WAHYU 6 (Bagian 1)

image

Teks Alkitab: Wahyu 6:1-8

Ulasan singkat tentang pasal 5: Kita membaca tentang pujian dan penyembahan yang dinaikkan di takhta Allah di sorga, saat Anak Domba yang telah disembelih itu layak membuka gulungan kitab dan membuka meterai-meterainya. Anak Domba ini, Yesus, telah “membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa” dan “telah membuat mereka menjadi suatu kerajaan, dan menjadi imam-imam bagi Allah kita, dan mereka akan memerintah sebagai raja di bumi.” Sekarang kita akan mempelajari apa yang terjadi ketika enam meterai pertama dibuka.

A. Meterai Pertama: Sang Pemenang (Wahyu 6:1-2)

Salah satu dari empat makhluk yang kita lihat dalam pasal sebelumnya mengatakan, “Mari!” Yohanes mengatakan suaranya terdengar seperti guruh.

Tanya: Kepada siapa makhluk pertama itu berbicara? Kepada Yohanes atau orang lain?

Jawab: Dia berbicara kepada penunggang kuda putih, yang mengenakan mahkota, memegang sebuah busur panah, dan maju sebagai pemenang untuk merebut kemenangan.

Perintah “Mari!” muncul tiga kali lagi, pada akhir ayat 3, 5, dan 7. Perintah ini tidak diberikan kepada Yohanes, tetapi kepada masing-masing karakter yang disebutkan dalam ayat 2, 4, 5, dan 8. Kita akan melihat, saat satu per satu dari empat meterai pertama dibuka, Yesus yang membuka meterai itu, tetapi masing-masing dari keempat makhluk itulah yang secara bergiliran memanggil individu tertentu untuk melaksanakan penghakiman.

Meterai penghakiman pertama digenapi pada awal Februari 67 Masehi ketika Romawi secara resmi menyatakan perang terhadap Israel, dan Nero secara resmi menugaskan Vespasian sebagai jenderalnya memimpin perang untuk menghancurkan pemberontakan Yahudi. Hal ini terjadi tiga setengah tahun sebelum kejatuhan Yerusalem pada bulan Agustus 70 Masehi. [1] Kita akan melihat pentingnya periode tiga setengah tahun ini lebih lanjut dalam studi kita mengenai Kitab Wahyu.

B. Meterai Kedua: Konflik di Bumi (Wahyu 6:3-4)

T: Apakah peperangan yang terjadi ketika meterai kedua dibuka adalah peperangan yang sama, atau peperangan yang berbeda?

J: Kali ini orang-orang Yerusalem tidak diserang oleh kekuatan luar, tetapi mereka membunuh satu sama lain.

Mark A. Copeland, seorang preteris, mengatakan bahwa apa yang ditulis dalam ayat 4 “menggambarkan perang saudara, ketika orang saling bunuh, seperti yang Allah gunakan dalam penghakiman-Nya atas Mesir (Yesaya 19:1-4).” Hal ini sesuai dengan bahasa yang digunakan di sini. Sebagai fakta sejarah, pada musim gugur-musim dingin tahun 67 Masehi perang saudara yang brutal pecah di Yerusalem dan Yudea antara kaum revolusioner dan orang-orang yang ingin menjaga perdamaian dengan Romawi. Yerusalem akhirnya dibagi menjadi tiga faksi yang dipimpin oleh Eleazar, dari kaum Zelot; John Levi dari Gischala, Galilea, dan Simon, yang berasal dari Idumea. Perang saudara tetap berkecamuk hingga kota itu dihancurkan. Kondisi yang mengerikan. Dalam satu malam 8500 orang tewas, dan tubuh mereka dilemparkan keluar Yerusalem tanpa dikuburkan. Bait Allah bagian luar “meluap dengan darah” dan pelataran dalam bahkan memiliki kolam-kolam darah di dalamnya. Rumah dan kuburan dijarah (Untuk informasi lebih lanjut, lihat catatan kaki [1]).

Steve Gregg, dalam bukunya “Revelation: Four Views (A Parallel Commentary),” mengutip J. Stuart Russell, yang mengatakan (halaman 106),

“Perang Yahudi, di bawah Vespasian, dimulai di Galilea, di tempat yang sangat jauh dari Yerusalem, namun secara bertahap semakin dekat ke kota itu. Bangsa Romawi bukanlah satu-satunya pelaku pembantaian yang menghabisi penduduk negeri; faksi-faksi yang bermusuhan di antara orang Yahudi sendiri mengangkat senjata terhadap satu sama lain, sehingga bisa dikatakan bahwa “tiap-tiap orang akan melawan saudaranya.””

Gregg juga mengutip Josephus (dari Jewish Wars, 2:18:2): “Setiap kota terbagi atas dua kubu bersenjata yang berkemah berhadap-hadapan … membuat siang hari dihabiskan dalam penumpahan darah, dan malam dalam ketakutan.” Gregg juga menambahkan (halaman 108) bahwa ayat-ayat dalam Wahyu 6:3-4 ini membuktikan kata-kata Yesus ketika Dia menangisi Yerusalem:

“Orang Yahudi telah menolak Raja Damai, yang mengatakan -saat Ia menangisi Yerusalem- “Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu” (Lukas 19:42). Berikutnya Yesus mengatakan nubuat tentang tentara Romawi menyerang dan meratakan kota Yerusalem (Lukas 19:43-44). Apa lagi yang lebih jelas mengenai penggenapan nubuat ini ketimbang yang dituliskan dalam Wahyu tentang “penunggang kuda yang dikaruniakan kuasa untuk mengambil damai sejahtera dari atas bumi”? Zakharia juga menubuatkan hal ini sebagai konsekuensi penolakan orang Yahudi terhadap Kristus (Zakharia 11:10-14).”

Pada titik ini, penting dicatat bahwa sudut pandang preteris (yang melihat peristiwa ini sudah digenapi di tanah Israel pada abad pertama) akan kurang masuk akal jika kata “bumi” mengacu kepada seluruh dunia. Dalam pasal satu, kita sudah memahami bahwa peristiwa yang sudah dinubuatkan dalam kitab ini adalah peristiwa yang sifatnya lokal, dan terjadi di Israel/Palestina pada masa Yohanes. Anda mungkin ingat saat kita membandingkan bahasa yang digunakan dalam Wahyu 1:7 dengan Matius 24:30 dan Zakharia 12:10-14, dan melihat (misalnya) istilah “bangsa di bumi” berhubungan dengan suku-suku yang mendiami tanah Israel. Buku Kenneth Gentry ‘Before Jerusalem Fell‘ (1998, halaman 128-131) sangat membantu dengan menjelaskan bahwa “tanah” (land) dan “bumi” (earth) sering digunakan secara bergantian dalam Alkitab, dengan makna yang sifatnya lokal, bukan global. [2]

Tinjauan sekilas dua ayat Perjanjian Baru menunjukkan hal ini. Misalnya, terkait dengan keadaan seputar kematian Kristus di kayu salib, Matius 27:45 English Standard Version menuliskan “Mulai dari jam keenam kegelapan meliputi seluruh tanah itu itu sampai jam kesembilan” (Matius 27:45). Sebuah catatan kaki mengatakan bahwa kata “bumi” seharusnya digunakan sebagai pengganti “tanah” dalam teks ini, namun sebagian besar pembaca menyimpulkan bahwa kegelapan ini sifatnya lokal pada hari itu, bukan global. Lihat pula Lukas 21:20-24, konteksnya juga menunjukkan bahwa peristiwa ini terjadi di Yudea dan Yerusalem, dan bahkan para futuris umumnya sepakat bahwa ayat ini berbicara tentang pengepungan dan penghancuran Yerusalem 67-70 Masehi. Namun ayat 23 mengatakan, “… Sebab akan datang kesesakan yang dahsyat atas seluruh bumi dan murka atas bangsa ini.” Ungkapan “bangsa ini” di sini tidak diragukan lagi merujuk kepada orang-orang Yahudi yang tidak mau bertobat, dan “bumi” di sini adalah tanah Yudea. Hal yang sama berlaku dalam Wahyu 6.

[Dalam studi kita mengenai kitab Wahyu ini, kami akan menunjukkan bahwa banyak referensi untuk kata “bumi” dalam kitab Wahyu tidak dimaksudkan untuk dipahami sebagai lingkup seluruh dunia, tetapi lingkup tanah Israel/Palestina. Dalam sebuah studi 3-bagian (dimulai dengan artikel https://adammaarschalk.com/2010/02/19/the-earth-as-a-common-reference-to-israel-in-revelation-part-1/) saya telah menguraikan hampir 20 kasus mengenai kata “bumi” ini.]

C. Meterai Ketiga: Kelangkaan di bumi (Wahyu 6:5-6)

T: Siapakah yang membuat pernyataan “Secupak gandum sedinar, dan tiga cupak jelai sedinar“?

J: Kita hanya diberitahu bahwa “seperti ada suara di tengah-tengah keempat makhluk itu.”

Berikut ini adalah kutipan singkat mengenai kelaparan ini dari makalah yang saya tulis tahun 2009:

Kelaparan hebat yang dinubuatkan oleh Agabus dalam Kisah Para Rasul 11:27-30 dimulai pada tahun keempat pemerintahan Claudius (yaitu tahun 45 Masehi) dan “berkelanjutan sangat panjang. Kelaparan meluas melewati Yunani, bahkan ke Italia, tapi terasa paling parah di Yudea dan terutama di Yerusalem, di mana banyak tewas karena kekurangan roti” [kutipan dari George Peter Holford pada tahun 1805]. Peristiwa kelaparan ini juga dicatat oleh Eusebius [bapa gereja mula-mula], Orosius [sejarawan Kristen abad ketiga], dan Josephus, yang mencatat satu “assaron” (sekitar 3,5 liter) jagung dijual seharga lima drachmae/dirham (di masa kejayaan Yunani kuno pada abad ke-4 Sebelum Masehi satu dirham adalah upah harian untuk pekerja terampil). Ini mengingatkan pada Wahyu 6:6, saat di bawah penghakiman meterai ketiga dikatakan bahwa satu dinar (setara upah harian umum) hanya bisa membeli satu liter gandum. Situasi ini dikatakan oleh Josephus mencapai klimaks selama masa pengepungan lima bulan atas Yerusalem pada tahun 70 Masehi. [3]

Pada bulan Desember 69 Masehi John dari Gischala dengan bodoh membakar gudang pasokan di Yerusalem, dan hampir semua persediaan gandum terbakar, yang adalah stok pangan kota selama bertahun-tahun. Hal ini menimbulkan kelaparan besar-besaran yang akan terbukti menjadi kehancuran Yerusalem. Kelaparan menjadi begitu hebat selama lima bulan Yerusalem dikepung oleh orang Romawi sehingga tercatat ada orang tua yang memanggang dan memakan anak-anak mereka sendiri. Yang lainnya memakan sabuk, sandal, rumput kering, dan bahkan kotoran lembu. Terjadi pula penggerebegan disertai kekerasan ke rumah siapa saja yang diduga menimbun bahan pangan, yang penghuninya disiksa sampai mereka mengungkapkan di mana persembunyian bahan pangan itu. Beberapa orang melarikan diri dari Yerusalem ke perkemahan pasukan Romawi karena tidak tahan lagi dengan kondisi di kota. Josephus mencatat bahwa beberapa di antaranya yang gagal menahan selera makan mereka, dan makan dengan begitu cepat dan begitu banyak sehingga secara harfiah membuat perut mereka meletus dan terburai. [4]

Tidak heran Yesus berkata, “Celakalah ibu-ibu yang sedang hamil atau yang menyusukan bayi pada masa itu!” (Lukas 21:23; lihat Lukas 23:28-29). Memperhatikan bahwa Wahyu 6: 6 secara spesifik menyebutkan kata gandum dan jelai/barley, menarik memperhatikan apa yang dikatakan Josephus mengenai kondisi Yerusalem selama pengepungan Romawi pada tahun 70 Masehi (Steve Gregg, halaman 112): “Banyak orang yang menjual apa saja yang mereka miliki demi satu liter bahan pangan: gandum, jika mereka dari golongan yang lebih kaya, atau jelai, jika mereka miskin (Wars, 5:10:2).” Steve Gregg menambahkan pula,

“Pernyataan “janganlah rusakkan minyak dan anggur itu” (ayat 6) sepertinya adalah kiasan dari tindakan beberapa orang Yahudi asusila yang menjarah minyak dan anggur dari Bait Allah. Josephus menulis bahwa John Gischala, pemimpin salah satu faksi, menyita perkakas kudus Bait Allah: “Dengan demikian, anggur suci dan minyak yang digunakan para imam untuk dituangkan pada korban bakaran, dan yang disimpan di dalam bagian dalam Bait, dibagi-bagikan oleh John kepada para pengikutnya, yang mengkonsumsinya tanpa batas dengan mengurapi diri mereka sendiri dan mabuk-mabukan (Wars, 5:13:6).”

D. Meterai Keempat: Meluasnya kematian di bumi (Wahyu 6:7-8)

Dan kepada mereka diberikan kuasa atas seperempat dari bumi untuk membunuh dengan pedang, dan dengan kelaparan dan sampar, dan dengan binatang-binatang buas yang di bumi.”

Kita telah melihat periode menjelang jatuhnya Yerusalem ditandai oleh perang dan kelaparan. Mengenai penyakit sampar, George Peter Holford (1805) menambahkan rincian ini:

“Sejarah membedakan dua kejadian wabah penyakit sampar sebelum pecahnya perang Yahudi. Wabah penyakit sampar yang pertama terjadi di Babilonia sekira tahun 40 Masehi yang mengamuk demikian mengkuatirkannya sehingga sejumlah besar orang Yahudi yang bermukim di sana mengungsi ke Seleukia demi keselamatan mereka. Yang kedua terjadi di Roma tahun 65 Masehi yang menimbulkan begitu banyak korban jiwa. Baik Tacitus maupun Suetonius mencatat kejadian yang sama pada periode yang sama di beberapa wilayah Kekaisaran Romawi. Setelah Yerusalem dikepung oleh pasukan Romawi di bawah komando Titus, wabah sampar merebak di dalam kota menambah kesengsaraan orang-orang Yerusalem dan menambah kengerian pengepungan tersebut. Wabah merebak selain disebabkan oleh padatnya manusia dalam kota itu, dan oleh karena banyaknya mayat-mayat yang membusuk yang tidak dikuburkan, juga oleh karena kelaparan hebat yang terjadi.”

Steve Gregg (halaman 114, 116) memberikan penjelasan yang sangat baik mengenai pentingnya penjelasan Yohanes tentang penghakiman meterai yang keempat:

“Pemaparan mengenai cara kematian, yakni karena pedang, kelaparan, kematian (yaitu penyakit sampar), dan binatang di bumi (ayat 8) adalah pengulangan Yehezkiel 14:21, “Ya, beginilah firman Tuhan ALLAH: Jauh lebih dari itu, kalau Aku mendatangkan keempat hukuman-Ku yang berat-berat, yaitu pedang, kelaparan, binatang buas dan sampar, atas Yerusalem untuk melenyapkan dari padanya manusia dan binatang!” Dalam Yehezkiel, Allah menggunakan cara-cara ini untuk menanggungkan penghakiman dalam penghancuran Yerusalem oleh Babel tahun 586 Sebelum Masehi, yang merupakan pendahulu peristiwa yang mirip -dalam rincian dan dalam arti pentingnya- tahun 70 Masehi.”

Josephus menggambarkan pembantaian dan kematian di Yerusalem selama pengepungan sebagai berikut: “Kini seluruh harapan untuk melarikan diri pupus dari diri orang-orang Yahudi, seiring dengan hilangnya kebebasan mereka untuk dapat keluar dari kota. Kemudian kelaparan kian meluas dan memakan korban keluarga demi keluarga; sotoh atas rumah penuh dengan perempuan dan anak-anak yang mati karena kelaparan, dan gang-gang kota penuh dengan mayat-mayat lansia. Orang-orang durhaka … tanpa mempedulikan bau busuk mayat, melemparkan mayat-mayat itu begitu saja dari tembok kota ke lembah di bawahnya. Sementara Titus, dalam patrolinya berkeliling lembah di sekeliling Yerusalem, saat menyaksikan lembah itu dipenuhi mayat dan melihat pembusukan yang terjadi di tempat itu, mengerang… demikianlah besarnya kesedihan kota itu” (Wars, 5:12:3-4).

PENAFSIRAN MENGENAI METERAI PENGHAKIMAN

Kita akan membahas meterai penghakiman kelima dan keenam dalam artikel berikutnya (Wahyu 6:9-17). Sekarang mari kita rehat sejenak dan melihat bagaimana meterai ini ditafsirkan oleh berbagai aliran pemikiran:

Pandangan Futuris #1: “Meterai pertama adalah penunggang kuda putih yang dikaruniakan mahkota dan maju sebagai pemenang untuk merebut kemenangan. Meterai kedua adalah kuda merah perang. Meterai yang berikutnya adalah kelaparan, kematian, martir, dan gempa bumi besar dan peristiwa astronomi. Dalam Olivet Discourse, Yesus menjelaskan peristiwa yang mengarah kepada Aniaya Besar (Great Tribulation) sebagai hal-hal yang seperti sakit bersalin. Rasa sakit bersalin ini, termasuk mesias palsu (Matius 24:5), perang (24:6-7a), kelaparan dan gempa bumi (24:7b). Kemiripan antara deskripsi kejadian ini dan enam meterai pertama sungguh nyata. Hal ini menunjukkan bahwa enam meterai penghakiman yang pertama terjadi pada paruh pertama minggu ke-70 Daniel, dan sisa penghakiman terjadi pada paruh terakhir” (Grace Institute for Biblical Leadership, “REVELATION – Survey of the New Testament: The General Epistles and Revelation,” 2007, halaman 14. Pada http://www.gcfweb.org/institute/general/revelation.pdf.)

Pandangan Futuris #2: “Beberapa penafsir menganggap meterai sebagai penggambaran kondisi sebelum terjadinya masa aniaya. Sarjana lain percaya bahwa kondisi ini menggambarkan peristiwa yang merupakan bagian dari Aniaya Besar di masa depan. Saya mendukung pandangan kedua” (Dr. Thomas Constable, Notes on Revelation: 2008 Edition, halaman 66-67. Pada http://www.soniclight.com/constable/notes/pdf/revelation.pdf).

Pandangan Historisis/Idealis: “Peristiwa mengerikan dari empat meterai pertama, yang oleh orang-orang yang harus melaluinya dibayangkan sebagai tanda-tanda kedatangan Kristus dan akhir zaman. . ., sebenarnya adalah kejadian yang umum dalam sejarah. Keempat penunggang kuda telah menunggang di seluruh bumi sejak hari itu hingga saat ini, dan akan terus melakukannya …” [Sam Storms (mengutip Wilcock), “The Seven Seals – Part 1,” 7 November 2006. Pada http://www.enjoyinggodministries.com/article/the-seven-seals-part-i/][5]

Pandangan Preteris: “Saya menganggap empat meterai pertama menunjukkan kekuatan yang Allah gunakan untuk mendatangkan hukuman atas para penindas umat-Nya (1-8)” [Mark A. Copeland. “Revelation: Chapter 6,” http://www.ccel.org/contrib/exec_outlines/rev/rev_06.htm. “Umat-Nya,” tentu saja, mengacu pada tubuh Kristus, bukan etnis Yahudi, yang bersama orang Romawi juga adalah penindas.]

Adam Maarschalk: Revelation 6; September 4, 2009.

https://adammaarschalk.com/2009/09/04/revelation-chapter-6-part-1/

[1] Untuk keterangan lebih lanjut, lihat: https://kloposmasm.wordpress.com/2009/08/16/pp17-the-historical-events-leading-up-to-70-ad-part-1/.

[2] Lihat di sini: https://kloposmasm.wordpress.com/2009/08/25/revelation-1-study/.

[3] Untuk keterangan lebih lanjut, lihat di sini: https://kloposmasm.wordpress.com/2009/08/16/pp13-signs-of-the-close-of-the-age/.

[4] Untuk keterangan lebih lanjut, lihat: https://kloposmasm.wordpress.com/2009/08/22/pp18-the-historical-events-leading-up-to-70-ad-part-2/.

[5] Kendati Sam Storms adalah seorang historisis, ia menanggapi Olivet Discourse dengan cara yang sama seperti yang preteris lakukan. Misalnya, dia mencatat kesamaan antara Olivet Discourse dan meterai dalam Kitab Wahyu, sebagai berikut:

“Kesimpulan apa yang kita ambil dari hal ini? Beberapa orang berpendapat hal ini membuktikan Olivet Discourse dan meterai dalam Wahyu menggambarkan periode waktu yang sama, dengan anggapan Aniaya Besar terjadi sesaat sebelum kedatangan Kristus yang kedua. Tapi saya berpendapat dalam artikel lain bahwa Olivet Discourse sebenarnya menyangkut peristiwa yang akan disaksikan oleh orang-orang angkatan Yesus sendiri, khususnya periode 33-70 Masehi …

Berarti hanya satu kemungkinan yang tersisa, bahwa Wahyu ditulis sebelum peristiwa 70 Masehi dan merupakan deskripsi grafis -dalam bahasa kiasan yang jelas- jatuhnya kota dan penghancuran Bait Allah. Saya cenderung lebih percaya bahwa solusinya ditemukan di tempat lain … Berlawanan dengan penafsiran futuris mengenai Wahyu, saya tidak percaya penghakiman ini terjadi secara eksklusif pada periode ‘aniaya’ sesaat sebelum kedatangan Kristus yang kedua.”

Catatan [dikutip dari Understanding the Whole Bible, Jonathan Welton, 2014]:

Dalam eskatologi (ilmu yang mempelajari hal-hal terakhir), terdapat empat pandangan (view):

Futurisme, yakni pandangan yang mempercayai peristiwa-peristiwa yang digambarkan dalam literatur apokaliptik Kitab Suci akan terjadi di masa depan. Dalam pandangan ini terdapat tiga pembagian utama yang terkait dengan waktu Gereja diangkat (mengalami rapture): pre-tribulation (sebelum masa aniaya besar), mid-tribulation (di tengah-tengah masa aniaya besar) dan post-tribulation (sesudah masa aniaya besar).

Idealisme atau disebut juga pandangan spiritualisme, memandang Kitab Wahyu dan ayat-ayat terkait sebagai alegori (kiasan atau perumpamaan). Dengan kata lain, Wahyu adalah kisah dimana segala sesuatu di dalamnya bermakna simbolis. Jadi, menurut pandangan ini, Kitab Wahyu ditulis bukan sebagai tuntunan bagi orang-orang tertentu untuk diterapkan pada periode tertentu. Tetapi adalah koleksi lukisan yang selalu memiliki makna sama bagi kita semua. Akan selalu ada beastly system, sistem yang bersifat seperti binatang buas, dalam pemerintahan kita, dan kita akan selalu dikuatkan oleh apa yang kita baca untuk tetap teguh dalam kesaksian kita dan darah Anak Domba. Pandangan ini adalah paham yang baru, diperkenalkan kira-kira seratus tahun yang lalu.

Historisisme menjabarkan peristiwa-peristiwa dalam Kitab Wahyu selama lebih dari dua ribu tahun terakhir dan menderetkannya dengan orang-orang berbeda. Pandangan ini merentangkan Kitab Wahyu sepanjang sejarah dan mengaitkannya dengan orang-orang berbeda dan periode berbeda. Contohnya, banyak historisis mengidentifikasi Napoleon Bonaparte sebagai binatang (the beast) dalam Wahyu 13. Ini artinya dua belas pasal sebelumnya telah terjadi di masa lalu, namun pasal-pasal berikutnya hingga akhir kitab dan akhir dunia akan terjadi di masa depan. Karena pandangan ini sukar untuk didukung, terutama jika yang disebut sebagai binatang sudah mati, banyak yang menggabungkan pandangan ini dengan pandangan idealisme yang mengatakan bahwa seseorang seperti Napoleon membawa roh atau pemerintahan binatang.

Preterisme mendapatkan namanya dari kata dalam bahasa Latin yang berarti “to pass.” Ini adalah pandangan yang mengatakan bahwa peristiwa apokaliptik yang dinubuatkan dalam Perjanjian Baru telah terjadi di masa lalu, pada tahun 70 Masehi. Jadi pandangan ini adalah kebalikan dari futurisme. Dalam pandangan preterisme terdapat dua mahzab utama: partial preterism dan full preterism, dan ada satu lagi yang saya sebut sebagai Kik preterism, yang dinamai berdasarkan pencetusnya, J. Marcellus Kik.

Advertisements