WAHYU 4

Ayat 1: Mata Yohanes dibuka untuk melihat sebuah pintu terbuka di sorga. Suara seperti suara sangkakala mengajak dia ke atas, dan dia diberitahu bahwa kepadanya akan ditunjukkan “apa yang harus terjadi sesudah ini.” Seperti yang dinyatakan Steve Gregg, “Karena Yohanes diberitahu (pada abad pertama) bahwa hal-hal ini harus terjadi, maka penggenapan abad pertamalah yang dinantikan” (halaman 84). Inilah yang dipahami dan dinantikan oleh pembaca asli surat Yohanes. “Bagi pandangan dispensasional,” sebaliknya, Gregg katakan (halaman 85):

“Sesudah ini … berarti sesudah era gereja usai. Dengan demikian isi Kitab Wahyu setelah pasal ini akan digenapi setelah gereja tiada. Beberapa orang mempercayai terangkatnya Yohanes ke sorga dapat dipandang sebagai lambang pengangkatan gereja, dan penyebutan “suara seperti suara sangkakala” (ayat 1) di sini mengingatkan kepada gaya bahasa dalam bacaan mengenai pengangkatan di 1 Korintus 15:51-54 (yang merujuk kepada ‘sangkakala terakhir’) dan 1 Tesalonika 4:16-18 (yang merujuk kepada seruan penghulu malaikat dan sangkakala Allah). Dispensasionalis futuris memperhatikan bahwa setelah pasal 3 gereja atau jemaat tidak lagi disebut-sebut berada di bumi – tetapi di sorga (Wahyu 7:9-17).”

Sebagian lain, menekankan penggunaan istilah ‘orang-orang kudus’ (5:8; 8:3-4; 11:18; 13:7-10; 14:12; 15:3; 16:6; 17:6) dan ‘yang telah ditebus’ (5:9; 14:3-4) yang adalah gambaran gereja, Tubuh Kristus, sebagaimana ditemukan dalam seluruh Perjanjian Baru” (halaman 87). Dengan masih adanya penggunaan istilah ini, gereja MASIH ADA di sepanjang Kitab Wahyu.



Ayat 2: Yohanes, yang “dikuasai oleh Roh” melihat Kristus duduk di takhta-Nya. Steve Gregg, yang adalah seorang preteris, menulis, “Kita diperkenalkan, kemungkinan besar, kepada adegan ruang sidang sorgawi. Sang Hakim duduk di takhta (ayat 2) -seperti yang akan kita lihat dalam pasal 5- tempat Dia akan menjatuhkan hukuman atas terdakwa. Para penggugat adalah saksi-saksi Kristus, yang berseru dengan suara nyaring terhadap penganiaya mereka yang masih dicatat selanjutnya dalam penglihatan ini (Wahyu 6:9). Sang terdakwa (Yerusalem) akan dihukum (halaman 84). Hal ini tidak dinyatakan secara eksplisit dalam teks, tetapi harus disimpulkan dari konteks keseluruhan sebagai penjelasan yang mungkin.”

Ayat 3: Dia yang duduk di takhta itu nampaknya bagaikan “permata yaspis dan permata sardis” (merah api dan putih berkilau); dan takhta-Nya gilang-gemilang dilingkungi oleh suatu pelangi zamrud (hijau).

Ayat 4: Sebagai apa dua puluh empat tua-tua itu harus diidentifikasi? Terdapat perbedaan pendapat mengenai siapa sebenarnya tua-tua ini. Steve Gregg menulis (halaman 89), “Pendapat mayoritas di kalangan dispensasionalis (misalnya Gaebelein, Ryrie, Walvoord, Lindsey, dan lainnya) mengidentifikasi dua puluh empat tua-tua ini sebagai orang-orang kudus Perjanjian Baru yang diangkat ke sorga (di ayat 1).” Henry Morris, futuris lainnya, mengatakan bahwa mereka adalah “dua puluh empat orang pertama nenek moyang Kristus (Adam hingga Peres) yang tercantum dalam Kejadian 5 dan 11,” sementara George Eldon Ladd dan Robert H. Mounce percaya mereka adalah malaikat. Jay Adams, seorang preteris, sebaliknya, percaya mereka tidak mungkin adalah malaikat karena mereka dibedakan dari malaikat dalam Wahyu pasal 5 dan 7. David Clark melihat mereka sebagai perwakilan gereja, dan David Chilton berpendapat mereka adalah perwakilan sidang Imamat Rajani, yakni Gereja (halaman 86, 88).

Saya sendiri lebih memilih penjelasan yang dikemukakan Mark A. Copeland, seorang preteris: “Summer dan Hailey mengatakan dua puluh empat tua-tua menggambarkan dua belas bapa leluhur Israel dan dua belas orang rasul, yang mewakili orang-orang yang telah ditebus dalam dua perjanjian yang sekarang dipersatukan dalam Kristus. Perhatikan bahwa dalam Wahyu 5:8-9 mereka tampaknya berbicara atas nama orang yang telah ditebus.”[2] Dukungan lebih lanjut bahwa dua puluh empat tua-tua ini menggambarkan dua belas suku Israel dan dua belas rasul dapat dilihat dari penamaan gerbang dan batu dasar Yerusalem baru (Wahyu 21:12, 14).

Tua-tua itu digambarkan memakai pakaian putih (yang biasanya menunjukkan kebenaran umat Allah; lihat Wahyu 19:8), dan mahkota emas di kepala mereka. Ayat 10 memperlihatkan mereka melemparkan mahkotanya di depan takhta itu dan menyembah Dia. Dari bagian lain Alkitab kita mengetahui tersedianya mahkota bagi orang percaya: mahkota sukacita (1 Tesalonika 2:19), mahkota kebenaran (2 Timotius 4:8), mahkota kehidupan (Yakobus 1:12; lihat Wahyu 2:10, 3:11), dan mahkota kemuliaan (1 Petrus 5:4).

Ayat 5: Steve Gregg berkomentar (halaman 88):

“Kilat dan bunyi guruh yang menderu mengingatkan kita kepada Gunung Sinai, di mana Allah pertama kali menegakkan perjanjian-Nya dengan Israel (Keluaran 19:16; lihat Wahyu 8:5, 11:19). Fenomena serupa yang digambarkan dalam ayat ini bertujuan untuk menunjukkan akhir perjanjian tersebut dan penggantiannya dengan yang baru. Penulis Kitab Ibrani (mengutip Hagai 2) menyamakan pemusnahan perjanjian yang pertama (ditunjukkan secara terbuka oleh penghancuran Yerusalem dan Bait Allah pada tahun 70 Masehi) dengan saat penegakan perjanjian itu di Sinai, tapi pemusnahannya disertai oleh fenomena yang lebih menakutkan (Ibrani 12:18-29).”

Kita akan melihat fenomena yang sama (guruh, kilat, dan suara menderu) dua kali lagi dalam kitab ini, yang pertama sebagai tanggapan atas doa orang-orang kudus (Wahyu 8:5) dan kemudian pada saat Bait Suci Allah yang di sorga terbuka, dan kelihatanlah tabut perjanjian-Nya di dalam Bait Suci itu (Wahyu 11:19). Kemunculan terakhir fenomena ini meneguhkan apa yang Steve Gregg katakan, bahwa pembaca bisa memahami apa yang sedang digambarkan adalah penggulingan perjanjian lama (old covenant) dan penggantiannya dengan perjanjian baru (new covenant). Tujuan penghakiman yang terjadi adalah untuk menegakkan perjanjian baru dalam gereja secara eksklusif. Penghancuran total Yerusalem dan Bait Suci kedua tahun 70 Masehi memuluskan tujuan ini (dalam pasal selanjutnya, kita akan melihat banyak contoh yang memperlihatkan bagaimana peristiwa perang Romawi-Yahudi tahun 66 hingga 70 Masehi menggenapi apa yang telah ditulis dalam Kitab Wahyu). Sejak tahun 70 Masehi, perjanjian baru tidak lagi terbebani oleh sisa-sisa perjanjian lama dan Yudaisme, yang tidak pernah pulih kembali sebagai sistem yang utuh. Era Yudaisme telah diakhiri dan sejak saat itu Kerajaan Allah sepenuhnya milik Gereja (lihat Matius 21:33-46, Ibrani 8:13). Tuhan datang dengan penghakiman untuk mengambil Kerajaan dari bangsa Yahudi, sama seperti yang Yesus katakan akan Ia lakukan (Matius 21:33-46), dan memberikannya kepada Gereja (lihat Daniel 7:13-28).

Tanya (T): Bagaimana dengan keempat makhluk yang disebutkan dalam ayat 6-8?

Jawab (J): Keempat makhluk itu penuh dengan mata di sebelah muka dan di sebelah belakang, dan juga di sekeliling dan di sebelah dalamnya, dan masing-masing bersayap enam. Makhluk yang pertama sama seperti singa, makhluk yang kedua sama seperti anak lembu, makhluk yang ketiga mempunyai muka seperti muka manusia, dan makhluk yang keempat sama seperti burung nasar (rajawali) yang sedang terbang. Mereka dengan tidak berhenti-hentinya berseru siang dan malam: “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa, yang sudah ada dan yang ada dan yang akan datang.”

Ayat 6-8: Lihat Yehezkiel 1:5-14 dan 10:14, keempat makhluk yang dilihat Yehezkiel sangatlah mirip. Dalam penglihatan Yehezkiel, setiap makhluk memiliki keempat wajah yang disebutkan di atas (wajah manusia, singa, lembu, dan rajawali). Jika Yohanes melihat makhluk yang sama dengan yang dilihat Yehezkiel, kemungkinan mereka sedang bergerak ke empat arah yang berbeda karena Yohanes menggambarkan mereka seolah-olah hanya memiliki satu, bukan empat wajah. Lihat juga Yesaya 6:2, saat Yesaya melihat serafim yang bersayap enam. Menurut Jay Adams,

“Keempat makhluk itu, seperti halnya kedua puluh empat tua-tua, bukanlah malaikat atau manusia, karena mereka … dibedakan dari keduanya dalam pasal 5 dan 7. Mereka lebih tepat diidentifikasi sebagai kerubim dalam penglihatan Yehezkiel, yang tampilannya paling mirip. Fungsi mereka adalah menjaga dan membawa takhta Allah. Dalam bacaan ini, kemunculan mereka adalah sebagai penekanan keagungan penglihatan yang Yohanes dapatkan. Seperti halnya kedua puluh empat tua-tua, mereka membantu tersingkapnya pewahyuan” (halaman 90).

T: Apa yang terjadi setiap kali makhluk-makhluk itu memberikan mempersembahkan puji-pujian, dan hormat dan ucapan syukur kepada Dia yang duduk di atas takhta itu?

J: Kedua puluh empat tua-tua itu tersungkur di hadapan Dia yang duduk di atas takhta, sambil melemparkan mahkotanya di hadapan takhta itu.

Ayat 9-11: Seandainya suatu hari nanti kita menerima mahkota secara harfiah, saya yakin kita tidak akan menganggapya sebagai lambang pencapaian atau prestasi kita di bumi. Kita akan tahu (sebagaimana kita harus tahu sekarang) bahwa kita tidak bisa melakukan apapun tanpa Dia. Kita akan meninggikan dan memuji Dia, sebagaimana yang dua puluh empat tua-tua lakukan dalam penglihatan Yohanes. Dua puluh empat tua-tua menyatakan Allah layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Allah telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Nya semuanya itu ada dan diciptakan.”

Adam Maarschalk: Revelation 4; August 27, 2009.

https://adammaarschalk.com/2009/08/27/revelation-chapter-4/

[2] Sumber: Mark A. Copeland, Revelation: A Study Guide, http://www.ccel.org/contrib/exec_outlines/rev/rev_04.htm

Advertisements