RAPTURELESS BAB 2. ANTIKRISTUS (Bagian 2)

BACAAN #4. BINATANG DI WAHYU 13 DAN 17

Wahyu 13 berbicara tentang binatang (the beast), yang dalam sebagian besar sejarah Gereja diajarkan sebagai penggambaran Kekaisaran Romawi di abad pertama. Wahyu 17 berbicara tentang binatang yang lain, yang oleh Gereja juga diajarkan sebagai Kaisar Nero dari Roma. Kedua ajaran ini sangat bagus dan masuk akal.

Wahyu 17:10 – Kaisar Nero
Mengenai simbol binatang, sejarawan F. W. Farrar tahun 1882 menulis:

“Setiap pembaca Yahudi, tentu saja, memandang binatang sebagai simbol Nero. Dan baik orang Yahudi maupun orang Kristen menganggap Nero memiliki pertalian erat dengan ular atau naga. … Semua penulis Kristen mula-mula yang menulis mengenai Wahyu, sejak Iranaeus hingga Victorinus dari Pettau dan Commodian di abad keempat, hingga Andreas di abad kelima, dan St. Beatus di abad kedelapan, menghubungkan Nero, atau beberapa kaisar Romawi,  dengan binatang Kitab Wahyu (Apocalyptic Beast).”

image

Banyak sumber tulisan kuno juga mengatakan Nero adalah binatang Kitab Wahyu, sebagaimana ditunjukkan oleh R. C. Sproul:

“[Kenneth] Gentry mencatat kisah hidup Nero yang bertabur kekerasan, termasuk pembunuhan anggota keluarganya sendiri, pengebirian seorang bocah laki-laki yang “dikawini”nya, dan pembunuhan brutal istrinya sendiri, yang saat itu sedang mengandung, dengan menendangnya hingga mati. Perilakunya yang aneh dan ganjil dicatat oleh sejarawan Suetonius, yang menulis bagaimana Nero “merancang sebuah permainan dimana ia, ditutupi oleh kulit binatang buas, dilepaskan dari sebuah kandang dan menyerang bagian-bagian vital laki-laki dan perempuan, yang terikat di batang kayu.”

Nero memulai masa kekuasaannya sebagai kaisar pada tahun 54 Masehi. Penganiayaannya yang bersifat nasional atas komunitas Kristen dimulai tahun 64 Masehi, bertepatan dengan kebakaran hebat yang terjadi di Roma (yang menghanguskan 1/3 kota Roma) yang dipercaya banyak pihak diprakarsai oleh Nero sendiri. Asumsi yang umum berlaku adalah bahwa penganiayaan atas orang Kristen, yang disalahkan oleh Nero sebagai pelaku pembakaran, adalah taktik pengalihan untuk menyalahkan orang lain atas tindakannya. Nero kemudian melakukan bunuh diri pada tahun 68 Masehi, saat ia masih berusia 31 tahun.

Karena kemunculan binatang adalah salah satu dari “apa yang harus segera terjadi” (Wahyu 1:1), Nero adalah prima facie-kandidat utama untuk peran binatang. Sebagaimana digambarkan oleh para sejarawan kuno, Nero adalah seorang manusia yang kekejaman dan kejahatannya luar biasa. Banyak penulis kuno menyebut karakter binatang dalam diri Nero, dan Gentry menyimpulkannya:

“Tacitus … menyebutkan “sifat kejam” Nero yang telah “membunuh begitu banyak orang tak bersalah.” Naturalis Romawi Pliny Sang Ketua … menggambarkan Nero sebagai “penghancur umat manusia” dan “racun dunia.” Satiris Romawi Juvenal … menyebut tentang “tirani Nero yang kejam dan penuh darah.” … Penulis Apollonius of Tyana … secara spesifik menyebut Nero sebagai “binatang”: “Dalam perjalananku, yang lebih panjang ketimbang yang pernah dijalani manusia manapun, aku telah melihat banyak binatang buas dari Arab dan India; tapi binatang yang satu ini, yang sering disebut sebagai Sang Tiran, aku tak tahu berapa kepala yang dipunyainya atau apakah cakar bisa melukainya, binatang yang dipersenjatai oleh taring-taring yang mengerikan … Dari semua binatang buas, Anda tidak akan mengatakan ada yang pernah memakan ibunya sendiri, namun Nero telah mengenyangkan dirinya dengan makanan ini.””

Kita dapat melihat bukti paling jelas penafsiran Nero sebagai binatang dalam Wahyu 17:10: “Mereka juga tujuh raja: lima di antaranya sudah jatuh, yang satu ada dan yang lain belum datang, tetapi jika ia datang, ia akan tinggal seketika saja.” Ayat ini, yang berbicara tentang garis penguasa Romawi, memberitahu kita dengan pasti berapa penguasa yang telah datang, yang mana yang sekarang sedang berkuasa, dan seorang yang akan datang namun hanya akan berkuasa dalam waktu yang singkat. Daftar ini cocok sempurna dengan Nero dan Kekaisaran Romawi abad pertama:

Lima di antaranya sudah jatuh…”

Julius Caesar (49-44 Sebelum Masehi)

Augustus (27 Sebelum Masehi – 14 Masehi)

Tiberius (14-37 Masehi)

Gaius (37-41 Masehi)

Claudius (41-54 Masehi)

Yang satu ada …”

Nero (54-68 Masehi)

Yang lain belum datang, tetapi jika ia datang, ia akan tinggal seketika saja.”

Galba (Juni 68-Januari 69 Masehi, pemerintahan selama 6 bulan)

Dari ketujuh kaisar Kekaisaran Romawi, lima telah jatuh (Julius Caesar, Augustus, Tiberius, Gaius dan Claudius), satu sedang berkuasa (Nero) dan satu lagi belum datang (Galba), namun hanya akan berkuasa dalam waktu yang singkat (6 bulan). Karena penggambaran yang sangat jelas ini, hampir sepanjang sejarah Gereja orang memahami binatang dalam Wahyu 17 merujuk kepada Nero.

Wahyu 13:1-4 – Kekaisaran Romawi

Mengenali Nero sebagai binatang dalam Wahyu 17 menolong kita menafsirkan referensi binatang lain dalam Wahyu 13:

Lalu aku melihat seekor binatang keluar dari dalam laut. Ia memiliki … tujuh kepala… Satu dari kepala-kepalanya seperti kena luka yang fatal, tetapi luka fatal itu sembuh. Seluruh dunia terkagum lalu mengikut binatang itu. Mereka menyembah naga itu karena ia memberikan kekuasaan kepada binatang itu. Dan mereka juga menyembah binatang itu dan berkata: “Siapakah yang sama seperti binatang ini? Dan siapakah yang dapat berperang melawan dia?” (Wahyu 13:1‭-‬4 New International Version).

Nero -sesuai dengan garis waktu Wahyu 17- adalah kaisar keenam dari tujuh orang kaisar Romawi (atau kepala-kepala binatang). Galba, penerusnya, adalah yang “akan tinggal seketika saja.” Pemerintahan Galba yang sangat singkat disebabkan -setidaknya sebagian- karena sebagai sebuah kekaisaran, Romawi secara kiasan sedang terluka dan terhuyung-huyung akibat perbuatan Nero. Nero adalah seorang psikopat yang membakar sepertiga kota Roma, membebankan kesalahan itu kepada orang Kristen, lalu menganiaya dan menyiksa orang Kristen secara brutal. Dia melakukan banyak hal kejam dan mengerikan sepanjang masa pemerintahannya.

Kemudian, ketika Nero bunuh diri tahun 68 Masehi, iklim perpolitikan Roma berubah drastis. Perubahan terpenting, Nero adalah kaisar terakhir dari garis keturunan kaisar Julio-Claudian; sehingga dengan matinya Nero garis keturunan itu berakhir, dan tampaknya, secara simbolis, kepala binatang itu terluka fatal. Kematian Nero memicu terjadinya peristiwa yang secara historis disebut “Tahun Empat Kaisar” (the Year of the Four Emperors). Karena kekacauan yang timbul akibat kematian Nero, tiga kaisar berikutnya hanya berkuasa untuk waktu sangat singkat (Galba, Otho dan Vitellius). Akhirnya, menjelang akhir tahun 69 Masehi, Vespasian menduduki takhta dan berkuasa hingga tahun 80 Masehi. Namun selama masa kerusuhan tahun 69 Masehi, banyak yang mengira Kekaisaran Roma akan hancur. 10

Dapatkah Anda bayangkan Amerika Serikat memiliki empat presiden hanya dalam waktu satu tahun? Masa itu adalah masa yang menyakitkan bagi Romawi, dan banyak yang mengira binatang Kekaisaran Romawi akan terluka hingga mati. Bahkan, inilah momen paling kacau dalam sejarah Romawi sejak kematian Mark Anthony tahun 30 Sebelum Masehi, hampir seratus tahun sebelumnya. Namun kemudian, bak keajaiban, terjadi pembalikan keadaan dimana Kekaisaran Romawi bangkit kembali di bawah Vespasian dan Titus. Saat memerintah, mereka menegakkan dinasti kekaisaran Flavian. Binatang itu bukannya mati, namun justru bangkit dipimpin Vespasian yang memerintah selama 10 tahun penuh.

TANDA DARI BINATANG

Pembahasan tentang binatang sering dikaitkan dengan tanda binatang (the mark of the beast) yang dicatat dalam Wahyu 13:16-17. Tanda binatang telah menimbulkan banyak sekali kekuatiran, jadi saya akan membahasnya di sini, sekalipun tidak mencakup keseluruhan Kitab Wahyu. Terkait tanda binatang, perlu diingat bahwa dalam kebudayaan Romawi kuno, pasar terbuka adalah tempat utama pertukaran dan perdagangan. Agar orang dapat memasuki pasar terbuka ini, mereka harus melewati gerbang utama. Siapapun yang memasuki gerbang utama harus membayar tanda bakti kepada patung kaisar. Setelah tanda bakti itu dibayar, abu disapukan ke kening atau pergelangan tangan orang-orang itu dan mereka diijinkan melewati gerbang untuk membeli dan menjual barang dagangan. Hal ini disebut “menerima tanda.” Paralel antara hal ini dan tanda binatang sangat cocok yang meneguhkan bahwa binatang yang dimaksud adalah Nero dan Kekaisaran Romawi.

Terkait tanda binatang, ahli teologi berwibawa N. T. Wright mengatakan:

“Ditambah lagi, menyembah atau tidak menyembah dengan segera menjadi garis pemisah antara orang yang diterima dalam masyarakat dan yang tidak. Tak lama setelah masa ini, sejumlah pejabat lokal memperkenalkan persyaratan formal bahwa kecuali Anda mempersembahkan persembahan yang disyaratkan, Anda tidak akan diijinkan masuk ke pasar. Ada berbagai tanda yang gampang terlihat, yang dipakai untuk membedakan orang-orang mana yang “boleh berdagang” dan “tidak boleh berdagang.” Sejak awal orang Kristen dihadapkan kepada alternatif yang jelas: tetap teguh dengan Anak Domba dengan resiko kehilangan mata pencaharian dan kemampuan untuk menjual atau membeli; atau menyerah kepada sang monster, membayar persembahan kepada kaisar sesuai perintah pejabat lokal, dan semua baik-baik saja – kecuali integritas Anda sebagai pengikut Anak Domba.”

Penulis lain menambahkan:

“Orang Kristen abad pertama berada dibawah kekuasaan militer Romawi, suatu negara yang secara terbuka menyatakan pemimpinnya, yakni para kaisar, adalah pribadi ilahi. Semua wilayah yang berada di bawah yurisdiksi Romawi secara hukum diwajibkan dengan mengumumkan secara terbuka kesetiaan mereka kepada kaisar dengan membakar sejumput ukupan dengan melafalkan, “Kaisar adalah Tuhan.” Setelah memenuhi ketentuan ini, seseorang menerima sehelai dokumen papirus yang disebut “libellus” yang wajib diperlihatkannya kepada polisi Romawi atau saat berjual-beli di pasar Romawi, membuat kesulitan berjual-beli semakin meningkat bagi orang-orang yang tidak memiliki tanda. Inilah inti peringatan dalam Kitab Suci kepada orang Kristen mula-mula agar tidak membiarkan diri mereka menerima “tanda binatang.””

Jadi jelas, tanda binatang adalah kenyataan abad pertama yang dilanggengkan oleh seorang kaisar dan sebuah kekaisaran yang sifatnya seperti binatang buas. Binatang yang kita baca dalam Kitab Wahyu bukanlah antikristus atau manusia durhaka yang akan muncul di masa depan. Penglihatan Yohanes perihal binatang telah digenapi dalam diri Nero dan Kekaisaran Romawi. Kita bisa tenang dan bersyukur tidak akan ada antikristus layaknya binatang penguasa tunggal dunia yang akan muncul di masa depan kita.

POIN-POIN BAB 2

• Antikristus bukanlah dan tidak akan pernah merupakan seseorang; tetapi sebuah sistem spiritual pengajaran sesat, secara khusus Gnostisisme.

• Yesus adalah penggenapan Daniel yang sempurna dan paling masuk akal; tidak ada antikristus dalam bacaan ini.

• Manusia durhaka adalah seorang individu abad pertama; yang menahan juga adalah seorang individu abad pertama – yakni John Levi dan Imam Besar Ananus.

• Binatang Kitab Wahyu adalah Kekaisaran Roma, terutama di bawah kekuasaan Kaisar Nero.

• Tidak pernah ada dalam Alkitab disebutkan sesuatu mengenai penguasa tunggal dunia di masa depan.

PERTANYAAN UNTUK DISKUSI

1. Buah apa yang Anda lihat sebagai hasil pengajaran mengenai penguasa tunggal dunia dalam Gereja?

2. Apa sajakah bacaan yang digunakan untuk menciptakan suatu gabungan yang disebut antikristus?

3. Siapakah yang dibicarakan dalam Daniel 9:24-27?

4. Apakah yang dikatakan Matthew Henry mengenai Daniel 9?

5. Apa yang Yohanes maksudkan dalam 1 Yohanes dan 2 Yohanes ketika ia menyinggung roh antikristus?

6. Siapakah John Levi, dan apa yang dia lakukan?

7. Siapakah yang dimaksud dengan “binatang”?

Diterjemahkan dari buku Jonathan Welton ‘Raptureless’ 1st Edition, 2012.

Versi aslinya dapat dilihat dan diunduh secara gratis pada tautan berikut: https://weltonacademy.com/collections/books/products/raptureless-first-edition-free-download

Advertisements