MITOS KUTUK KETURUNAN

image

Jika Anda telah berada di lingkungan gereja Karismatik untuk waktu yang cukup lama, Anda mungkin telah mendengar kata-kata “kutuk keturunan (generational curses).” Hal ini adalah topik hangat dalam pelayanan kesembuhan emosional. Konsep dasarnya adalah bahwa alkoholisme, kecanduan obat terlarang, nafsu seksual, amarah, dan tak terhitung hal-hal buruk lainnya memiliki kaitan dengan dosa orang tua Anda atau mungkin dosa kakek-nenek Anda atau dosa sekian generasi di atas Anda, bahkan hingga 400 generasi, menurut salah seorang pengajar populer yang seminarnya saya hadiri tahun lalu.

Alkitab menyebut “kutuk keturunan” dalam beberapa ayat (Keluaran 20:5, 34:7; Bilangan 14:18; Ulangan 5:9). Allah memperingatkan bahwa Dia “adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku.

Seorang blogger mengatakan:

“Kedengarannya tidak adil Allah menghukum anak-anak karena dosa-dosa nenek moyang mereka. Namun, sebenarnya tidak demikian. Dampak dosa secara alami diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Jika seorang ayah memiliki gaya hidup yang penuh dosa, anak-anaknya cenderung untuk menghidupi gaya hidup penuh dosa yang sama. Apa yang tersirat dalam peringatan pada Keluaran 20:5 adalah kenyataan bahwa anak-anak akan memilih untuk mengulangi dosa-dosa nenek moyang mereka. Sebuah Targum Yahudi secara khusus menyebutkan bahwa ayat ini mengacu kepada “ayah durhaka” dan “anak-anak pemberontak.” Jadi, jika Allah menghukum dosa keturunan ketiga atau keempat- itu bukanlah ketidakadilan Allah. Generasi itu melakukan dosa yang sama dengan yang nenek moyang mereka lakukan.”

Apa yang kita pikirkan tentang kutuk keturunan dan dampaknya terhadap kita dalam perjanjian yang baru (new covenant)?

Allah telah mengubah aturan bahkan sebelum perjanjian yang baru itu tiba!

Maka datanglah firman Tuhan kepadaku: “Ada apa dengan kamu, sehingga kamu mengucapkan kata sindiran ini di tanah Israel: “Ayah-ayah makan buah mentah dan gigi anak-anaknya menjadi ngilu?” Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, kamu tidak akan mengucapkan kata sindiran ini lagi di Israel. Sungguh, semua jiwa Aku punya! Baik jiwa ayah maupun jiwa anak Aku punya! Dan orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati” (Yehezkiel 18:1‭-‬4).

Menurut nas dalam Perjanjian Lama (Old Testament) ini, Allah sudah mulai berhubungan dengan orang-orang secara individual, bukan lagi didasarkan kepada nenek moyang mereka. Ini terjadi sebelum pergeseran dari perjanjian yang lama (old covenant) ke perjanjian yang baru.

  
Jadi, begini.

Di bawah perjanjian yang lama, Allah adalah seseorang yang menimpakan kutuk terhadap garis keturunan hingga 3-4 generasi. Tetapi hari ini, ketika seorang pelayan pelayanan penyembuhan luka batin duduk berdoa dengan seseorang yang adalah keturunan keempat pecandu alkohol, saya tidak pernah mendengar pelayan itu mengatakan, “Allah mengutuk Anda dengan alkoholisme, dan sekarang kita perlu bertobat agar Allah menghapus kutukan-Nya dan berhenti menyebabkan Anda menjadi seorang pecandu alkohol.” (Opsi 1)

Sebaliknya, pelayan dalam pelayanan penyembuhan luka batin biasanya mengatakan, “Anda memiliki kutuk keturunan dan kecenderungan untuk menjadi seorang pecandu alkohol akan terulang terus karena kutukan ini, tapi Allah ingin Anda merdeka, jadi mari kita bertobat dan berdoa agar Anda bisa merdeka.” (Opsi 2)

Kebenarannya adalah opsi 1 lebih cocok dengan kebenaran Perjanjian Lama. Allah adalah pihak yang menimpakan kutukan kepada seseorang hingga keturunannya yang ketiga dan keempat. Namun di bawah perjanjian yang baru, Allah tidak menimpakan kutuk pada siapa pun! Jadi kita harus berhenti melakukan pelayanan penyembuhan luka batin yang seperti ini; menyebut-nyebut “kutuk keturunan” berarti kita berbohong kepada orang yang sedang kita layani dan kepada diri kita sendiri.

Kita tidak perlu mencoba menghapus kutuk dari Allah, seperti yang dilakukan orang-orang Perjanjian Lama.
   
Lalu mengapa tampaknya metode itu berhasil?

Ketika seorang pelayan memimpin seseorang berdoa seperti pada opsi 2, ada dampak yang terjadi atas orang yang bersangkutan. Hal ini karena orang tersebut menolak kebohongan dan bersepakat dengan kebenaran. Ini bukan karena ada kata-kata ajaib rahasia yang memercikkan debu-debu kemerdekaan di atas diri orang yang dilayani dan memerdekakannya dari kutuk keturunan yang Allah timpakan atas dirinya. Bukan.

Bersepakat dengan kebenaran dan menolak kebohongan sangat berkuasa untuk memerdekakan Anda. Allah tidak mengutuk siapa pun saat ini, dan tidak seorang pun berada di bawah kutuk keturunan yang ditimpakan oleh Allah Bapa seperti dalam Perjanjian Lama.

Mengapa gaya hidup berdosa atau kecenderungan buruk tertentu dalam suatu garis keturunan tampaknya selalu berulang?

Yang terjadi sebenarnya adalah adanya roh jahat yang menyerang garis keturunan, yang dikenal sebagai “roh familiar,” yang selalu kembali lagi dan lagi untuk melancarkan godaan. Saya pribadi tidak pernah tergoda untuk mengkonsumsi kokain. Setahu saya, tidak seorang pun sepanjang sejarah keluarga saya yang pernah terkait dengan kokain, jadi hal ini bukanlah jenis godaan yang roh familiar akan coba lancarkan terhadap saya. Roh familiar selalu melancarkan godaan yang akrab/familiar bagi Anda dan garis keturunan Anda.

Jika seseorang sedang berjuang untuk merdeka dalam area tertentu, keluarganya kemungkinan besar memiliki kecenderungan terhadap jenis godaan itu, dan roh familiar akan melancarkan godaan di area tersebut. Cara terbaik untuk berurusan dengan kebohongan adalah dengan membongkar akarnya, mematahkan setiap kesepakatan dengan setan dan roh jahatnya, lalu bersepakat dengan kebenaran. Tetap menggunakan kata-kata “kutuk keturunan” selain tidak akurat, juga -yang paling buruk- berarti menuduh Allah menimpakan kutuk atas orang percaya!

Jonathan Welton: The Generational Curse Myth; June 20, 2016.

https://weltonacademy.com/blogs/jonathanwelton/the-generational-curse-myth

Advertisements