RAPTURELESS – BAB 1 (Bagian 5 dari 5)


SELEBIHNYA DALAM MATIUS 24
Untuk alasan tertentu, buklet George Peter Holford tidak membahas isi Matius 24 selanjutnya (ayat 29-51). Mari kita lihat ayat-ayat tersebut secara singkat.

TANDA-TANDA DI LANGIT

Segera sesudah siksaan pada masa itu, matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak bercahaya dan bintang-bintang akan berjatuhan dari langit dan kuasa-kuasa langit akan goncang” (Matius 24:29).

Bagi para pendengar abad pertama, “tanda-tanda di langit” adalah ucapan kiasan dari Perjanjian Lama, bahasa apokaliptik yang merujuk kepada penghancuran suatu pemerintahan atau kota. Sarjana Alkitab John Foster menegaskan hal ini:

“Dalam tulisan hieroglif kuno, tulisan matahari, bulan dan bintang-bintang melambangkan kerajaan dan negeri, dengan kekuasaan dan keagungan mereka. Menggelapnya benda-benda langit dianggap menggambarkan bencana nasional yang sifatnya sementara, atau tergulingnya pemerintahan suatu negeri. Hal ini masih menjadi gaya penulisan ala Timur, dan terdapat beberapa contoh klasik mengenainya. Para nabi sering menggunakan gaya bahasa ini, sehingga gaya bahasa mereka tampak seperti hieroglif yang sedang bicara. Dengan gaya bahasa inilah Yesaya menggambarkan runtuhnya Babel dan Yehezkiel menggambarkan runtuhnya Mesir.”

Ahli teologi Gary DeMar juga mengilustrasikan pola ini dalam penggambaran Yahudi, dimulai dalam Kejadian pada peristiwa penciptaan dan mimpi Yusuf:

“Pasal pertama Kitab Kejadian memberi kita petunjuk mengapa Alkitab membandingkan matahari, bulan dan bintang-bintang dengan para penguasa dan kerajaaan mereka: Matahari (penerang yang lebih besar) dan bulan (penerang yang lebih kecil) disebut sebagai penguasa siang dan malam (Kejadian 1:16). Dapatkah kita menemukan contoh matahari dan bulan digunakan sebagai simbol pemerintahan? Di dalam mimpi Yusuf melihat ” matahari dan bulan dan sebelas bintang menyembah kepadaku” (Kejadian 37:9). Matahari, bulan dan bintang-bintang menggambarkan ayah Yusuf, ibunya dan kesebelas saudaranya. Yusuf, yang saat itu baru berusia tujuh belas tahun (Kejadian 37:2), masih di bawah kuasa ayah, ibu dan saudara-saudaranya yang lebih tua. Dalam kenyataan, merekalah yang berkuasa atas Yusuf. Setelah mendengar mimpi Yusuf, Yakub bertanya, “Mimpi apa mimpimu itu? Masakan aku dan ibumu serta saudara-saudaramu sujud menyembah kepadamu sampai ke tanah?” (Kejadian 37:10). Ayah dan saudara-saudara Yusuf segera memahami arti perlambangan dalam mimpinya. Mereka tidak mengatakan matahari, bulan dan bintang-bintang yang menyembah kepada Yusuf.”

Tidak mengherankan jika Perjanjian Lama memiliki banyak contoh kota atau negeri yang menerima nubuat atas pembinasaan mereka menggunakan istilah yang berkaitan dengan benda-benda langit. Kepada Mesir, Yehezkiel bernubuat:

Waktu Aku membinasakan engkau, langit akan Kututup dan bintangnya Kubuat berkabut. Matahari Kututup dengan awan dan bulan, cahayanya tak disinarkan. Semua yang bersinar di langit akan Kugelapkan demi engkau. Kegelapan Kudatangkan atas tanahmu, demikianlah firman Tuhan ALLAH” (Yehezkiel 32:7‭-‬8).

Yesaya bernubuat atas penghancuran yang segera datang atas Edom dengan metafora yang mirip:

Segenap bintang-bintang akan hancur dan langit akan digulung seperti gulungan kitab, segala tentara mereka akan gugur seperti daun yang gugur dari pohon anggur, dan seperti gugurnya daun pohon ara. Sebab pedang-Ku yang di langit sudah mengamuk, lihat, ia turun menghakimi Edom, bangsa yang Kukhususkan untuk ditumpas” (Yesaya 34:4‭-‬5 New International Version).

Baik Yesaya maupun Amos menubuatkan kejatuhan Babel dalam istilah benda-benda langit:

Sebab bintang-bintang dan gugusan-gugusannya di langit tidak akan memancarkan cahayanya; matahari akan menjadi gelap pada waktu terbit, dan bulan tidak akan memancarkan sinarnya (Yesaya 13:10).

Pada hari itu akan terjadi,” demikianlah firman Tuhan ALLAH, “Aku akan membuat matahari terbenam di siang hari dan membuat bumi gelap pada hari cerah” (Amos 8:9).

Habakuk 3, yang berisi nubuat Babel menghancurkan Israel, juga menggunakan gambaran yang sejenis. Juga, dalam bahasa Alkitab Israel biasa digunakan bintang-bintang untuk menggambarkan orang Israel (Kejadian 22:17, 26:4; Ulangan 1:10). Dalam ayat-ayat ini, kita melihat bukti meyakinkan bahwa penggambaran benda-benda langit – “tanda-tanda di langit” – sering dipakai untuk menubuatkan keruntuhan suatu kota atau bangsa. Jadi dalam Matius 24:29, pendengar Yesus pasti mengerti bahwa Yesus sedang berbicara menggunakan simbolisme Perjanjian Lama menyangkut penghancuran Yerusalem, bukan akhir dunia.

DATANG DI ATAS AWAN-AWAN

Maka akan tampak tanda Anak Manusia di langit. Dan kemudian semua bangsa di bumi [bangsa yang mendiami negeri] akan meratap dan mereka akan melihat Anak Manusia itu datang di atas awan-awan di langit dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya” (Matius 24:30).

Pertama, kita harus sadari bahwa ayat ini tidak memaksudkan suatu peristiwa skala global. Saat dikatakan bumi (earth), akar katanya adalah ge, yang berarti “tanah” atau “negeri” atau “lahan” (land), seperti tanah Israel (land of Israel). Ayat ini tidak menggunakan kata kosmos, yang berarti seluruh planet bumi. Karena itulah banyak terjemahan yang menggunakan frasa “bangsa yang mendiami negeri” (dalam kurung) atau mencantumkannya dalam catatan kaki.

Kedua, frasa “datang di atas awan-awan” adalah frasa yang umum digunakan dalam Perjanjian Lama sebagai lambang kedatangan Allah membawa penghakiman atas orang-orang atau bangsa kuno dalam sejarah (lihat Mazmur 18:8-16, 104:3; Yesaya 19:1; Yoël 2:1-2; Zefanya 1:4, 15). Pendengar Yahudi abad pertama pasti memahami hal ini. Saya akan membahas “awan kedatangan” lebih lanjut pada bab 3. Untuk saat ini yang penting diingat adalah bahwa pada saat Yesus berbicara mengenai kedatangan Anak Manusia, yang Dia maksudkan adalah datangnya penghakiman, bukan kedatangan-Nya yang kedua.

Ketiga, “tanda Anak Manusia di langit” sepertinya adalah tanda yang telah kita baca sebelumnya dari Josephus – pedang yang tergantung selama setahun di langit Yerusalem tahun 70 Masehi.

MENGUMPULKAN ORANG-ORANG PILIHAN

Dan Ia akan menyuruh keluar malaikat-malaikat-Nya dengan meniup sangkakala yang dahsyat bunyinya dan mereka akan mengumpulkan orang-orang pilihan-Nya dari keempat penjuru bumi, dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain” (Matius 24:31).

Banyak yang telah menafsirkan hal ini sebagai pengangkatan, tetapi sebagaimana dijelaskan oleh David Chilton, ayat ini sebenarnya adalah gambaran gelombang perpindahan keyakinan (conversion) kepada Kekristenan:

“Akhirnya, Yesus menyatakan, bahwa hasil penghancuran Yerusalem adalah Kristus akan mengirimkan “malaikat-malaikat”-Nya untuk mengumpulkan orang-orang pilihan. Apakah yang dimaksud adalah pengangkatan? Tidak. Kata “malaikat” semata-mata berarti “orang-orang yang disuruh” (messengers, lihat Yakobus 2:25), entah dari bumi sendiri atau dari sorga; konteksnyalahyang menentukan yang mana yang sedang dibicarakan. Kata ini juga bisa berarti “pemberita Injil” (preachers of the Gospel, lihat Matius 11:10; Lukas 7:24, 9:25; Wahyu 1-3). Sesuai konteksnya, ada banyak alasan untuk mengasumsikan bahwa Yesus sedang berbicara mengenai penginjilan ke seluruh dunia dan perpindahan keyakinan di bangsa-bangsa, yang terjadi setelah penghancuran Yerusalem.”

Setelah runtuhnya Bait Allah dan sistem keagamaan Yahudi, Allah mulai mengumpulkan orang-orang kepada Kerajaan-Nya dari keempat penjuru bumi. Buku “Victorious Eschatology” memberikan penjelasan lain yang sangat bagus mengenai ayat ini:

“Saat Yesus duduk di atas takhta-Nya, seluruh kuasa di bumi dan di sorga telah diberikan kepada-Nya. Segala hal berubah saat Yesus datang kepada Kerajaan-Nya. Tiupan sangkakala bagi orang Yahudi berarti ada dekrit kerajaan yang akan dipermaklumkan. Dan apa isi dekrit tersebut? Bahwa sudah saatnya melepas malaikat-malaikat untuk pergi dan mengumpulkan orang-orang-Nya dari setiap bangsa. Pada saat yang sama, murid-murid Yesus ditugasi untuk pergi dan memberitakan Injil, memuridkan semua bangsa. Kini bukan hanya orang Yahudi saja yang diizinkan berada dalam hubungan perjanjian dengan Allah [ini terjadi dalam Kisah Para Rasul 10]. Yesus telah menjadi Gembala Yang Baik yang mengumpulkan domba-domba-Nya dari seluruh penjuru dunia.”

Bukti lain bahwa ayat ini tidak memaksudkan akhir sejarah manusia ditemukan tiga ayat kemudian, saat Yesus berkata, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya angkatan ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya ini terjadi” (Matius 24:34). Dengan kata lain, ayat 31 itu merupakan peristiwa yang akan terjadi dalam masa hidup sebagian besar pendengar asli-Nya.

Banyak orang Kristen modern yang secara otomatis mengaitkan kata “rapture” (pengangkatan) dengan kata “gather” (dikumpulkan). Tapi hal ini bertentangan dengan konteksnya. Perjanjian Baru menggunakan kata “gathering” (mengumpulkan) untuk menggambarkan penyatuan orang Yahudi dan bangsa lain, yang Yesus lakukan dalam karya penebusan-Nya (lihat Yohanes 11:51-52; Efesus 2:11-22). Dalam bahasa Perjanjian Baru, kata “gathering” paling umum dikaitkan dengan penginjilan, dikumpulkannya umat Allah, baik Yahudi maupun bangsa lain, ke dalam Kerajaan Anak-Nya. Gary DeMar mengkonfirmasi penafsiran gathering ini dengan memperlihatkan bagaimana penggambaran dalam ayat ini adalah kiasan penginjilan atas semua bangsa, bukan hanya orang Yahudi:

“Orang-orang suruhan dalam Matius 24:31 mengumpulkan orang-orang pilihan Allah “dari keempat penjuru angin,” adalah sebuah petunjuk mengenai empat penjuru bumi (Zakharia 2:6, 13:29), dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain. Ini adalah petunjuk horison bumi (Mazmur 22:28; Ulangan 4:32; Matius 28:18-20). Kata-kata “empat penjuru angin” ini hendaknya tidak kita pahami dalam pengertian ilmu pengetahuan. “Empat penjuru angin” mengisyaratkan dunia yang segi empat, seperti dalam “empat penjuru tanah” atau “empat penjuru bumi” (Yesaya 11:12; Yehezkiel 7:2; Wahyu 7:1, 20:8). Alkitab berbicara dalam pengertian teologi, menggambarkan bumi seperti sebuah rumah. Sorga juga digambarkan demikian (Yohanes 14:2). Tidak satupun bahasa yang digunakan ini yang mengatakan bumi itu datar atau kubus, seperti yang diharapkan oleh literalisme dungu. Alkitab menyiratkan bahwa bumi itu bulat dalam Yesaya 40:22: “Dia yang bertakhta di atas bulatan bumi” – bulatan (circle, sphere) adalah terjemahan dari kata “khug” dalam bahasa Ibrani. Dengan menggunakan metafora empat penjuru angin, Yesus sedang memberitahu bahwa orang-orang pilihan dikumpulkan dari mana saja, tidak terbatas pada wilayah atau umat (Matius 15:24) Israel (Matius 8:11).”

Jelas sekali bahwa ketika Yesus bernubuat atas berkumpulnya orang-orang pilihan-Nya, Dia tidak berbicara tentang pengangkatan, tetapi penyebaran Kerajaan-Nya di dunia ini, baik sebelum maupun setelah penghancuran Yerusalem.

POHON ARA

Tariklah pelajaran dari perumpamaan tentang pohon ara: Apabila ranting-rantingnya melembut dan mulai bertunas, kamu tahu, bahwa musim panas sudah dekat. Demikian juga, jika kamu melihat semuanya ini, ketahuilah, bahwa waktunya sudah dekat, sudah di ambang pintu” (Matius 24:32‭-‬33).

Ucapan ini adalah perumpamaan sederhana; sebagaimana mereka dapat melihat tanda musim panas sudah tiba, demikian pula mereka akan melihat tanda yang jelas penghancuran Yerusalem sudah di depan mata. Ada delapan tanda yang paling jelas. Ayat ini tidak memiliki arti yang lebih dalam mengenai pemulihan Israel sebagai sebuah bangsa. Sejak Adam menutupi dirinya dengan anyaman daun ara, ara telah menjadi tipikal simbol sesuatu yang negatif. Sebelumnya Yesus juga pernah mengutuk pohon ara (lihat Markus 11:12-14). Ara yang berkonotasi negatif tidak akan pernah digunakan sebagai lambang restorasi Israel.

Perhatikan juga bahwa dalam perikop paralel di Lukas, diperlihatkan bahwa yang Yesus maksudkan bukanlah spesifik jenis ara, tetapi pohon secara umum, dimana bertunasnya pohon adalah pengibaratan betapa jelasnya tanda-tanda datangnya penghancuran itu. Perhatikan generalisasi pohon dalam paralel di Lukas ini:

Perhatikanlah pohon ara atau pohon apa saja. Apabila kamu melihat pohon-pohon itu sudah bertunas, kamu tahu dengan sendirinya bahwa musim panas sudah dekat. Demikian juga, jika kamu melihat hal-hal itu terjadi, ketahuilah, bahwa Kerajaan Allah sudah dekat” (Lukas 21:29‭-‬31).

Secara mengejutkan, John Walvoord, seorang dispensasionalis, sepakat bahwa pohon ara tidak melambangkan Israel:

“Sebenarnya, walaupun pohon ara adalah penggambaran yang tepat atas Israel, tetapi tidak banyak digunakan dalam Alkitab. Dalam Yeremia 24:1-8, buah ara yang baik dan jelek sama-sama melambangkan orang Israel di pembuangan, demikian pula dalam Yeremia 29:17. Penggunaan ilustrasi pohon ara dalam Hakim-hakim 9:10-11 jelas bukan melambangkan Israel. Penyebutan dalam Matius 21:18-20 atau dalam Markus 11:12-14 berikut penafsirannya dalam Markus 11:20-26, tidak mengindikasikan bahwa Israel-lah yang dimaksud, seperti halnya kata gunung. Walaupun penafsiran ini dipegang oleh banyak orang, tidak ditemukan adanya bukti yang Alkitabiah.Penafsiran yang lebih baik adalah Yesus sedang menggunakan alam sebagai ilustrasi. Karena pohon ara mengeluarkan daun baru di akhir musim semi, keluarnya tunas daun adalah pertanda musim panas sudah dekat. Demikian pula, jika orang-orang yang hidup dalam aniaya besar melihat tanda-tanda yang sudah dinubuatkan, maka artinya kedatangan Kristus yang kedua kali sudah dekat. Tanda-tanda dalam ayat ini, dengan demikian, bukanlah restorasi Israel, tetapi aniaya besar.”

Pohon ara hanyalah perumpamaan bagi tanda-tanda jelas yang mengarah kepada peristiwa tahun 70 Masehi.

ANGKATAN INI

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya angkatan ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya ini terjadi. Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu” (Matius 24:34‭-‬35).

Bagi orang Yahudi, satu angkatan adalah empat puluh tahun. Kita dapat melihat ini dalam fakta matinya satu angkatan dalam pengembaraan empat puluh tahun (lihat Ulangan 29:5). Sehingga itu artinya Yesus sedang mengatakan bahwa nubuat ini akan terjadi dalam jangka waktu empat puluh tahun. Yesus mengatakan hal ini pada tahun 30 Masehi, dan keseluruhan Matius 24 digenapi pada tahun 70 Masehi.

Beberapa orang berusaha mengubah kata “angkatan” menjadi “ras,” sehingga ayat ini berbunyi, “Sesungguhnya ras Yahudi tidak akan berlalu sebelum semuanya ini terjadi.” David Chilton merespon gagasan ini dengan baik sekali:

Tidak satupun penyebutan [kata “angkatan” dalam Perjanjian Baru] yang berbicara tentang ras Yahudi selama ribuan tahun; semua penyebutan menggunakan kata itu dalam pengertian biasa yakni sebagai penjumlahan semua yang hidup pada masa yang sama. Kata itu selalu merujuk kepada “orang-orang yang sezaman.”

(Sebenarnya, orang yang mengatakan kata itu mempunyai arti “ras” mengetahui hal ini, tetapi beralasan bahwa makna kata itu mendadak berubah saat Yesus menggunakannya dalam Matius 24:34! Kita mungkin tersenyum geli melihat “error” yang terang-terangan ini, tapi kita juga harus mengingat bahwa ini adalah hal yang sangat serius. Jangan lupa bahwa kita sedang sedang berurusan dengan Firman Allah yang hidup.)

Jelas sekali yang Yesus maksudkan adalah Aniaya Besar akan terjadi atas angkatan orang Yahudi yang hidup pada masa-Nya. Mengenai hal ini, banyak orang bertanya-tanya, bagaimana mungkin Allah mencurahkan penghakiman dan murka yang sedemikian hebat atas suatu angkatan? Sebuah survei mengenai dua belas ucapan yang Allah katakan mengenai angkatan yang jahat ini mungkin bisa membantu:

1. Angkatan ini tidak pernah memberikan respon yang benar terhadap Allah (lihat Matius 11:16-19; Lukas 7:31-34).

2. Saat angkatan ini datang meminta tanda, Yesus tidak bersedia memenuhi permintaan mereka (lihat Markus 8:11-12).

3. Angkatan ini disebut angkatan yang tidak percaya dan yang sesat, jahat, tidak setia dan berdosa, yang bengkok hatinya (lihat Lukas 9:41, 11:29; Markus 8:38; 9:19; Matius 17:17, Filipi 2:15).

4. Ratu dari Selatan yakni Sheba akan menghakimi angkatan ini (lihat Matius 12:42; Lukas 11:31).

5. Bahkan penduduk Niniwe akan menghakimi angkatan ini (lihat Matius 12:41; Lukas 11:32).

6. Sebab seperti Yunus menjadi tanda penghukuman untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda penghukuman untuk angkatan ini (lihat Lukas 11:30).

7. Yesus harus menanggung banyak penderitaan dahulu dan ditolak oleh angkatan ini (lihat Lukas 17:25).

8. Angkatan ini tidak akan berlalu hingga semua kutuk dalam Matius 23 ditanggungkan kepada angkatan ini (lihat Matius 23:34, 36).

9. Angkatan ini tidak akan berlalu hingga penghancuran atas Yerusalem terjadi (lihat Markus 13:30; Lukas 21:32; Matius 24:34).

10. Semua dosa dan penumpahan darah semua nabi Perjanjian Lama akan dituntut dari angkatan ini (lihat Lukas 11:49-51).

11. Setelah Yesus menyapu bersih Yerusalem secara spiritual, angkatan yang jahat di Yerusalem menjadi tujuh kali lebih jahat sebelum terjadinya penghancuran tahun 70 Masehi (lihat 12:43-45).

12. Petrus dengan sungguh-sungguh menasihati pendengarnya untuk menyelamatkan diri mereka dari angkatan yang jahat ini (Kisah Para Rasul 2:40).

Dengan kata lain, masa itu adalah hari-hari yang gelap kelam – lebih kelam daripada yang kita bayangkan. Itulah alasan Yesus mengumpamakan angkatan pada masa-Nya dengan angkatan yang hidup pada masa Nuh. Alkitab menceritakan bahwa karena kejahatan manusia pada angkatan Nuh, Allah menyesal menciptakan manusia (Kejadian 6:6). Catatan Holford mengenai peristiwa tahun 70 Masehi jelas sekali memperlihatkan betapa jahatnya angkatan yang hidup pada masa itu.

TENTANG HARI ITU TAK SEORANG PUN YANG TAHU

Dalam konteks angkatan Nuh, Yesus membuat pernyataan mengenai penghancuran yang akan datang:

Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapa sendiri. Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia. Sebab sebagaimana mereka pada zaman sebelum air bah itu makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, dan mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua, demikian pulalah halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia” (Matius 24:36‭-‬39).

Bagi pemahaman Yahudi, air bah pada zaman Nuh adalah gambaran yang paling jelas mengenai penghancuran total. Pada masa itu, Nuh telah mengingatkan air bah akan datang, namun orang-orang mengabaikan peringatannya dan meneruskan hidup seperti biasa. Mereka mengabaikannya hingga detik terakhir, dimana akhirnya mereka binasa. Demikian pula tahun 70 Masehi, saat Yesus dalam kedatangan-Nya membinasakan Yerusalem seperti air bah.

Dalam bukunya yang membahas topik ini, Gary DeMar mengutip komentar terkenal John Gill, Adam Clark, dan John Lightfoot atas ucapan Yesus dalam Matius 24:36:

“John Gill menulis: “Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorang pun yang tahu …” harus dipahami bukan sebagai kedatangan Yesus yang kedua kali, akhir dunia, dan penghakiman terakhir; tetapi sebagai kedatangan Anak Manusia membawa pembalasan kepada orang Yahudi dan mendatangkan kebinasaan; karena kata-kata Yesus nyata-nyata adalah menyangkut hal-hal yang terjadi sebelumnya, yang hanya bisa diaplikasikan kepada penghancuran dan pembinasaan tahun 70 Masehi tersebut.Gill berasumsi bahwa konteks pasal itu menentukan arti “pada hari itu.” Sebagaimana telah dijelaskan di atas, Matius 24:29 adalah penggambaran Perjanjian Lama yang sudah dikenal baik “berlalunya langit dan bumi” sebagai akhir dari sistem sosial, politik dan agama.

Adam Clark memberikan penafsiran yang mirip: Ayat 36 “Tetapi tentang hari dan saat (jam) itu.” Jam, dalam bahasa Yunani adalah “ora,” diterjemahkan sebagai “musim” (season) oleh banyak kritikus, demikian pula oleh para penulis terkenal. Karena harinya tidak diketahui -kapan Yerusalem dikepung oleh Romawi- maka Tuhan kita menasihati murid-murid-Nya agar berdoa hari itu tidak jatuh pada hari Sabat, dan karena musimnya juga tidak diketahui, mereka juga perlu berdoa agar musimnya bukan musim dingin.”

Komentar John Lightfoot memperlihatkan bahwa satu-satunya acuan yang mungkin adalah penghancuran tahun 70 Masehi.

Buktinya telah jelas. Pernyataan Yesus bahwa nubuat-Nya dalam Matius 24 akan terjadi dalam angkatan itu benar-benar digenapi tahun 70 Masehi, hanya empat puluh tahun setelah Ia menyatakannya.

YANG SEORANG AKAN DIBAWA DAN YANG LAIN AKAN DITINGGALKAN

Pada waktu itu kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan; kalau ada dua orang perempuan sedang memutar batu kilangan, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan” (Matius 24:40‭-‬41).

Yesus tidak sedang membicarakan tentang pengangkatan tetapi cara sewenang-wenang yang digunakan prajurit Romawi menyiksa dan membunuh orang Yahudi tahun 70 Masehi; secara harfiah mereka membunuh dengan membelah dua tubuh petani di ladang, sedang petani yang satunya dibiarkan berdiri menyaksikan.

BERJAGA-JAGALAH

Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang. Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga. Siapakah hamba yang setia dan bijaksana, yang diangkat oleh tuannya atas orang-orangnya untuk memberikan mereka makanan pada waktunya? Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya. Akan tetapi apabila hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya: Tuanku tidak datang-datang, lalu ia mulai memukul hamba-hamba lain, dan makan minum bersama-sama pemabuk-pemabuk, maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disangkakannya, dan pada saat yang tidak diketahuinya, dan akan membunuh dia dan membuat dia senasib dengan orang-orang munafik. Di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi” (Matius 24:42‭-‬51).

Ayat 45-51 adalah serangkaian nasihat untuk tetap berjaga-jaga, tetap siap sedia dan tetap berpengharapan. Sangatlah menggoda bagi orang Kristen -setelah empat puluh tahun menunggu- untuk menjadi bosan dan berhenti mempercayai bahwa Yesus akan datang untuk menghakimi Yerusalem. Bahkan, 2 Petrus 3:4 mengatakan akan ada orang yang mengolok-olok dan mencemooh nubuat Yesus, dengan mengatakan, “Di manakah janji tentang ‘kedatangan’-Nya itu? Sebab sejak bapa-bapa leluhur kita meninggal, segala sesuatu tetap seperti semula, pada waktu dunia diciptakan.” Dalam ayat ini (dalam New International Version), kata ‘kedatangan’ (‘coming‘) diberi tanda kutip karena bukan merujuk kepada kedatangan Yesus kembali, tetapi bahasa kiasan orang Yahudi yang berarti penghakiman Allah atas suatu kota.

Hamba dalam cerita ini mengira tuannya (Yesus) akan pergi dalam jangka waktu lama, tapi ia salah sama sekali dan menjadi terkejut. Demikianlah halnya, banyak orang antara tahun 30 dan 70 Masehi yang mengira kedatangan Yesus membawa penghakiman masih akan lama, dan mereka terkejut karenanya.

SEBAGAI RINGKASAN

Bagi banyak dari Anda, apa yang disampaikan di sini mungkin adalah informasi yang baru. Jika Anda mengkonfirmasi akurasi dari yang baru Anda baca, semua informasi tersedia secara publik. Dengan membaca karya para sejarawan -Josephus, Eusebius, dan Tacitus- juga dengan melihat beberapa akar kata dalam bahasa Yunani dalam Vine’s Expository Dictionary, Anda dapat mengkonfirmasi semua yang tercakup dalam bab ini.

Saya juga memahami jika apa yang baru saja Anda baca adalah sesuatu yang mengerikan dan memilukan. Seperti telah saya sebutkan sebelumnya di awal bab ini, saat pertama kali saya membaca buklet tulisan Holford, air mata mengucur di wajah saya saat berada di pesawat. David Chilton meringkas peristiwa ini dengan baik:

“Josephus mewariskan bagi kita sebuah catatan saksi mata yang mencatat betapa mengerikannya tahun-tahun tersebut, khususnya hari-hari terakhir Yerusalem. Itu adalah saat “siang hari diisi dengan pertumpahan darah, dan malam hari dengan ketakutan”; saat “melihat mayat bergelimpangan adalah sesuatu yang biasa”; saat orang Yahudi menjadi panik dan mulai saling membunuh tanpa pandang bulu; saat para ayah dengan berurai air mata membunuh seluruh anggota keluarganya, dalam usaha menghindarkan mereka mendapat perlakuan yang jauh lebih buruk dari orang Romawi; saat di tengah kelaparan hebat, para ibu membunuh, membakar dan memakan anak kandung mereka sendiri (Ulangan 28:53); saat seluruh tanah itu “tertutup oleh api dan darah”; saat danau dan sungai berubah merah, mayat mengambang dimana-mana, mengotori pantai, menggembung di bawah terik matahari, membusuk dan tercecer; saat prajurit Romawi menangkapi orang-orang yang berusaha melarikan diri dan menyalibkan mereka – 500 orang per hari.”

Sekalipun catatan atas peristiwa ini mengerikan untuk dibaca, namun kita memerlukannya untuk dapat memahami peristiwa tersebut sebagai orang Kristen. Catatan ini memberi kita bukti bahwa Aniaya Besar seperti yang Yesus nubuatkan telah digenapi seluruhnya pada tahun 70 Masehi. Tidak ada bagian Matius 24 yang tersisa untuk digenapi di masa depan.

POIN-POIN BAB 1

• Dalam Matius 24, Yesus menubuatkan Aniaya Beaar, yang terjadi pada tahun 70 Masehi dalam peristiwa penghancuran Yerusalem.

• Peristiwa 70 Masehi terjadi dalam kerangka waktu yang Yesus berikan – satu angkatan, yakni empat puluh tahun.

• Yesus memberikan delapan tanda yang akan mendahului Aniaya Besar, dan semuanya telah digenapi sebelum tahun 70 Masehi.

• Tidak ada Aniaya Besar di masa yang akan datang. Yesus telah mengatakan bahwa yang demikian belum pernah terjadi sebelumnya dan tidak akan pernah terjadi lagi sesudahnya.

PERTANYAAN DISKUSI

1. Apakah Anda mengetahui bahwa banyak pemimpin utama gereja sepanjang sejarah percaya bahwa Matius 24 telah terjadi pada tahun 70 Masehi?

2. Apakah Anda pernah mendengar tentang peristiwa tahun 70 Masehi? Apa yang Anda rasakan setelah mempelajari peristiwa tahun 70 Masehi tersebut?

3. Pernahkah Anda menganggap Matius 24 adalah nubuat yang sudah digenapi seluruhnya? Mengapa atau mengapa tidak?

4. Bagian mana dari bab ini yang paling Anda ingat atau yang paling berkesan? Apa yang Anda temukan sebagai hal yang meyakinkan dan mengapa? Bagian mana yang masih Anda pertanyakan dan mengapa?

Diterjemahkan dari buku Jonathan Welton ‘Raptureless’ 1st Edition, 2012.

Versi aslinya dapat dilihat dan diunduh secara gratis pada tautan berikut: https://weltonacademy.com/collections/books/products/raptureless-first-edition-free-download

Advertisements