RAPTURELESS BAB 11. KEMBALINYA YESUS, KEBANGKITAN ORANG MATI DAN PENGHAKIMAN TERAKHIR

image

Saya sering sekali menerima pertanyaan ini: “Jika tidak ada Aniaya Besar di masa depan dan tidak ada antikristus, apakah Anda percaya Yesus akan kembali?”

Jawaban saya, tentu saja ya! Yesus akan kembali lagi ke bumi ini suatu hari nanti.

Saya memahami bahwa banyak ayat yang berbicara tentang kedatangan Yesus di awan-awan adalah mengenai penghancuran Yerusalem tahun 70 Masehi. Namun ada sejumlah besar ayat juga yang berbicara tentang peristiwa yag terjadi di masa depan. Kendati saya percaya bagian terbesar nubuat Alkitab telah digenapi, saya melihat masih ada tiga peristiwa utama yang masih belum digenapi. Saya menyebutnya “The Big Three” (Tiga Besar): kembalinya Yesus secara fisik ke bumi, kebangkitan orang mati dan penghakiman terakhir.

Apa yang Anda baca dalam buku ini berada dalam kesepakatan sepenuhnya – bukan hanya dengan Kitab Suci- namun juga dengan kredo bersejarah Gereja. Para pemimpin Gereja mula-mula berkumpul di Nicea tahun 325 Masehi dan mereka mencapai kesepakatan berupa Kredo Nicea (Nicene Creed). Kita dapat melihat dalam kredo tersebut bahwa bapa-bapa gereja percaya Yesus akan kembali secara fisik ke bumi.

Kredo Nicea

Berikut adalah Kredo Nicea selengkapnya:

Aku percaya kepada satu Allah, Bapa Yang Mahakuasa, Pencipta langit dan bumi, segala kelihatan dan yang tak kelihatan.

Dan kepada satu Tuhan Yesus Kristus, Anak Allah Yang Tunggal, lahir dari Sang Bapa sebelum ada segala zaman. Allah dari Allah, Terang dari Terang. Allah Yang Sejati dari Allah Yang Sejati, diperanakkan, bukan dibuat; sehakekat dengan Sang Bapa yang dengan perantaraan-Nya segala sesuatu dibuat; yang telah turun dari sorga untuk kita manusia dan untuk keselamatan kita; dan menjadi daging oleh Roh Kudus dari anak dara Maria; dan menjadi manusia; yang disalibkan bagi kita di bawah pemerintahan Pontius Pilatus; menderita dan dikuburkan; yang bangkit pada hari ketiga, sesuai dengan isi kitab-kitab, dan naik ke sorga; yang duduk di sebelah kanan Sang Bapa dan akan datang kembali dengan kemuliaan untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati; yang kerajaan-Nya takkan berakhir.

Aku percaya kepada Roh Kudus, yang jadi Tuhan dan Yang menghidupkan, yang keluar dari Sang Bapa dan Sang Anak,yang bersama-sama dengan Sang Bapa dan Sang Anak disembah dan dimuliakan; yang telah berfirman dengan perantaraan para nabi. Aku percaya satu gereja yang kudus dan am dan rasuli. Aku mengaku satu baptisan untuk pengampunan dosa. Aku menantikan kebangkitan orang mati dan kehidupan pada zaman yang akan datang. Amin.

Kita melihat tiga hal dalam satu kalimat yang tercetak dengan huruf miring: Dia akan kembali lagi, Dia akan menghakimi, dan penghakiman-Nya akan terjadi atas orang yang hidup dan yang mati (yang merujuk kepada kebangkitan). Ada tiga hal yang oleh bapa-bapa gereja tahun 325 Masehi dipercaya sebagai peristiwa masa depan yang belum digenapi saat ini.

Kembalinya Kristus

Walaupun Yesus menggunakan frasa Ibrani “datang di atas awan-awan” sebagai gambaran penghakiman dan penghancuran yang Allah datangkan atas Yerusalem tahun 70 Masehi, Yesus juga bernubuat bahwa Dia akan kembali secara fisik suatu hari di masa depan. Sebagian besar ayat-ayat Perjanjian Baru tentang kedatangan Yesus adalah mengenai penghancuran tahun 70 Masehi. Harap diingat bahwa orang Yahudi tahun 30 Masehi jauh lebih fokus kepada penghancuran Bait Allah yang akan segera terjadi, akhir persembahan korban dan penghancuran Kota Suci. Gagasan Yesus akan kembali secara fisik suatu hari nanti bukanlah fokus utama mereka. Yang ada di benak Gereja mula-mula adalah bagaimana bertahan dalam penganiayaan dari orang Yahudi dan menanti-nantikan kedatangan Kristus untuk menghukum penganiaya mereka.

Namun, beberapa ayat memang berbicara mengenai kembalinya Yesus ke bumi secara fisik di masa depan.
Berikut adalah beberapa di antaranya:

Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka. Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka, dan berkata kepada mereka: “Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga” (Kisah Para Rasul 1:9‭-‬11).

“Demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia” (Ibrani 9:28).

Dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia [the blessed hope] – penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus (Titus 2:13).

Pada saat kembalinya Kristus, dua peristiwa berikut ini akan terjadi: kebangkitan orang mati dan penghakiman terakhir.

Kebangkitan Orang Mati

“Janganlah kamu heran akan hal itu, sebab saatnya akan tiba, bahwa semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya, dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum” (Yohanes 5:28‭-‬29).

Akan tiba waktunya -suatu hari di masa depan kita- seluruh kuburan akan dikosongkan dan semua yang mati akan dibagi menjadi dua kelompok: yang baik dan yang jahat, yang akan hidup kekal dan yang jahat akan dihukum. Hal ini biasanya disebut sebagai penghakiman terakhir (final judgement); yang akan saya bahas lebih lanjut di bagian selanjutnya. Saat ini, perhatikan kebangkitan terjadi lebih dulu baru pemisahan. Dalam dua ayat berikut, kita bisa melihat lebih detil apa yang terjadi atas orang percaya ketika mereka dibangkitkan untuk menjalani proses pemisahan.

“Selanjutnya kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan. … Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit” (1 Tesalonika 4:13‭, ‬16).

Ketika Tuhan bersuara dan sangkakala-Nya berbunyi, mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit. Rasul Paulus menjelaskan dengan lebih detil dalam ayat berikut:

“So will it be with the resurrection of the dead. The body that is sown is perishable, it is raised imperishable; it is sown in dishonor, it is raised in glory; it is sown in weakness, it is raised in power; it is sown a natural body, it is raised a spiritual body. …
I declare to you, brothers and sisters, that flesh and blood cannot inherit the kingdom of God, nor does the perishable inherit the imperishable. Listen, I tell you a mystery: We will not all sleep, but we will all be changed— in a flash, in the twinkling of an eye, at the last trumpet. For the trumpet will sound, the dead will be raised imperishable, and we will be changed. For the perishable must clothe itself with the imperishable, and the mortal with immortality. When the perishable has been clothed with the imperishable, and the mortal with immortality, then the saying that is written will come true: “Death has been swallowed up in victory.”
“Where, O death, is your victory?
Where, O death, is your sting?” (1 Corinthians 15:42‭-‬44‭, ‬50‭-‬55 New International Version).

“Demikianlah pula halnya dengan kebangkitan orang mati. Tubuh yang dikuburkan adalah tubuh yang bisa binasa, dibangkitkan sebagai tubuh yang tidak bisa binasa. Dikuburkan dalam kehinaan, dibangkitkan dalam kemuliaan. Dikuburkan dalam kelemahan, dibangkitkan dalam kekuatan. Yang dikuburkan adalah tubuh alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah. …
Kunyatakan kepadamu, saudara-saudara, bahwa daging dan darah tidak dapat mewarisi Kerajaan Allah, demikian pula yang binasa tidak dapat mewarisi yang tidak binasa. Dengarkan, aku akan memberitahumu suatu rahasia: kita tidak akan semuanya mati, tetapi kita semuanya akan diubah -secepat kilat, dalam sekejap mata, pada waktu bunyi nafiri yang terakhir. Sebab nafiri akan berbunyi dan orang-orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa, dan kita semua akan diubah. Karena yang dapat binasa ini harus mengenakan yang tidak dapat binasa, dan yang dapat mati ini harus mengenakan yang tidak dapat mati. Ketika yang dapat binasa ini sudah mengenakan yang tidak dapat binasa dan yang dapat mati ini sudah mengenakan yang tidak dapat mati, maka akan genaplah firman Tuhan yang tertulis: “Maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?” (1 Korintus 15:42‭-‬44‭, ‬50‭-‬55).

Orang percaya akan menjadi immortal (tidak dapat mati), dan kita akan memiliki tubuh yang tidak dapat binasa. Hal ini sama dengan yang terjadi pada Yesus di Gunung Transfigurasi atau setelah kebangkitan-Nya. Orang yang mati dalam Kristus akan diubah dalam sekejap mata (sangat cepat). Kematian akan ditelan oleh kemenangan.

Sekarang kita lihat peristiwa ketiga dalam Tiga Besar.

Penghakiman Terakhir

Banyak ayat Perjanjian Baru yang mengajarkan dengan jelas penghakiman terakhir, termasuk kata-kata Yesus ini:

“Dan Ia telah memberikan kuasa kepada-Nya untuk menghakimi, karena Ia adalah Anak Manusia. Janganlah kamu heran akan hal itu, sebab saatnya akan tiba, bahwa semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya, dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum” (Yohanes 5:27‭-‬29).

Di sini kita dapat melihat kepada Yesus telah diberikan kuasa untuk menghakimi. Paulus mengkonfirmasi hal ini dalam ucapannya kepada orang-orang Athena:

“Karena Ia telah menetapkan suatu hari, pada waktu mana Ia dengan adil akan menghakimi dunia oleh seorang yang telah ditentukan-Nya, sesudah Ia memberikan kepada semua orang suatu bukti tentang hal itu dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati.” Ketika mereka mendengar tentang kebangkitan orang mati, maka ada yang mengejek, dan yang lain berkata: “Lain kali saja kami mendengar engkau berbicara tentang hal itu” (Kisah Para Rasul 17:31‭-‬32).

Ini adalah peneguhan bahwa Yesus akan menjadi Hakim, namun juga terdapat suatu bukti bahwa Yesus adalah Allah yakni fakta Dia dibangkitkan dari kematian. Penghakiman terakhir ini akan terjadi ketika Yesus datang dalam kemuliaan-Nya:

“Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya. … Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal” (Matius 25:31‭-‬33‭, ‬46).

Kedatangan Yesus dalam kemuliaan-Nya berbeda dengan idiom Ibrani “datang di awan-awan,” yang merujuk kepada penghancuran suatu bangsa atau kota. Saat Yesus datang dalam kemuliaan-Nya, Ia akan datang sebagai Hakim di takhta, membawa penghakiman terakhir.

Penting juga dicatat bahwa kedatangan Yesus dalam Matius 25 tidak untuk menghakimi bangsa. Frasa “semua bangsa” mengindikasikan bahwa semua orang akan dikumpulkan di hadapan-Nya, tetapi Hakim akan memisahkan seorang demi seorang. Ada orang yang telah menciptakan doktrin aneh dengan mengatakan Allah akan memisahkan “bangsa domba dan kambing,” tetapi tidak demikian disebutkan dalam Kitab Suci. Pemisahan ini adalah pemisahan individu. Individulah yang diperhitungkan di mata Allah, bukan bangsa. Jika kita membaca Matius 25 dengan teliti, kita akan melihat bahwa bangsa domba dan bangsa kambing tidak disebutkan dalam bacaan ini. Berikut adalah lima pemikiran mengenai pengajaran bangsa domba dan kambing:

1. Ya, adalah amanat bagi kita untuk memuridkan bangsa-bangsa (lihat Matius 28:19).

2. Ya, amanat itu akan terlaksana dan berhasil (lihat Wahyu 11:15).

3. Tidak, bangsa Kristen bukan berarti “bangsa domba.” Matius 25 menggunakan kata “ethnos” dalam menyebutkan bangsa. Artinya domba dan kambing adalah pembagian atas individu-individu dari seluruh etnisitas, bukan pembagian berdasarkan kebangsaan/kewarganegaraan.

4. Ya, kita berdoa agar diberikan bangsa-bangsa (lihat Mazmur 2:8). Namun bangsa-bangsa dalam ayat ini memiliki akar kata yang sama seperti etnisitas. Allah tidak mencari negara domba, Dia mencari etnis apapun untuk dimuridkan sehingga Kerajaan-Nya penuh dengan “domba.”

5. Pasti ada yang bertanya kepada saya, “Mengapa hal ini penting? Toh tidak ada bedanya?” Karena itulah hal ini penting. Selama bertahun-tahun, saya telah mendengar pengajar-pengajar “kenabian” mengatakan negara kita (Amerika Serikat) adalah “bangsa domba,” mengingatkan kita agar tetap dalam jalur, sebab jika tidak kita akan menjadi “bangsa kambing.” Kata-kata ini membuat saya berpikir tentang implikasi pengajaran ini:
• Bagaimana bisa sebuah bangsa disebut “bangsa kambing”? Apakah yang 51 persen penduduknya bukan Kristen?

• Bagaimana jika 51 persen populasi adalah orang Kristen? Apakah artinya itu kita bangsa domba?

• Denominasi apa yang termasuk 51 persen itu, agar kita tergolong bangsa domba?

• Bagaimana jika Anda adalah domba yang tinggal di negara kambing? Apa yang akan terjadi pada Anda pada hari penghakiman?

• Jika saya adalah orang Kristen yang tinggal di negara kambing pada hari penghakiman, akankah Allah mengirim saya ke neraka? (Tentu saja, saya berasumsi bahwa tidak satupun pengajar-pengajar ini yang mengatakan demikian, tetapi jika penghakiman terakhir dilakukan berdasarkan bangsa -bukan individu- lalu mengapa ada ketidaksepahaman satu sama lain?)

• Jika penghakiman terakhir didasarkan kepada kebangsaan/kewarganegaraan, tidakkah sebaiknya saya memiliki kewarganegaraan ganda, sebagai persiapan menjelang judi “roulette” domba atau kambing yang akan Allah lakukan pada hari penghakiman?

Kesimpulan yang saya dapat mengenai pengajaran bangsa domba dan kambing adalah Allah tidak menghiraukan batas-batas negara. Perjanjian-Nya yang baru (lihat Ibrani 8) tidak ada hubungannya dengan bangsa/negara, demikian pula penghakiman terakhir. Pada penghakiman terakhir setiap orang akan berdiri di hadapan Allah sebagai individu, tak peduli di negara mana kita tinggal. Tentu saja, niat baik pengajaran tentang bangsa/negara domba dan kambing adalah bahwa kita dipanggil untuk memuridkan semua bangsa, yang dengannya saya setuju.

Kita bisa menemukan penegasan lebih jauh bahwa penghakiman terakhir adalah atas individu (bukan atas bangsa) dalam bacaan berikut:

“Entahkah orang membangun di atas dasar ini dengan emas, perak, batu permata, kayu, rumput kering atau jerami, sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak. Karena hari Tuhan akan menyatakannya, sebab ia akan nampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu. Jika pekerjaan yang dibangun seseorang tahan uji, ia akan mendapat upah. Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian, tetapi ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api” (1 Korintus 3:12‭-‬15).

Penghakiman terakhir akan memisahkan orang benar dari orang jahat, dan orang jahat akan menerima hukuman mereka. Orang benar juga akan menerima sesuatu, yakni upah (reward), yang bervariasi. Orang Kristen biasanya segan membicarakan upah, namun Yesus dan Gereja mula-mula tidak. Dalam bacaan di atas, Paulus berbicara tentang pemberian upah kepada orang Kristen pada saat penghakiman terakhir. Bahkan, menurut Paulus, hal pemberian upah ini harusnya senantiasa kita ingat.

Pada penghakiman terakhir, seluruh umat manusia akan dibangkitkan dan berdiri di hadapan takhta Allah. Lalu setiap orang akan melewati proses pemilahan-pemisahan, benar atau jahat, domba atau kambing. Domba yang benar akan melewati penilaian selanjutnya, untuk menentukan upah yang layak mereka terima. Digambarkan setiap orang memiliki tumpukan kayu, rumput kering dan jerami; dengan emas, perak dan batu permata tercampur di dalamnya. Saya membayangkan setiap orang percaya akan berdiri dengan sebuah tumpukan, yang menggambarkan kehidupan orang yang bersangkutan; lalu seorang pelari datang membawa obor dan menyalakan api atas tumpukan masing-masing orang. Ketika tumpukan itu terbakar, semua waktu yang disia-siakan dalam hidup seseorang akan terbakar seperti kayu, rumput kering dan jerami. Api kemudian padam, tumpukan itu terbakar seluruhnya dan yang tersisa adalah tumpukan kecil abu. Di antara abu itu ada emas, perak dan batu permata. Itu melambangkan upahnya.

Ada yang mengajarkan setiap perilaku dosa dalam hidup orang Kristen akan diputar layaknya film dalam sebuah layar raksasa di Sorga sehingga semua penghuninya bisa menyaksikan; lalu Allah akan mengampuni orang Kristen itu, kemudian memperbolehkannya masuk sorga. Pengajaran seperti ini adalah pengajaran yang jahat dan bodoh yang menggunakan rasa malu untuk mencegah orang Kristen berbuat dosa. Menurut Alkitab, Allah telah mengampuni kita dan memilih tidak mengingat-ingat lagi pelanggaran kita (lihat Ibrani 8:12; 10:17). Gagasan ini muncul dari era kegelapan, bukan dari Alkitab. Akan ada penghakiman atas orang Kristen, tetapi bukan untuk membuat malu dan mendatangkan rasa bersalah atas dosa, yang sudah diampuni dan tidak diingat-ingat lagi oleh Allah. Satu-satunya alasan melakukan penghakiman atas orang Kristen adalah untuk membagikan upah yang beragam.

“Karena itu, janganlah menghakimi sebelum waktunya, yaitu sebelum Tuhan datang. Ia akan menerangi, juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati. Maka tiap-tiap orang akan menerima pujian dari Allah” (1 Korintus 4:5).

Penghakiman terakhir atas orang Kristen bukanlah masalah keselamatan; tetapi masalah seberapa besar atau kecil upah yang diterima oleh seorang Kristen. Seperti Paulus tuliskan di bagian lain,

“Tetapi engkau, mengapakah engkau menghakimi saudaramu? Atau mengapakah engkau menghina saudaramu? Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah. … Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah” (Roma 14:10‭, ‬12).

Sekali lagi, pertanggungjawaban itu adalah mengenai upah, bukan mengenai rasa malu dan penghukuman. Kendati akan ada orang Kristen yang mendapat hanya sedikit pujian saat berdiri di depan takhta Allah, hal itu bukanlah tentang rasa malu dan penghukuman. Tentu saja, akan lebih baik menjalani kehidupan yang akan mendapat upah dari Allah berupa emas, perak dan batu permata ketimbang kehidupan yang akan hangus terbakar tanpa menyisakan apapun kecuali tumpukan abu.

Saat berpikir mengenai penghakiman terakhir, ayat ini yang terlintas di benak banyak orang:

“Lalu aku melihat suatu takhta putih yang besar [great white throne] dan Dia yang duduk di atasnya. Dari hadapan-Nya lenyaplah bumi dan langit dan tidak ditemukan lagi tempatnya. Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu. Maka laut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan maut dan kerajaan maut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan mereka dihakimi masing-masing menurut perbuatannya. Lalu maut dan kerajaan maut [Hades] dilemparkanlah ke dalam lautan api. Lautan api itulah kematian yang kedua. Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu” (Wahyu 20:11‭-‬15).

Ayat-ayat ini adalah bacaan yang sangat deskriptif dan memberikan detil gambaran penghakiman terakhir, yang pada dasarnya merangkum ayat-ayat yang kita bahas sebelumnya. Singkatnya, suatu hari Yesus akan kembali dalam kemuliaan bersama malaikat-malaikat-Nya dan membawa penghakiman berdasarkan tertulis atau tidaknya nama seseorang di dalam buku kehidupan Anak Domba. Orang yang namanya tidak ada dalam kitab kehidupan akan dilemparkan ke dalam lautan api. Orang yang namanya ada dalam kitab kehidupan akan melihat kehidupannya diuji dengan api entahkan itu kayu, jerami dan rumput kering, atau emas, perak dan batu permata. Lalu setiap orang Kristen akan menerima upah dari Allah. Hal inilah yang akan terjadi di masa depan yang menggerakkan bagaimana seharusnya kita memilih seperti apa kita hidup.

Poin-Poin Bab 11

• Terdapat tiga peristiwa besar yang belum digenapi: kembalinya Yesus secara fisik, kebangkitan orang mati, dan penghakiman terakhir.

• Di masa yang akan datang, saat Kristus kembali, semua orang mati akan dibangkitkan untuk dihakimi. Setelah kebangkitan mereka, orang-orang yang benar dan jahat akan dipisahkan.

• Saat kebangkitan orang mati terjadi, orang percaya akan menerima tubuh yang tidak akan binasa.

• Yesus akan menjadi hakim dalam penghakiman yang terakhir dan Dia akan menghakimi individu demi individu, bukan bangsa demi bangsa.

• Saat penghakiman terakhir, orang jahat (yang tidak percaya) akan menerima penghukuman sedangkan orang benar (orang Kristen) akan menerima upah.

• Orang Kristen akan diberi upah sesuai dengan bagaimana mereka menjalani hidupnya dalam Kerajaan. Namun, Allah mengampuni semua orang yang bertobat, bahkan orang-orang yang menerima upah kecil atau tidak menerima upah sama sekali. Tujuan-Nya melakukan ini bukanlah untuk mempermalukan atau menghukum, dan dosa-dosa kita tidak akan dipertontonkan di layar raksasa yang bisa disaksikan semua orang.

Pertanyaan untuk Diskusi

1. Apakah Alkitab mengajarkan kembalinya Yesus di masa depan?

2. Apakah sejarah Gereja menegaskan hal ini? Apakah Jonathan Welton menegaskan hal ini?

3. Saat Yesus kembali, dua peristiwa apa lagi yang terjadi?

4. Pernahkah Anda mendengar pengajaran tentang bangsa domba dan bangsa kambing?

5. Apakah Anda memahami domba dan kambing adalah individu? Mana yang masuk akal dan mengapa?

Versi Bahasa Indonesia dapat diunduh secara gratis lewat tautan berikut:
https://www.dropbox.com/s/fuzwpiitg3gjc9t/RAPTURELESS%201st%20Edition%20Jonathan%20Welton.PDF?dl=0

Versi Bahasa Inggris dapat diunduh secara gratis lewat tautan berikut:
Raptureless: First Edition (Free)

Advertisements