BAGAIMANA HUKUM TAURAT MENCIPTAKAN “ALLAH” DALAM PIKIRAN KITA

image

Apakah Anda tahu bahwa hukum Taurat adalah upaya Israel untuk membentuk Allah ke dalam gambar atau citra dalam pikiran mereka dan pola dunia? Jadi Allah menggunakan hukum itu untuk mulai memisahkan mereka dari bangsa-bangsa lain, terutama karena kehadiran-Nya (menurut Musa) dan beberapa ketentuan lainnya, semisal tidak memasak anak kambing dalam susu induknya atau membuat tato/rajah yang adalah praktek ibadah penyembahan berhala. Namun secara keseluruhan, sistem hukum Taurat tidak lebih dari ekspresi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat.

Pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat mengatakan, “lakukan yang baik, jauhi yang jahat dan kamu akan menjadi seperti Allah.” Itulah godaan yang dialami Adam dan Hawa. Mereka sudah diciptakan menurut gambar Allah namun si penggoda mengatakan, “makanlah buah ini dan kamu akan menjadi seperti Allah.” Yang dimaksud dosa asal adalah menyangkal siapa diri mereka sebenarnya dan mencoba untuk “menjadi seperti Allah” oleh usaha religius manusia. Sementara Hukum Taurat mengatakan, “Aku akan memberkati kamu jika kamu berbuat baik dan mengutuk kamu jika kamu berbuat dosa.” Dengan kata lain, Taurat adalah pohon pengetahuan baik dan jahat dengan kekuatan penuh!

HUKUM TAURAT ADALAH “MENJADI SERUPA DENGAN DUNIA INI”

Pikirkan ini: jenis perjanjian yang digambarkan oleh hukum Taurat sebenarnya adalah perjanjian yang umum dalam bangsa-bangsa lain. Ingatlah ketika peristiwa eksodus terjadi, Allah mengatakan bahwa Ia ingin mereka semua menjadi bangsa yang kudus dan semua menjadi imam bagi-Nya. Tetapi bangsa Israel ketakutan dan menolak, malah menyuruh Musa saja yang menghadap Allah mewakili mereka.

image

Perjanjian Suzerain antara Orang Mesir dan Orang Het

Setelah penolakan orang Israel, suatu jenis perjanjian yang berbeda dan yang umum berlaku pada masa itu, mulai ditegakkan. Itulah yang disebut Suzerain-Vassal Treaty. Perhatikan bagaimana Dr. Meredith Kline menjelaskan perjanjian ini:

“Di Timur Dekat Kuno, perjanjian antara raja-raja adalah hal yang umum. Perjanjian yang demikian dibuat di antara pihak yang sederajat dan umumnya menguraikan isi perjanjian untuk saling menghormati batas wilayah masing-masing, untuk mempertahankan hubungan perdagangan, juga mengenai pemulangan budak yang melarikan diri. Perjanjian-perjanjian ini tersimpan dalam Mari Tablet* dan dalam Teks Amarna**. Dalam koleksi ini juga tersimpan perjanjian antara pihak superior dan inferiornya. Jika hubungan antara kedua pihak ini sifatnya kekeluargaan atau pertemanan, maka pihak-pihak yang membuat perjanjian disebut sebagai “bapa” dan “anak.” Jika kedua pihak yang membuat perjanjian tidak memiliki kedekatan emosional, pihak yang terlibat disebut sebagai “tuan” dan “hamba,” atau “raja” dan “pengikut”/vassal, atau “raja besar” dan “raja kecil.” Raja besar adalah suzerain dan raja kecil adalah vassal/pangeran/ tuan yang lebih rendah posisinya yang melayani raja besar. Tuan yang lebih rendah adalah perwakilan/representatif dari semua masyarakat umum yang berada di bawah kekuasaan raja yang lebih besar. Dengan demikian raja besar itu menegakkan perjanjian yang sifatnya massal.

Perjanjian suzerain-vassal ini terdiri dari dua bagian: 1) Memperkenalkan nama suzerain dan gelarnya; 2) Catatan historis hubungan suzerain dengan vassal. Tujuannya adalah untuk menggambarkan kepada vassal apa yang telah dilakukan suzerain untuk melindungi dan membangun vassal, sehingga dengan demikian vassal wajib tunduk dan setia kepada suzerain. Kedua bagian ini disebut sebagai “Pendahuluan.”

Bagian berikutnya dari perjanjian ini berisi sejumlah “ketentuan.” Apa yang harus dilakukan oleh vassal dijabarkan secara garis besar dan secara rinci. Bagian ini sering ditutup dengan persyaratan bahwa vassal harus menyimpan salinan perjanjian ini di dalam kuil dewanya, tempat ia sesekali membaca dan mempelajarinya untuk menyegarkan kembali ingatannya mengenai tugas-tugasnya.

Bagian terakhir dari perjanjian ini berisi daftar berkat dan kutuk dari suzerain. Jika vassal mampu memenuhi ketentuan-ketentuan yang dibuat, ia akan menerima berkat dari suzerain, yakni berkat-berkat yang tercantum dalam daftar. Jika vassal gagal memenuhi ketentuan, ia akan menerima kutuk dari suzerain, yang tercantum dalam daftar kutuk.”

Inilah persisnya yang kita temukan dalam Kitab Ulangan: salinan praktek dunia! Isi kitab ini sama dengan aturan yang orang Mesir gunakan. Tapi apa yang orang Israel tidak pikirkan adalah satu masalah khusus dalam perjanjian jenis ini: ketika berurusan dengan Allah, alih-alih dewa-dewa palsu yang bertanggung jawab untuk menegakkan berkat dan kutuk perjanjian, ketentuan perjanjian menempatkan Yahweh baik sebagai suzerain maupun sebagai Allah mereka yang memastikan berlakunya perjanjian itu; dengan demikian, orang Israel membuat Allah menjadi suzerain yang berhak menjatuhkan kutuk dan murka berdasarkan ketentuan perjanjian.

Tahukah Anda suara nubuat yang Allah nyatakan dalam Yeremia 7:21-23 New King James Version?

Beginilah firman Tuhan semesta alam, Allah Israel: “Tambah sajalah korban bakaranmu kepada korban sembelihanmu dan makanlah dagingnya! AKU TIDAK PERNAH mengatakan kepada nenek moyangmu pada waktu Aku membawa mereka keluar dari tanah Mesir SESUATU TENTANG KORBAN BAKARAN DAN KORBAN SEMBELIHAN. Tetapi inilah yang telah Kuperintahkan kepada mereka: Turutilah suara-Ku, maka Aku akan menjadi Allahmu, dan kamu akan menjadi umat-Ku. Dan berjalanlah di jalan yang telah Kuperintahkan kepadamu, supaya kamu berbahagia!”

Allah menginginkan mereka bercakap-cakap mesra dengan Dia secara pribadi dan mengenal suara-Nya dan memiliki hubungan yang erat, tetapi sebaliknya MEREKA-lah yang menginginkan sistem korban, dan hukum Taurat! Hukum Taurat tidak pernah menjadi gambaran Allah, hanya Kristuslah gambaran Allah!

Saya suka apa yang dikatakan Yesaya 59:2 “Yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu (dosa-dosamu).” Tidak dikatakan bahwa dosa-dosa mereka memisahkan Allah dari mereka, tetapi sebaliknya, dosa itu mendorong mereka menjauh dari Allah. Keterpisahan hanyalah ilusi.

Adalah Samuel yang menangis karena Israel menginginkan seorang raja seperti bangsa-bangsa lain dan adalah Allah yang mengatakan, “Bukan engkau yang mereka tolak, tetapi Akulah yang mereka tolak, supaya jangan Aku menjadi raja atas mereka” (1 Samuel 8:7). Karena Ia ingin menjadi raja mereka, Allah tidak pernah bermaksud memberi mereka seorang raja duniawi. Tetapi Allah memberikan apa yang mereka inginkan, sementara kebutaan dan penyimpangan terus berlanjut.

Ketika Kristus datang, Dia datang untuk memperbaiki mentalitas raja duniawi. Di bawah perjanjian yang baru (the new covenant) Dia kembali kepada niat Allah semula yakni Dia menjadi raja mereka di atas takhta rohani, bukan di atas takhta duniawi. Dalam khotbah pertama Petrus pada Hari Raya Pentakosta, ia menjelaskan poin penting bahwa yang dimaksud dengan takhta Daud adalah sama dengan takhta di sorga, karena Kristus telah menebus konsep duniawi dan mengembalikannya menjadi konsep sorgawi. Ibrani 1 mengatakan bahwa takhta itu ada di sorga.

Kisah Para Rasul 2:30-31 New King James Version, “Karena itu, sebagai seorang nabi, dan karena ia mengetahui bahwa Allah telah berjanji kepadanya dengan sumpah bahwa dari keturunannya sendiri, Allah akan MENDUDUKKAN KRISTUS DI ATAS TAKHTANYA, ia telah melihat hal ini, berbicara TENTANG KEBANGKITAN KRISTUS …

Paulus mengajarkan kepada kita bahwa Allahlah yang memberikan hukum Taurat kepada orang Israel sehingga mereka bisa tiba di penghujung diri sendiri. Tapi ia juga mengajarkan bahwa Taurat itu datang membawa murka (Roma 4:15). Murka itu semata untuk membuat mereka mengalami buah dari tindakan mereka sendiri (Roma 1:18-32). Roma 1 secara khusus mengatakan bahwa mereka menggantikan pengetahuan akan Allah yang tidak fana dengan gambaran berhala yang fana. Dengan memberikan kepada mereka apa yang mereka kehendaki, itu adalah suatu pernyataan sikap Allah memberikan orang Israel apa yang mereka inginkan sama saja dengan berakhir dalam penghancuran mereka sendiri.

YESUSLAH PEWAHYUAN TENTANG ALLAH

Yohanes 1:18, “Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.

Bukan Adam. Bukan Elia. Bukan Musa. Bukan Abraham. Tidak satu nabi pun yang memiliki pewahyuan yang sepenuhnya benar dan akurat tentang siapa Bapa sesungguhnya. Tidak satu pun. Hanya Yesus saja pewahyuan tentang Bapa. Itulah sebabnya Ia berkata dalam Yohanes 14:9, “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami?

Hukum Taurat bukanlah pewahyuan tentang Allah, hukum Taurat adalah pewahyuan tentang dosa (Roma 3:19-20). Hanya Yesuslah wahyu tentang Bapa. Kita diubah tidak untuk menjadi serupa dengan gambar Taurat, tetapi supaya serupa dengan gambar Kristus.

Apakah Anda memperhatikan saat Yesus berkata, “Kamu telah mendengar …, tapi Aku berkata kepadamu …“? Tidakkah kata-katanya melampaui hukum Taurat? Apakah Anda memperhatikan Yesus mengampuni orang sebelum orang itu minta diampuni (Matius 9), atau Petrus dipulihkan tanpa pernah sekalipun menyuruh dia mengakui kegagalannya, atau meminta maaf? Apakah Anda melihat bagaimana perintah Yesus untuk mengasihi Tuhan Allah dengan segenap jiwa pikiran hati dan kekuatan adalah penggenapan hukum Taurat; kemudian di Ruang Atas Ia mengajarkan seperti apa rupa perjanjian yang baru saat Ia mengatakan, “Aku memberikan PERINTAH BARU kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi“? Kata dalam bahasa Yunani untuk “baru” adalah “kainos,” yang artinya cara melakukan sesuatu yang sama sekali baru. Baru yang sama sekali tidak seperti yang lama dalam segala hal!

MENGAPA ADA AYAT-AYAT PENGHAKIMAN SETELAH SALIB?

Kesulitan yang dialami sebagian orang adalah mereka masih menemukan ayat mengenai penghakiman dan murka setelah salib dan kebangkitan. Jika Anda memperhatikan dengan teliti Anda akan melihat bahwa semua ayat itu mengutip langsung dari Taurat (Ibrani 10:30; Ulangan 32:35-36). Yang sebagian orang ini tidak sadari adalah bahwa Taurat, sekalipun telah menjadi usang, masih sedang memudar (Ibrani 8:13). Taurat belum sepenuhnya digenapi karena ada janji-janji bagi Israel yang baru akan selesai dan digenapi tahun 70 Masehi (Lukas 21:20-22, Matius 5:17-18).

image

Masa transisi tersebut membingungkan bagi kita karena kita membaca Alkitab seolah kita adalah pembaca aslinya. Padahal Alkitab ditulis untuk angkatan ITU dan secara umum ditujukan kepada khalayak Yahudi. Bangsa-bangsa lain tentu saja nantinya termasuk dalam perjanjian yang baru; tetapi tidak sebelum Bait Allah, imamat, sistem korban, dan kota Yerusalem duniawi dihakimi dan dimusnahkan sesuai dengan hukum Taurat dan kitab para nabi. Sebelum semua ini dimusnahkan, maka masih ada dua perjanjian yang sepertinya bersaing satu sama lain.

Saya menyadari bahwa beberapa orang sangat frustasi saat berhadapan dengan Allah yang digambarkan dalam Injil -yang memiliki suasana hati yang baik- bukan dengan sosok “Allah” yang telah mereka -seperti Israel- ciptakan dalam pikiran mereka sendiri. Tetapi sejatinya kepada kesaksian dan pesan Kitab Suci itu sendirilah angkatan mereka dan angkatan kita perlu bertobat. Demikian banyak konflik sosial, peperangan antar bangsa dan kerusakan hubungan terjadi atas nama “Allah,” lebih daripada yang bisa kita bayangkan. Gereja harus membenahi keadaan ini!

KESIMPULAN:

Karena kita dibuat serupa dengan gambar Kristus, bukan serupa dengan gambar hukum Taurat, apakah yang disebut dengan “dosa” dalam perjanjian yang baru? Hanya ada satu dosa. Dosa ketidakpercayaan. Ketidakpercayaan adalah akar segala sesuatu yang bertentangan dengan gambar Kristus. Yakni ketidakpercayaan kepada Bapa penuh kasih yang telah mengampuni dosa-dosa kita 2000 tahun yang lalu sebelum kita meminta ampunan. Yakni ketidakpercayaan kepada kasih Allah bagi umat manusia. Yakni ketidakpercayaan kepada kebenaran bahwa Kristus telah menebus umat manusia melalui kematian, penguburan, dan kebangkitan-Nya. Inilah yang Kudus Roh ingatkan dalam perjanjian yang baru (Yohanes 16:8-11). Yang membuat Roh Kudus berduka adalah ketika kita tidak menerima penebusan kita, ketika kita menolak posisi kita sebagai anak, ketika kita mengeraskan hati terhadap kasih karunia.

Pertanyaan yang paling penting adalah, siapakah Allah? Dari kesaksian Kitab Suci, Allah ADALAH KASIH. Apa yang akan terjadi jika Anda mempercayai hal itu? Anda akan menjadi seperti yang Anda percayai.

Chuck Crisco: How the Law Created God in Our Image; September 10, 2015.

http://www.anewdaydawning.com/blog-1/2015/9/10/how-the-law-created-god-in-our-image

Catatan:
* Mari Tablets adalah kumpulan lebih dari 25.000 loh (tablets) berisi korespondensi diplomatik dan catatan pemerintahan yang ditemukan di kota kuno Mari (modern: Tel Hariri, Suriah) oleh sekelompok arkeolog Perancis tahun 1933.
Kota Mari berkembang sebagai pusat perdagangan dan hegemoni Mesopotamia antara 2900 Sebelum Masehi sampai 1759 Sebelum Masehi. Penemuan Mari pada tahun 1933 memberikan wawasan penting mengenai peta geopolitik Mesopotamia kuno dan Suriah, karena dalam 25.000 tablets yang ditemukan tersebut selain terdapat informasi penting tentang administrasi negara selama milenium kedua Sebelum Masehi dan sifat hubungan diplomatik antara entitas politik di wilayah tersebut, juga mengungkapkan jaringan perdagangan yang luas yang menghubungkan daerah Afghanistan di Asia Selatan dan Pulau Kreta di wilayah Mediterania. Mari Tablets juga merupakan saksi mata yang mencatat peristiwa-peristiwa yang disebutkan dalam Kitab Suci.
[Sumber: Wikipedia]
image

** Amarna Texts/Amarna Letters adalah kumpulan arsip yang ditulis pada loh (tablet) tanah liat, umumnya berisi korespondensi diplomatik antara pemerintahan Mesir dan wakil-wakilnya di Kanaan dan Amurru. Tulisan tersebut ditemukan di Amarna, nama modern untuk ibukota Mesir kuno Akhetaten (el-Amarna), yang didirikan oleh Firaun Akhenaten (1350-an – 1330-an Sebelum Masehi) selama dinasti kedelapan belas Mesir. Amarna Texts berbeda dengan temuan lain dalam penelitian mengenai Mesir kuno karena kebanyakan ditulis dalam cuneiform (tulisan berbentuk baji runcing) Akkadia yakni sistem penulisan Mesopotamia kuno, bukannya tulisan Mesir kuno. Tablet berisi teks yang ditemukan berjumlah total 382.
Amarna Texts memiliki arti penting bagi studi Alkitab dan studi linguistik Semit, karena menjelaskan budaya dan bahasa orang-orang Kanaan pada masa pra-Alkitab. Teksnya -meskipun ditulis dalam bahasa Akkadia- diwarnai oleh bahasa ibu penulisnya, yang berbicara dalam bahasa Kanaan bentuk awal, bahasa yang kemudian berkembang menjadi anak bahasanya: bahasa Ibrani dan Fenisia.
[Sumber: Wikipedia]

image

Advertisements