PEPERANGAN ROHANI DALAM PERJANJIAN YANG LEBIH BAIK

image

Sebagai seorang pemimpin, saya sering mendapat pertanyaan tentang peperangan rohani. Saya sungguh menyadari bahwa saya sangat sedikit melakukan peperangan rohani dibanding kebanyakan orang. Saya memiliki perspektif yang tidak biasa mengenai peperangan rohani. Saya percaya bahwa kekuatan jahat sedang bekerja di dunia ini, tetapi tidak seperti yang dipikirkan banyak orang. Peperangan rohani terjadi pada ajang kebenaran versus dusta/kebohongan. Iblis adalah pendusta, dan ia menggunakan tipu dayanya untuk membuat kita mengesampingkan identitas dan otoritas/kuasa kita. Kita harus paham bahwa peperangan yang kita jalani adalah peperangan untuk mempertahankan identitas kita, karena kuasa yang kita terima sebagai orang percaya terkandung di dalam identitas kita.

Banyak orang Kristen telah mencapai titik emosional, saat mereka merasa seolah-olah baju zirah mereka telah dilucuti. Mereka merasa telah dipukuli sampai babak belur. Mereka merasa telah dirantai dan sedang diseret di belakang kereta perang Iblis sebagai rampasan perang. Gereja dipenuhi oleh orang-orang yang merasa seperti Simson yang terpuruk di dasar penjara. Inilah waktunya kita mengerti apa yang dikatakan Alkitab tentang identitas kita sehingga kita bisa mendapatkan kuasa kita kembali!

Kebenaran tentang identitas kita adalah bahwa kita telah ditempatkan di dalam Kristus. “Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada” (Kisah Para Rasul 17:28). Kita tinggal di dalam Dia, dan Dia di dalam kita (lihat Yohanes 15:4). Kita telah didudukkan bersama dengan Dia di sorga (lihat Efesus 2:6). “Lebih besar Dia yang ada di dalam [kita] dari pada dia yang ada di dunia” (1 Yohanes 4:4 New American Standard Bible).

Kita harus mengalami kebenaran apa artinya menjadi “lebih dari orang-orang yang menang” (Roma 8:37). Orang Kristen harusnya dapat benar-benar menyatakan: “Aku sanggup menanggung segala perkara ini di dalam Dia yang memberikan kekuatan kepadaku” (Filipi 4:13). Firman memberitahu kita bahwa kita telah menjadi satu roh dengan Dia (lihat 1 Korintus 6:17). Oleh karena itu, kuasa yang kita lihat dalam kehidupan Yesus adalah kuasa yang telah diberikan kepada kita. Dia telah memberikan kunci-kunci Kerajaan Sorga kepada kita (lihat Matius 16:19).

JIKA KITA MEMAHAMI BAHWA KITA TINGGAL DI DALAM DIA (YANG BERARTI KITA TINGGAL DI DALAM KUASA-NYA), MAKA PEPERANGAN ROHANI KITA AKAN MENJADI SANGAT BERBEDA: KITA BUKAN BERPERANG UNTUK MERAIH KEMENANGAN; KITA BERPERANG DARI POSISI SEBAGAI PEMENANG.

KITA BERPERANG DARI POSISI SEBAGAI PEMENANG

Banyak orang Kristen yang terus dan terus berjuang dan berperang, namun sekaranglah saatnya untuk menyadari bahwa Yesus SUDAH memenangkan peperangan – dan kemudian Dia menempatkan kita di dalam Dia untuk berbagi kemenangan ini! Setiap orang Kristen berada di dalam Kristus, terlepas dari apakah mereka berperilaku sempurna atau tidak.

“Dan inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan kepada kita hidup yang kekal, dan hidup yang kekal itu ada di dalam Anak-Nya. Barangsiapa yang memiliki Anak memiliki hidup; barangsiapa yang tidak memiliki Anak tidak memiliki hidup” (1 Yohanes 5:11‭-‬12 New International Version).

Dengan dasar pemahaman bahwa kita ada di dalam Kristus dan berbagi kuasa-Nya atas Iblis, sekarang mati kita menyelam lebih dalam untuk melihat bagaimana Iblis benar-benar sudah dikalahkan.

Rasul Paulus banyak menulis topik peperangan rohani dalam Perjanjian Baru (New Testament). Namun karena perbedaan budaya, kita telah melewatkan beberapa pandangan terbaiknya.

Sebagai contoh, kita telah melewatkan arti Kolose 2:15, yang mengatakan, “Dan dengan melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa, Ia menjadikan mereka tontonan umum, berjaya atas mereka [triumphing over them] di salib.” Ketika Paulus menggunakan kata “dilucuti” dalam bagian ini, dia menggunakan metafora budaya abad pertama. Paulus katakan bahwa Yesus benar-benar melucuti setan dari semua kekuatan dan kuasanya. Itu adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan melucuti musuh yang sudah dikalahkan.

image

Kata “triumphing” adalah referensi budaya yang lain lagi. Jika seorang jenderal Romawi baru saja meraih kemenangan besar, ia diizinkan untuk berbaris bersama pasukannya melewati jalan-jalan di kota Roma. Di belakang kereta perangnya dirantailah semua raja-raja dan penguasa-penguasa yang ia kalahkan. Mereka ini ditelanjangi, dirantai, dan ditarik di belakang kereta perang jenderal yang menaklukkan mereka melewati jalan-jalan. Mereka dihina di muka umum dan secara terbuka dinyatakan sebagai rampasan perang.

Paulus berbicara tentang Yesus Sang Jenderal penakluk mengadakan perarakan kemenangan kosmik (lihat Yohanes 12:31). Dalam perarakan kemenangan Yesus itu kekuatan jahat yang dikalahkan untuk selamanya, disaksikan oleh semua orang. Dan karena kita telah ditempatkan di dalam Dia, kita juga berada di kereta perang bersama dengan Yesus.

Setan sekarang telah dilucuti dan tak berdaya!

Sementara banyak orang Kristen merasa mereka telah dikalahkan dan sedang diseret di belakang kereta perang Iblis, kebenarannya Iblislah yang sedang diseret di belakang kereta perang mereka! Sekaranglah saatnya kita menyadari bahwa cara agar kita dapat mempertahankan kuasa kita secara terus menerus atas Iblis adalah dengan mengingat bahwa kita berada dalam kereta perang bersama Yesus! Kita sudah menang atas Iblis!

Kita harus belajar mempertahankan kemenangan atas Iblis. Tuhan memberikan kepada kita, tidak hanya kemenangan total [total victory], tetapi juga kemenangan yang lengkap [complete triumph]. Penting untuk memahami perbedaan antara kedua kata ini: victory dan triumph. Sebagai contoh, pada pertandingan sepak bola, di akhir pertandingan tim dengan gol terbanyak menang dan meraih kemenangan [victory].

KITA HARUS BELAJAR MEMPERTAHANKAN KEMENANGAN ATAS IBLIS.

Triumph adalah yang terjadi setelah victory diraih. Triumph adalah perayaan di jalan-jalan, di bar-bar, dan di tempat kerja. Triumph adalah lompatan kegirangan, teriakan-teriakan yang menjengkelkan, bermegah di hadapan wajah musuh yang telah kalah.

Kita tidak masih berperang melawan Iblis, dan kita tidak sedang berusaha meraih kemenangan. Kita menegakkan dan menikmati kemenangan yang sudah menjadi milik kita; kita menang [triumphing] di dalam Raja kita Yesus. Dia “… selalu membawa kita di jalan kemenangan-Nya” (2 Korintus 2:14).

Iblis ingin Gereja berpikir bahwa kita sedang memerangi dia, karena dia tidak ingin Gereja sadar bahwa dia sudah dikalahkan. Karena dia sudah dikalahkan, Gereja berada di bumi bukan untuk berusaha meraih kemenangan. Titik awal kita adalah kemenangan, dan dari sana kita bergerak maju. Saat ini kita berada di bumi sebagai utusan-utusan, ambassadors (lihat 2 Korintus 5:20; Efesus 6:19-20) menegakkan dan memperluas kemenangan Yesus di semua area.

“Karena itu, karena anak-anak itu dari darah dan daging, Ia sendiri menjadi sama dan mengambil bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian Ia membuat dia yang memiliki kuasa atas maut kehilangan kuasanya, yaitu Iblis, dan supaya Ia membebaskan mereka yang karena ketakutan kepada maut telah berada dalam perhambaan seumur hidupnya” (Ibrani 2:14‭-‬15 New American Standard Bible).

Ayat ini benar-benar mengagumkan, namun jarang dikutip dalam lingkaran peperangan rohani modern. Iblis telah dibuat tidak berdaya oleh salib Kristus. Ini adalah kebenaran menakjubkan yang layak direnungkan.

SATU-SATUNYA SENJATA

Dengan selalu mengingat kita berada dalam kereta perang bersama dengan Yesus, dan musuh kita yang sudah dikalahkan, setan, sedang diseret di belakang kita, kita dapat melihat bahwa peperangan rohani yang masih berlangsung hanyalah soal melawan suara musuh kita. Bahkan saat ia diseret -dalam keadaan kalah dan menyedihkan- di belakang kereta perang, ia terus melancarkan kebohongan, manipulasi, godaan, dan tuduhan, serta intimidasi. Ini adalah satu-satunya senjata ia masih miliki.

Menurut Kitab Suci, kebohongan adalah senjata andalan setan:

“Apakah sebabnya kamu tidak mengerti bahasa-Ku? Sebab kamu tidak dapat menangkap firman-Ku. Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta” (Yohanes 8:43‭-‬44).

Jika kita membiarkan diri kita mendengarkan suaranya dan kemudian sepakat dalam bentuk apapun dengan dia, pada dasarnya kita sedang melangkah keluar dari kereta perang Yesus, menanggalkan jubah bangsawan kita, dan merantai diri kita sendiri di samping setan.

Ini adalah posisi kalah yang ke dalamnya banyak orang Kristen menempatkan diri. Peperangan dengan Iblis adalah permainan pikiran yang di dalamnya ia berbicara kepada kita dan mencoba untuk menggoda kita untuk sepakat dengan dia. Salah satu permainan pikiran utama yang Iblis pakai adalah menanamkan pemikiran atau godaan dalam benak kita. Lalu ia memberitahu kita bahwa ide-ide ini datang dari si jahat dalam diri kita. Pada gilirannya hal ini menyebabkan kita menghukum diri kita sendiri.

Sering saya bertanya kepada orang Kristen yang sedang berjuang sekuat tenaga melawan cobaan, apakah mereka ingin berdosa; jawabannya selalu adalah tidak. Namun pikiran-pikiran ingin berbuat dosa itu terus datang. Saya katakan pikiran-pikiran itu bersumber dari suara setan yang kedengarannya seperti sifat manusia lama yang dulu mereka hidup di dalamnya.

Penjelasan ini benar bagi sebagian besar dari kita. Itulah sebabnya kita harus menawan pikiran-pikiran itu dan menyadari dari mana mereka berasal.

“Walaupun kami masih hidup di dunia, tetapi kami tidak berjuang seperti yang dunia lakukan. Senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata dunia. Sebaliknya, senjata kami adalah kuasa Allah untuk meruntuhkan benteng-benteng. Kami mematahkan argumen dan setiap kubu keangkuhan manusia yang dibangun untuk menentang pengenalan akan Allah, dan kami menawan [=memenjarakan] setiap pikiran untuk membuatnya takluk kepada Kristus. Dan kami siap sedia untuk menghukum setiap kedurhakaan, bila ketaatan kamu telah menjadi sempurna” (2 Korintus 10:3‭-‬6 New International Version).

Kita harus waspada terhadap kebohongan Iblis. Rasul Paulus katakan bahwa Iblis dan rencananya jangan sampai mengecoh kita yang disebabkan “… kita tidak tahu apa maksudnya” (2 Korintus 2:11 New International Version). Paulus juga mengatakan kepada Timotius bahwa Iblis memiliki sebuah teologi yang kita orang Kristen harus sadari. Doktrin-doktrin setan ini begitu halus dan meyakinkan sehingga mampu memikat orang Kristen untuk meninggalkan iman. Paulus menulis: “Roh dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian ada orang yang akan meninggalkan iman lalu mengikuti roh-roh penyesat dan hal-hal yang diajarkan oleh setan-setan” (1 Timotius 4:1 New International Version). Terjemahan yang lain menggunakan istilah “doktrin setan-setan.”

Meskipun benar bahwa Iblis berjalan keliling seperti singa yang mengaum-aum, ia hanya dapat menelan orang-orang yang termakan kebohongannya. Jika kita menyadari rencananya dan tidak membiarkan dia mengecoh kita, maka kita tidak akan pernah berakhir di mulut singa.

“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh” (1 Petrus 5:8‭-‬9).

Menurut Rasul Yohanes, kita sama sekali tak terjamah oleh Iblis. “Kita tahu, bahwa setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa; tetapi Dia yang lahir dari Allah melindunginya, dan si jahat tidak dapat menjamahnya” (1 Yohanes 5:18). Inilah kenyataan yang datang melalui pemahaman tentang siapa kita di dalam Kristus, dan menolak sepakat dengan kebohongan si jahat.

SENJATA KITA

Jika dusta dan kebohongan adalah alat yang Iblis gunakan untuk mengikat orang dalam perbudakan, maka kebenaran adalah alat yang Allah gunakan untuk memerdekakan orang. Seperti yang Alkitab katakan: 2 (Yohanes 8:32).

Agar tetap berada dalam kemenangan atas Iblis, kita harus mengingat dua kata penting: menolak [melawan=resist] dan berdiri teguh [stand]. Iblis sudah dikalahkan, ia sudah kalah, dan tidak ada apapun yang bisa kita lakukan untuk menambahkan sesuatu kepada apa yang telah dicapai Kristus di kayu salib. Jadi strategi kita saat ini adalah menolak dan berdiri teguh melawan Iblis. Kita berdiri dan melawan kebohongan Iblis, karena hanya itulah satu-satunya senjata ia punyai.

“Lawanlah dia, berdirilah teguh dalam iman …” (1 Petrus 5:9 New International Version).

“… lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu!” (Yakobus 4:7).

“Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah supaya kamu dapat berdiri melawan [stand against] tipu muslihat Iblis; Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri [stand your ground], sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. Jadi berdirilah tegap [stand firm] …” (Efesus 6:11‭, ‬13‭-‬14 New International Version).

Menurut Efesus 6, kita hanya memiliki satu strategi: berdiri melawan, tetap berdiri, berdiri tegap. Begitu kita mengerti bahwa Yesus telah melucuti semua kuasa Iblis, kita akan menyadari bahwa tujuan kita bukanlah meraih kemenangan, tapi mempertahankan kemenangan. Yesus memiliki segala kuasa yang kemudian diberikan-Nya kepada para pengikut-Nya. Jadi sekarang kita berdiri dan melawan Iblis untuk mempertahankan posisi kita.

KITA HARUS MENGENALI DUSTA-DUSTA INI DAN MULAI BERDIRI DAN MELAWAN SEGALA DUSTA INI DENGAN KEBENARAN SEHINGGA KITA BISA MENGALAMI KEMENANGAN YANG TELAH YESUS BELI BUAT KITA.

Selama kita terus mempercayai dusta Iblis, kita akan terus berada dalam perbudakan. Jika kita sadar dan waspada akan dusta yang dulunya kita sepakati, kita bisa mematahkan kesepakatan tersebut, melangkah ke dalam kebenaran, dan dimerdekakan!

Jonathan Welton: Spiritual Warfare in the Better Covenant; August 10, 2016

https://weltonacademy.com/blogs/jonathanwelton/spiritual-warfare-in-the-better-covenant

Advertisements