WAHYU 9

Ulasan: Dalam pembahasan kita mengenai Wahyu 8, kita membaca sebuah adegan di sorga saat tujuh malaikat diberi tujuh sangkakala yang kemudian mereka bunyikan. Doa orang-orang kudus dipersembahkan di atas mezbah emas di hadapan takhta, dan ini tampaknya berkaitan langsung dengan penghakiman yang terjadi kemudian. Pasal 8 meliputi empat sangkakala pertama: a. terbakarnya sepertiga pohon-pohonan dan rumput hijau, b. matinya sepertiga makhluk laut dan binasanya sepertiga dari kapal di laut, c. sepertiga dari semua air menjadi pahit, d. sepertiga dari matahari, bulan, dan bintang-bintang terpukul dan gelap.

A. Sangkakala kelima: Belalang dari jurang maut (Wahyu 9:1-12)

Ayat 1: ‘Seseorang’ yang diberi anak kunci lobang jurang maut itu adalah “sebuah bintang yang [telah] jatuh dari langit ke atas bumi.” Mungkin ini ada hubungannya dengan bintang besar yang jatuh dari langit dalam Wahyu 8:10. Kemungkinan lain identitas bintang ini, yang tampaknya adalah seseorang atau entitas, adalah Lucifer (Lihat Lukas 10:18 dan Wahyu 12:9-10). David Chilton mencatat bahwa “jurang maut” yang disebutkan dalam ayat 1, disebutkan tujuh kali dalam Kitab Wahyu (9:1, 2, 11; 11:7; 17:8; 20:1, 3). Dia menambahkan,

“Dalam simbolisme Alkitab, jurang maut (abyss) adalah jarak ekstrim terjauh dari sorga (Kejadian 49:25; Ulangan 33:13) dan dari gunung tertinggi (highest mountains, Mazmur 36:6 New International Version). Kata ini digunakan dalam Kitab Suci sebagai referensi untuk bagian terdalam samudera raya (Ayub 28:14; 38:16; Mazmur 33:7) dan untuk sungai dan mata air (Ulangan 8:7; Ayub 36:16), yang darinya air bah datang (Kejadian 7:11; 8:2; Amsal 3:20; 8:24), dan sungai-sungai yang membuat besar dan samudera raya yang membuat tinggi Kerajaan Asyur (Yehezkiel 31:4, 15).

Saat umat perjanjian melewati Laut Merah, berulang kali hal itu disamakan dengan perjalanan melalui jurang maut (Mazmur 77:16; 106:9; Yesaya 44:27; 51:10; 63:13). Nabi Yehezkiel menyampaikan peringatan atas Tirus bahwa negeri itu akan dijadikan “kota reruntuhan, … dan Allah akan menaikkan pasang samudera raya atasnya dan air banjir menutupinya” (Yehezkiel 26:19-21), dan Yunus berbicara tentang “Segala air telah mengepung aku, mengancam nyawaku; samudera raya merangkum aku” sebagai lambang terusir dari hadirat Allah, dibuang hingga tak bisa memandang Bait-Nya yang kudus lagi (Yunus 2:5-6). Kata ini juga digunakan sebagai lambang kediaman ular-ular naga (Mazmur 148:7; Wahyu 11:7; 17:8), penjara setan-setan (Lukas 8:31; Wahyu 20:1-3; lihat 2 Petrus 2:4; Yudas 6), dan dunia orang mati (Roma 10:7), semua disebut dengan nama jurang maut/abyss.

Dengan demikian Rasul Yohanes memberi peringatan kepada pembacanya bahwa jurang maut akan terlepas atas tanah Israel; seperti atas negeri Tirus, jurang maut sedang ditarik untuk menaikkan pasang samudera raya atasnya dan membuat air banjir menutupi tanah itu dan roh-roh jahatnya. Israel yang murtad harus diusir dari hadirat Allah, dibuang dari Bait Allah, dan penuh dengan setan. Salah satu pesan utama Wahyu adalah bahwa Kemah Gereja berada di sorga (lihat Wahyu 7:15; 12:12; 13:6); sebaliknya kemah ibadat gereja palsu berada di neraka” (David Chilton, Days of Vengeance, 1987).

Tanah Israel disebutkan dalam ayat 1 ini sebagai bumi, demikian pula dalam ayat 3-4. [Dalam studi kita mengenai kitab Wahyu ini, kami akan menunjukkan bahwa banyak referensi untuk kata “bumi” dalam kitab Wahyu tidak dimaksudkan untuk dipahami sebagai lingkup seluruh dunia, tetapi lingkup tanah Israel/Palestina. Dalam sebuah studi 3-bagian (dimulai dengan artikel https://adammaarschalk.com/2010/02/19/the-earth-as-a-common-reference-to-israel-in-revelation-part-1/) saya telah menguraikan hampir 20 kasus mengenai kata “bumi” ini. Misalnya dalam artikel Wahyu 1, saat kita membahas frasa “bangsa di bumi” di ayat 7 -yang sering dianggap adalah lingkup seluruh dunia. Ketika nubuat ini dibandingkan dengan nubuat dalam Zakharia 12:10-14, jelas yang dimaksud dengan “bangsa di bumi” adalah suku-suku yang tinggal di negeri/tanah Israel.]

Tanya (T): Dalam ayat 4, kita melihat kepada belalang itu dipesankan supaya jangan merusakkan rumput, atau tumbuh-tumbuhan ataupun pohon-pohon, melainkan hanya manusia yang tidak memakai meterai Allah di dahinya. Di mana kita melihat hal seperti ini sebelumnya?

Jawab (J): Kita melihatnya dalam Wahyu 7:1-4, saat 144.000 orang percaya Yahudi dimeteraikan sebelum penghancuran dimulai.

Chilton mencatat bahwa di wilayah Yudea belalang memang biasa muncul antara periode Mei hingga September, periode lima bulan. Mengenai ayat 4, Chilton mengingatkan kita bahwa “Tetumbuhan bumi secara khusus dikecualikan dari kerusakan yang disebabkan oleh ‘belalang.’ Ini adalah kutukan atas orang yang tidak taat.”

T: Apa arti penting periode lima bulan yang dikutip dalam ayat 5?

J: Pengepungan Yerusalem oleh tentara Romawi pada tahun 70 Masehi berlangsung lima bulan, yang terjadi dalam rentang Mei sampai September, persis dengan kemunculan belalang di Yudea. [1]

Situs blog “Models of Eschatology” yang diasuh oleh seseorang yang menyebut dirinya sebagai “wbdjr” dari United Christian Church di Richmond – Virginia, pernah mengatakan hal berikut mengenai pengepungan lima bulan tersebut:

“Lima bulan adalah jangka waktu pengepungan Romawi atas Yerusalem. Selama masa itu orang Romawi tidak mencoba untuk mengambil alih kota, tapi membiarkan pengepungan perlahan melemahkan para pejuang yang ada di dalam kota dan menciptakan kondisi yang cocok dengan definisi kesusahan besar atas kota itu. Selama pengepungan kaum Zelot yang berada di Yerusalem membakar persediaan bahan pangan di gudang karena berpikir tanpa makanan penduduk akan lebih terdorong untuk bergabung dengan mereka melawan Roma. Ketika makanan tidak ada, orang terpaksa mengkonsumsi kulit dari ikat pinggang, sepatu, atau dari apapun yang bisa ditemukan.” [2]

Kenneth Gentry (Before Jerusalem Fell, halaman 248) -mengutip dari F. F. Bruce (New Testament History, halaman 382)- mengatakan: “Titus memulai pengepungan atas Yerusalem pada bulan April tahun 70. Para pejuang bertahan mati-matian selama lima bulan, tetapi pada akhir Agustus Bait Allah berhasil diduduki tentara Romawi dan rumah kudus terbakar, dan pada akhir September semua perlawanan di kota itu berakhir.”

T: Di mana lagi dalam Alkitab kita melihat penglihatan yang sama berupa tentara penghancur yang disamakan dengan belalang?

J: Kita melihatnya dalam Yoel 1:2-7; 2:1-11.

Ayat 6: Kita diberitahu bahwa orang-orang akan “mencari maut tetapi mereka tidak akan menemukannya, dan mereka akan ingin mati, tetapi maut lari dari mereka.” Benarkah ini terjadi tahun 70 Masehi? Josephus mencatat bahwa selama puncak pengepungan orang-orang Yahudi yang masih hidup “memberikan ucapan selamat mereka pada orang-orang yang mati yang telah luput dari adegan yang demikian menyayat hati” sebagaimana yang terlihat selama pengepungan. Ribuan orang mati kelaparan dalam periode ini. Seperti yang kita lihat dalam studi kita mengenai Wahyu 6, Josephus mencatat bahwa ketika Bait Allah dibakar pada bulan Agustus 70 Masehi, orang-orang yang selamat mundur ke kota Yerusalem bagian atas dan mendambakan kematian. Josephus mengatakan dalam Wars 6.7.2 bahwa “saat mereka melihat kota terbakar, mereka justru tampak ceria, dan wajah mereka terlihat gembira, dengan harapan -seperti yang mereka katakan- kematian akan mengakhiri penderitaan mereka.” Keinginan untuk mati ini mengingatkan kepada perkataan Yesus dalam Lukas 23:27-30 (lihat Wahyu 6:16).

Kenneth Gentry (ibid, halaman 247-248) melihat ayat-ayat 1-12 jelas-jelas menunjukkan aktivitas setan, sedang ayat 13-19 berbicara tentang invasi pasukan secara fisik. Bagaimana ia merujuk kata-kata Yesus dalam Matius sangat menarik:

“Wahyu 9:1-12 jelas berbicara tentang setan dalam bentuk belalang (mungkin karena daya rusak dan kerugian yang mereka sebabkan). Banyak sekali komentator yang sepakat bahwa -terlepas dari citra puitis- belalang adalah hewan jahat yang sengatannya menimbulkan rasa sakit dan memberi pengaruh seperti dirasuk setan. Hal ini menjadi jelas mengingat asal mereka (jurang maut, 9:1-3), tugas mereka (merusakkan hanya manusia, 9:4), dan pemimpin mereka (malaikat jurang maut, yakni setan, 9:11). Apakah belalang ini merupakan lambang pasukan Romawi (atau pasukan lainnya) -dengan adanya larangan atas mereka untuk membunuh (Wahyu 9:5, 10)- menjadi sulit dijelaskan karena pada kenyataannya pasukan Romawi membantai beribu-ribu orang Yahudi dalam serangannya. Tapi jika yang dimaksud dengan belalang ini adalah setan, dan pembunuhan secara fisik diserahkan kepada tentara (yang terlihat kemudian, Wahyu 9:13), maka gambarannya mulai terlihat jelas.

Jika setan yang muncul dalam ayat ini, hal itu cocok dengan tanggal penulisan Kitab Wahyu (yaitu sebelum 70 AD) dan nubuat Kristus dalam Matius 12:38-45. Dalam perikop tersebut Kristus mengatakan bahwa selama pelayanan-Nya di bumi, Dia telah mengusir roh-roh jahat dari Israel, tetapi karena penolakan Israel atas pesan yang dibawa-Nya, roh-roh jahat itu akan kembali dalam jumlah yang lebih besar dalam ‘satu angkatan.'”

Walaupun saya setuju bahwa teks ini tidak berbicara mengenai kemunculan belalang secara harfiah dalam masa penghakiman, saya melihat adanya kemungkinan bahwa selain adanya aktivitas setan, ada juga isyarat serangan fisik, yaitu keduanya terjadi secara bersamaan. Dalam ayat 7, dikatakan bahwa mereka muncul “sama seperti kuda yang disiapkan untuk peperangan.” Dan “muka mereka sama seperti muka manusia” (ayat 7b), dengan rambut yang “sama seperti rambut perempuan,” memakai baju zirah, dan “bunyi sayap mereka bagaikan bunyi kereta-kereta yang ditarik banyak kuda, yang sedang lari ke medan peperangan” (ayat 9). Terdapat banyak referensi yang bercampur dalam menggambarkan tipe peperangan abad pertama.

Steve Gregg, editor Revelation: Four Views (A Parallel Commentary), mengatakan demikian (halaman 182, 184):

“Meskipun belalang sendiri tidak diragukan lagi adalah gambaran pasukan setan yang menindas seluruh masyarakat Yahudi selama konflik mereka dengan orang Romawi, penggambarannya mungkin bercampur dengan beberapa ciri kaum Zelot yang seperti kerasukan, yang membuat hidup sesama mereka orang Yahudi selama pengepungan jadi semakin sengsara. Saat dikatakan mereka memiliki rambut seperti rambut perempuan (ayat 8) itu adalah gambaran perilaku banci mereka, seperti Josephus jelaskan:

“Dengan rasa lapar tak terpuaskan untuk menjarah, mereka menggeledah rumah-rumah orang kaya, membunuh laki-laki dan melecehkan perempuan sekedar untuk berolahraga; mereka minum-minum di atas rampasan mereka yang berlumuran darah, dan setelah kenyang, dengan tidak tahu malu mereka menyerahkan diri kepada praktek banci, mengepang-ngepang rambut mereka dan memakai pakaian perempuan, membasahi diri dengan parfum dan melukis kelopak mata mereka untuk membuat diri mereka tampak menarik. Mereka tidak hanya memakai gaun perempuan, namun juga meniru gairah perempuan; memuaskan kesenangan yang melanggar hukum seperti sedang berada di rumah bordil/pelacuran. Mereka mencemari kota dengan praktik busuk mereka. Namun meskipun muka mereka seperti muka perempuan, tangan mereka selalu siap membunuh. Mereka akan mendekat dengan langkah pelan lalu tiba-tiba menjadi petarung dan mengibaskan keluar pedang dari balik jubah mereka, mengejar setiap orang yang lewat” (Wars, IV: 9:10).”

Mengenai penampilan tentara ini, David Chilton menambahkan,

“Deskripsi menakutkan belalang setan dalam Wahyu 9:7-11 memiliki banyak kemiripan dengan serangan bangsa asing yang disebutkan dalam kitab para nabi (Yeremia 51:27; Yoël 1:6; 2:4-10; lihat Imamat 17:7 dan 2 Tawarikh 11:15, di mana kata Ibrani untuk setan/jin-jin adalah ‘yang berbulu’). Ayat ini juga merujuk, sebagian, kepada gerombolan jahat-pembunuh Zelot yang memangsa warga Yerusalem, yang mengobrak-abrik rumah demi rumah dan melakukan pembunuhan dan pemerkosaan tanpa pandang bulu. Ciri khas orang-orang cabul-menyimpang ini adalah berpakaian seperti perempuan pelacur, merayu laki-laki yang tidak curiga lalu membunuhnya. Satu poin yang sangat menarik tentang deskripsi pasukan setan ini adalah pernyataan Rasul Yohanes bahwa “bunyi sayap mereka bagaikan bunyi kereta-kereta yang ditarik banyak kuda, yang sedang lari ke medan peperangan.” Itu adalah suara yang sama seperti yang dibuat oleh sayap-sayap malaikat dalam awan kemuliaan (Yehezkiel 1:24; 3:13; 2 Raja-raja 7:5-7); perbedaannya adalah dalam ayat ini suara tersebut dihasilkan oleh malaikat yang jatuh.”

Ayat 11: Raja yang memerintah mereka ialah malaikat jurang maut; namanya dalam bahasa Ibrani ialah Abadon dan dalam bahasa Yunani ialah Apolion. Menurut Livius, ensiklopedia sejarah kuno daring yang disusun oleh sejarawan Belanda, Jona Lendering, “Apollo” adalah dewa favorit Kaisar Augustus. Karena itu, legiun ke-15 Romawi yang terkenal disebut “Legio XV Apollinaris.” Ketika pemberontakan Yahudi melawan Roma dimulai pada tahun 66 Masehi, legiun ke-15 ini, Apollinaris, dikerahkan dari Alexandria, Mesir, maju menuju Yudea. Tahun 67 Masehi legiun ini menangkap Josephus di Jotapata (di Galilea).

image

Setelah Vespasian naik menjadi kaisar tahun 69 Masehi, anaknya Titus memimpin legiun ke-15 Apollinaris menuju Yerusalem. Setelah pengepungan selama lima bulan, Titus dan pasukannya menduduki Yerusalem, menghancurkan Bait Allah dan membakar kota. Tampaknya Titus adalah Apolion dalam Wahyu 9:11.”

B. Sangkakala Keenam: Malaikat dari Efrat (Wahyu 9:13-21)

David Chilton mencatat: “Kata-kata pembuka Yohanes tentang sangkakala keenam (Wahyu 9:13) mengingatkan kita bahwa kebinasaan yang Allah timpakan di muka bumi ini adalah atas nama umat-Nya (Mazmur 46), sebagai tanggapan atas penyembahan mereka: perintah kepada malaikat keenam dikeluarkan oleh suara yang keluar dari keempat tanduk mezbah emas yang di hadapan Allah. Penyebutan frasa ini jelas dimaksudkan untuk mendorong umat Allah beribadah dan berdoa, meyakinkan mereka bahwa tindakan Allah dalam sejarah diawali dari mezbah-Nya, tempat Ia telah menerima doa-doa mereka.”

T: Berapa banyak yang akan mati dalam malapetaka ini?

J: Sepertiga dari umat manusia (Dalam konteks, yang dimaksud dengan “manusia” adalah penduduk Yudea).

Kita diberitahu bahwa empat malaikat akan dilepaskan dari sungai besar Efrat, tempat mereka disiapkan bagi jam dan hari, bulan dan tahun untuk membunuh sepertiga dari umat manusia. “Wbdjr” mengatakan hal berikut tentang apa yang terjadi pada tahun 70 Masehi:

“Legiun Romawi biasanya merupakan pasukan infanteri [pasukan tempur darat utama yaitu pasukan berjalan kaki yang dilengkapi persenjataan ringan, dilatih dan disiapkan untuk melaksanakan pertempuran jarak dekat], tapi empat legiun yang dikerahkan dari daerah Efrat -di bawah seorang raja dari timur, Antiokhus dari Commagene, dan seorang raja lainnya juga dari timur, Sohemus- sebagian besar adalah pasukan kavaleri [pasukan khusus berkuda, yang berperan sebagai satuan yang mampu bergerak cepat dan mobile sekaligus berfungsi sebagai penyerang pendadakan atau pendobrak yang akan membuka jalan bagi pasukan infanteri]. Secara harfiah pasukan berkuda barbar ini pasti menakutkan bagi penduduk Yerusalem. Melepaskan empat malaikat yang disiapkan bagi jam dan hari menandakan dilepaskannya empat legiun yang akan membunuh bukan sepertiga dari penduduk seluruh planet, tetapi sepertiga penduduk daerah Yudea.”

Menurut David Chilton,

“Dalam ayat 14-16, malaikat keenam ditugaskan untuk melepaskan empat malaikat yang telah “terikat dekat sungai besar Efrat”; mereka kemudian membawa tentara yang berjumlah dua puluh ribu laksa pasukan berkuda melawan Israel. Sungai Efrat di sebelah utara adalah batas antara Israel dengan kekuatan asing menakutkan dari Asyur, Babel, dan Persia yang Allah gunakan sebagai momok bagi orang-orang-Nya yang suka memberontak (lihat Kejadian 15:18; Ulangan 11:24; Yosua 1:4; Yeremia 6:1, 22; 10:22; 13:20; 25:9, 26; 46:20, 24; 47:2; Yehezkiel 26:7; 38:6, 15; 39:2). Harap diingat bahwa utara adalah wilayah takhta Allah (Yesaya 14:13); dan baik awan kemuliaan dan agen pembalasan Allah terlihat datang dari utara, yaitu, dari Efrat (lihat Yehezkiel 1:4; Yesaya 14:31; Yeremia 1:14-15). Dengan demikian, pasukan besar dari utara ini sudah pasti adalah tentara Allah, dan berada di bawah kendali dan petunjuk-Nya (lihat 2 Petrus 2:4; Yudas 6), kendati tampak jelas karakter mereka adalah jahat dan penyembah berhala. Allah benar-benar berdaulat, dan menggunakan baik setan maupun orang barbar-kafir untuk mencapai tujuan-Nya yang kudus (1 Raja-raja 22:20-22; Ayub 1:12-21, tentu saja, Ia kemudian menghukum orang kafir ini atas motif dan tujuan jahat mereka yang menyebabkan mereka menggenapi keputusan-Nya; lihat Yesaya 10:5-14).”

Sam Storms menambahkan,

“G. B. Caird menunjukkan bahwa “bagi orang Romawi Efrat adalah perbatasan timur, tetapi bagi orang Yahudi Efrat adalah perbatasan utara Palestina, yang dari sana orang Asyur, Babilonia, dan penjajah Persia datang untuk memaksakan kedaulatan kafir mereka atas umat Allah. Semua peringatan alkitabiah tentang musuh dari utara, oleh karena itu, bergaung dalam penglihatan berdarah Yohanes” (halaman 122). Lihat Yesaya 5:26-29; 7:20; 8:7-8; 14:29-31; Yeremia 1:14-15; 4:6-13; 6:1, 22; 10:22; 13:20; Yehezkiel 38:6,15; 39:2; Yoël 2:1-11, 20-25; juga Yesaya 14:31; Yeremia 25:9, 26; 46-47; 46:4, 22-23; 50:41-42; Yehezkiel 26: 7-11.”

Jay Adams (dari Westminster Theological Seminary) adalah salah seorang sarjana Alkitab yang sepakat bahwa penakluk masa lalu Israel secara tradisional menyeberangi Efrat sebelum mendatangkan kehancuran. Dia mencatat bahwa Josephus (Wars 7:1:3) mengatakan tentara Romawi ditempatkan di sepanjang Efrat, termasuk Legion ke-10 yang terkenal, sebelum mereka menuju Yerusalem pada tahun 69-70 Masehi (Steve Gregg, ibid, halaman186).

Ayat 16: Dan jumlah tentara itu ialah dua puluh ribu laksa [New King James Version: two hundred million]. Penafsir futuris sering bersikeras bahwa jumlah ini adalah angka secara harfiah, dan sebagian futuris membuat hipotesa bahwa tentara ini pasti mengacu kepada tentara masa depan yang akan dikerahkan dari Cina. Sam Storms mengatakan bahwa dalam bahasa Yunani, ungkapan yang digunakan adalah “a double myriad of myriads, a myriad biasanya setara dengan 10.000.” Tampaknya angka ini semata adalah simbol dari pasukan tentara yang berjumlah sangat besar dan luar biasa. Ada pula kemungkinan terdapat 200 juta setan terlepas atas tanah Yudea. David Chilton meringkas pentingnya angka ini dalam pernyataan berikut:

“Tentara dalam jumlah tak terhitung maju menuju Yerusalem dari Efrat, asal musuh tradisional Israel; pasukan itu adalah kekuatan setan yang kejam, penuh permusuhan dan jahat yang diutus oleh Allah sebagai jawaban atas doa-doa umat-Nya menuntut pembalasan atas darah mereka. Singkatnya, tentara ini adalah penggenapan seluruh peringatan dalam hukum Taurat dan kitab para nabi terhadap para pelanggar perjanjian. Kengerian yang dijelaskan dalam Ulangan 28 yang akan ditimpakan pada angkatan yang jahat ini (lihat khususnya ayat 49-68).

T: Dari hal apa orang yang tidak mati dari malapetaka ini tetap tidak mau bertobat?

J: Mereka tidak juga bertobat dari: 1. Perbuatan tangan mereka, 2. Menyembah roh-roh jahat, 3. Menyembah berhala-berhala dari emas, perak, tembaga, batu dan kayu, 4. Pembunuhan, 5. Sihir, 6. Percabulan dan 7. Pencurian.

Josephus mengatakan hal ini tentang Yerusalem pertengahan abad pertama:

“… tidak ada kota lain yang pernah menderita kesengsaraan yang demikian, juga tidak pernah berkembang pada zaman mana pun suatu angkatan yang lebih jahat daripada angkatan ini sejak dari awal dunia … Saya kira seandainya orang Romawi terlambat tiba, kota ini mungkin akan habis ditelan tanah, atau lenyap diluapi air, atau dihancurkan oleh hujan belerang seperti yang dialami negeri Sodom, karena kota ini telah melahirkan angkatan yang jauh lebih ateistik dibanding orang-orang yang mengalami hukuman serupa; karena kegilaan mereka sendirilah maka mereka semua dibinasakan” (Kenneth Gentry, ibid, halaman (249).

David Chilton mencatat bahwa Yerusalem (lihat referensi “kota besar” dalam Wahyu 11:8, dan kemudian bandingkan dengan Wahyu 16:19, 17:18, 18:10, 18:16-21) disebutkan dalam Wahyu 18 sebagai “tempat kediaman roh-roh jahat dan tempat bersembunyi semua roh najis dan tempat bersembunyi segala burung yang najis dan yang dibenci” (ayat 2). Dia menambahkan:

“Seluruh angkatan itu semakin kerasukan setan; kegilaan nasional mereka yang progresif tampak jelas saat seseorang membaca Perjanjian Baru, dan tahap akhir yang mengerikan digambarkan dalam halaman demi halaman tulisan Josephus ‘Jewish War’: hilangnya seluruh kemampuan untuk berpikir jernih, massa ganas yang menyerang satu sama lain, orang banyak yang tertipu mengikuti orang yang jelas-jelas adalah nabi palsu, kegilaan dan keputusasaan karena tidak mendapatkan makanan, pembunuhan massal, eksekusi, dan bunuh diri, ayah membantai keluarga mereka sendiri dan ibu memakan anak-anak mereka sendiri. Setan dan penghuni neraka menyerbu seluruh tanah Israel dan melahap orang-orang murtad.”

Adam Maarschalk: Revelation 9; September 30, 2009.

https://adammaarschalk.com/2009/09/30/revelation-chapter-9/

[1] David Chilton melihat periode lima bulan ini digenapi tahun 66 Masehi, bukan 70 Masehi. Dia mengatakan, “Ini sepertinya sebagian merujuk kepada tindakan Gessius Florus, prokurator Yudea, yang untuk jangka waktu lima bulan (dimulai pada Mei 66 lewat pembantaian 3.600 warga sipil) meneror orang-orang Yahudi, sengaja memancing mereka untuk memberontak. Dia berhasil: Josephus mencatat Perang Yahudi berawal dari peristiwa ini.” Saya pribadi condong kepada pendapat penggenapan nubuat ini adalah pada Mei-September 70 Masehi.

[2] Untuk informasi lebih lanjut mengenai pengepungan lima bulan ini, kelaparan di Yerusalem, dll, silakan lihat: https://adammaarschalk.com/2009/08/16/pp17-the-historical-events-leading-up-to-70-ad-part-1/ dan https://adammaarschalk.com/2009/08/22/pp18-the-historical-events-leading-up-to-70-ad-part-2/

Catatan [dikutip dari Understanding the Whole Bible, Jonathan Welton, 2014]:

Dalam eskatologi (ilmu yang mempelajari hal-hal terakhir), terdapat empat pandangan (view):

Futurisme, yakni pandangan yang mempercayai peristiwa-peristiwa yang digambarkan dalam literatur apokaliptik Kitab Suci akan terjadi di masa depan. Dalam pandangan ini terdapat tiga pembagian utama yang terkait dengan waktu Gereja diangkat (mengalami rapture): pre-tribulation (sebelum masa aniaya besar), mid-tribulation (di tengah-tengah masa aniaya besar) dan post-tribulation (sesudah masa aniaya besar).

Idealisme, atau disebut juga pandangan spiritual, memandang Kitab Wahyu dan ayat-ayat terkait sebagai alegori (kiasan atau perumpamaan). Dengan kata lain, Wahyu adalah kisah dimana segala sesuatu di dalamnya bermakna simbolis. Jadi, menurut pandangan ini, Kitab Wahyu ditulis bukan sebagai tuntunan bagi orang-orang tertentu untuk diterapkan pada periode tertentu. Tetapi adalah koleksi lukisan yang selalu memiliki makna sama bagi kita semua. Akan selalu ada beastly system, sistem yang bersifat seperti binatang buas, dalam pemerintahan kita, dan kita akan selalu dikuatkan oleh apa yang kita baca untuk tetap teguh dalam kesaksian kita dan darah Anak Domba. Pandangan ini adalah paham yang baru, diperkenalkan kira-kira seratus tahun yang lalu.

Historisisme menjabarkan peristiwa-peristiwa dalam Kitab Wahyu selama lebih dari dua ribu tahun terakhir dan menderetkannya dengan orang-orang berbeda. Pandangan ini merentangkan Kitab Wahyu sepanjang sejarah dan mengaitkannya dengan orang-orang berbeda dan periode berbeda. Contohnya, banyak historisis mengidentifikasi Napoleon Bonaparte sebagai binatang (the beast) dalam Wahyu 13. Ini artinya dua belas pasal sebelumnya telah terjadi di masa lalu, namun pasal-pasal berikutnya hingga akhir kitab dan akhir dunia akan terjadi di masa depan. Karena pandangan ini sukar untuk didukung, terutama jika yang disebut sebagai binatang sudah mati, banyak yang menggabungkan pandangan ini dengan pandangan idealisme yang mengatakan bahwa seseorang seperti Napoleon membawa roh atau pemerintahan binatang.

Preterisme mendapatkan namanya dari kata dalam bahasa Latin yang berarti “to pass.” Ini adalah pandangan yang mengatakan bahwa peristiwa apokaliptik yang dinubuatkan dalam Perjanjian Baru telah terjadi di masa lalu, pada tahun 70 Masehi. Jadi pandangan ini adalah kebalikan dari futurisme. Dalam pandangan preterisme terdapat dua mahzab utama: partial preterism dan full preterism, dan ada satu lagi yang saya sebut sebagai Kik preterism, yang dinamai berdasarkan pencetusnya, J. Marcellus Kik.

Advertisements