WAHYU 5

image

Catatan ini sebagian didasarkan pada sebuah khotbah Pastor John Piper, dalam Desiring God Ministries. [Catatan dari Adam ditambahkan pada tanggal 14 Oktober 2009, dalam tanda kurung siku. Catatan tambahan tersebut sebagian didasarkan pada buku Steve Gregg “Revelation: Four Views (A Parallel Commentary)“]

1. Ayat 1: Sebuah gulungan kitab dengan tujuh meterai. Kitab apakah gulungan ini?
John Piper: Gulungan kitab itu merupakan ketetapan Allah mengenai apa yang akan terjadi di masa depan. Dalam pasal 6, kita dapat melihat bahwa meterai dibuka satu per satu menyingkapkan penghakiman yang akan terjadi atas bumi. Dibukanya meterai adalah arah sejarah yang menuju kepada akhir, dan isi gulungan adalah kisah akhir dunia dan kemenangan akhir Allah. [Harap diingat bahwa John Piper mengkhotbahkan hal ini sebagai seorang futuris, yang melihat sebagian besar kitab Wahyu belum digenapi. Sementara preteris memandang apa yang terjadi di dalam Kitab Wahyu adalah pengumuman serangkaian penghakiman yang akan segera terjadi, pada masa Yohanes, atas Israel yang murtad, sebagai akhir era perjanjian lama yang mendekat pada saat itu.]

2. Ayat 1: Hal lain apa yang Anda anggap penting mengenai gulungan kitab ini?
John Piper: Kitab itu dipegang oleh tangan kanan Dia yang duduk di takhta. Seluruh sejarah dunia ada dalam tangan kanan Allah, dan tidak ada yang dapat mengubahnya. Gulungan kitab itu juga lengkap, ditulisi sebelah dalam dan sebelah luarnya. Tidak ada yang dapat ditambahkan atasnya – gulungan kitab itu sudah penuh, lengkap, dan aman di sebelah kanan Allah.

[Steve Gregg (halaman 93) mengutip Henry Morris dan John Walvoord yang juga adalah futuris, mengenai penghakiman yang disebutkan dalam Kitab Wahyu:

“Henry Morris, sesuai dengan banyak penafsir dispensasional (misalnya Ironside, Criswell, Lindsey), menulis, “Tetapi apa sebenarnya gulungan kitab yang luar biasa ini? Tidak lain tak bukan adalah dari surat bukti kepemilikan atas bumi.” Walvoord mencatat, “Hukum Romawi mensyaratkan sebuah wasiat dimeteraikan dengan tujuh meterai seperti yang terdapat pada wasiat Augustus dan Vespasian bagi penerus mereka.” Penghakiman besar selama masa aniaya yang dilepaskan dengan terbukanya gulungan kitab adalah bagian penyataan Allah tentang hak-Nya atas bumi, yang dicuri oleh Iblis sejak kejatuhan Adam dan Hawa. “Penebusan yang menjadikan kita milik Allah” (Efesus 1:14) disertai dengan penjatuhan hukuman yang telah lama ditunda atas perampas yang “membinasakan bumi” (Wahyu 11:18).”

Saya merasa pernyataan-pernyataan ini sedikit aneh. Walvoord terdengar seperti sedang berbicara atas nama penyelamat radikal lingkungan yang sangat prihatin atas penyalahgunaan sumber daya alam yang manusia lakukan (bukannya itu tidak penting). Dari pernyataannya tersirat bahwa angkatan/generasi terakhirlah yang akan mengalami murka penuh Allah atas ketidakadilan merusak lingkungan. Selain itu, ia menunjukkan bahwa hukuman itu terkait erat dengan “warisan kita” (Efesus 1:14 English Standard Version) yang diberikan kepada kita suatu hari nanti.

Di sisi lain, Steve Gregg juga merujuk Jay Adams yang mengemukakan pandangan preteris dan kembali kepada kiasan ruang sidang pada pasal sebelumnya (halaman 92):

“Dalam pandangan Jay Adams, gulungan dengan tujuh meterai adalah penjatuhan hukuman oleh hakim terhadap Yerusalem karena andilnya dalam penumpahan darah orang yang tidak bersalah (Matius 23:35).” Saya pribadi jauh lebih nyaman dengan penjelasan ini, mengapa Allah diperlihatkan bersiap-siap melepaskan meterai penghukuman. Lihat juga Wahyu 16:6, 17:6, dan 18:24 mengenai hal ini; ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Yerusalem adalah kota yang sama dengan Babel besar dalam gulungan kitab ini (lihat Wahyu 11:8), di mana Yerusalem diidentifikasi sebagai “kota besar” yang sama dengan Babel besar dalam Wahyu 16:19, 17:18; 18:9, 16, 18-21].”

3. Ayat 2-5: Seorang malaikat yang gagah, berseru dengan suara nyaring, katanya: “Siapakah yang layak membuka gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya?” Tetapi tidak ada seorang pun yang di sorga atau yang di bumi atau yang di bawah bumi, yang dapat membuka gulungan kitab itu atau yang dapat melihat sebelah dalamnya, membuat Yohanes menangis dengan amat sedihnya. Namun seorang tua-tua dari dua puluh empat tua-tua memberitahu dia bahwa ada SESEORANG yang bisa membukanya, yaitu Yesus.

Bagaimana Kristus dikenali dalam ayat 5 dan 6?
John Piper: Sebagai Singa dari suku Yehuda (binatang yang kuat, agung megah dan berbahaya). Lihat Kejadian 49:9-10.

Dalam ayat 6, Singa itu muncul di atas takhta sebagai Anak Domba (binatang yang lemah, tidak berbahaya dan biasa saja). [Yesus juga disebut sebagai “tunas Daud,” gelar yang dikutip dari Yesaya 11:1, 10 dan Romawi 15:12, yang intinya adalah “Ia bangkit sebagai panji-panji bagi bangsa-bangsa” dan “Dia akan dicari oleh suku-suku bangsa.” Hal ini bukanlah sesuatu yang menunggu hingga abad 21 agar dapat menjadi kenyataan, karena telah menjadi kenyataan di abad pertama Masehi.]

4. Ayat 5: Kedua puluh empat tua-tua mengatakan bahwa Singa dari suku Yehuda, yaitu tunas Daud, telah menang. Apakah yang dimaksud dengan “menang”, sebagaimana selanjutnya disebutkan dalam teks?
Dalam ayat 9, kedua puluh empat tua-tua itu tersungkur di hadapan Anak Domba dan menyanyikan suatu nyanyian baru yang menyatakan bahwa Ia meraih kemenangan-Nya dengan rela disembelih dan dengan darah-Nya Ia telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa.

[Steve Gregg mencatat (halaman 94): “Membandingkan Kristus dengan anak domba tidak dimaksudkan untuk menunjukkan kelembutan-Nya, karena di pasal berikutnya Ia tidak digambarkan demikian (lihat Wahyu 6:16)! Peran-Nya sebagai korban penghapus dosa dunia-lah yang membuat Ia diibaratkan sebagai anak domba (lihat Yohanes 1:29).”]

5. Yesus dilambangkan sebagai Anak Domba yang berdiri di hadapan takhta. Apa sajakah karakteristik Anak Domba ini dan apa artinya?
John Piper: Anak Domba (yang telah disembelih) sekarang berdiri. Ia memiliki tujuh tanduk, yang merupakan tanda kekuatan dan kekuasaan sepanjang Kitab Wahyu [12:3; 13:1; 17:3, 12] dan juga dalam Perjanjian Lama [Ulangan 33:17; Mazmur 18:2; 112: 7.] Bilangan tujuh menggambarkan kelengkapan dan kepenuhan. [John Piper menyimpulkan bahwa Yesus ditampilkan sebagai “Singa-yang-seperti-Anak Domba dan Anak Domba-yang-seperti-Singa.”]

[Ayat 8-10: Steve Gregg berkomentar mengenai pemandangan sorgawi yang digambarkan dalam ayat-ayat ini, bersama dengan arti penting nyanyian yang dinyanyikan oleh keempat makhluk dan kedua puluh empat tua-tua (halaman 96, 98):

“Diambilnya gulungan kitab itu oleh Anak Domba menimbulkan sebuah “ledakan” penyembahan dan pujian di sorga, dan sebuah lagu baru (ayat 9) dinyanyikan. Dalam Wahyu 4:11, kedua puluh empat tua-tua menyanyikan “nyanyian lama” berisi pujian kepada Allah karena karya penciptaan-Nya (sebab Ia telah menciptakan segala sesuatu). Nyanyian yang baru berisi pujian kepada Dia karena karya penebusan-Nya di dalam Kristus. Penyembahan ini disertai oleh penyembahan imamat dalam bentuk persembahan kemenyan dalam cawan emas (ayat 8) yang menggambarkan doa orang-orang kudus – kemungkinan besar adalah orang-orang Kristen yang telah dianiaya dan berseru dengan suara nyaring meminta pembalasan (lihat Wahyu 6:10). Pembalasan itu terjadi saat penganiaya mereka di Yerusalem dihakimi, setelah tujuh meterai gulungan kitab dibuka, membuat orang-orang tebusan menjadi suatu kerajaan berisi imam-imam (ayat 10), menyiratkan bahwa kerajaan imam yang awal, yakni Israel (Keluaran 19:5-6), telah digantikan oleh Gereja (lihat Ibrani 7:12; 8:13).

Pandangan futuris atas ayat 10 ditunjukkan dalam buku Gregg (halaman 99) sebagai berikut:

“Pemerintahan orang-orang kudus sebagai raja di bumi (ayat 10) -bukannya di sorga- berarti pemerintahan seribu tahun orang-orang kudus bersama dengan Kristus setelah Ia kembali ke bumi untuk mendirikan Kerajaan-Nya. Henry Morris menulis: “Tiga kali dalam Kitab Wahyu disebutkan orang-orang percaya akan dijadikan raja-raja dan imam-imam (Wahyu 1:6; 5:10; 20:6). Fungsi sebagai raja dan imam diterapkan khususnya pada kerajaan seribu tahun dimana mereka memang dibutuhkan.” Menurut pandangan dispensasional, akan banyak orang yang belum selamat selama masa seribu tahun tersebut, dan orang-orang kudus akan memerintah atas orang-orang yang belum percaya dari markas besar mereka di Yerusalem (lihat Lukas 19:17).”

Saya menyoroti kutipan dari Morris di atas karena saya merasa hal itu agak mengejutkan. Jujur saja, Morris tidak mengatakan fungsi orang percaya sebagai raja dan imam diterapkan secara eksklusif pada masa seribu tahun di masa depan, jadi saya kira Morris memberikan ruang bagi mereka untuk berfungsi sebagai raja dan imam sekarang. Saya sungguh berharap begitu. Wahyu 1:6 tidak diragukan lagi ditulis untuk sekelompok gereja abad pertama dan mereka adalah kerajaan imam sama seperti orang-orang percaya sekarang: “Dari Yohanes kepada ketujuh jemaat yang di Asia Kecil: … Bagi Dia, yang mengasihi kita dan yang telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya — dan yang telah membuat kita menjadi suatu kerajaan, menjadi imam-imam bagi Allah, Bapa-Nya, — bagi Dialah kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya. Amin” (Wahyu 1:4‭-‬6). Inilah kenyataan sekarang (present reality) bagi semua orang percaya sejak Yesus mati dan bangkit. Petrus, saat menulis kepada pembaca berbeda pada abad pertama, setuju: “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib” (1 Petrus 2:9).

Tampaknya Morris membuat pernyataannya berdasarkan pandangan umum premilenialis bahwa korban akan dipersembahkan di Bait Suci secara fisik di Yerusalem selama masa pemerintahan seribu tahun di masa depan. Jadi, bagi Morris, akan ada kebutuhan orang percaya berfungsi sebagai imam, seperti yang berlaku di bawah perjanjian lama. Ini sama dengan menyarankan kemunduran kembali kepada tipologi dan bayangan yang telah digenapi oleh kedatangan Kristus yang pertama kali. Entah apakah hal inikah yang Morris maksudkan atau tidak, biarlah jelas bagi kita bahwa pengikut Yesus, dalam zaman sekarang ini, adalah kerajaan imam yang Yohanes dan Petrus maksudkan.

Ayat 11-14: “Nyanyian dalam Wahyu 4:11 adalah nyanyian yang dinyanyikan oleh dua puluh empat tua-tua saja. Nyanyian dalam Wahyu 5:9-10 dinyanyikan oleh mereka bersama dengan keempat makhluk. Ada pula malaikat (ayat 11), yang jumlahnya berlaksa-laksa dan beribu-ribu, bersama-sama menaikkan pujian mereka memuliakan Anak Domba” (Steve Gregg, halaman 100). Mereka bernyanyi dengan nyaring:

“Anak Domba yang disembelih itu layak untuk menerima kuasa, dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan hormat, dan kemuliaan, dan puji-pujian! … Bagi Dia yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba, adalah puji-pujian dan hormat dan kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya!”]

Rod O: Revelation Chapter 5; August 27, 2009

https://adammaarschalk.com/2009/08/27/revelation-chapter-5/

Advertisements