DIPENUHI KEMBALI DENGAN ROH KUDUS

image

Telah beredar pengajaran yang mengatakan bahwa kita telah menerima kepenuhan Roh Kudus dan kita tidak lagi perlu dipenuhi kembali atau menginginkan lebih dari-Nya.

Saya hampir saja terbujuk oleh teori teologi ini beberapa tahun yang lalu, tapi saya menemukan bahwa buah dari perspektif ini adalah kelayuan dan kekeringan dalam hubungan dengan Roh Kudus. Intinya, kebenaran teologis tentang kita sebagai ciptaan baru harus diiringi oleh realitas pengalaman hidup kita di bumi berjalan bersama Roh Kudus.

Ketika kebenaran teologis begitu ditekankan hingga mengabaikan realitas pengalaman, kita mengering.

Poin-poin di bawah ini adalah hal-hal yang menempatkan saya kembali pada jalur berkelanjutan mengejar pengalaman berhubungan dengan Roh Kudus.

• Dalam Efesus 5:18, kata kerja “penuh” dalam bahasa Yunani yang Paulus gunakan, secara harfiah dapat diterjemahkan, “akan menjadi terus-menerus dipenuhi dengan Roh Kudus.” Kata kerja itu berarti suatu tindakan yang berlangsung terus-menerus (berkelanjutan).

• Orang Kristen yang sama yang dipenuhi Roh Kudus pada hari Pentakosta dipenuhi kembali saat mereka berdoa (Kisah Para Rasul 4:31). Untuk apa mereka dipenuhi kembali? Mengapa mereka tidak percaya saja bahwa mereka sudah dipenuhi dengan kepenuhan Roh Kudus?

• Orang Kristen di Efesus belum menerima Roh Kudus (Kisah Para Rasul 19:1-7). Untuk apa Paulus menumpangkan tangan atas mereka agar mereka dipenuhi Roh Kudus? Mengapa dia tidak hanya memberi mereka pewahyuan bahwa mereka sudah dipenuhi dengan kepenuhan Roh Kudus dan menyuruh mereka untuk percaya saja bahwa mereka sudah dipenuhi?

• Jika para penulis Perjanjian Baru (New Testament) menyuruh kita untuk membangun [edify] roh kita, mengapa mereka menyuruh demikian jika kita tidak perlu melakukannya? (1 Korintus 14:4, 14-17, Yudas 20).

• Kita harus tinggal dalam pokok anggur (Yohanes 15). Saya tidak percaya yang dimaksud dengan “tinggal dalam pokok anggur” adalah sesuatu yang pasif; saya percaya hal itu adalah kesadaran dan fokus, bukan perbuatan/sesuatu yang harus kita kerjakan, tapi “menarik” dari hadirat yang didalamnya kita ada, terus-menerus.

• Dalam Yakobus 4:8, kita melihat bahwa jika kita mendekat kepada Tuhan maka Dia akan mendekat kepada kita.

• Paulus mengatakan kepada Timotius untuk “… mengobarkan [mengipasi hingga berkobar] karunia Allah yang ada padamu …” (2 Timotius 1:6).

• Yang satu ini selalu menghantam saya seperti batu bata (batu bata yang baik), “Jangan pernah kekurangan semangat, tetapi jagalah rohmu menyala-nyala, melayani Tuhan” (Roma 12:11 New International Version).

• Terakhir, jika analogi perjalanan kita bersama Tuhan adalah perkawinan (Efesus 5) -dua menjadi satu, dan lain-lain- maka tidakkah masuk akal bahwa kita memiliki hubungan yang berkelanjutan dan semakin dalam dengan-Nya? Ketika saya menikah dengan istri saya, saya menerima keseluruhan dirinya, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ketika kita menerima Yesus, kita menerima keseluruhan diri-Nya. Karena saya banyak bepergian, ketika saya pulang dari perjalanan panjang, butuh beberapa hari proses koneksi-ulang (reconnection) bagi istri saya dan saya untuk merasa dipenuhi kembali oleh kehadiran masing-masing.

Saya percaya bahwa jika kita memiliki hubungan yang nyata dan normal dengan Roh Kudus, kita akan memiliki masa-masa mengalami lebih banyak diri-Nya dan dipenuhi kembali oleh hadirat-Nya, dan bahwa kita juga harus mengejar hal ini.

Jika bayangan Anda dapat menyembuhkan orang (Kisah Para Rasul 5:15) dan saputangan atau pakaian Anda dapat mengusir setan (Kisah Para Rasul 19:12), maka mungkiiiiin Anda sudah memiliki cukup Roh Kudus. Namun saya pribadi, saya akan terus mendekat, tinggal, mengobarkan karunia, membangun roh saya, menjaga roh saya tetap menyala-nyala, dipenuhi kembali dan terus dipenuhi kembali. Saya harap Anda akan melakukan hal yang sama!

Jonathan Welton: Be Refilled with the Holy Spirit; June 1, 2016.

https://weltonacademy.com/blogs/jonathanwelton/121778433-be-refilled-with-the-holy-spirit

Advertisements