WAHYU 8

image

A. Meterai Ketujuh: Persiapan bagi Tujuh Sangkakala (Wahyu 8:1-6)

Ayat 2: Ketujuh malaikat yang kepada mereka diberikan tujuh sangkakala dikatakan “berdiri di hadapan Allah.” Mungkinkah salah satu dari tujuh malaikat ini adalah Gabriel, sebagaimana ia bersaksi kepada Zakharia ayah Yohanes Pembaptis (Lukas 1:19 New King James Version) bahwa ia “berdiri di hadirat Allah”? Steve Gregg, editor Revelation: Four Views (A Parallel Commentary), mengatakan, “Bagi orang Israel, sangkakala (serunai) adalah alat yang digunakan saat mengerahkan pasukan untuk berperang atau untuk memperingatkan datangnya serangan musuh. Menyamakan penghakiman yang akan datang dengan suara sangkakala menunjukkan bahwa Allah sendiri yang berperang melawan musuh-Nya si murtad Israel” (halaman 146).

Ayat 3-5: “Doa semua orang kudus” dipersembahkan bersama dengan “banyak kemenyan” di atas mezbah emas yang ada di depan takhta di sorga. Tampak jelas bahwa penghakiman yang akan segera terjadi -sebagian- adalah dampak langsung dari doa-doa ini. Sam Storms melihat adanya hubungan langsung antara seruan nyaring para martir untuk pembalasan (Wahyu 6:10) dengan respon Allah dalam ayat-ayat ini. Sebagai akibat dilemparkannya pedupaan yang berisi “api dari mezbah” ke bumi, terjadilah “bunyi guruh, disertai halilintar dan gempa bumi.” Sebuah pelajaran yang dapat diambil dari ayat ini adalah bahwa Allah mendengar doa-doa umat-Nya dan bertindak dengan cara-Nya yang berdaulat pada waktu-Nya sesuai dengan kehendak-Nya. Gemuruh guruh dan halilintar lagi-lagi mengingatkan kita kepada saat diberikannya perjanjian lama (old covenant) melalui Musa di Gunung Sinai (Keluaran 19:16), seperti yang disebutkan dalam Wahyu 4:5.

John Piper mengatakan pada tahun 1994 bahwa ayat ini “menggambarkan doa orang-orang kudus sebagai instrumen yang Allah pergunakan untuk menyongsong akhir dunia dengan penghakiman besar ilahi … [Ini] adalah penjelasan tentang apa yang telah terjadi atas doa berjuta-juta orang selama 2.000 tahun terakhir saat orang-orang kudus berseru berulang-ulang “Datanglah Kerajaan-Mu…” Sam Storms, seorang historisis, setuju dengan Piper perihal premis sebab dan akibat peristiwa ini, tetapi tidak setuju mengenai waktu tindakan Allah tersebut:

“Mungkin saja sangkakala itu, seperti halnya meterai keenam dan ketujuh, adalah jawaban Allah atas doa-doa umat-Nya di Wahyu 6:9-11 yang meminta pembalasan atas penganiayaan yang mereka alami. Jika demikian, ini akan sangat bertentangan dengan penafsiran futuris yang memindahkan peristiwa tiupan sangkakala ini ke masa depan, momen terakhir dalam sejarah sebelum kedatangan Yesus yang kedua kali (second coming). Dengan kata lain, tampaknya tidak mungkin Allah akan bertindak menanggapi doa-doa umat-Nya hanya pada akhir sejarah, dengan melalukan dan membiarkan lebih dari enam puluh angkatan orang fasik tanpa dihakimi.”

Sam Storms melanjutkan dengan mengatakan bahwa sebagian besar penghakiman yang ditandai oleh terbukanya meterai, ditiupnya sangkakala, dan dituangkannya isi cawan murka “menggambarkan kejadian-kejadian umum dalam sejarah.” Pendapat para preteris, tentu saja, adalah bahwa doa-doa para martir abad pertama yang berseru nyaring, “Berapa lamakah lagi, ya Penguasa yang kudus dan benar, Engkau tidak menghakimi dan tidak membalaskan darah kami kepada mereka yang diam di bumi?” (Wahyu 6:10) telah dibalaskan dalam waktu satu angkatan ketika Allah mencurahkan penghakiman-Nya atas Yerusalem pada tahun 70 Masehi (Matius 23:29-38; Lukas 13:33-35; Wahyu 17:6, 18:20, 24). Sementara para historisis percaya bahwa Allah terus bertindak dengan berbagai cara menjawab doa-doa umat-Nya.

B. Sangkakala Pertama: Terbakarnya Sepertiga Pepohonan (Wahyu 8:7)

Hujan es, dan api, bercampur darah; semuanya itu dilemparkan ke bumi. [Dalam studi kita mengenai kitab Wahyu ini, kami akan menunjukkan bahwa banyak referensi untuk kata “bumi” dalam kitab Wahyu tidak dimaksudkan untuk dipahami sebagai lingkup seluruh dunia, tetapi lingkup tanah Israel/Palestina. Dalam sebuah studi 3-bagian (dimulai dengan artikel https://adammaarschalk.com/2010/02/19/the-earth-as-a-common-reference-to-israel-in-revelation-part-1/) saya telah menguraikan hampir 20 kasus mengenai kata “bumi” ini.] Misalnya dalam artikel Wahyu 1, saat kita membahas frasa “bangsa di bumi” di ayat 7 -yang sering dianggap adalah lingkup seluruh dunia. Ketika nubuat ini dibandingkan dengan nubuat dalam Zakharia 12:10-14, jelas yang dimaksud dengan “bangsa di bumi” adalah suku-suku yang tinggal di negeri/tanah Israel.

Steve Gregg mencatat,

“Empat meterai pertama (Wahyu 6:1-8) berbeda dari tiga meterai terakhir, karena dalam setiap meterai muncul penunggang kuda; demikian pula empat sangkakala pertama berbeda dengan tiga sangkakala terakhir, karena tiga sangkakala terakhir disebut sebagai ‘celaka.’ Keseluruhan sangkakala berkaitan dengan Perang Yahudi 66-70 Masehi, ‘hari-hari terakhir’ persemakmuran Yahudi” (halaman 148). Steve mengutip dari Jay Adams, yang mencatat bahwa selama periode ini “Negeri itu sangat menderita. Tulah yang terjadi mengingatkan akan tulah yang terjadi di Mesir, saat kelahiran bangsa Ibrani. Pada peristiwa ini tulah menandai berakhirnya bangsa Ibrani, dan lahirnya sebuah bangsa baru, Kerajaan Allah (1 Petrus 2:9, 10).”[1]

Kita diberitahu bahwa sepertiga dari bumi (tanah Israel), pohon-pohon, dan rumput hijau hangus dalam penghakiman ini. Jika ingin ditafsirkan secara harfiah, catatan dari Josephus ini memperlihatkan suatu penggenapan yang sangat masuk akal selama pengepungan Yerusalem selama lima bulan sebelum penghancurannya tahun 70 Masehi (Steve Gregg, halaman 151-152):

“Dan sekarang orang-orang Romawi, sekalipun sangat kesulitan dalam mendapatkan material, meninggikan pinggiran sungai dalam 21 hari, setelah mereka menebang semua pohon yang berada di wilayah yang berbatasan dengan ke kota, membuat bundaran berukuran sembilan puluh furlong (1 furlong=201 meter) atau sekira 18 mil atau 29 kilometer, seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya. Dan, sungguh, pemandangan negeri itu memilukan; tempat-tempat yang sebelumnya dihiasi pepohonan dan taman-taman yang asri menyenangkan sekarang menjadi negeri yang tandus dan gersang sama sekali, dan semua pepohonannya ditebang: setiap orang asing yang sebelumnya pernah melihat Yudea dan daerah pinggiran kota yang paling indah, dan sekarang melihatnya sebagai gurun, tidak bisa tidak meratapi dan berkabung sedih karena perubahan yang begitu drastis; karena perang telah menghancurkan semua keindahan negeri itu” (Wars, VI:1:1).

C. Sangkakala Kedua: Laut Menjadi Darah (Wahyu 8:8-9)

Ayat 8: Yohanes melihat “sesuatu seperti gunung besar, yang menyala-nyala oleh api, dilemparkan ke dalam laut.” Steve Gregg (halaman 154, 156) menegaskan bahwa terdapat dua arti penglihatan ini -baik arti simbolis maupun arti harfiah- yang dapat diterapkan dalam penghancuran Yerusalem dan Israel tahun 66-70 Masehi:
(a) Simbolis: Dalam nubuat Alkitab gunung sering mengacu pada pemerintah atau kerajaan, termasuk Kerajaan Israel (misalnya Keluaran 15:17). Laut adalah simbol nubuat yang sering dipakai untuk menggambarkan bangsa-bangsa lain (Gentile nations), berlawanan dengan ‘tanah/negeri’ yang adalah lambang Israel. Simbolisme ini adalah gambaran runtuhnya negara Yahudi dan menyebarnya orang Yahudi ke berbagai negeri non-Yahudi. (97.000 orang Yahudi dijual sebagai budak oleh Romawi pada 70 Masehi)
(b) Harfiah: Secara harfiah Yerusalem memang dibakar habis oleh Romawi 70 Masehi.

Ayat 8-9: Yohanes juga melihat sepertiga dari laut itu menjadi darah, dan matilah sepertiga dari segala makhluk yang bernyawa di dalam laut dan binasalah sepertiga dari semua kapal. Bagi orang-orang yang menerima pendapat Kitab Wahyu ditulis sebelum tahun 70 Masehi, [2] hal ini pasti yang paling diingat selama Perang Yahudi-Romawi (66-70 Masehi). Kaisar Romawi Nero resmi menyatakan perang terhadap Israel pada bulan Februari 67 Masehi sebagai respon atas pemberontakan mereka, dan pada musim semi tahun yang sama jenderalnya Vespasian berbaris ke negeri Yudea dengan pasukan berkekuatan 60.000 orang. Dalam beberapa bulan berikutnya lebih dari 150.000 orang Yahudi tewas di Yudea dan Galilea. Sejarawan Yahudi Josephus menggambarkan Galilea pada masa itu “penuh dengan api dan darah.” Steve Gregg (halaman 156, 158) menyoroti satu pertempuran secara khusus yang dicatat oleh Josephus, yang kata-katanya, menurut Gregg, “tampak seolah benar-benar diperhitungkan untuk menyajikan penggenapan penghakiman sangkakala ini.” Pertempuran ini terjadi di Laut Galilea (Danau Tiberias):

“Dan ketika orang-orang Yahudi itu mulai tenggelam di laut, jika mereka mengangkat kepala mereka di atas air mereka akan dibunuh oleh anak panah (darts/arrows); atau ditangkap oleh kapal Romawi; tetapi jika, dalam kondisi putus asa, mereka berusaha berenang ke arah kapal musuh, orang-orang Romawi akan memenggal kepala atau tangan mereka; dan mereka tewas dengan berbagai cara di mana-mana. … keseluruhan danau terlihat penuh darah, dan penuh mayat, karena tidak satu pun dari mereka mampu meloloskan diri. Bau busuk yang mengerikan, dan pemandangan yang sangat menyedihkan tersaji pada hari-hari berikutnya di seluruh negeri itu; sementara pantai dipenuhi dengan bangkai kapal dan mayat-mayat yang membengkak; dan ketika mayat-mayat yang tersengat sinar matahari itu membusuk, baunya sungguh mencemari udara (dan kondisinya begitu menyedihkan hingga bahkan para pelakunya yakni tentara Romawi merasa kasihan).”

Karena pembantaian tersebut, sangat banyak makhluk hidup di Laut Galilea yang teracuni dan tidak mampu bertahan, sedang sepertiga kapal-kapal Yahudi hancur. Dalam makalah saya mengenai penghancuran Yerusalem tahun 70 M, saya juga merujuk sebuah buku yang ditulis oleh George Peter Holford tahun 1805 (The Destruction of Jerusalem/Penghancuran Yerusalem). Berikut ini adalah kutipan dari makalah saya, yang saya dasarkan pada buku George, mengenai pertempuran lain di kota pelabuhan Yope:

“Salah satu kota pertama yang Vespasian hancurkan adalah Yope, karena penduduk kota itu telah memprovokasi anak buahnya dengan pembajakan yang kerap mereka lakukan. Orang-orang Yahudi itu mencoba untuk melarikan diri dari Vespasian dengan kapal-kapal mereka, namun Vespasian terbantu oleh badai besar yang bertiup persis saat orang-orang Yope berusaha melarikan diri. Kapal-kapal mereka hancur terhempas satu sama lain dan ke bebatuan karang, dan ketika pembantaian itu usai lebih dari 4.200 mayat berserakan di sepanjang pantai dan dalam bentangan yang sangat panjang pantai tampak penuh lumuran darah.”

D. Sangkakala Ketiga : Air Menjadi Pahit (Wahyu 8:10-11)

Ayat-ayat ini berbicara tentang “bintang besar” jatuh dari langit, “menyala-nyala seperti obor,” menyebabkan banyak kematian karena sepertiga dari sungai-sungai dan mata air menjadi apsintus/wormwood (pahit). Beberapa futuris menafsirkan sangkakala penghakiman ini secara simbolis, entah itu merujuk kepada Antikristus masa depan (misalnya Arno Gaebelein), atau Paus masa depan (misalnya H.A. Ironside) yang menyebabkan kehancuran besar (Steve Gregg, halaman 161, 163). Penafsir futuris lain (misalnya Henry Morris, Charles Ryrie, John Walvoord) melihat hal ini sebagai gambaran harfiah meteorit yang terbakar atau hujan meteor raksasa yang memasuki atmosfer bumi “yang mencemari sungai-sungai dan perairan” dari seluruh yang planet (Steve Gregg, halaman 165). Pemahaman preteris yang disuarakan Steve Gregg sungguh membantu:

“Perubahan sumber air tawar menjadi pahit dan beracun sebagian mungkin merupakan akibat langsung dari mayat-mayat membusuk yang berserakan di Laut Galilea dan di sungai sebagai akibat perang yang berkecamuk. Namun, pencemaran perairan ini memiliki makna simbolis, khususnya bagi bangsa Israel. Sepertinya ada makna yang tersirat dalam janji (dan ancaman) yang Allah katakan kepada Israel ketika mereka pertama kali keluar dari Mesir. Ketika mereka tiba di mata air Mara yang pahit, Allah menyuruh Musa melemparkan sepotong kayu ke dalam air dan Ia mengubah air itu menjadi manis dan sehat … Namun, janji/peringatan Allah saat itu menyiratkan bahwa ketidaktaatan mereka kepada-Nya akan membuat Ia menimpakan atas mereka tulah yang sama yang Dia timpakan atas Mesir – air dapat dibuat menjadi pahit lagi (lihat Keluaran 15:25-26, Ulangan 28:59-60) … Penting dicatat bahwa di sepanjang Kitab Wahyu, tulah yang menimpa orang-orang Yahudi murtad bisa disetarakan dengan yang Allah timpakan atas Mesir pada zaman Musa. Bintang yang menyala seperti obor (ayat 10) mengingatkan kepada potongan kayu yang dilemparkan ke dalam air oleh Musa, tetapi memiliki efek berlawanan (halaman 160, 162).

David Chilton menambahkan,

“Nama bintang jatuh ini Wormwood/Apsintus, suatu istilah yang digunakan dalam hukum Taurat dan kitab para nabi untuk memperingatkan Israel akan penghancuran sebagai sebuah penghukuman atas kemurtadannya (Ulangan 29:18; Yeremia 9:15; 23:15; Ratapan 3:15, 19; Amos 5:7). Sekali lagi, dengan menggabungkan kiasan Perjanjian Lama, St. Yohanes menyatakan maksudnya: Israel murtad, dan telah menjadi Mesir; Yerusalem telah menjadi Babel; dan sang pelanggar-perjanjian akan dihancurkan, sepasti hancurnya Mesir dan Babel” (Gregg, halaman 164). [3]

[Informasi dalam kurung siku berikut ditambahkan ke dalam artikel ini pada 26 Oktober 2009:

Untuk menggambarkan poin ini lebih jauh, penting juga mengaitkannya dengan ujian dalam perkara cemburuan di bawah Hukum Musa, sebagaimana dicatat dalam Bilangan 5:11-31. Ujian ini dilaksanakan oleh seorang imam dalam kasus dugaan seorang perempuan bersuami mencemarkan dirinya dengan berzinah (Bilangan 5:11-14). Imam akan mencampur debu dari lantai Kemah Suci dan membubuhnya ke dalam air kudus dalam suatu tempayan tanah untuk menjadi “air pahit yang mendatangkan kutuk” (ayat 16-18). Imam lalu menyumpah perempuan itu dengan berkata:

Jika tidak ada laki-laki yang tidur dengan engkau, dan jika tidak engkau berbuat serong kepada kecemaran saat engkau berada di bawah kuasa suamimu, maka luputlah engkau dari air pahit yang mendatangkan kutuk ini. Tetapi jika engkau berbuat serong, padahal engkau berada di bawah kuasa suamimu, dan mencemarkan dirimu dengan bersetubuh dengan laki-laki lain selain suamimu sendiri — haruslah imam menyumpah perempuan itu dengan sumpah kutuk, dan berkata kepada perempuan itu — Tuhan membuat engkau menjadi sumpah kutuk di tengah-tengah bangsamu dengan mengempiskan pahamu dan mengembungkan perutmu, sebab air yang mendatangkan kutuk ini akan masuk ke dalam tubuhmu untuk mengembungkan perutmu dan mengempiskan pahamu” (Bilangan 5:19‭-‬22 New King James Version).

Perempuan itu kemudian berkata: “Amin, amin.” Lalu imam harus menuliskan kutuk itu pada sehelai kertas dan menghapusnya dengan air pahit itu, dan ia harus memberi perempuan itu minum air pahit yang mendatangkan kutuk itu (ayat 23-26), dengan dua kemungkinan akibat:

Setelah terjadi demikian, apabila perempuan itu memang mencemarkan dirinya dan telah melanggar kesetiaannya terhadap suaminya, air yang berisi kutuk itu akan masuk ke badannya dan menyebabkan sakit yang pedih, sehingga perutnya mengembung dan pahanya mengempis, dan perempuan itu akan menjadi sumpah kutuk di antara bangsanya. Tetapi apabila perempuan itu tidak mencemarkan dirinya, melainkan ia suci, maka ia akan bebas dan akan dapat beranak” (Bilangan 5:27‭-‬28 New King James Version).

Jika gambaran dan prosedur ini adalah apa yang dicerminkan oleh penghakiman sangkakala ketiga, maka ini adalah satu indikasi lagi bahwa Israel memang telah murtad. Banyak orang yang mati karena air pahit karena mereka memang bersalah melakukan perzinahan rohani dan didapati telah mencemarkan dirinya.]

E. Sangkakala Keempat: Terpukulnya Benda-Benda Langit (Wahyu 8:12-13)

Ayat 12: Mengenai anggapan umum futuris bahwa penghakiman ini akan terjadi secara harfiah di masa depan, saat sepertiga cahaya matahari, bulan, dan bintang-bintang berhenti bersinar; sebuah pertanyaan praktis muncul. Karena penghakiman ini bukanlah yang terakhir -masih ada penghakiman-penghakiman berikutnya- apakah mungkin kehidupan akan dapat bertahan bahkan untuk beberapa hari, apalagi beberapa bulan, dalam kondisi tersebut? Kita tahu bahwa kehidupan dapat berlangsung di planet bumi karena matahari mempertahankan intensitas sinarnya seperti yang sekarang ini. Suatu peningkatan atau penurunan intensitas cahaya matahari secara signifikan akan membakar atau membekukan umat manusia.

Sebagai pemikiran alternatif, David Chilton menulis,

“Penggambaran terpukulnya benda-benda langit dalam ayat-ayat ini telah lama digunakan dalam kitab para nabi untuk menggambarkan jatuhnya bangsa-bangsa dan penguasa (lihat Yesaya 13:9-11, 19; 24:19-23; 34:4-5; Yehezkiel 32:7-8, 11-12; Yoël 2:10, 28-32; Kisah Para Rasul 2:16-21). (Mengutip F. W Farrar, 1831-1903) “Penguasa demi penguasa, kepala suku demi kepala suku dalam Kekaisaran Romawi dan bangsa Yahudi telah tewas dibunuh. Gaius, Claudius, Nero, Galba, Otho, Vitellius, semua mati oleh pembunuhan atau bunuh diri; [4] Herodes Agung, Herodes Antipas, Herodes Agripa, dan sebagian besar pangeran wangsa Herodian, bersama dengan tidak sedikit imam besar terkemuka Yerusalem, tewas dalam aib, atau di pengasingan, atau karena pembunuhan dengan kekerasan. Semua ini disebut sebagai ‘matahari yang padam dan bintang-bintang menjadi gelap'” (Gregg, halaman 166, 168).

Ayat 13: Di tengah kengerian tulah ini, seekor burung nasar (elang) terbang di langit berkata dengan nyaring bahwa tiga sangkakala penghakiman yang tersisa bahkan lebih mengerikan. Target tiga sangkakala ini lagi-lagi adalah “mereka yang diam di atas bumi,” merujuk kepada ke tanah Israel, seperti yang dibahas sebelumnya. Kita akan melihat celaka ini pada pasal 9. Steve Gregg mengutip Adam Clarke (1732-1815), yang menurut Steve adalah seorang historisis tetapi “secara akurat menempatkan diri dalam posisi preteris”:

“Menurut banyak sarjana Alkitab, tiga celaka ini merujuk kepada penghancuran Yerusalem: celaka pertama adalah saling hasut dan baku bunuh di antara orang Yahudi sendiri; celaka kedua adalah pengepungan kota Yerusalem oleh tentara Romawi; celaka ketiga adalah pengambilalihan dan penjarahan kota, serta pembumihangusan Bait Allah. Ini adalah celaka terbesar dari semua celaka, karena dalam celaka terbesar ini kota Yerusalem dan baitnya dihancurkan, dan hampir satu juta orang kehilangan nyawa.”

[1] Pembahasan lebih lanjut tentang konsep tahun 70 Masehi menandai kelahiran Keajaan Allah -yang benar-benar terpisah dari sistem Yahudi- dapat dilihat dalam:
(i). https://adammaarschalk.com/2009/08/13/brief-explanation-of-partial-preterism/
(ii). https://adammaarschalk.com/2009/08/22/pp20-the-spiritual-significance-of-70-ad-conclusion/
(iii). Matius 21:33-45 dan Ibrani 8:13.

[2] Dalam makalah saya yang membahas penghancuran Yerusalem, saya menyertakan bukti eksternal: https://adammaarschalk.com/2009/08/13/pp3-external-evidence-for-an-early-date-revelation/; maupun bukti internal bagian 1 https://adammaarschalk.com/2009/08/14/pp4-internal-evidence-for-an-early-date-revelation-part-1/, bagian 2 https://adammaarschalk.com/2009/08/14/pp5-internal-evidence-for-an-early-date-revelation-part-2/, dan bagian 3 https://adammaarschalk.com/2009/08/14/pp6-internal-evidence-for-an-early-date-revelation-part-3/ yang memperlihatkan bahwa Wahyu ditulis sebelum kejatuhan Yerusalem pada tahun 70 Masehi.

[3] Sam Storms membagikan beberapa pemikiran menarik tentang paralel tulah dalam Wahyu dengan tulah yang ditimpakan atas Mesir http://www.samstorms.com/all-articles/post/the-seven-trumpets—part-i/:

“Salah satu hal yang sangat menarik dalam Wahyu adalah cara kitab ini menggambarkan pengalaman umat Allah sebagai sesuatu yang sangat mirip dengan apa yang dialami orang Israel di Mesir dan sepuluh tulah penghakiman. Sebagai contoh,

1. Keluarnya orang Israel dari Laut Merah (Keluaran 14:1-31) // Orang-orang yang telah mengalahkan binatang itu dan patungnya dan bilangan namanya berdiri di tepi lautan kaca bercampur api (Wahyu 15:2).

2. Nyanyian Musa (Keluaran 15:1-18) // Nyanyian Musa dan nyanyian Anak Domba (Wahyu 15:2-4).

3. Musuh Allah: Firaun // Musuh Allah: Binatang

4. Ahli sihir istana Mesir // Nabi-nabi palsu

5. Penganiayaan atas orang Israel // Penganiayaan atas Gereja.

6. Dilindungi dari tulah (Keluaran 8:22; 9:4, 26; 10:23; 11:7) // Dilindungi dari murka (Wahyu 7:1-8; 9:4).

7. Mengeraskan hati/tidak mau bertobat (Keluaran 8:15; 9:12-16) // Mengeraskan hati/tidak mau bertobat (Wahyu 16:9, 11, 21).

8. Nama Allah (Keluaran 3:14) // Nama Allah (Wahyu 1:4-6).

9. Israel dilepaskan dari perbudakan dengan darah // Gereja ditebus dari dosa dengan darah.

10. Israel akan dijadikan kerajaan imam (Keluaran 19:6) // Gereja dijadikan kerajaan imam (Wahyu 1:6).

11. Tulah ketujuh (Keluaran 9:22-25) // Sangkakala pertama.

12. Tulah keenam (Keluaran 9:8-12) // Cawan murka pertama.

13. Tulah pertama (Keluaran 7:20-25) // Sangkakala kedua dan ketiga dan cawan murka kedua dan ketiga.

14. Tulah kesembilan (Keluaran 10:21-23). ​​// Sangkakala keempat dan cawan murka keempat.

15. Tulah kedelapan dan kesembilan (Keluaran 10:1-20) // Sangkakala kelima dan cawan murka kelima.”

[4] Daftar kaisar Romawi: https://kloposmasm.wordpress.com/2009/08/14/pp5-internal-evidence-for-an-early-date-revelation-part-2/.

Adam Maarschalk, Dave, Rod: Revelation 8; September 17, 2009

https://adammaarschalk.com/2009/09/30/revelation-chapter-8/

Advertisements