PENGANGKATAN: SERANGAN JANTUNG BAGI GEREJA (Bagian 1)

image

Gereja telah menderita serangan jantung rohani selama hampir 200 tahun. Salomo menyuruh kita menjaga hati kita dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan. Hati mendengar, hati percaya dan dalam hati terpatri gambaran yang akan meneguhkan kepercayaan kita.

Namun apa yang terjadi ketika hal yang kita dengar, percaya dan diteguhkan oleh gambaran ini, dimulai dengan sesuatu yang salah? Inilah masalah dengan doktrin pengangkatan yang tidak ditemukan di mana pun dalam Alkitab. Khotbah berapi-api yang mengatakan “berjaga-jagalah dan siap sedialah” dan film seperti A Thief in the Night atau Left Behind memaku hati kita dengan adegan pesawat tanpa awak jatuh dari langit dan meledak menghantam bangunan, mobil dan bus saling bertabrakan, dan bayi-bayi mungil lenyap dari ayunan mereka. Lalu berakhir dengan adegan seorang laki-laki yang hidup di masa aniaya terancam pemenggalan kepala jika ia tidak menerima tanda dari binatang itu.

Tidak ada apapun yang berdasarkan iman yang dapat mengisi hati kita lewat adegan-adegan yang demikian. Bahkan, sekedar mempertimbangkan sudut pandang lain saja pun telah menimbulkan ketakutan yang sering menutup kesempatan untuk mendengarkan apa yang Alkitab sebenarnya ajarkan. Doktrin palsu tidak bisa dibedakan oleh ketakutan, tetapi oleh kebenaran.

Jadi sembari kita mengatasi ide tentang “pengangkatan” yang muncul dari Kitab Tesalonika, ada baiknya kita mengingat kata-kata Lukas dalam Kisah Para Rasul 17:11, “Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik hatinya dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian.”

Gagasan pengangkatan sebelum masa Aniaya Besar adalah hal yang sangat baru dalam sejarah gereja. Gagasan ini baru berusia sekira 180 tahun dan ada yang mengatakan doktrin ini berawal dari penglihatan yang dialami seorang gadis muda di Glasgow. Penglihatan itu kemudian diadopsi oleh seorang pria bernama John Darby, seorang anggota Plymouth Brethren, yang kemudian membantu menyebarkan gagasan ini ke seluruh Amerika. Doktrin ini tidak pernah diterima gereja sebelumnya, juga tidak pernah ditemukan dalam Alkitab.

1 Tesalonika 4:
15Ini kami katakan kepadamu dengan firman Tuhan: kita yang hidup, yang masih tinggal sampai kedatangan Tuhan, sekali-kali tidak akan mendahului mereka yang telah meninggal. 16Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; 17sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan. 18Karena itu hiburkanlah seorang akan yang lain dengan perkataan-perkataan ini.

RELEVANSI PEMBACA DAN WAKTU

16Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit.

Satu hal yang paling sering diabaikan dalam menafsirkan Kitab Suci adalah aspek relevansi pembaca. Dalam hermeneutika (ilmu dan seni penafsiran Alkitab) relevansi pembaca mengingatkan kita bahwa Alkitab TIDAK ditulis KEPADA kepada, itu ditulis BAGI kita. Jika kita tidak memperhatikan hal ini, kita akan membaca Alkitab dengan lensa yang salah dan berujung menerapkan ayat-ayat Alkitab yang dimaksudkan untuk orang lain pada masa yang lain dan tempat lain kepada diri kita sendiri.

Ada sebuah cerita lama tentang seseorang yang mencoba mendapatkan tuntunan Tuhan dengan membuka Alkitab secara acak dan menganggap apa pun yang terlihat pertama kali oleh matanya sebagai pesan Tuhan. Saat pertama ia membuka Alkitab, yang terlihat olehnya adalah Matius 27:5, “Maka ia pun melemparkan uang perak itu ke dalam Bait Suci, lalu pergi dari situ dan menggantung diri.” Karena ketakutan Allah menyuruh dia melakukan hal ini, ia kembali membuka Alkitab secara acak dan menemukan Lukas 10:37, “Pergilah dan perbuatlah demikian.” Bukan metode yang baik.

Sekarang mari kita lihat cara menafsirkan Alkitab yang lebih akurat. Kepada siapa Kitab Tesalonika ditulis dan bagaimana situasi yang mereka hadapi saat itu? Kisah Para Rasul 17:1, 5 katakan:

Paulus dan Silas mengambil jalan melalui Amfipolis dan Apolonia dan tiba di Tesalonika. Di situ ada sebuah rumah ibadat orang Yahudi. … Tetapi orang-orang Yahudi menjadi iri hati dan dengan dibantu oleh beberapa penjahat dari antara petualang-petualang di pasar, mereka mengadakan keributan dan mengacau kota itu. Mereka menyerbu rumah Yason dengan maksud untuk menghadapkan Paulus dan Silas kepada sidang rakyat.

Orang Kristen Tesalonika menderita karena orang-orang Yahudi. Hal ini dengan jelas ditunjukkan dalam 1 Tesalonika 2:14-16 New King James Version:

14Sebab kamu, saudara-saudara, telah menjadi penurut jemaat-jemaat Allah yang ada di Yudea, di dalam Kristus Yesus. karena kamu juga telah menderita karena teman-teman sebangsamu [orang Yahudi] segala sesuatu yang mereka derita dari orang-orang Yahudi di Yudea, 15yang telah membunuh Tuhan Yesus dan para nabi mereka, dan telah menganiaya kami; dan mereka tidak melakukan yang berkenan kepada Allah dan memusuhi semua orang,16menghalang-halangi kami memberitakan firman kepada bangsa-bangsa lain untuk keselamatan mereka, sehingga dengan demikian mereka terus-menerus menambah dosa mereka sampai genap jumlahnya dan sekarang murka telah menimpa mereka sepenuh-penuhnya.

Sekarang perhatikan apa yang Paulus katakan kepada kepada mereka (bukan kepada kita) dalam 2 Tesalonika 1:

4″Sehingga kami sendiri bermegah tentang KAMU [jemaat Tesalonika] di antara jemaat-jemaat Allah karena ketabahanMU dan imanMU dalam segala penganiayaan dan penindasan yang KAMU derita: 5suatu bukti tentang adilnya penghakiman Allah, yang menyatakan bahwa KAMU terhitung layak menjadi warga Kerajaan Allah, yang untuknya KAMU sekarang menderita, 6karena adalah adil bagi Allah UNTUK MEMBALASKAN PENINDASAN KEPADA ORANG-ORANG YANG MENINDAS KAMU, 7dan untuk memberikan kelegaan kepada KAMU yang ditindas, dan juga kepada kami, PADA WAKTU [ini adalah kata-kata yang berkaitan dengan waktu] Tuhan Yesus dari dalam sorga menyatakan diri-Nya bersama-sama dengan malaikat-malaikat-Nya yang perkasa, 8di dalam api yang bernyala-nyala mengadakan perbalasan terhadap mereka yang tidak mau mengenal Allah dan tidak mentaati Injil Tuhan kita Yesus Kristus. 9MEREKA [orang-orang yang menganiaya jemaat Tesalonika] ini akan menjalani hukuman kebinasaan selama-lamanya, dijauhkan DARI HADIRAT TUHAN dan dari kemuliaan kekuatan-Nya. 10SAAT Ia datang pada Hari itu, untuk dimuliakan di antara orang-orang kudus-Nya dan untuk dikagumi oleh semua orang yang percaya, sebab kesaksian yang kami bawa kepadamu telah kamu percayai.”

Mampu memahami relevansi pembaca dan waktu sangatlah penting karena apa yang dipertaruhkan: keandalan Kitab Suci, janji-janji Allah dan apakah Yesus adalah nabi yang benar atau palsu. Ulangan 18:18 dan seterusnya mengatakan bahwa jika seseorang membuat nubuat yang tidak menjadi kenyataan, maka orang itu tidak datang dari Allah.

Jemaat Tesalonika pada masa Paulus-lah yang sedang menderita aniaya di tangan orang Yahudi yang tidak percaya. Orang-orang Yahudi tak percaya ini, menurut Paulus, akan diganjar penghakiman pada suatu saat yang telah ditentukan dalam waktu dekat. Paulus menggunakan janji ini untuk menguatkan dan menyemangati mereka. Penguatan dan semangat macam apa yang bisa diberikan jika Allah diam-diam memaksudkan janji ini baru akan digenapi lama setelah mereka mati, 2000 tahun kemudian?

Apakah Allah berdusta? Apakah Paulus mendustai mereka? Apakah Paulus sedang memaksa mereka dan setiap angkatan/generasi untuk terus fokus dan berjaga-jaga dengan segenap kekuatan mereka, seperti yang dikatakan sebagian orang? Dapatkah Anda melihat apa yang dipertaruhkan?

Tentu saja Allah tidak berdusta. Ia setia pada Firman-nya seperti yang dikatakan-Nya. Bagaimana caranya? Tahun 70 Masehi Bait Yerusalem hancur binasa oleh api. Sekira 1,3 juta orang Yahudi tewas. Sejarawan mengatakan tidak satu pun orang Kristen ikut menjadi korban.

Sesuai dengan bahasa apokaliptik sejarah alkitabiah, Allah menggunakan bangsa lain, Romawi, untuk menjatuhkan hukuman yang mereka undang sendiri atas diri mereka, atas hukum Taurat, atas imamat, atas sistem pengorbanan dan atas darah semua orang-orang kudus yang mereka tumpahkan. Kejadian 9:5-6 mengungkapkan bahwa siapa yang menumpahkan darah manusia, darahnya akan tertumpah oleh manusia, namun sebagai metafora apokaliptik dalam ayat lainnya seolah-olah pembalasan itu berasal dari Dia.

Penghakiman ini tidak akan pernah diulang (Matius 24:21; Daniel 12:1) dan merupakan penghakiman atas semua pembunuhan terhadap orang benar mulai dari penumpahan darah Habel (Matius 23:35). Ini adalah penghakiman terakhir atas agama berbasis perbuatan!

Penghakiman yang akan datang ini dijanjikan oleh Yesus, sebagai nabi dalam Matius 23, saat Ia menegur dengan keras ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi dengan mengucapkan kutukan perjanjian atas mereka dan kota mereka:

Sebab itu, lihatlah, Aku mengutus kepada KAMU nabi-nabi, orang-orang bijaksana dan ahli-ahli Taurat: separuh di antara mereka akan KAMU bunuh dan KAMU salibkan, yang lain akan KAMU sesah di rumah-rumah ibadatmu dan kamu aniaya dari kota ke kota, sehingga atas KAMU akan tertanggung akibat penumpahan darah orang yang tidak bersalah mulai dari Habel, orang benar itu, sampai kepada Zakharia anak Berekhya, yang kamu bunuh di antara tempat kudus dan mezbah. Aku berkata kepada KAMU: Sesungguhnya SEMUANYA INI akan ditanggung angkatan ini!” (Matius 23:34‭-‬36).

Bagaimanakah hal ini akan terjadi secara spesifik?

Sesudah itu Yesus keluar dari Bait Allah, lalu pergi. Maka datanglah murid-murid-Nya dan menunjuk kepada bangunan-bangunan Bait Allah. Ia berkata kepada mereka: “Kamu melihat semuanya itu? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak satu batu pun di sini akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan” (Matius 24:1‭-‬2).

Sejarawan Kristen paling awal Eusebius paham bahwa apa yang disebutkan dalam Matius 24 menggambarkan gejolak yang terjadi di Yerusalem antara peristiwa salib dan penghancuran kota itu. Menarik, Yesus mati tahun 30 Masehi dan Bait Allah hancur tahun 70 Masehi … persis 40 tahun … dalam satu angkatan, sama seperti yang Yesus katakan.

Paulus katakan hal ini adalah “pembinasaan (dijauhkan) dari hadirat Tuhan.” Kehadiran awan kemuliaanlah yang membuat Israel berbeda dari bangsa-bangsa lain dan itu membuat mereka spesial sebagai umat Allah. Konflik yang sesungguhnya dalam masa transisi 40 tahun itu adalah membedakan mana umat perjanjian sejati dan mana yang bukan. Siapakah sesungguhnya umat perjanjian itu? Apakah orang etnis Yahudi yang mengaitkan diri mereka dengan hukum Taurat dan sistem keagamaan Bait Allah? Ataukah orang-orang Yahudi dan bangsa-bangsa lain yang percaya kepada Mesias?

Inilah sebabnya mengapa Yesus menyebut orang-orang Yahudi sebagai jemaah iblis (pendakwa saudara-saudara sejati). Kata-Nya kepada gereja-gereja di Asia Kecil:

Wahyu 2:9: “Aku tahu kesusahanmu dan kemiskinanmu — namun engkau kaya — dan fitnah mereka, yang menyebut dirinya orang Yahudi, tetapi yang sebenarnya tidak demikian: sebaliknya mereka adalah jemaah Iblis.”

Wahyu 3:9: “Lihatlah, beberapa orang dari jemaah Iblis, yaitu mereka yang menyebut dirinya orang Yahudi, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, melainkan berdusta, akan Kuserahkan kepadamu. Sesungguhnya Aku akan menyuruh mereka datang dan tersungkur di depan kakimu dan mengaku, bahwa Aku mengasihi engkau.”

Hal ini jugalah yang Petrus maksudkan dalam ucapannya di Kisah Para Rasul 3:

22Musa telah berkata kepada nenek moyangmu: “Tuhan Allahmu akan membangkitkan bagimu seorang Nabi seperti aku dari antara saudara-saudaramu. Dialah yang harus kamu dengarkan dalam segala sesuatu, apapun yang akan dikatakannya kepadamu. 23Dan akan terjadi, bahwa semua orang yang tidak mendengarkan nabi itu, akan DIBINASAKAN DARI UMAT. 24Ya, dan SEMUA NABI, mulai dari Samuel dan sesudah dia, TELAH BERNUBUAT TENTANG ZAMAN INI.”

Masa Aniaya Besar yang akan segera datang akan membinasakan orang-orang Yahudi yang tidak percaya dari umat. Bagaimana caranya? Penghancuran Bait Allah dan hilangnya kemuliaan sekali untuk selamanya memperlihatkan bahwa bait yang sejati adalah orang, bukan bangunan. Semua identitas yang dibangun di atas kota, bait, atau silsilah akan dihapus selamanya.

Dengan pemahaman ini maka mari kita tidak memproyeksikan pesan kepada jemaat Tesalonika dan penganiayanya orang Yahudi ke masa depan kita.

Chuck Crisco: The Rapture: The Heart Attack Against the Church, Part 1; December 19, 2014

http://www.anewdaydawning.com/blog-1/2014/12/19/the-rapture-the-heart-attack-against-the-church-part-1

Advertisements