RAPTURELESS BAB 2. ANTIKRISTUS (Bagian 1)

image

Dalam hidup saya, saya telah menyaksikan meroketnya penggunaan kartu kredit, telepon selular dan internet. Saya telah mendengar para pengkhotbah, penulis buku dan pembangun bunker anti-bom mengatakan kepada saya bahwa teknologi modern sedang memuluskan jalan bagi antikristus untuk menguasai dunia dengan “tanda dari binatang” (mark of the beast) yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Sebenarnya, saya telah mendengar kekuatiran ini sejak lama. Beberapa tahun sebelum Y2K, saya mendengarkan stasiun radio lokal Calvary Chapel setiap hari. Banyak orangtua teman saya yang menumpuk bahan makanan dan kebutuhan pokok lainnya di lantai bawah tanah mereka, sebagai persiapan kalau-kalau situasi memburuk. Saya selalu beranggapan bahwa barang yang paling penting untuk disimpan dalam jumlah besar sebagai persiapan datangnya akhir zaman adalah tisu toilet, tapi tak seorang pun menanggapi serius ucapan saya. Sekarang, lebih satu dekade berlalu, orangtua teman-teman saya masih menyimpan 55 galon gandum di lantai bawah mereka, yang pada akhirnya kedaluwarsa.

Gagasan bahwa masyarakat sedang menuju kebobrokan total dan munculnya seorang penguasa tunggal dunia telah bergulir sekian waktu, dan banyak diktator yang telah mencoba menjadikan hal ini jadi kenyataan. Namun hal ini menimbulkan pertanyaan, apa sesungguhnya kata Alkitab mengenai penguasa tunggal dunia yang disebut sebagai antrikristus ini?

Gagasan antikristus, sebagaimana yang umum diajarkan, muncul terutama dari kumpulan empat bacaan yang berbeda dalam Kitab Suci. Tetapi, jika kita memahami keempat bacaan ini sesuai konteksnya, kita akan menemukan bahwa Alkitab tidak pernah menubuatkan munculnya seorang penguasa tunggal dunia di masa depan.

BACAAN #1: 1 DAN 2 YOHANES

Sebagai awalnya, kita harus menyadari bahwa istilah antikristus sendiri sama sekali tidak pernah muncul dalam Kitab Wahyu. Pencarian dalam Strong’s Concordance akan menunjukkan bahwa istilah antikristus hanya digunakan dalam empat bacaan ayat Alkitab, tiga kali dalam surat Yohanes yang pertama dan satu kali dalam surat Yohanes yang kedua.

Untuk memahami istilah antikristus, pertama kita harus memahami konteks tulisan Yohanes. Dalam masa Gereja abad pertama, sebuah sekte bernama Gnostisisme berkembang. Gnostik mengajarkan bahwa roh adalah baik namun jasmani dan emosi adalah jahat; dengan demikian, mereka tidak percaya Yesus datang ke dunia dalam tubuh jasmani. Gnostik mengajarkan Yesus datang ke dunia hanya sebagai makhluk roh. Ajaran ini sesat karena menafikan kebenaran Yesus mencurahkan darah-Nya bagi pengampunan dosa kita. Gnostik mendapat banyak pengikut dalam Gereja mula-mula (sekira sepertiga Gereja abad pertama) sehingga Yohanes menulis suratnya yang pertama sebagai respon atas penyesatan ini. Inilah konteks ucapan pembukaan Yohanes dalam suratnya yang pertama:

Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup — itulah yang kami tuliskan kepada kamu. Hidup itu telah dinyatakan, dan kami telah melihatnya dan sekarang kami bersaksi dan memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal, yang ada bersama-sama dengan Bapa dan yang telah dinyatakan kepada kami. Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamu pun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus” (1 Yohanes 1:1‭-‬3).

Yohanes menulis untuk membuktikan, sebagai seorang saksi mata, bahwa Yesus bukan makhluk ‘halus’ tetapi manusia jasmani yang sesungguhnya. Yohanes adalah murid yang menyandarkan kepalanya di dada Yesus, dan ia tahu pasti Yesus bukan roh halus. Yohanes bahkan mencatat dalam Yohanes 1:14, “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.” Tulisan Yohanes sangat terfokus ditujukan kepada orang-orang yang telah jatuh ke dalam ajaran Gnostik abad pertama. Lalu dalam surat 1 Yohanes dan 2 Yohanes, ia menyebut orang-orang yang tidak mengakui Yesus memiliki tubuh jasmani sebagai antikristus:

Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia. Demikianlah kita mengenal Roh Allah: setiap roh yang mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah, dan setiap roh, yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar, bahwa ia akan datang dan sekarang ini ia sudah ada di dalam dunia” (1 Yohanes 4:1‭-‬3).

Sebab banyak penyesat telah muncul dan pergi ke seluruh dunia, yang tidak mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia. Itu adalah si penyesat dan antikristus” (2 Yohanes 1:7).

Yohanes dengan jelas mengatakan bahwa setiap orang yang menyangkal Yesus datang dalam tubuh jasmani, sebagaimana yang diajarkan ajaran Gnostik abad pertama, sedang bergerak dalam roh antikristus.

Dengan kata lain, antikristus bukanlah seseorang; antikristus adalah sistem keyakinan, secara spesifik, Gnostisisme.

Lebih jauh Yohanes menyebut roh antikristus sebagai sesuatu yang orang percaya mula-mula telah dengar sebelumnya:

Anak-anakku, inilah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah kamu dengar, antikristus akan datang …” (1 Yohanes 2:18 New American Standard Bible).

Saat memahami ayat ini, penting dicatat bahwa beberapa terjemahan tertentu telah memasukkan sebuah kata yang sebenarnya tidak ada dalam bahasa Yunani – menciptakan semakin banyak kebingungan. Dalam 1 Yohanes 2:18, terjemahan-terjemahan ini memasukkan kata “the” sebelum kata “antichrist,” membuatnya menjadi kata benda nama diri, yang membutuhkan pembubuhan huruf kapital sehingga menjadi Antikristus. Kesalahan ini menyelewengkan maksud Yohanes yang sebenarnya. Gereja mula-mula telah mendengar bahwa antikristus (ajaran sesat Gnostik) telah datang, tetapi mereka tidak pernah mendengar Antikristus-the Antichrist (penguasa tunggal dunia) akan datang. Penyisipan “the” dan pembubuhan huruf kapital pada Antikristus ditambahkan 1500 tahun kemudian oleh para penerjemah.

Setelah mengerti hal ini, kita dapat memahami arti sebenarnya surat Yohanes. Yohanes katakan, “Seperti yang telah kamu dengar, antikristus akan datang...” Pertanyaan pentingnya adalah kapankah para pembaca surat Yohanes mendengar pesan tentang antikristus yang akan datang ini? Mengingat bahwa istilah antikristus merujuk kepada Gnostisisme (penyesat = false teachers), adalah masuk akal jika yang Yohanes rujuk adalah sesuatu yang telah Yesus peringatkan pada Matius 24 – yakni munculnya penyesat. Gnostisisme yang Yohanes soroti dalam 1 dan 2 Yohanes adalah penyesat yang telah Yesus nubuatkan.

Fakta bahwa antikristus tidak merujuk kepada seseorang/pribadi dibuktikan oleh bagian selanjutnya ayat tersebut: “… bahkan sekarang banyak antikristus telah muncul…” (1 Yohanes 2:18 New American Standard Bible). Dengan kata lain, banyak ajaran sesat yang muncul: Gnostisisme, ajaran Nikolaus, dan ajaran Yudaizer (lihat Wahyu 2:6, 9, 15; 3:9). Penggunaan kata “banyak” menghalangi gagasan adanya individu tunggal bernama Antikristus. Yohanes menyelesaikan ayat ini dengan, “Dari hal inilah kita tahu bahwa sekarang adalah waktu terakhir” (1 Yohanes 2:18 New American Standard Bible). Hal ini kembali menunjukkan bahwa Yohanes sedang merujuk kepada nubuat Yesus dalam Matius 24 bahwa salah satu tanda datangnya penghancuran atas Yerusalem adalah munculnya penyesat atau pengajar palsu. Jadi, munculnya ajaran Gnostik adalah tanda bahwa saat itu adalah waktu terakhir sebelum penghancuran Yerusalem.

Dalam ayat selanjutnya, Yohanes melanjutkan berbicara mengenai pengajar penyesatan atau antikristus:

Mereka berasal dari kita, tetapi mereka tidak benar-benar merupakan bagian kita. Sebab jika mereka memang merupakan bagian kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita. Tetapi mereka menunjukkan bahwa tidak satupun dari mereka yang merupakan bagian kita” (1 Yohanes 2:19 New International Version).

Saat menulis suratnya sebelum penghancuran Yerusalem tahun 70 Masehi, Yohanes menunjuk kepada fakta bahwa banyak orang yang meninggalkan Gereja yang sejati, dan hal ini adalah bukti bahwa mereka berada pada hari-hari terakhir sebelum penggenapan nubuat Yesus dalam Matius 24. Orang percaya yang sungguh-sungguh, kata Yohanes, akan memahami kebenaran lewat Roh Kudus, dan mereka akan berpegangan kepada kebenaran Yesus, dan dengan demikian menghindari penyesatan (lihat 1 Yohanes 2:20-23).

Sebaliknya, siapa yang menyangkal Yesus adalah Kristus merupakan antikristus: “Siapakah pendusta itu? Yaitu siapa pun dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus. Orang yang demikian adalah antikristus – yang menyangkal baik Bapa maupun Anak” (1 Yohanes 2:22 New International Version). Ini adalah definisi yang jauh lebih luas ketimbang satu orang penguasa tunggal dunia di masa depan. Jelas, saat menulis tentang antikristus, Yohanes sedang menyoroti Gnostisisme dalam Gereja abad pertama. Yohanes tidak pernah menulis tentang penguasa tunggal dunia masa depan yang dirasuki iblis.

BACAAN #2. DANIEL 9:24-27

Banyak pengajar modern topik akhir zaman menggunakan Daniel 9 untuk memunguti informasi mengenai penguasa jahat tunggal dunia yang mereka percaya akan berkuasa di masa depan kita. Namun sama sekali tidak pernah ada penyebutan tokoh antikristus dalam Daniel 9. Commentaries yang ditulis sebelum tahun 1830-an seluruhnya sepakat bahwa Daniel 9 adalah tentang Yesus, bukan tentang antikristus. Seperti yang ditulis oleh Matthew Henry ini:

“Apa yang kita temukan dalam Daniel 9 adalah jawaban yang segera dikirimkan atas doa Daniel, dan jawaban itu sangatlah mengesankan, karena mengandung nubuat yang paling terkenal mengenai Kristus dan Injil kasih karunia di seluruh Perjanjian Lama.”

Demi kepentingan reka-rekaan, misalkan kita percaya Daniel 9 adalah mengenai tokoh antikristus yang dirasuki iblis, maka inilah yang akan terjadi di masa depan, menurut Daniel 9:

• Bait Yerusalem harus dibangun kembali persis di tempat yang sama, dimana saat ini sudah ada bangunan Kubah Emas (Dome of Rock) atau Masjidil Al-Aqsa.
• Sistem keimaman harus diberlakukan kembali.
• Persembahan korban hewan harus dilaksanakan kembali di bait yang sudah dibangun kembali.
• Antikristus harus membuat sebuah perjanjian dengan seluruh dunia untuk waktu tiga setengah tahun.
• Antikristus harus masuk ke dalam bait, duduk di sana sebagai Allah dan mengakhiri korban sembelihan dan korban santapan.

Pembacaan sederhana Daniel 9:24-27 dan pemahaman dasar atas sejarah menunjukkan kepada kita bahwa bacaan ini sudah digenapi oleh Kristus. Daniel 9 tidak pernah menubuatkan antikristus.

BACAAN #3. 2 TESALONIKA 2:1-8

Tentang kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus dan terhimpunnya kita dengan Dia, kami minta kepadamu, saudara dan saudari, supaya kamu jangan mudah bingung dan gelisah oleh pengajaran yang katanya datang dari kami -baik oleh nubuat, maupun oleh kabar lewat mulut atau lewat surat-seolah hari Tuhan telah tiba” (2 Tesalonika 2:1‭-‬2 New International Version).

Sebagaimana dijelaskan dalam Bab 1, frasa “kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus” merujuk kepada penghancuran Yerusalem. Jika kita mengerti hal ini, kita bisa melihat bahwa tampaknya jemaat Tesalonika berpikir hari Tuhan telah tiba. Kesalahan seperti ini mungkin terjadi karena mereka berada di Yunani, yang jaraknya ratusan mil, dan sepertinya telah mendengar desas-desus bahwa Romawi akan menyerang Yerusalem.

Fakta bahwa jemaat Tesalonika bisa berpikir demikian menunjukkan bahwa mereka menantikan peristiwa tersebut terjadi di Yerusalem, bukan kehancuran global. Surat untuk jemaat Tesalonika ini ditulis sekira tahun 50 Masehi, dan Tesalonika berjarak ratusan mil dari Yerusalem. Mereka mendapat kesan bahwa kedatangan Kristus telah terjadi, dan mereka berpikir Yeruslem sudah hancur. Sebagai respon, Paulus menulis:

Janganlah biarkan dirimu disesatkan orang dalam cara apapun juga! Sebab hari itu tidak akan tiba sebelum kemurtadan terjadi dan manusia durhaka dinyatakan, manusia yang ditetapkan untuk binasa” (2 Tesalonika 2:3 New International Version).

Rasul Paulus menjelaskan kepada jemaat Tesalonika bahwa penghancuran Yerusalem tidak akan terjadi sebelum kemurtadan terjadi dan pemimpin kemurtadan itu, manusia durhaka (the man of lawlessness atau the man of sin) dinyatakan. Paulus juga memberitahu mereka hal seperti apa yang akan dilakukan manusia durhaka ini:

Ia akan menentang dan akan meninggikan diri di atas segala yang disebut atau yang disembah sebagai Allah, jadi ia duduk di Bait Allah dan mau menyatakan diri sebagai Allah” (2 Tesalonika 2:4 New International Version).

Ayat ini memberikan beberapa indikator jelas siapa yang cocok dan yang tidak cocok menjadi manusia durhaka. Contohnya, orang ini secara fisik harus berdiri di Bait Allah dan menyatakan dirinya sebagai Allah. Dengan kata lain, ia hidup sebelum tahun 70 Masehi, sebelum Bait Allah dihancurkan. Setelah tahun 70 Masehi tak ada Bait Allah untuk dimasuki, dan tidak satupun ayat Perjanjian Baru yang mengatakan bait itu akan dibangun kembali. Hal ini jelas menunjukkan manusia durhaka adalah angkatan tahun 70 Masehi.

Dalam Bab1 mengenai penghancuran Yerusalem, kita bertemu dengan beberapa karakter dalam peristiwa tersebut. Pemimpin pemberontakan yang utama adalah John Levi dari Gischala. Saya percaya ia cocok dengan gambaran manusia durhaka yang digambarkan dalam bacaan ini.

Sejarawan Yahudi Josephus menulis bagaimana John Levi adalah manusia egois yang tak bermoral dengan kemampuan persuasif yang mampu meyakinkan banyak orang bahwa ia diutus Allah untuk membebaskan mereka. Kemudian, John Levi mengambil alih Bait Allah, dan mengangkat dirinya sendiri sebagai juruselamat Yahudi (sebagai Allah), menjarah perkakas emas dari Bait Alah dan menyebabkan terhentinya korban harian di sana. Ia juga menjarah dari orang-orang, bahkan membakar gudang penyimpanan bahan pangan yang menyebabkan terjadinya kelaparan yang menewaskan puluhan ribu orang. Ia mendapatkan bantuan dari orang-orang Idumea, lalu membunuhi 8.500 orang Yahudi, termasuk para imam. 2 Tesalonika 2:9 menyebutkan tanda-tanda palsu yang menyertai kedatangan si pendurhaka, dimana tanda utama adalah bahwa John Levi menyatakan dirinya sebagai Allah dan akan membebaskan orang Yahudi dari Romawi. Ia memerintahkan gudang bahan pangan dibakar karena yakin bahwa Allah dengan ajaib akan membebaskan mereka dari musuh mereka. Padahal yang terjadi adalah banyak yang mati kelaparan.

Bahkan ketika Titus, sang jenderal Romawi, meminta agar John Levi meninggalkan Bait Allah agar bait itu tidak hancur dalam pertempuran, John menolak dengan tegas. John Levi-lah penyebab Bait Allah dihancurkan; jika tidak ada dia, Bait Allah mungkin masih terselamatkan, mengingat bangunan itu adalah salah satu dari keajaiban dunia kuno.

Dalam ayat selanjutnya, Paulus memberitahu jemaat Tesalonika hal yang lebih detil mengenai si manusia durhaka, yang juga tepat menggambarkan John Levi:

Tidak ingatkah kamu bahwa ketika aku masih bersama-sama dengan kamu aku seringkali mengatakan hal itu kepadamu? Dan sekarang kamu tahu apa yang menahan dia [Ananus], sehingga ia baru akan menyatakan diri pada waktu yang telah ditentukan baginya. Karena kekuatan rahasia kedurhakaan telah mulai bekerja, tetapi seseorang yang masih menahan [Ananus] akan terus menahannya hingga ia disingkirkan” (2 Tesalonika 2:5‭-‬7 New International Version).

John Levi tidak hanya seorang pemimpin pemberontakan, ia juga adalah mesias palsu. Ia menyatakan ketuhanannya dengan mengambil alih Bait Allah, dan satu-satunya orang yang menghalanginya adalah Imam Besar Yahudi bernama Ananus. Ananus memiliki kemampuan diplomatis yang luar biasa dan telah melakukan negosiasi damai dengan pihak Romawi berkali-kali sebelumnya. Ananus secara harfiah mampu menahan pemberontakan besar-besaran yang ingin dilakukan John Levi. Itulah alasan mengapa Paulus menyebut seseorang yang menahan, yang ingin disingkirkan.

Josephus juga mencatat bahwa begitu Ananus (yang menahan) dibunuh, maka penghancuran atas Yerusalem dimulai:

“Rasanya saya tidak salah jika saya katakan bahwa kematian Ananus adalah awal penghancuran kota Yerusalem, dan tercatat mulai hari itu mulailah tembok-temboknya dirubuhkan, dan segala yang ada di dalamnya dihancurkan.”

Apa yang dicatat Josephus, terjadi persis seperti yang dituliskan Rasul Paulus kepada jemaat Tesalonika:

Dan kemudian si pendurhaka akan dinyatakan, yang oleh Tuhan Yesus akan dibunuh dengan nafas mulut-Nya dan akan dimusnahkan dengan kemuliaan kedatangan-Nya” (2 Tesalonika 2:8 New International Version).

Saat “kedatangan Tuhan” terjadi pada penghancuran Yerusalem, John Levi akhirnya ditangani. Dialah otak pemberontakan yang menyebabkan Romawi menyerang Yerusalem. John Levi adalah penyesat yang disertai “tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu” (2 Tesalonika 2:9-12) dan menyuruh orang-orang membakar gudang pangan, berkata dia adalah Allah dan akan menyediakan kebutuhan mereka! Lalu bersama pasukan milisinya ia membunuh semua imam, dan menyebabkan bukan hanya kota Yerusalem saja yang dihancurkan, tapi juga Bait Allah, yang sebenarnya tidak ingin dihancurkan oleh Romawi. Kejahatan John Levi sedemikian rupa di luar akal sehat, dan ia sangat cocok menggenapi nubuat Paulus mengenai “manusia durhaka” yang oleh banyak orang ditafsirkan sebagai antikristus masa depan.

Saat kita mempelajari bacaan dalam 2 Tesalonika ini dari perspektif pembaca aslinya, jelas tidak masuk akal jika Paulus menulis nubuat misterius yang tidak memiliki arti bagi pembaca aslinya dan yang tidak bisa diterapkan kepada siapapun hingga dua ribu tahun kemudian. Sebaliknya, adalah logis jika bacaan ini berlaku bagi pembaca asli surat Paulus yang isinya mengenai konteks khusus mereka saat itu. Paulus juga katakan “kekuatan rahasia kedurhakaan” telah mulai bekerja pada abad pertama (2 Tesalonika 2:7). Paulus jelas berbicara tentang seorang jahat di abad pertama dan seorang lain yang menahan kejahatan itu. John Levi dan Ananus menggenapi nubuat ini. Kekuatan rahasia kedurhakaan itu tidak menunggu selama dua ribu tahun untuk bekerja di masa depan kita. Sebaliknya, kedurhakaan itu telah mencapai puncaknya tahun 70 Masehi.

Diterjemahkan dari buku Jonathan Welton ‘Raptureless’ 1st Edition, 2012.

Versi aslinya dapat dilihat dan diunduh secara gratis pada tautan berikut: https://weltonacademy.com/collections/books/products/raptureless-first-edition-free-download

Advertisements