PENGANGKATAN: SERANGAN JANTUNG BAGI GEREJA (Bagian 2)

image

Dari mana Paulus mendapatkan ide itu?

1 Tesalonika 4:15: “Ini kami katakan kepadamu dengan firman Tuhan.”

Siapakah “kami”? Yaitu Paulus dan rekan sejawatnya. Apa yang Paulus sampaikan mengacu kepada nubuat terkenal Yesus dari Matius 23-24. Paulus hanya mengulangi konteks yang sama, kriteria yang sama, dan penggambaran yang sama.

Sebagai contoh, setidaknya ada 13 item yang Yesus sebutkan dalam ucapan-Nya di Bukit Zaitun yang Paulus ulangi: penganiayaan yang akan datang, kemurtadan, pengajar palsu yang mengatakan Kristus telah datang kembali, kedatangan Kristus, dengan malaikat-malaikat, di awan-awan, dengan suara sangkakala, mengumpulkan orang-orang pilihan, datang seperti pencuri, akan datang penghakiman, sakit bersalin dan peringatan untuk berjaga-jaga.

Tidak ada keraguan, dan kebanyakan ahli setuju, bahwa Yesus sedang berbicara kiasan dengan bahasa apokaliptik mengenai penghancuran Yerusalem. Oleh karena itu, Paulus juga berbicara tentang hal yang sama, terutama mengingat kenyataan bahwa mereka menderita di tangan orang-orang Yahudi dan akan dibebaskan dari penderitaan itu lewat penghakiman Allah.

Ayat-ayat ini sulit ditafsirkan oleh pembaca modern karena kita tidak mengerti penggunaan bahasa apokaliptik. Ingat, pada zaman Alkitab mereka tidak mungkin menjelaskan sesuatu dengan gamblang, atau membuat film dengan latar musik dramatis untuk menyentuh hati pembacanya. Sebaliknya, mereka menggunakan apa yang dalam hermeneutika disebut sebagai bahasa “de-creation” atau bahasa apokaliptik. Bahasa apokaliptik melukiskan gambaran paling dramatis yang mungkin dari sebuah dunia yang hancur lebur, matahari menjadi gelap, bulan berubah menjadi darah, dan bintang-bintang jatuh dari langit, dalam upaya untuk menggerakkan hati pembaca. Secara khusus bahasa ini digunakan untuk menggambarkan bagaimana pemerintahan yang berkuasa atas suatu negeri atau kota akan segera jatuh. Bahasa apokaliptik tidak pernah dimaksudkan untuk dipahami secara literal/harfiah dan selalu merupakan metafora yang dramatis.

Saya akan berikan dua contoh, meskipun sebenarnya ada banyak:

Yesaya 13:8-10 New King James Version:
Dan mereka akan ketakutan. Kepedihan dan penderitaan akan menyerang mereka; mereka akan menggeliat kesakitan seperti perempuan yang melahirkan [bandingkan dengan 1 Tesalonika 5:3]. Mereka akan tercengang-cengang berpandang-pandangan satu dengan yang lain; muka mereka seperti nyala api. Sungguh, hari Tuhan datang, bengis dengan murka dan kemarahan yang menyala-nyala untuk membuat bumi menjadi sunyi sepi dan Dia akan memunahkan orang-orang yang berdosa dari padanya. Sebab bintang-bintang dan gugusan-gugusannya di langit tidak akan memancarkan cahayanya; matahari akan menjadi gelap pada waktu terbit, dan bulan tidak akan memancarkan sinarnya.”

Ini bukan nubuat tentang akhir dunia. Ini adalah ucapan nubuat untuk Babel tentang bagaimana negeri itu akan jatuh ke tangan bangsa Madai/Media (ayat 17) yang digenapi pada tahun 721 Sebelum Masehi. Bintang-bintang tentu saja tidak benar-benar jatuh dari langit secara harfiah, tetapi pemerintahan bangsa itu yang jatuh secara harfiah. Itu adalah cara untuk mengatakan dunia mereka (bukan seluruh dunia/bumi) akan runtuh, dan raja-raja dan bangsawan-bangsawan mereka (matahari, bulan dan bintang) akan ditumbangkan. Nubuat ini sudah digenapi dalam sejarah tetapi tidak secara harfiah, sebab jika demikian alam semesta sudah lenyap sejak lama!

Lalu ayat ini:
Mazmur 18:7-16:
7Ketika aku dalam kesesakan, aku berseru kepada Tuhan, kepada Allahku aku berteriak minta tolong. Ia mendengar suaraku dari bait-Nya, teriakku minta tolong kepada-Nya sampai ke telinga-Nya. 8Lalu GOYANG DAN BERGONCANGLAH bumi; dan dasar-dasar gunung gemetar dan goyang, oleh karena menyala-nyala murka-Nya. 9Asap membubung dari hidung-Nya, api menjilat keluar dari mulut-Nya, bara menyala keluar dari pada-Nya.10Ia menekukkan langit, lalu TURUN, kekelaman ada di bawah kaki-Nya. 11Ia mengendarai kerub, lalu terbang dan melayang di atas sayap angin. 12Ia membuat kegelapan di sekeliling-Nya menjadi persembunyian-Nya, ya, menjadi pondok-Nya: air hujan yang gelap, awan yang tebal. 13Karena SINAR di hadapan-Nya hilanglah AWAN-AWAN-Nya yang tebal bersama hujan es dan bara api. 14Maka Tuhan mengguntur di langit, Yang Mahatinggi memperdengarkan suara-Nya bersama hujan es dan bara api. 15Dilepaskan-Nya panah-panah-Nya, sehingga diserakkan-Nya mereka, kilat bertubi-tubi, sehingga dikacaukan-Nya mereka. 16Lalu kelihatanlah dasar-dasar lautan, dan tersingkaplah alas-alas dunia karena hardik-Mu, ya Tuhan, karena hembusan nafas dari hidung-Mu.”

Tahukah Anda tentang apa lagu ini Daud ciptakan? Perhatikan pendahuluannya: “Untuk pemimpin biduan. Dari hamba Tuhan, yakni Daud yang menyampaikan perkataan nyanyian ini kepada Tuhan, pada waktu Tuhan telah melepaskan dia dari cengkeraman semua musuhnya dan dari tangan Saul.”

Yang terjadi sebenarnya hanyalah sebuah pertempuran antara Daud dengan Raja Saul yang dimenangkan Daud. Tidak ada hujan es, tidak ada bara api. Laut tidak terbuka sehingga dasarnya terlihat. Tuhan tidak benar-benar turun dengan awan-awan untuk menghancurkan musuh-musuh Daud. Daud sedang menjelaskan dengan bahasa apokaliptik bahwa Allah telah memberinya kemenangan atas musuh-musuhnya.

Namun, ketika kita tiba di Perjanjian Baru, dengan keliru kita menganggap Allah menggunakan bahasa yang sama tapi tiba-tiba memiliki arti yang berbeda. Jika itu yang terjadi, tidakkah terpikir oleh Anda Ia akan -setidaknya- memberi petunjuk bahwa Ia sedang menjungkirbalikkan semua bahasa nubuat? Allah bukanlah pencipta kebingungan dan kekacauan!

Inilah bahasa yang Yesus gunakan untuk menggambarkan penghancuran Yerusalem, yang digenapi tahun 70 Masehi.

Matius 24:29-31:
29Segera sesudah siksaan pada masa itu, matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak bercahaya dan bintang-bintang akan berjatuhan dari langit dan kuasa-kuasa langit akan goncang. 30Pada waktu itu akan tampak tanda Anak Manusia di langit dan semua bangsa di bumi akan meratap dan mereka akan melihat Anak Manusia itu datang di atas awan-awan di langit dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. 31Dan Ia akan menyuruh keluar malaikat-malaikat-Nya dengan meniup sangkakala yang dahsyat bunyinya dan mereka akan mengumpulkan orang-orang pilihan-Nya dari keempat penjuru bumi, dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain.”

Kemudian Yesus melanjutkan,
32Tariklah pelajaran dari perumpamaan tentang pohon ara: Apabila ranting-rantingnya melembut dan mulai bertunas, kamu tahu, bahwa musim panas sudah dekat. 33Demikian juga, jika kamu melihat semuanya ini, ketahuilah, bahwa waktunya sudah dekat, sudah di ambang pintu. 34Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ANGKATAN INI [bukan angkatan yang akan hidup di masa depan, tapi angkatan yang hidup saat Yesus mengatakan hal ini] tidak akan berlalu, sebelum SEMUANYA INI TERJADI.

Prinsip utama lainnya dalam melakukan penafsiran disebut “The Analogy of Faith.” Artinya kita menafsirkan ayat Kitab Suci dengan ayat yang terkait. Jadi untuk memperjelas dengan bukti yang tak terbantahkan, perhatikan implikasi kedua bacaan mengenai kedatangan-Nya ini:

Matius 16:27-28:
Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia AKAN MEMBALAS SETIAP ORANG MENURUT PERBUATANNYA. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang TIDAK AKAN MATI sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya.

Bacaan ini menunjukkan beberapa rincian penting yang mendalam:
1. Segala hal yang diucapkan dalam ayat-ayat ini termasuk kedatangan membawa penghakiman, dengan malaikat dan awan-awan, akan digenapi dalam masa hidup sebagian orang yang hadir di sana.
[Lihat juga Yohanes 21:21-22 ketika Yesus berkata Yohanes masih hidup pada saat kedatangan-Nya]

2. Ayat-ayat ini bukan kata-kata nubuat tentang transfigurasi. Mereka semua hidup enam hari kemudian setelah peristiwa itu dan tidak ada malaikat dan tidak ada penghakiman. Sebaliknya, transfigurasi adalah sebuah ilustrasi Matius 16:27-28 yang menyingkapkan bahwa kedatangan Kristus akan ditandai sebagai waktu ketika Hukum Taurat (Musa) dan kitab para nabi (Elia) akan dihapus, membuka jalan bagi kemuliaan Kristus sendiri. Hal ini tentu saja digenapi tahun 70 Masehi.

3. Kedatangan Yesus akan terjadi dalam kemuliaan yang sama dengan kemuliaan Bapa, yaitu dengan cara yang sama yang Bapa lakukan di masa lalu — dengan menggunakan bahasa apokaliptik awan dan matahari, bulan dan bintang, dan memungkinkan bangsa lain untuk membawa penghakiman itu. Seperti yang kita lihat terjadi atas Babel, demikian juga yang terjadi atas Yerusalem.

4. Yesus secara langsung mengutip Yesaya 40:10-11 dan Yesaya 62:11 yang menempatkan konteksnya adalah setelah pelayanan Yohanes Pembaptis (Yesaya 40:3-6) dan berlaku untuk Yehuda. Dengan kata lain penggenapannya bukanlah peristiwa yang mencakup seluruh dunia, tapi wilayah lokal. Ini adalah kebenaran yang sangat penting yang harus dengan rendah hati diterima.

Markus 9:1:
Kata-Nya lagi kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat bahwa Kerajaan Allah telah datang dengan kuasa.”

1. Dalam ayat paralel ini dalam bahasa Yunani bahkan lebih jelas daripada ayat-ayat di Matius 16:27-28. Yesus mengatakan beberapa yang hadir di tempat itu masih akan ada hidup dan dapat menengok ke belakang untuk melihat bahwa Kerajaan itu (dengan awan-awan, penghakiman dan malaikat-malaikat seperti yang terlihat dalam ayat paralel) telah datang dengan kuasa.

2. Artinya peristiwa yang dinubuatkan Yesus bukanlah peristiwa global tahun 2015, tetapi peristiwa lokal yang terjadi dalam angkatan mereka.

Kata-kata yang Paulus gunakan dalam suratnya kepada jemaat Tesalonika adalah metafora nubuat-apokaliptik yang identik dengan yang digunakan Yesus untuk menggambarkan penghakiman-Nya atas Yerusalem.

Setelah memahami hal ini dalam konteksnya, mari kita kembali ke surat Paulus bagi jemaat Tesalonika:

16mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; 17sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan” (1 Tesalonika 4:16‭-‬17).

Ada frasa kunci yang akan kita bahas dalam artikel yang akan datang:
• mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit
• sesudah itu
• diangkat bersama-sama
• dalam awan
• di angkasa

Chuck Crisco: The Rapture: The Heart Attack Against the Church, Part 2; December 19, 2014.

http://www.anewdaydawning.com/blog-1/2014/12/19/the-rapture-the-heart-attack-against-the-church-part-2

Advertisements