RAPTURELESS: BAGAIMANA KITA BISA TIBA DI SINI?

image

Saat saya masih di awal masa remaja, kakak saya bekerja di sebuah toko buku Kristen. Dia sering membawa pulang film Kristen terbaru dan kami bisa menonton film-film itu jauh sebelum orang lain dapat menontonnya. Saya ingat ketika Veggie Tales pertama kali muncul [serial animasi anak-anak yang menampilkan tokoh sayur-sayuran dalam kisah-kisah Kristen]; suatu era baru yang menakjubkan. Akhirnya dalam episode Perang Yerikho ada salju yang melumer! Ini adalah kemajuan besar dari video Superbook dan McGee and Me saat saya bertumbuh, maaf saya melantur.
 

Saya ingat suatu ketika kakak saya pulang membawa kaset video The Thief in the Night. Film yang terlalu berat bagi remaja berusia empat belas tahun! Selama bertahun-tahun, ada satu adegan film tersebut yang melekat dalam ingatan saya. Saya ingat seorang bertubuh besar yang tampak seperti Santa dan mengenakan terusan (overall), dengan bagan/diagram akhir zaman yang sangat besar yang tertutupi naga dan binatang Kitab Wahyu. Saya baru saja menyaksikan kembali seluruh film The Thief in the Night di YouTube (Santa, naga, dan semuanya), dan apa yang saya tonton tidak jauh berbeda dengan apa yang saya ingat.

Kendati tidak lagi umum digunakan saat ini, bagan akhir zaman dulu biasa digunakan untuk menyampaikan topik akhir dunia. Setiap gembala dan pengajar memiliki bagan berisi pandangan pribadinya. Yang paling terkenal adalah Clarence Larkin’s Charts (dari awal 1900-an).

Saat mengenang kembali, saya sangat bersyukur keluarga saya tidak pernah merayakan Natal dengan tradisi Santa Klaus; sebab jika tidak, saya pasti berpikir pria besar dari film akhir zaman itu turun lewat cerobong asap rumah saya bersama dengan naga, binatang dan bagannya.

Bertahun-tahun kemudian, Roh Kudus mulai menyingkapkan kebenaran tentang akhir zaman kepada saya. Mengingat latar belakang unik keluarga “pan-millenial” dan film Kristen yang menakutkan, saya rasa Roh Kudus pasti tersenyum bangga karena sudah melakukan hal yang hebat.

Saya memulai studi saya tentang akhir zaman dengan mempelajari sejarah beragam pandangan akhir zaman. Untuk memahami suatu sistem keyakinan, sangatlah membantu jika kita memulai dengan menyelidiki sejarah yang melatarbelakanginya. Dalam studi saya, saya menemukan sepanjang sejarah Gereja mayoritas pengajar Alkitab dan ahli teologi memiliki pandangan akhir zaman yang mirip. Namun pada abad lalu, Gereja barat telah terpecah karena mengajarkan pandangan akhir zaman yang berbeda-beda. Sederhananya, sejak tahun 30 Masehi hingga tahun 1500-an, mayoritas Gereja memiliki pandangan akan masa depan yang optimistik – bahwa Kerajaan Allah sedang bertumbuh di bumi dan akan terus bertumbuh hingga kedatangan akhir Kristus.

Perpecahan pandangan diawali oleh peristiwa reformasi tahun 1500-an. Hal ini kemudian berlanjut dengan kepercayaan Gereja modern terhadap pengangkatan, antikristus sebagai penguasa tunggal dunia, dan masa tujuh tahun aniaya global. Sebelum tahun 1500-an, tidak satupun dari ketiga poin ini dipahami sebagaimana ketiganya diajarkan hari ini. Dalam studi saya, saya kemudian mengerti bahwa pemahaman modern lebih didasarkan pada tradisi tahun 1800-an, bukannya pada pandangan ortodoks yang memiliki dasar sejarah dan alkitabiah. Seperti akan saya perlihatkan, bapa-bapa Gereja pada 1500 tahun pertama memiliki pemahaman alkitabiah yang sangat berbeda dengan pemahaman modern.

Lalu, kapan perbedaan itu mulai terjadi?

Perkembangan Sejarah

Reformasi pada tahun 1500-an telah mengubah banyak hal, dan tanpa disadari pada akhirnya juga mengubah keyakinan banyak Gereja mengenai akhir zaman. Pada awal 1500-an, Martin Luther memprotes Gereja Roma Katolik, dan dalam semangat protesnya, ia menyebut Gereja Katolik Roma sebagai Pelacur Babel dan Binatang, Gary DeMar memberikan gambaran besar situasi saat itu kepada kita:

Para Reformator, hampir tanpa kecuali, percaya bahwa sistem kepausan (papal system) adalah antikristus, dengan tokoh paus sebagai tokoh yang memerankan seseorang yang Paulus sebut dalam 2 Tesalonika 2 sebagai si Pendurhaka/Manusia Durhaka. Pandangan paus antikristus ini dituliskan dalam pengakuan iman pada masa itu. The Westminster Confession of Faith (1643-47) menyatakan bahwa “Tidak ada kepala Gereja selain Tuhan Yesus Kristus; tidak juga Paus Roma dalam hal apapun juga; adalah Antikristus, manusia durhaka, yang meninggikan dirinya dalam Gereja menantang Kristus, dan menyebut dirinya Allah” (25.7)

Untuk melawan pandangan ini, pada tahun 1585 seorang biarawan ordo Jesuit bernama Francisco Ribera menerbitkan sebuah karya 500 halaman yang menempatkan Daniel 9:24-27, Matius 24 dan Wahyu 4-19 di masa depan. Ini adalah pertama kalinya pengajaran jenis ini diajarkan, dan telah menjadi dasar banyak pandangan akhir zaman modern.

[Penting dicatat bahwa Luther salah menggunakan julukan itu, yang sebenarnya sudah digenapi pada abad pertama. Namun Ribera juga tidak menghadirkan pandangan historis yang dominan. Doktrin apapun yang tidak dihasilkan dari studi mendalam, melewati banyak perdebatan, banyak doa dan pimpinan Roh Kudus, isinya perlu dicurigai. Hal ini benar terutama jika doktrin tersebut dimunculkan sebagai respon reaktif dan defensif. Pandangan akhir zaman yang dominan sebelum tahun 1500-an adalah sebagian besar nubuat dalam Perjanjian Baru telah digenapi dalam penghancuran Yerusalem tahun 70 Masehi. Beberapa pengajar modern berusaha menentang kebenaran ini dengan mengatakan bahwa seorang biarawan Katolik bernama Luis de Alcazar adalah yang pertama kali menciptakan sudut pandang ini sebagai reaksi terhadap Luther. Memang benar Luis menulis sebuah buku mengenai nubuat yang digenapi tahun 70 Masehi, namun itu semata merangkum pandangan standar dan dominan akhir zaman dalam sebuah buku. Buku ini ditulis bukan sebagai penemuan baru, berbeda dengan buku yang ditulis Ribera, yang memuat hal baru dan merupakan tulisan reaktif. Lihat Varner, Whose Right It Is, Chapter 7, “A Fresh Historical Look at Dispensationalism.”]

Arti penting penafsiran baru ini adalah, bukannya melihat ayat-ayat tersebut sudah digenapi, Ribera mengatakan ayat-ayat itu masih menunggu penggenapan di masa depan.

Secara historis, pandangan Ribera tidak disambut baik. Bahkan tulisannya sempat menghilang sampai tahun 1826, saat Samuel Maitland, seorang pustakawan Keuskupan Agung Canterbury, menemukan manuskrip Ribera yang terlupakan dan mempublikasikannya untuk kepentingan dan memuaskan keingintahuan publik.

Ketika buku itu muncul kembali, sekelompok orang ultra-konservatif yang dipimpin oleh John Darby, mulai mempelajari buku Ribera dengan serius dan sangat terpengaruh oleh pemikiran ini. John Darby dan rekannya Edward Irving menjadi sangat vokal menyuarakan teologi baru tentang akhir zaman ini dan dalam waktu singkat mampu mengumpulkan pengikut. Pengikut mereka yang paling terkenal adalah C. I. Scoffield, yang di kemudian hari mempublikasikan konsep ini dalam Scoffield Reference Bible-nya yang terkenal.

Scoffield Bible adalah Alkitab paling populer pada masanya karena yang pertama memiliki commentary lengkap. Dengan cepat Scoffield Bible menjadi kitab standar bagi mahasiswa seminari pada masa itu. Hal ini berlangsung hingga tahun 1948 saat munculnya Gerakan Hujan Akhir (Latter Rain Movement), yang tidak setuju dengan klaim Scoffield Reference Bible bahwa karunia-karunia Roh sudah berhenti. Kaum Pentakosta melawan balik bagian commentary tentang berhentinya karunia Roh, namun tetap menelan mentah-mentah pengajaran akhir zaman Ribera tanpa menyadari kesalahannya.

Tahun 1961, Finis Dake mempublikasikan Dake’s Annotated Reference Bible, yang masih mengusung Darbyisme yang sama dengan Scoffield Bible, demikian pula MacArthur Study Bibles yang meneruskan tradisi Darbyisme.

Jadi kita lihat bahwa ketika Martin Luther menentang Gereja Katolik Roma, seorang biarawan bereaksi dengan menulis doktrin baru. Hal ini memulai kepercayaan bahwa beberapa nubuat dalam Alkitab belum digenapi!

Penempatan Waktu Doktrin Baru

Perlu pula diperhatikan penempatan waktu pelayanan pengajaran John Darby. Selama tahun 1830-an, Roh Kudus, melalui Second Great Awakening, menggerakkan gereja-gereja di Amerika untuk hidup dengan gairah dan semangat yang besar. Pada saat yang sama, Setan juga dengan gigih melepaskan pengajaran palsu dan menyimpang ke dunia. Sejak akhir 1700-an hingga akhir 1800-an, sejumlah pengajaran sesat utama disusupkan ke dalam Gereja. Contohnya:

• Joseph Smith mendirikan Mormonisme tahun 1830 (di Palmyra, New York, sebuah daerah sub-urban Rochester, New York, di saat Charles Finney mengadakan pertemuan revivalnya pada saat yang sama).

• Charles Taze Russell mendirikan Jehovah’s Witnesses akhir 1870-an.

• Fox Sisters mendirikan Spiritualisme tahun 1848 (yang kemudian menjadi dasar the New Age Movement).

• Gereja Unitarian pertama didirikan di Boston tahun 1785.

• Mary Baker Eddy mendirikan bidah Christian Science tahun 1879 (yang adalah perpaduan Swedenborgisme, Mermerisme dan Metafisika).

Dalam periode ini, John Nelson Darby juga memperkenalkan pengajarannya tentang akhir zaman. Karena C. I. Scoffield mempublikasikan keyakinan Darby dalam catatan commentary Scoffield Bible, Darbyisme telah menjadi pengajaran utama akhir zaman yang dianut banyak pengajar modern. Namun banyak orang bahkan tidak pernah mempertanyakan dari mana keyakinan itu berasal.

Seratus Tahun Terakhir

Setelah Scoffield Reference Bible dipublikasikan tahun 1909, dunia mengalami masa-masa sangat traumatis: Perang Dunia I, Depresi Besar, dan Perang Dunia II. Saat masa empat puluh tahun itu berlalu, Scoffield-isme yang penuh pesimisme telah berakar sangat dalam di benak orang Amerika.

Di samping itu, Darbyisme telah mendorong apatisme di kalangan gereja Eropa saat Hitler dan Mussolini berkuasa. Darbyisme pada dasarnya mengajarkan orang-orang untuk mempercayai, “Orang-orang ini sepertinya antikristus; karena itu, kita sebaiknya membiarkan mereka berkuasa karena akan mempercepat pengangkatan kita.” Sebagai contoh, sebuah buklet yang dipublikasikan tahun 1940 mengidentifikasi Mussolini sebagai antikristus, menyatakan bahwa ia menggenapi empat puluh sembilan nubuat tentang antikristus. Tentang era ini Gary DeMar mengatakan:

“Banyak yang akan mengingat pengajaran yang meluas selama era Perang Dunia II yang mengatakan Mussolini atau Hitler adalah Antikristus. Karena slogan IL DUCE [The Leader-Sang Pemimpin, lengkapnya Sua Eccellenza Benito Mussolini, Capo del Governo, Duce del Fascismo e Fondatore dell’Impero atau His Excellency Benito Mussolini, Head of Government, Duce of Fascism and Founder of the Empire] sering digunakan oleh Mussolini, dan karena nilai numerik Romawi slogan itu adalah 666, banyak yang percaya pada kesamaan itu.”

Dwight Wilson, penulis Armageddon Now! dengan meyakinkan menunjukkan bahwa dispensasional premilenialisme (terutama Darbyisme) mendukung kebijakan “angkat tangan” terkait penyiksaan Nazi terhadap orang Yahudi selama Perang Dunia II. Sebab, terkait nubuat Alkitab pandangan dispensasionalisme beranggapan bahwa “bangsa-bangsa lain diijinkan menindas Israel sebagai hajaran atas dosa-dosa nasional mereka” sehingga tidak ada yang perlu dilakukan untuk penentang penindasan itu. Wilson melanjutkan:

“Komentar lain terkait anti-Semitisme Eropa secara umum menggambarkan perkembangan ini sebagai rencana Allah yang sedang berjalan bagi bangsa ini; yakni suatu “Kilasan Aniaya atas Israel.” Premilenialis menganggap Aniaya Besar sebagai “masa kesusahan Yakub.” Sehingga mereka menduga, “Peristiwa berikutnya dalam sejarah Israel dapat diringkas dalam tiga kata: pemurnian melalui aniaya.” Terlihat jelas bahwa sekalipun pemurnian ini adalah bagian dari kutuk, Allah tidak bermaksud orang Kristen terlibat di dalamnya. Jelas juga bahwa implikasi Dia bermaksud orang Jerman terlibat di dalamnya (terlepas dari fakta hal itu akan mendatangkan hukuman bagi mereka) dan setiap seruan moral menentang Jerman akan berarti penolakan terhadap rencana Allah. Dalam sistem fatalistik yang demikian, menentang Hitler sama dengan menentang Allah. . . .”

Permohonan dari masyarakat Eropa untuk menolong pengungsi Yahudi seperti berteriak kepada orang tuli, dan “Angkat Tangan” berarti tidak ada bantuan. Jadi bukannya secara teologis lebih memihak kepada Yahudi ketimbang grup Kristen lainnya, kelompok premilenialis juga bersikap tak acuh – karena peninggalan anti-Semitisme, karena penindasan itu sudah dinubuatkan, karena itu akan mendorong imigrasi ke Palestina, karena itu tampaknya mengawali Aniaya Besar, dan karena itu adalah tanda ajaib pengharapan indah yang dinantikan.

Tahun 1948 Israel mendapatkan kemerdekaannya, yang membuat banyak orang mengatakan Matius 24:32-33 menunjukkan bahwa jika Israel menjadi negara kembali maka akhir zaman sudah dekat.

Tariklah pelajaran dari perumpamaan tentang pohon ara: Apabila ranting-rantingnya melembut dan mulai bertunas, kamu tahu, bahwa musim panas sudah dekat. Demikian juga, jika kamu melihat semuanya ini, ketahuilah, bahwa waktunya sudah dekat, sudah di ambang pintu” (Matius 24:32‭-‬33).

Dalam ayat berikutnya, dikatakan, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya angkatan ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya ini terjadi” (Matius 24:34). Karena Alkitab mengajarkan satu angkatan adalah empat puluh tahun, jutaan orang Kristen mempercayai dan mengajarkan pengangkatan akan terjadi tahun 1988. Hal ini membuat Edgar Whisenant berhasil menjual 4,5 juta kopi bukunya, 88 Reasons Why Jesus Will Return in 1988′. Whisenant dikutip mengatakan, “Saya salah hanya jika Alkitab salah; dan ini saya katakan kepada semua pengkhotbah di kota ini,” dan “Seandainya ada seorang raja di negeri ini dan saya bisa bertaruh dengan hidup saya, saya akan mempertaruhkannya pada Rosh Hashanah [tahun baru Yahudi] 1988.”

Ramalan Whisenant dianggap serius oleh sebagian komunitas Kristen evangelikal/injili. Saat hari yang dimaksud mendekat, acara regular pada siaran Kristen Trinity Broadcast Network (TBN) diinterupsi untuk memberikan petunjuk khusus persiapan menjelang pengangkatan. Ketika pengangkatan yang diramalkannya tidak terjadi Whisenant menindaklanjuti dengan menulis buku berisi ramalan pengangkatan tahun 1989, 1993, 1994 dan 1997.

Pada titik ini, beberapa pengajar modern mulai mendefinisi ulang apa arti “angkatan.” Mereka mengatakan jam mulai berdetak tahun 1948, tetapi angkatan empat puluh tahun adalah keliru, sekarang mereka mengatakan satu angkatan adalah tujuh puluh tahun bahkan seratus tahun.

Tahun 1970, Hal Lindsey menulis The Late Great Planet Earth. Dia berhasil menjual sekira 35 juta kopi bukunya dan sangat memberi pengaruh kepada para gembala dan pemimpin Jesus People Movement pada awal 1970-an. Buah abadi buku ini adalah munculnya suatu angkatan yang lebih mempercayai mitologi Lindsey daripada memahami apa yang sebenarnya Alkitab dan sejarah ajarkan. Dalam bukunya, Hal Lindsey menyimpulkan, karena Amerika Serikat tidak disebutkan dalam Daniel atau Wahyu, negara ini tidak akan menjadi pemeran utama saat Aniaya Besar terjadi. Berdasarkan penafsirannya atas beberapa ayat Alkitab, dia menduga Masyarakat Ekonomi Eropa-MEE (European Economic Community-EEC, sekarang Uni Eropa/European Union) akan menjadi “United States of Europe” (Negara Eropa Serikat). Uni ini akan terdiri dari sepuluh anggota dan akan menjadi, menurut Lindsey, Kekaisaran Romawi yang bangkit kembali, diperintah oleh antikristus, yang akan menggenapi nubuat Alkitab. Saat ini, Uni Eropa memiliki dua puluh delapan anggota [dua puluh tujuh anggota, setelah Inggris keluar dari keanggotaan UE tanggal 23 Juni 2016].

Hal Lindsey kemudian merilis buku berjudul The 1980s: Countdown to Armageddon, yang menyiratkan bahwa perang Armageddon akan segera terjadi. Dia bahkan mengatakan, “Dekade 1980-an bisa jadi adalah dekade terakhir dalam sejarah,” dan dia mengatakan Amerika Serikat akan hancur karena serangan Uni Soviet. Tak mengherankan, karena kegigihan Lindsey mengatakan dekade 1980-an akan diakhiri dengan Aniaya Besar, bukunya diam-diam ditarik dari peredaran pada awal 1990-an. Namun Lindsey tidak menyerah. Pada awal 1990-an, ia menerbitkan buku Planet Earth-2000 AD, yang memperingatkan orang Kristen untuk tidak berencana masih tetap hidup di bumi pada tahun 2000.

Lewat beberapa bukunya, Lindsey berasumsi bahwa Perang Dingin akan berlanjut hingga akhir, bahkan memainkan peran penting menyingkapkan peristiwa akhir zaman. Dia bahkan menamai Rusia sebagai Gog yang ditulis dalam Wahyu 20:8. Lindsey juga percaya bahwa budaya hippie yang marak tahun 1960-an dan 1970-an akan menjadi budaya dominan di Amerika Serikat, yang akan menuju kepada imoralitas dan agama palsu “yang dinubuatkan” akan bangkit pada akhir zaman oleh banyak ayat Alkitab. Tentu saja, tidak satupun nubuat ini terjadi, dan terbukti salah, namun Lindsey tetap didewakan oleh banyak orang Kristen sebagai nabi besar modern.

Lalu tahun 1995, buku pertama seri mega-bestselling Left Behind dirilis. Dalam paranoia dan ketakutan menjelang Y2K, orang Kristen terkena demam pengangkatan. Seiring berlalunya waktu, terbukti Y2K ternyata hanya sensasi belaka, dan 60 juta kopi buku Left Behind telah terjual (bersama tiga film menakutkan yang ciri dan teologinya sama dengan film seri tahun 1970-an The Thief in the Night).

Saat ini kita berada dalam milenium yang baru, dan inilah waktunya kita mulai serius mempertanyakan pandangan modern akhir zaman. Jika seorang pengajar selama empat puluh tahun terus menerus mengatakan bahwa akhir dunia akan segera terjadi, seharusnya kita berhenti memberinya perhatian. Jika seorang pengajar mengatakan empat puluh orang lebih sebagai antikristus, sebaiknya kita mengabaikannya. Kendati pengajar-pengajar ini muncul di televisi dengan mengenakan jas tidak membuat mereka tidak kalah keliru dibanding orang aneh di sudut jalan yang memakai papan berjalan bertuliskan, “Kiamat sudah dekat (The end is near).” Jika seorang pengajar adalah seorang paranoid yang ketakutan akan Y2K, seharusnya kita tidak perlu lagi menyimak apa yang dikatakannya tentang hal-hal futuristik lainnya.

Sebagai ringkasan, pengajaran yang mengatakan bahwa kata-kata Yesus dalam Matius 24, nubuat Daniel, dan Kitab Wahyu yang semuanya merujuk kepada rangkaian peristiwa masa depan adalah konsep baru, yang muncul sebagai reaksi terhadap Reformasi. Konsep ini telah tertanam sangat kuat dalam komunitas injili Amerika, tetapi tidak didukung oleh sejarah Gereja atau Kitab Suci, seperti akan kita lihat.

Surat Kemarahan

Sejak edisi pertama buku ini, saya menemukan bahwa tidak ada yang lebih menantang daripada menulis sejarah. Sejarah harusnya merupakan kebenaran statis, namun karena terdapat begitu banyak perspektif, tidaklah demikian adanya. Jadi, daripada sekedar menulis kebenaran sejarah, saya akan sengaja mengutip pemimpin-pemimpin dispensasional untuk mengkonfirmasi apa yang saya tuliskan akurat. (Apa yang saya sebut sebagai Darbyisme secara teologis dikenal dengan nama dispensasionalisme.)

Charles Ryrie, ahli teologi dispensasional dan pengarang buku klasik Dispensationalism tahun 1966, menulis:

“Dispensasionalis mengakui bahwa sebagai sistem teologi, hal ini masih baru.”

Dia kemudian berargumen bahwa beberapa bagian yang kemudian termasuk dalam sistem dispensasionalisme sebenarnya ada dalam tulisan bapa-bapa Gereja mula-mula. Setelah memberikan beberapa contoh, ia menulis:

“Tidak dapat dikatakan, juga tidak dapat disimpulkan, bahwa bapa-bapa Gereja mula-mula tergolong apa yang kemudian disebut sebagai dispensasionalis. Namun memang benar beberapa dari mereka mengutarakan prinsip-prinsip yang kemudian dikembangkan menjadi dispensasionalisme, dan tepat jika dikatakan mereka berpegang kepada konsep primitif atau awal dispensasional.”

Sejak saat ini [tahun 1100-an] hingga setelah Reformasi [tahun 1500-an], tidak ditemukan kontribusi penting kepada apa yang kemudian disistematisasi menjadi dispensasionalisme.

Jelas Ryrie berusaha mengaitkan dispensasionalisme dengan pengajaran bersejarah Gereja, namun kaitan itu sangatlah lemah. Sebagaimana diakuinya sendiri, selama 400 tahun lebih, tidak seorang bapa Gereja pun menulis apapun yang tergolong pemikiran dispensasional. Inti yang ingin saya sampaikan adalah: Sebagai sebuah sistem penafsiran Alkitab, dispensasionalisme hampir tidak memiliki bobot sejarah.

Komentator besar F. W. Farrar, yang menulis tahun 1882, sebelum kemunculan futurisme, menjelaskannya demikian:

“Terdapat tiga mahzab besar dalam penafsiran apokaliptik: (1). Preteris, yang menganggap Alkitab sudah hampir seluruhnya digenapi. (2). Futuris, yang menganggap semua peristiwa apokaliptik akan terjadi di masa depan. (3). Historisis yang memandang peristiwa apokaliptik sebagai sebuah garis besar sejarah Kristen sejak zaman Santo Yohanes hingga akhir segala sesuatu. Mahzab kedua -Futuris- secara jumlah selalu sedikit, bahkan saat ini dapat dikatakan tidak ada.”

Bahkan Thomas Ice, direktur eksekutif Pre-Tribulation Research Center di kampus Liberty University di Lynchburg, Virginia, menganggap Darby sebagai titik awal dan melihat orang-orang akan sampai pada lingkaran penuh dan kembali kepada pandangan optimistik (preterisme). Hal ini dituliskannya dalam beberapa surat kepada penulis yang seorang preteris John Bray:

“Thomas Ice, dalam suratnya kepadaku [John Bray] bertanggal 20 September 1989, mengatakan: “Banyak orang yang bergerak menuju penafsiran preteris terkait Khotbah di Bukit Zaitun dan Kitab Wahyu pada masa ini. Sejak masa Darby, hal ini mencapai lingkaran penuh. Saya memiliki koleksi literatur dalam jumlah sangat besar yang mengutarakan pandangan itu, yang merupakan pandangan paling menonjol di kalangan liberal dan injili 100-150 tahun yang lalu.” Lalu pada surat bertanggal 30 November 1989, ia menambahkan, ” Saya pikir dispensasionalisme akan menjadi semakin tidak populer pada tahun 1990-an.”” (Pernyataan ini tidak berarti Dr. Ice berhenti menjadi seorang dispensasionalis – sebaliknya, semata-mata mengindikasikan bahwa ia menyadari kenyataan yang sedang terjadi di kalangan orang-orang yang sedang mempelajari eskatologi.)

Dari hal ini kita dapat melihat bahwa dispensasionalisme adalah sebuah ragam pengajaran yang dimulai oleh Darby pada pertengahan 1800-an dan terus menyurut. Bahkan pemimpin gerakan ini telah menyadari bahwa momentum telah bergeser kepada pandangan yang lebih alkitabiah, bersesuaian dengan sejarah dan lebih optimistik. Jika hal ini belum juga dianggap sebagai bukti yang meyakinkan, berikut adalah beberapa bukti sederhana tentang dispensasionalisme berdasarkan kata-kata Yesus untuk mengenal mereka dari buahnya.

Nilailah Buahnya

Yesus menyuruh kita untuk menilai pesan yang disampaikan nabi-nabi dengan melihat buah dalam hidup mereka dan buah kata-kata nubuat mereka (lihat Matius 7:15-20). Dengan pemahaman ini, sekarang setelah kita melihat fenomena baru pengajaran modern akhir zaman, kita harus bertanya kepada diri sendiri, Buah apa yang dihasilkannya?

Dua belas Buah yang Saya Saksikan:

1. Kasih biasanya dikesampingkan, sementara ketakutan mendapat porsi utama. Kadangkala ketakutan itu dibungkus oleh pelarian pengangkatan atau oleh perlindungan ilahi terhadap murka yang akan datang.

2. Pemikiran jangka panjang menjadi terbatas. Bernubuat untuk beberapa dekade ke depan menjadi mustahil karena dikatakan kedatangan Yesus akan terjadi sewaktu-waktu.

3. Menciptakan ketakutan terhadap teknologi karena GPS (Global Positioning System), komputer, ponsel pintar, laptop atau apapun yang bisa digunakan sebagai tanda dari binatang.

4. Menyimpan ketakutan terhadap politik karena sang antikristus bisa saja segera muncul.

5. Menumbuhkan pandangan anti-budaya hingga titik ekstrim. Padahal, bahkan Rasul Paulus sendiri mengutip budaya populer pada zamannya (lihat Kisah Para Rasul 17:28).

6. Menyurutkan semangat orang-orang untuk membuat terobosan dalam bidang kesehatan, medis, lingkungan atau teknologi dengan alasan, “Untuk apa seseorang bekerja bagi kebaikan dunia jika semuanya akan dimusnahkan oleh api?”

7. Menciptakan bentuk rasisme yang aneh. Banyak orang Kristen menjadi pro-Israel bahkan hingga tidak mau membuka mata terhadap pemikiran politik apapun. Contohnya, jika Israel menyerang negara-negara tetangganya, banyak orang Kristen modern akan membiarkannya saja karena Israel adalah “umat pilihan Allah.” Orang Kristen secara harfiah telah menerima bentuk rasisme pro-Israel dan anti-Arab. Pengajaran akhir zaman modern juga telah menumbuhkan kecurigaan kepada negara-negara lain, menimbulkan sikap anti-Rusia dan anti-Cina di kalangan orang Kristen. Rasisme Kristen ini berakar dari kesalahpahaman akhir zaman.

8. Pengharapan dikerdilkan menjadi pelarian pengangkatan.

9. Pandangan akhir zaman ini menjadi lahan subur tumbuhnya banyak bidah/sekte sesat dan milisia.

10. Banyak orang Kristen yang lalu menambah jam puasa dan doa, menggeber penginjilan, dan menanti-nantikan pengangkatan atau mencari-cari “tanda-tanda akhir zaman,” bukannya mempelajari dan melatih diri untuk memperluas Kerajaan Allah di bumi.

11. Pandangan ini tidak menganggap serius atau harfiah teks penunjuk waktu dalam Kitab Suci (contoh Matius 23:36; 24:34).

12. Melahirkan banyak teori konspirasi konyol; yang cocok sekali dengan orang-orang yang mempercayai keberadaan Illuminati, NWO (New World Order), dan organisasi rahasia lainnya.

Taruhan Welton

Mengingat buah-buah negatif kepercayaan dispensasionalisme, saya mengajukan sebuah taruhan. Ahli matematika, fisika dan filsuf Katolik Blaise Pascal (1623-1662), mengajukan sebuah taruhan terkenal yang dinamai Taruhan Pascal (Pascal’s Wager atau Pascal’s Gambit). Saya parafrasekan demikian: Bagaimana jika Anda percaya kepada Tuhan dan Dia memang ada? Jika Anda benar, maka bagus sekali! Tetapi jika Anda salah [ternyata Tuhan tidak ada] dan menemukan bahwa selama ini Anda hanya menghidupi hidup yang bermoral tetapi keliru mengenai Tuhan, Anda tidak rugi apa-apa.

Saya ingin mengajukan Taruhan Welton (Welton’s Wager) berdasarkan logika serupa. Bagaimana jika Anda memilih untuk mempercayai pandangan optimististik tentang akhir zaman, membesarkan anak-anak yang saleh, membuat rencana jangka panjang, menolak segala pemikiran yang menimbulkan ketakutan, dan berkarya sebagai bagian Pengantin Kristus yang telah siap sedia (lihat Wahyu 19:7)? Jika Anda salah dan tiba-tiba pengangkatan memang terjadi, apa ruginya Anda? Anda telah menjadi hamba yang setia yang melipatgandakan apa yang Allah taruh dalam tangan Anda, bukan menjadi hamba yang hanya duduk diam, mengubur talenta, dan menunggu pengangkatan yang mungkin tidak terjadi dalam hidup Anda! Jika Anda menjalani hidup dengan penuh ketakutan, berusaha menebak-nebak waktu pengangkatan dan mereka-reka siapakah antikristus sebenarnya, Anda akan dimintai pertanggungjawaban atas semua waktu yang terbuang sia-sia.

Sebuah pemikiran penutup. Sebagian orang mengatakan masa depan yang penuh ketakutan dapat memotivasi penginjilan. Sebenarnya, hampir semua orang non-Kristen mengira kita ini tidak waras dan enggan bergabung dengan kita. Bahkan, beberapa orang ateis terkenal (seperti Christopher Hitchens) mengatakan Yesus adalah nabi palsu karena nubuat-Nya tidak terjadi pada abad pertama (lihat Matius 24:34). Hal ini didasari oleh keyakinan populer dispensasional bahwa Matius 24 akan digenapi di masa depan. Bahkan jika ada orang yang diselamatkan (menjadi Kristen) karena ketakutan akan masa depan, itu bukanlah Injil Kerajaan; Yesus tidak pernah menyuruh kita mengajarkan akhir zaman. Banyak orang yang menjadi Kristen karena ketakutan akan neraka, penghakiman, atau pengangkatan; terpaksa menghabiskan banyak waktu untuk melepaskan diri dari ketakutan yang ke dalamnya mereka terlahir.

Inilah waktunya mengubah pemikiran kita.

Versi Bahasa Indonesia dapat diunduh secara gratis pada tautan berikut:
https://www.dropbox.com/s/fuzwpiitg3gjc9t/RAPTURELESS%201st%20Edition%20Jonathan%20Welton.PDF?dl=0

Versi aslinya dapat diunduh secara gratis pada tautan berikut: https://weltonacademy.com/collections/books/products/raptureless-first-edition-free-download

Advertisements