RAPTURELESS BAB 3. AKHIR DUNIA

image

Dalam Matius 24, murid-murid mengajukan tiga pertanyaan kepada Yesus: “Katakanlah kepada kami, bilamanakah itu akan terjadi dan apakah tanda kedatangan-Mu dan tanda kesudahan zaman?” (Matius 24:3 New International Version). Seperti telah kita lihat dalam Bab 1, dalam Matius 24 Yesus dengan jitu menubuatkan apa yang akan terjadi dalam penghancuran Yerusalem dan Bait Allah tahun 70 Masehi. Tetapi benarkah Yesus menjawab dua pertanyaan lainnya: “Apakah tanda kedatangan-Mu dan tanda kesudahan zaman?”? Sebelum kita dapat memahami jawaban yang Yesus berikan, kita harus memastikan kita memahami ketiga pertanyaan yang murid-murid-Nya ajukan.

BILAMANAKAH ITU AKAN TERJADI?

Pertanyaan ini jelas berkaitan dengan jawaban yang Yesus berikan mengenai penghancuran Bait Allah dan kota Yerusalem, yang telah kita bahas dalam Bab 1.

APAKAH TANDA KEDATANGAN-MU?

Reaksi otomatis kita adalah berpikir murid-murid sedang menanyakan perihal kedatangan Yesus yang kedua kali. Namun jika kita mundur sejenak dan berpikir, kita akan sadar bahwa murid-murid tidak tahu Yesus akan mati dan bangkit. Jadi tidak mungkin mereka menanyakan kedatangan Yesus kembali, yang akan terjadi ribuan tahun kemudian. Mereka masih dalam keadaan kaget mendengar Yesus menegur keras orang Farisi; jadi tidak mungkin mereka mendadak menanyakan kepada Yesus mengenai kedatangan-Nya yang kedua, yang mungkin adalah menanyakan pertanyaan yang berkaitan dengan yang pertama.

Setelah menjawab pertanyaan pertama mereka dengan sangat detil, Yesus menjawab pertanyaan kedua mereka mengenai tanda kedatangan-Nya:

Lalu tanda Anak Manusia akan tampak di langit, maka semua bangsa di bumi (secara harfiah: bangsa yang mendiami negeri) akan meratap dan mereka akan melihat ANAK MANUSIA DATANG DI ATAS AWAN-AWAN DI LANGIT dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya” (Matius 24:30 New American Standard Bible).

Yesus menjawab mereka sesuai dengan idiom umum dalam budaya Yahudi. Dia bisa melakukan hal ini karena orang Yahudi pada masa-Nya jauh lebih mengenal Perjanjian Lama ketimbang kebanyakan orang Kristen pada saat ini. Perjanjian Lama adalah pondasi kehidupan budaya mereka, sehingga banyak frasa dan ucapan yang memiliki arti simbolis yang berkaitan dengan nubuat alkitabiah. David Chilton menjelaskannya demikian:

“Untuk memahami arti perkataan Yesus dalam ayat ini, kita perlu memahami Perjanjian Lama lebih daripada apa yang dipahami kebanyakan orang saat ini. Yesus saat itu sedang berbicara kepada pendengar yang sangat akrab dengan detil literatur Perjanjian Lama, bahkan detil yang paling kecil sekalipun. Mereka telah mendengar Perjanjian Lama dibacakan dan dikhotbahkan dalam jumlah tak terhitung sepanjang hidup mereka, dan telah terlatih menghafal ayat-ayat yang panjang. Penggambaran Kitab Suci dan bentuk ekspresi Perjanjian Lama telah membentuk budaya, lingkungan, dan kosa kata mereka bahkan sejak mereka masih sangat belia, dan hal ini sudah berlangsung generasi demi generasi. Faktanya adalah saat Yesus berbicara kepada murid-murid-Nya tentang runtuhnya Yerusalem, Dia menggunakan kosa kata nubuat. “Bahasa” nubuat yang Yesus gunakan, akan langsung dikenali oleh mereka yang akrab dengan Perjanjian Lama.”

Sepanjang Perjanjian Lama, saat Allah akan mendatangkan penghancuran pada suatu kota atau bangsa, dikatakan Dia akan “datang di atas awan-awan di langit.” Dalam budaya Yahudi, frasa “tanda kedatanganmu” tidak ada hubungannya dengan lokasi dan kehadiran. Frasa ini dipahami sebagai kedatangan dalam penghakiman atas suatu kota atau bangsa. Jadi kita bisa menemukan penggambaran “datang di atas awan-awan” dalam nubuat mengenai penghakiman dalam Perjanjian Lama. Ketika Yesaya menubuatkan penghancuran Mesir, dia menggambarkan Allah berkendara di atas awan membawa penghakiman:

Ucapan ilahi terhadap Mesir. Lihat, Tuhan mengendarai awan yang cepat dan datang ke Mesir, maka berhala-berhala Mesir gemetar di hadapan-Nya, dan hati orang Mesir, merana hancur dalam diri mereka” (Yesaya 19:1).

Demikian pula dalam Mazmur 18, Allah digambarkan memiliki awan kelam ada di bawah kaki-Nya. Penghakiman-Nya turun seperti awan hujan gelap di langit, bersama bersama hujan es dan guruh (lihat Mazmur 18:10‭-‬13 New International Version). Dalam Mazmur 104, awan-awan menjadi kereta perang-Nya dan Ia terlihat berkendara menuju peperangan “di atas sayap angin” (Mazmur 104:2-3). Dalam Yoël 2:2, hari TUHAN adalah “suatu hari gelap gulita dan kelam kabut, suatu hari berawan dan kelam pekat.” Zefanya mengulangi penggambaran ini dalam nubuatnya tentang kedatangan hari TUHAN kata demi kata (lihat Zefanya 1:14-15). Dan saat berbicara mengenai penghakiman Allah atas orang yang bersalah, Nahum berkata, “Jalan-Nya adalah dalam angin beliung dan badai, dan awan-awan adalah debu kaki-Nya” (Nahum 1:3 New International Version). Jelas sekali, awan-awan adalah simbolisme Perjanjian Lama yang menggambarkan kendaraan Allah untuk ‘datang’ dalam penghakiman terhadap suatu kota atau bangsa.

Dengan memahami hal ini, kita bisa yakin bahwa yang ditanyakan murid-murid adalah kapan Yesus datang dalam penghakiman atas Yerusalem. Yesus mengerti maksud pertanyaan ini dan menjawab dengan menjelaskan banyak tanda hingga ayat 30, saat Ia akhirnya akan datang “di atas awan-awan” dan membawa penghakiman.

BAGAIMANA DENGAN AKHIR ZAMAN?

Sebagai pembaca modern, mudah bagi kita untuk berasumsi yang murid-murid tanyakan adalah akhir dunia. Namun kita tidak memiliki penjelasan yang masuk akal mengapa mereka mendadak mengganti topik pembicaraan dari teguran keras Yesus atas orang Farisi dan pernyataan Bait Allah akan dihancurkan. Sama sekali tidak logis, menurut konteksnya, jika mereka mengganti topik di tengah-tengah percakapan dengan menanyakan sesuatu yang sama sekali tidak berhubungan.
[J. Marcellius Kik, dalam karya pertamanya, An Eschatology of Victory, membuat sebuah kesalahan eksegetikal besar ketika ia mengatakan peristiwa tahun 70 Masehi menggenapi dua pertanyaan dalam Matius 24:3 tetapi pertanyaan ketiga adalah tentang akhir dunia. Kesalahan ini diulangi dalam Victorious Eschatology edisi kedua karya Eberle dan Trench, juga dalam Win the World or Escape the Earth karya Rossol dan Watsall. Untuk pembahasan mendalam kesalahan ini, yang saya namai “Kik Preterism” (Preterisme Kik), Anda dapat membacanya dalam buku saya yang lain, Understanding the Whole Bible.]

Karena itu, pasti murid-murid sedang menanyakan suatu hal yang masih berkaitan dengan pernyataan Yesus sebelumnya. Singkatnya, saat mereka bertanya tentang “akhir zaman,” mereka tidak sedang menanyakan akhir dunia.

Hal ini dengan mudah diteguhkan dengan melihat bahasa aslinya. Dalam bahasa Yunani, kata “world” (dunia) diterjemahkan dari kata “kosmos,” sedang kata “age” (zaman, era) diterjemahkan dari kata “aeon.” Murid-murid tidak sedang menanyakan akhir kosmos. Apa bedanya akhir dunia (the end of the world) dengan akhir zaman (the end of the age)? Jawabannya ditemukan dalam hasil kumulatif peristiwa tahun 70 Masehi yang Yesus nubuatkan – akhir dari era sejarah dan agama Yahudi. Hancurnya Bait Allah berarti berakhirnya sistem persembahan korban dan keimaman. Sistem penebus salah yang didirikan oleh Musa berakhir dengan hancurnya Bait Allah. Hal ini adalah perubahan besar – akhir zaman Musa dan perjanjian yang lama. Inilah yang ditanyakan oleh murid-murid Yesus. Dia baru saja menubuatkan akhir Yudaisme yang mereka kenal, dan mereka ingin mengetahui kapan itu akan terjadi.

Apa yang Yesus sampaikan bukan hal baru bagi orang-orang sezaman-Nya. Orang Yahudi mengenal dua zaman: zaman yang mereka hidupi saat itu (di bawah Taurat) dan zaman Mesias yang akan datang. Seperti dinyatakan oleh komentator John Broadus, “Pemahaman umum orang Yahudi adalah kemunculan Mesias akan mengakhiri “zaman ini” dan membawa “zaman yang akan datang” -frasa ini sering muncul salam Talmud.”

Mengenai hal ini, George Hill menambahkan:

“Oleh orang Yahudi, waktu dibagi menjadi dua periode: zaman Taurat dan zaman Mesias. Akhir dari yang pertama adalah awal yang kedua, hadirnya kerajaan yang mereka percaya akan ditegakkan oleh Mesias, yang mengakhiri penderitaan mereka, dan mengubah mereka menjadi orang-orang paling hebat di dunia. Para rasul, dengan benak dipenuhi harapan ini, bertanya kepada Tuhan kita, sesaat sebelum kenaikan-Nya, “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” (Kisah Para Rasul 1:6). Tuhan kita memakai frasa kedatangan-Nya untuk menyatakan pembalasan-Nya atas orang Yahudi dengan menghancurkan kota dan tempat kudus mereka.”

Sepanjang Perjanjian Baru, banyak dituliskan mengenai akhir zaman Musa, yang akan segera berakhir, tetapi sangat sedikit dituliskan mengenai akhir seluruh dunia. Karena orang Yahudi telah hidup sebagai “orang pilihan” (chosen people) dengan akses eksklusif kepada Allah selama kurang lebih 1500 tahun, akhir zaman akan menjadi peristiwa tunggal terbesar yang pernah terjadi atas sejarah nasional mereka.
[Menarik pula untuk dicatat bahwa Yesus adalah satu-satunya nabi yang menubuatkan Ia akan datang dalam awan-awan untuk menghancurkan Yerusalem dan mengakhiri zaman Musa. Sementara nabi-nabi palsu abad pertama menyatakan mereka datang untuk menyelamatkan Israel dari penjajahan Romawi.]

Kepercayaan umum bahwa Yesus sedang berbicara tentang akhir dunia dalam Matius 24 telah mengacaukan pemahaman atas banyak ayat lainnya dalam Perjanjian Baru. Ketika kita menyadari bahwa murid-murid sedang menanyakan akhir zaman Musa, kita mendapatkan kejelasan atas banyak ayat tentang akhir zaman Musa dan penghancuran Yerusalem yang tersebar sepanjang Perjanjian Baru. Berlawanan dengan kepercayaan populer, ayat-ayat ini bukan tentang akhir dunia. Contohnya:

Sebelum kamu [dua belas murid] selesai mengunjungi kota-kota Israel, Anak Manusia sudah datang (Matius 10:23).

kamu [imam besar] akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit (Matius 26:64).

Telah tiba bagi kamu untuk bangun dari tidur. … Hari sudah jauh malam, telah hampir siang (Roma 13:11‭-‬12).

dunia seperti yang kita kenal sekarang akan berlalu (1 Korintus 7:31).

peringatan bagi kita yang hidup saat akhir zaman telah tiba (1 Korintus 10:11 New American Standard Bible)

Tuhan sudah dekat! (Filipi 4:5).

kedatangan Tuhan sudah dekat! … Lihatlah, Hakim sedang berdiri di ambang pintu (Yakobus 5:8‭-‬9).

Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. … (1 Petrus 4:7).

ini adalah waktu yang terakhir, … Itulah tandanya, bahwa waktu ini benar-benar adalah waktu yang terakhir (1 Yohanes 2:18).

Memang benar Yesus akan kembali secara fisik untuk membangkitkan orang-orang mati dan membawa penghakiman terakhir. Namun sebagian besar frasa “akhir zaman” yang digunakan dalam Perjanjian Baru bukanlah mengenai peristiwa ini. Sebaliknya, apa yang dimaksudkan oleh ayat-ayat Perjanjian Baru adalah mengenai peristiwa terbesar dalam sejarah Yahudi, yang akan segera terjadi. Orang Yahudi abad pertama tidak fokus pada akhir planet bumi; itu hanyalah obsesi modern yang tak ada relevansinya dengan mereka.

Orang Kristen abad pertama yang hidup di Israel tahu bahwa mereka hanya memiliki waktu empat puluh tahun untuk mengabarkan Injil sebelum Yesus datang di awan-awan menghancurkan Yerusalem dan mereka harus melarikan diri ke pegunungan. Karena itulah, mereka sering mengatakan bahwa saat itu adalah “waktu terakhir” atau “akhir zaman.” Mereka mengatakan hal-hal seperti, “Ia sudah berdiri di depan pintu,” atau “Tuhan sudah dekat.” Itu adalah kenyataan yang mereka hadapi, tetapi bukan yang kita hadapi. Kita harus memilih berhenti menerima apa yang penulis Perjanjian Baru tujukan bagi orang-orang yang hidup antara tahun 30 hingga 70 Masehi dan menerapkannya pada masa depan kita.

Banyak doktrin palsu yang tercipta saat orang-orang membaca Alkitab terpisah dari konteks sejarah dan budayanya. Kepercayaan bahwa Yesus sedang bernubuat tentang akhir dunia adalah salah satunya. Dua contoh lainnya adalah kemurtadan Gereja dan munculnya guru-guru atau pengajar-pengajar palsu. Keduanya bukanlah tanda akhir dunia, tetapi merupakan tanda akhir zaman Musa tahun 70 Masehi.

KEMURTADAN

Konsep gereja yang jatuh ke dalam kemurtadan adalah pengajaran atau doktrin palsu yang didasarkan pada kesalahan dalam memahami Kitab Suci, karena berusaha memahaminya terpisah dari konteks sejarahnya. Beberapa pengajar Alkitab mencoba memaksakan membagi sejarah Gereja atas tujuh periode dan mencocok-cocokkannya dengan tujuh gereja dalam Wahyu 2 dan 3. Orang-orang ini katakan, Gereja modern adalah gereja Laodikia, yang mendapat ancaman dari Yesus akan dimuntahkan keluar dari mulut-Nya. Konsep ini tidak hanya salah, namun juga bertentangan dengan apa yang Yesus katakan mengenai pertumbuhan Kerajaan-Nya (lihat Matius 13:31-33).

Salah satu ayat yang dipakai untuk membenarkan dan mendukung ajaran ini adalah 2 Tesalonika 2:3, yang mengatakan, “Janganlah kamu membiarkan dirimu disesatkan orang dengan cara yang bagaimanapun juga; sebab hari itu tidakakan datang, sebelum datangnya lebih dahulu murtad, dan manusia durhana [man of sin], manusia kebinasaan [son of perdition]” (2 Tesalonika 2:3 King James Version). Selama limapuluh tahun terakhir, ayat ini telah dipakai untuk mengklaim mayoritas Gereja tidak benar-benar berjalan bersama Allah. Orang-orang yang mengajarkan hal ini mengatakan Gereja yang sejati hanyalah sisa-sisa (the remnant) dari orang-orang yang mengklaim dirinya sebagai Gereja. Adalah salah memasukkan gagasan tentang sisa-sisa dalam Perjanjian Lama ke dalam Perjanjian Baru karena tidak ada tempat bagi sisa-sisa dalam Perjanjian Baru (saya akan membahasnya lebih lanjut dalam Bab 10). Juga, seperti yang saya sebutkan dalam Bab 2, ayat ini adalah mengenai seorang manusia durhaka bernama John Levi, bukan mengenai Gereja. Versi New International Version menerjemahkan ayat ini lebih baik:

Janganlah kamu siapapun menyesatkanmu dalam hal apapun; Sebab hari itu belum akan tiba sebelum pemberontakan terjadi dan manusia durhaka [man of lawlessness] disingkapkan, manusia yang ditetapkan untuk dibinasakan” (2 Tesalonika 2:3).

Pemberontakan itu terjadi pada abad pertama dipimpin oleh John Levi. Kita tidak sedang menunggu kehancuran Gereja di masa depan sebagai penggenapan ayat ini.

GURU-GURU PALSU

Seiring dengan ajaran Gereja yang murtad, berkembang pengajaran bahwa banyak guru palsu akan muncul sebelum kembalinya Kristus. Kepercayaan ini telah menjadi alasan untuk saling menuding dalam tubuh Kristus dan memupuk perilaku curiga dan penuh ketakutan satu sama lain. Padahal, ayat-ayat yang dipakai untuk mendukung pengajaran ini sebenarnya mengacu kepada masa sebelum tahun 70 Masehi, bukan kepada masa kita sekarang ini. Contohnya, yang ditulis oleh Paulus:

Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng” (2 Timotius 4:3‭-‬4).

Doktrin atau pengajaran yang benar yang Paulus bicarakan adalah pengajaran yang mengatakan penghakiman akan segera datang atas Yerusalem, tetapi telinga orang-orang Yahudi yang gatal ingin mendengar pengajaran guru dan nabi palsu yang menyatakan Allah melindungi mereka dari penghancuran. Hal ini menimbulkan munculnya banyak guru dan nabi palsu antara tahun 30 hingga 70 Masehi.

Ayat lain yang digunakan untuk mendukung pengajaran ini adalah 1 Timotius 4:1, “Sekarang Roh dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian ada orang yang akan murtad [depart from faith] lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan” (1 Timotius 4:1 New King James Version).

Bersama kesalahan memahami ayat ini, orang-orang juga gagal memahami Amos 8:11, saat Allah berjanji, “Sesungguhnya, waktu akan datang,” demikianlah firman Tuhan ALLAH, “Aku akan mengirimkan kelaparan ke negeri ini, bukan kelaparan akan makanan dan bukan kehausan akan air, melainkan akan mendengarkan firman Tuhan.” Mereka menafsirkan ayat ini diterapkan menjelang akhir dunia, padahal ayat ini bukanlah nubuat Perjanjian Baru. Ayat ini digenapi oleh masa empat ratus tahun antara akhir Perjanjian Lama dengan awal Perjanjian Baru, saat tidak ada Firman Allah yang dicatat. Ayat ini bukan mengenai masa depan kita.

Sekalipun banyak yang mencoba menggunakan ayat ini dan ayat-ayat lainnya untuk mengajarkan semakin banyaknya guru-guru palsu di masa depan, Alkitab dengan jelas memberitahu kita bahwa ayat-ayat ini adalah mengenai abad pertama. Rasul Paulus mengatakan guru palsu akan muncul tak lama setelah ia pergi:

Aku tahu, bahwa sesudah aku pergi [bukan setelah 2000 tahun], serigala-serigala yang ganas akan masuk ke tengah-tengah kamu dan tidak akan menyayangkan kawanan itu. Bahkan dari antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang, yang dengan ajaran palsu mereka berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar dan supaya mengikut mereka. Sebab itu berjaga-jagalah dan ingatlah, bahwa aku tiga tahun lamanya, siang malam, dengan tiada berhenti-hentinya menasihati kamu masing-masing dengan mencucurkan air mata” (Kisah Para Rasul 20:29‭-‬31).

Dan Yesus katakan Ia tidak akan mengulur-ulur waktu kedatangan-Nya namun akan segera datang:

Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? Aku berkata kepadamu: Ia akan memastikan mereka memperoleh keadilan, dan segera. Tetapi, jika Anak Manusia itu datang, akankah Ia mendapati iman di bumi?” (Lukas 18:7‭-‬8)

Yesus berjanji membawa keadilan bagi orang-orang-Nya dengan segera. Ayat ini tidak mengacu kepada peristiwa masa depan. Bukan itu definisi yang tepat untuk kata “segera.” Sebaliknya, Ia berjanji untuk datang dalam penghakiman atas Yerusalem dalam waktu empat puluh tahun, dan itulah persisnya yang Ia lakukan.

POIN-POIN BAB 3

• Tidak ada pemisahan di antara tiga pertanyaan yang diajukan murid-murid kepada Yesus,

• Tidak ada pemisahan dalam jawaban yang Yesus berikan kepada murid-murid-Nya.

• Saat Perjanjian Baru menyebut akhir zaman (the end of the age), yang dimaksudkan adalah akhir zaman Musa, bukan akhir dunia (the end of the world).

• Gagasan menghubung-hubungkan tujuh gereja dalam Wahyu dengan tujuh periode dalam sejarah Gereja adalah hal yang tidak berdasar sama sekali.

• Kerajaan Allah sedang terus bertumbuh, dan kita tidak sedang menantikan kemurtadan Gereja di masa depan.

• Ayat-ayat yang berbicara mengenai guru palsu, pengajaran palsu dan nabi palsu, semua sudah digenapi pada abad pertama. Ayat-ayat ini tidak ada arti kenabiannya bagi masa modern saat ini, meskipun demikian ayat-ayat ini memiliki arti praktikal. Kita masih terus perlu menguji setiap pengajaran dan menilai setiap pengajaran dari buahnya, tetapi kita tidak sedang menantikan kemurtadan yang akan datang.

PERTANYAAN DISKUSI

1. Apakah tiga pertanyaan dalam Matius 24:3?

2. Apakah logis jika kita anggap murid-murid sedang bertanya mengenai akhir dunia dan pengangkatan dalam ayat ini? Mengapa atau mengapa tidak?

3. Definisikanlah arti aeon dan kosmos.

4. Jelaskan perbedaan penting penerjemahan “akhir dunia” (the end of the world) dengan “akhir zaman” (the end of the age) dalam Matius 24:3.

5. Apa arti “akhir zaman”? Kapankah akhir zaman itu?

6. Sejak hari-hari terakhir era Musa berakhir tahun 70 Masehi, dalam era apakah kita hidup saat ini?

Diterjemahkan dari buku Jonathan Welton ‘Raptureless’ 1st Edition, 2012.

Versi aslinya dapat dilihat dan diunduh secara gratis pada tautan berikut: https://weltonacademy.com/collections/books/products/raptureless-first-edition-free-download

Advertisements