara dan menyambut kemenangan mutlak mereka dengan sorak sorai. Setelah itu, setiap gangguan dari orang Yahudi berakhir dan prajurit Romawi sepenuhnya bebas melampiaskan kebencian mereka kepada para penduduk. Mereka menjarah rumah-rumah dan membakarnya. Mereka berkeliaran di jalan-jalan dengan pedang terhunus dan membunuh setiap orang Yahudi yang mereka temui tanpa pandang bulu, mayat para korban menutupi dan membuat sempit gang-gang kota sementara darah mereka mengalir ke saluran air kota. Dan ketika hari berganti malam, para prajurit mengganti pedang mereka dengan obor dan di tengah kegelapan malam yang mencekam, mereka membakar bagian kota yang masih tersisa.

Cawan murka Allah, yang telah sekian lama ditumpahkan atas kota penuh bakti ini, sekarang sudah kosong, dan Yerusalem, yang dulu pernah “menjadi kemahsyuran di bumi” dan penerima seribu nubuat, kini kehilangan nafas hidup, diselimuti nyala api dan berdarah-darah di setiap sudutnya, akhirnya tenggelam sepenuhnya dalam kehancuran dan kebinasaan. (Pengepungan bersejarah ini berakhir pada hari kedelapan bulan September tahun 70 Masehi. Lama pengepungan hampir lima bulan, dimana Romawi mengepungnya sejak hari keempat belas bulan April tahun yang sama.)

Sebelum menghancurkannya secara total, Titus melakukan survei atas kota itu dan kubu atau benteng pertahanannya, dan sambil merenungkan betapa kokoh dan kuatnya benteng-benteng itu, ia tidak kuasa untuk tidak mengaitkan keberhasilannya bersumber dari Yang Mahakuasa sendiri. Titus menyatakan, “Tidakkah Allah sendiri yang membantu operasi militer kita, dan menghalau keluar orang Yahudi itu dari benteng-benteng mereka, yang sama sekali mustahil untuk direbut; sebab apalah yang bisa dilakukan manusia, juga kekuatan ketapel, kepada menara sekuat ini?” Setelah itu Titus memerintahkan kota itu harus diratakan dengan tanah, dengan pengecualian tiga menara tinggi-megah Hippocos, Phasael dan Mariamne, sebagai bukti kekuatan kota itu dan sebagai piala kemenangan baginya. Selain itu ia juga membiarkan penggalan kecil tembok barat, sebagai benteng penjagaan bagi sebuah garnisun untuk mengawasi daerah sekelilingnya.

Titus juga memberi perintah bahwa hanya orang Yahudi yang masih melawan sajalah yang harus dibunuh, tapi para prajurit, yang sudah tidak memiliki belas kasihan, membantai bahkan yang sakit dan tua. Para pencuri dan orang serakah semua dihukum mati. Para remaja dan orang muda yang paling jangkung dan parasnya paling rupawan, bersama beberapa bangsawan Yahudi, dipilih dan dibiarkan hidup oleh Titus sebagai penyemarak arak-arakan kemenangannya memasuki kota Roma. Setelah pemilihan itu, semua yang berumur di atas tujuh belas tahun dikirim ke Mesir untuk dipekerjakan di sana sebagai budak, atau didistribusikan ke seluruh wilayah kekaisaran untuk dipersembahkan sebagai gladiator dalam amfiteater (gedung pertunjukan terbuka); sedangkan yang berusia di bawah itu dijual.

Selama peristiwa ini terjadi, 11.000 orang Yahudi yang dijaga oleh seorang jenderal bernama Fronto, mati karena kelaparan. Peristiwa memilukan ini terjadi sebagian disebabkan oleh langkanya bahan pangan dan sebagian lagi oleh kekeraskepalaan mereka sendiri dan pengabaian dari pihak Romawi.

Seluruh Yahudi yang binasa selama masa pengepungan Yerusalem, menurut catatan Josephus tidak kurang dari 1,1 juta orang, ditambah 237.000 orang yang mati di tempat lain dan jumlah tak terhitung yang tewas akibat kelaparan dan wabah sampar. Tak kurang 2.000 orang mati bunuh diri. Orang yang ditawan berjumlah 97 ribu orang. Dari dua pemimpin besar Yahudi yang keduanya berhasil ditangkap, John Levi dijatuhi hukuman seumur hidup di penjara bawah tanah, sementara Simon bersama John Levi, dalam arak-arakan di Roma dihukum cambuk, lalu dijatuhi hukuman mati sebagai penjahat.

[Catatan penulis: “Dan sekiranya waktunya tidak dipersingkat, maka dari segala yang hidup tidak akan ada yang selamat; akan tetapi oleh karena orang-orang pilihan waktu itu akan dipersingkat” (Matius 24:22). Dari angka di atas terlihat bahwa sekiranya pembantaian itu tidak dipersingkat, orang Yahudi akan sama sekali habis musnah. Juga jika pembunuhan tidak berhenti di kota Yerusalem, bisa saja pasukan Romawi melanjutkan aksinya ke kota terdekat Pella untuk menghabisi orang Kristen yang melarikan diri ke sana.]

Dalam melaksanakan perintah Titus terkait penghancuran Yerusalem, para prajurit tidak hanya merubuhkan bangunan yang ada, tapi juga membongkar seluruh pondasinya. Mereka benar-benar meratakan dengan tanah seluruh wilayah kota sehingga seorang asing yang melihat pasti tidak menyangka jika daerah itu tadinya adalah sebuah kota besar yang dihuni manusia. Demikianlah kota besar itu, yang lima bulan sebelumnya disesaki oleh hampir dua juta manusia, yang bermegah dalam kekuatannya yang tak tertembus, sepenuhnya dibiarkan kosong tak berpenghuni dan rata dengan tanah. Hal ini membuat apa yang sudah dinubuatkan Tuhan kita bahwa musuh Yerusalem akan membiarnya rata dengan tanah dan “tidak akan membiarkan satu batu pun tinggal terletak di atas batu yang lain” (Lukas 19:44) tergenapi sepenuhnya dengan cara paling menyolok.

Fakta ini diteguhkan oleh sejarawan gereja paling awal, Eusebius, yang menyatakan bahwa dirinya melihat sendiri kota itu terkubur di bawah reruntuhan, dan Josephus menyebut Eleazar saat berseru, “Dimanakah kota besar kita, yang dipercaya sebagai kediaman Allah? Semuanya sudah dicabut dan dibongkar dari pondasinya, dan monumen dari reruntuhannya adalah perkemahan para pembinasanya yang tegak di tengah-tengah puing-puingnya!”

Mengenai Bait Allah sendiri, Tuhan kita sudah menubuatkan secara khusus, tak peduli betapapun megahnya, “sesungguhnya tidak satu batu pun di sini akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan” (Matius 24:2). Bahkan tercatat dalam Talmud dan oleh Maimonides bahwa Terentius Rufus, kapten pasukan Titus, benar-benar membajak pondasi Bait Allah dengan bajak supaya benar-benar rata tanah. Hal ini juga secara harfiah menggenapi nubuat nabi Mikha: “Sebab itu oleh karena kamu [karena kejahatanmu] maka Sion akan dibajak seperti ladang, dan Yerusalem akan menjadi timbunan puing, dan gunung Bait Suci akan menjadi bukit yang berhutan” (Mikha 3:12).

[Catatan penulis: “Tembok Barat Yerusalem yang berdiri hari ini (atau sering juga disebut Tembok Ratapan) bukanlah bagian Bait Allah yang ada pada zaman Yesus. Tembok itu adalah bagian ‘parapet‘ (tembok perlindungan serupa benteng) yang dibangun raja Herodes mengelilingi Bait Allah.”]

Dengan demikian genaplah segala malapetaka dan penghancuran, yang tiada bandingnya, atas bangsa Yahudi dan khususnya kota Yerusalem. Dengan keakuratan yang sangat tinggi Tuhan kita pernah menyatakan, “Siksaan yang dahsyat seperti yang belum pernah terjadi sejak awal dunia sampai sekarang dan yang tidak akan terjadi lagi” (Matius 24:21).

[Catatan penulis: Tidak ada yang namanya dua penggenapan atas satu nubuat. Gagasan itu, sekalipun populer, tidaklah alkitabiah. Jika sebuah nubuat diberikan, hanya akan ada satu penggenapan. Mengatakan sebuah nubuat memiliki dua penggenapan berarti penafsiran atas nubuat itu keliru. Penggenapan-ganda tidak hanya tidak masuk akal, bahkan Yesus sendiri dengan cara-Nya mengatakan bahwa Matius 24 hanya akan digenapi satu kali (Matius 24:21). Perkataan-Nya ini menggugurkan kemungkinan penggenapan-ganda.

Yesus menunjukkan bahwa masa aniaya ini adalah yang terburuk dari yang pernah terjadi, dan yang terburuk dari yang akan terjadi, yang menyiratkan bahwa waktu masih akan berlanjut setelah peristiwa tersebut, tidak berarti peristiwa itu adalah akhir dunia. Banyak yang mengajarkan nubuat Yesus ini akan digenapi di penghujung waktu, namun pengajaran demikian tidak konsisten dengan ucapan Yesus yakni bahwa peristiwa ini akan terjadi di tengah garis waktu, bukan di akhir sejarah manusia!

Saat menafsirkan “hal terburuk yang pernah terjadi,” kita memiliki dua pilihan – harfiah/literal dan hiperbola. Menurut penafsiran harfiah, penghancuran negara Yahudi, Bait Allah, keimaman, dan catatan silsilah (yang memastikan sistem keimaman tidak akan pernah dipulihkan) bersama dengan kematian 1,1 juta orang Yahudi, memang adalah peristiwa terburuk dalam sejarah Israel.

Penafsiran hiperbola juga mungkin, seperti dikemukakan oleh DeMar:

“Satu alasan yang disodorkan untuk mempercayai aniaya besar merupakan peristiwa di masa depan adalah pernyataan yang nampaknya tak penting dalam Matius 24:21 tentang “siksaan yang dahsyat, seperti yang belum pernah terjadi sejak awal dunia sampai sekarang dan yang tidak akan terjadi lagi.” Kalimat ini terdengar hampir identik dengan Yehezkiel 5:9: “Oleh karena segala perbuatanmu yang keji akan Kuperbuat terhadapmu yang belum pernah Kuperbuat dan yang tidak pernah lagi akan Kuperbuat.” Yehezkiel 5:9 merujuk kepada penghancuran Yerusalem pada abad keenam Sebelum Masehi oleh bangsa Babel, namun para komentator Alkitab yang bertahan pada pendapat masih adanya aniaya besar atau siksaan dahsyat di masa depan menyatakan “tidak akan pernah lagi Allah menjatuhkan penghukuman seperti ini.” Tetapi Allah menjatuhkan penghukuman yang lebih besar dalam penghancuran Yerusalem tahun 70 Masehi, dan dispensasionalis mengklaim bahwa masih akan ada aniaya yang bahkan lebih besar lagi di masa depan yang tidak terlalu lama lagi. Gaya bahasa Yehezkiel 5:9 dan Matius 24:21 jelas adalah peribahasa hiperbola.”]

“Jika semua kemalangan,” kata Josephus, “semua bangsa, sejak dunia diciptakan, dibandingkan dengan apa yang terjadi atas orang Yahudi, maka kemalangan mereka akan sangat tidak sebanding.” Kemudian dia melanjutkan, “Tidak ada kota lain yang menderita penderitaan yang demikian, juga tidak ada angkatan lain, sejak dunia diciptakan, yang lebih banyak berbuah dalam hal kejahatan.” Malapetaka yang dialami Yerusalem, memang benar-benar “masa pembalasan,” sehingga semua yang ditulis (terutama oleh Musa, Yoël dan Daniel) tergenapi (Lukas 21:22).

Dan malapetaka yang dialami bangsa yang malang ini tak sampai di situ saja. Masih ada tempat lain untuk ditaklukkan, dan Tuhan kita sudah menubuatkan, “Di mana ada bangkai, di situ burung nazar berkerumun” (Matius 24:28). Setelah hancurnya Yerusalem, 1.700 orang Yahudi yang menyerah di Macherus dibantai, dan yang melarikan diri, tak kurang dari 3.000 orang dibunuh di hutan Jardes. Titus, berbaris bersama pasukannya menuju Kaisarea, dengan penuh kemegahan merayakan ulangtahun saudaranya, Domitian, di sana. Dan sesuai dengan cara barbar yang berlaku saat itu, Titus menghukum banyak orang Yahudi untuk menghormati acara itu. Jumlah yang dibakar dan mati karena berkelahi dengan binatang buas dan dengan sesamanya lebih dari 2.500 orang.

Dalam pengepungan benteng Massada; Eleazar, komandan orang Yahudi, menghasut pasukannya untuk membakar gudang mereka dan membunuh perempuan dan anak-anak lebih dulu, baru kemudian bunuh diri. Sekalipun sungguh tak menyenangkan untuk dikisahkan, namun rencana mengerikan ini dijalankan. Mereka yang ada di sana berjumlah 960 orang. Sepuluh orang dipilih untuk melakukan pekerjaan berdarah itu: Sisanya duduk di tanah dan menghadap istri dan anak-anaknya masing-masing, menyodorkan batang lehernya untuk ditebas pedang. Satu orang kemudian dipilih untuk membunuh sembilan yang lain, dan sesudah itu bunuh diri. Orang yang terakhir ini, saat melihat ke sekeliling dan melihat semua yang lain sudah mati, membakar tempat itu dan menusukkan pedangnya ke dadanya sendiri. Namun dua perempuan dan lima anak-anak berhasil bersembunyi dan menyaksikan semua yang terjadi. Saat pasukan Romawi menyerbu keesokan harinya, salah seorang perempuan yang selamat itu menceritakan dengan jelas kejadian memilukan ini dan membuat para prajurit itu tertegun melihat cara kematian yang begitu hina yang ditunjukkan oleh orang Yahudi.

Setelah peristiwa ini, jika kita mengecualikan pemberontakan singkat kaum Sicarii (kaum revolusioner fanatik yang menggunakan pisau belati sebagai senjata mereka) dibawah pimpinan Yonatan, semua perlawanan dari pihak orang Yahudi di segala tempat berhenti. Hal itu merupakan penyerahan diri tanpa daya dan tanpa asa, yang langsung berdampak pada terjaganya keamanan dan ketertiban. Wilayah makmur Yudea kini berubah menjadi tandus tak berpenghuni. Reruntuhan dan kesunyian menampakkan wajahnya kepada pengembara yang lewat, dan keheningan yang memilukan dan berbau kematian mengambang di seluruh kawasan. Kondisi Yudea yang berkabung dan sunyi, pada saat itu, persis seperti yang digambarkan Nabi Yesaya, dalam nubuatnya ini: “Sampai kota-kota telah lengang sunyi sepi, tidak ada lagi yang mendiami, dan di rumah-rumah tidak ada lagi manusia dan tanah menjadi sunyi dan sepi. Tuhan akan menyingkirkan manusia jauh-jauh, sehingga hampir seluruh negeri menjadi kosong” (Yesaya 6:11‭-‬12).

Kehancuran ini saat ini dianggap sebagai salah satu dari kehancuran paling luar biasa yang pernah terjadi sejak dunia dijadikan. Seolah menyenangkan bagi hati Yang Mahakuasa membuatnya menjadi subyek sebagian besar nubuat, baik dalam Kitab Suci Yahudi maupun Kristen, jadi Ia menetapkan peristiwa-peristiwa khusus yang menggenapi nubuat itu dicatat dengan sangat presisi oleh seorang yang sangat luar biasa yang dilindungi, memiliki kualifikasi dan berada di tempat dan waktu yang tepat untuk tujuan ini.

Untuk poin yang terakhir, Josephus berbicara mengenai dirinya: “Awalnya,” kata Josephus, “Aku berjuang melawan Romawi, tetapi kemudian aku dipaksa datang ke perkemahan Romawi. Pada saat aku menyerah, Vespasian dan Titus mengurung aku, tetapi mengharuskanku menghadap mereka terus-menerus. Kemudian aku ditempatkan di perpustakaan, dan harus menemani Titus saat ia bergerak dari Aleksandria ke Yerusalem untuk mengepungnya. Selama masa itu tidak ada yang luput dari pengetahuanku. Apapun yang terjadi di perkemahan, aku mengetahuinya dan mencatatnya dengan hati-hati. Tentang informasi yang dibawa para desertir yang melarikan diri dari kota, hanya aku yang memahaminya. Kemudian ketika aku mendapat waktu luang di Roma, dan semua materiku sudah lengkap, aku mendapat bantuan dari seseorang untuk menulis dalam bahasa Yunani. Lalu aku menyusun sejarah peristiwa-peristiwa tersebut, dan aku bertanggung jawab baik kepada Titus maupun Vespasian atas kebenaran isinya; yang atasnya Julius Archelaus, Herodes dan Raja Agripa juga memberikan kesaksian mereka.”

Semua komentar di sini rasanya tidak perlu, tapi harap tidak dilupakan bahwa Josephus adalah seorang Yahudi, yang sangat melekat kepada agamanya, dan bahwa sekalipun dengan sangat terperinci ia menghubungkan setiap peristiwa pada periode itu, tampaknya Josephus sangat berhati-hati menghindari adanya kaitan peristiwa tersebut dengan Yesus Kristus, yang sejarah-Nya dituliskan Josephus dalam dua belas kalimat. Oleh karena itu tidak ada seorang pun yang bisa mencurigai bahwa karyanya ditujukan bagi Kekristenan -dengan narasinya pada peristiwa perang Yahudi- sebagai sesuatu yang dibuat-buat. Kesetiaan Josephus sebagai seorang sejarawan, sangat diakui secara universal, dan Scaliger bahkan menegaskan bahwa tidak hanya menyangkut urusan orang Yahudi, tetapi juga urusan bangsa lain, Josephus layak menerima penghargaan ketimbang seluruh penulis Yunani dan Romawi dijadikan satu.

Karakter unik Titus, panglima tertinggi perang ini, juga layak mendapat perhatian kita. Vespasian, ayahnya, muncul dari kondisi tidak terkenal dan diangkat menjadi kaisar, berlawanan dengan kecenderungan yang diakuinya mengenai permulaan konflik. Komando tertinggi pasukan kemudian didelegasikan kepada Titus, orang yang paling dianggap tak mungkin dalam ketentaraan Romawi menjadi cambuk atas Yerusalem. Dia sangat terkenal karena kelembutan dan rasa kemanusiaannya yang besar, yang diperlihatkannya dalam berbagai kesempatan selama pengepungan. Dia berulangkali menawarkan penawaran masuk akal kepada orang Yahudi dan sangat menyesalkan penolakan mereka. Singkatnya, ia telah melakukan apapun yang dapat dilakukan oleh seorang komandan militer untuk menghindarkan mereka dari perang dan melindungi kota dan Bait mereka dari penghancuran, namun sia-sia. Demikianlah kehendak Allah tercapai lewat Titus, kendati itu bertentangan dengan kehendak Titus sendiri, dan Allah telah menubuatkan penghukuman atas umat-Nya yang pemberontak dan murtad lewat perantaraannya.

Diterjemahkan dari buku Jonathan Welton ‘Raptureless’ 1st Edition, 2012.

Versi aslinya dapat dilihat dan diunduh secara gratis pada tautan berikut: https://weltonacademy.com/collections/books/products/raptureless-first-edition-free-download

Advertisements