SODOM DAN GOMORA BUKAN TENTANG MURKA ALLAH

image

Topik tentang murka Allah telah menjadi salah satu perdebatan panjang, terutama ketika dikaitkan dengan salib dan penghancuran Yerusalem tahun 70 Masehi.

Murka Allah kaitannya adalah dengan sistem perjanjian yang lama (old covenant), yang berlaku dan berlanjut hingga kemusnahannya tahun 70 Masehi (Ibrani 8:13).

Dalam Roma 4:15 Paulus mengatakan, “Karena hukum Taurat membangkitkan murka, tetapi di mana tidak ada hukum Taurat, di situ tidak ada juga pelanggaran.” Sebelum hukum Taurat diberikan kepada mereka di Gunung Sinai, orang Yahudi tidak pernah mengalami murka Allah. Setiap kali mereka mengeluh dan bersungut-sungut, mereka melihat kebaikan Allah terwujud dalam penyediaan dan perlindungan. Tetapi setelah hukum itu diberikan, yang mereka saksikan adalah manifestasi kutuk seperti yang dimuat dalam perjanjian Musa (Mosaic covenant).

Kita harus memahami bahwa Allah menghakimi sistem perjanjian lama setelah Ia memperkenalkan yang baru, suatu perjanjian yang di dalamnya tidak ada murka. Dalam perjanjian yang baru ini masalah dosa dan pelanggaran manusia telah diselesaikan ketika pengampunan ditawarkan di kayu salib.

Maka pertanyaan yang muncul dalam benak banyak orang adalah, jika murka Allah bangkit setelah hukum Taurat diberikan, bagaimana Anda menjelaskan yang terjadi atas Sodom dan Gomora?

Banyak yang berpendapat bahwa homoseksualitas adalah alasan Allah akan mengadili Amerika. Jika Ia tidak melakukannya maka Ia harus meminta maaf kepada Sodom dan Gomora. Dengan keluarnya keputusan Mahkamah Agung di AS untuk melegalkan pernikahan sejenis, banyak orang mengatakan murka Allah seperti yang diterima Sodom akan segera datang.

Saya pikir homoseksualitas bukanlah penyebab tunggal kondisi bobrok mereka. Kejadian pasal 18 mencatat bahwa ada keluh kesah (seruan, tangisan) orang tentang Sodom dan Gomora. Hal ini mengingatkan kita kepada teriakan darah Habel terhadap pembunuhnya.

Sesudah itu berfirmanlah Tuhan : “Sesungguhnya banyak keluh kesah orang tentang Sodom dan Gomora dan sesungguhnya sangat berat dosanya. Baiklah Aku turun untuk melihat, apakah benar-benar mereka telah berkelakuan seperti keluh kesah orang yang telah sampai kepada-Ku atau tidak; Aku hendak mengetahuinya” (Kejadian 18:20‭-‬21).

Keluh kesah ini tampaknya bukan berasal dari Abraham karena Allah harus memberitahukan kepadanya keluh kesah tentang Sodom dan Gomora dan penghancuran yang akan dijatuhkan atas kedua kota itu. Juga pasti bukan berasal dari Lot atau keluarganya karena sepertinya ia nyaman-nyaman saja berada di gerbang kota melakukan bisnis dengan orang-orang kota itu (lihat Kejadian 19:1). Ada kemungkinan Lot telah diangkat menjadi tua-tua kota, yang selain berbisnis juga bertugas mengawasi masyarakat. Saya percaya keluh kesah itu datang dari para korban kekejaman, kekasaran dan tipu muslihat penduduk kota itu. Kedua malaikat yang datang melihat kota itu membuktikan bahwa keluh kesah tersebut benar adanya.

Anda juga harus memahami bahwa penghakiman atas Sodom dan Gomora bukan karena kedua malaikat itu akan diperkosa oleh penduduk di sana. Allah telah mengatakan kepada Abraham tentang penghancuran yang akan datang dalam pasal 18. Para malaikat datang ke kota itu adalah untuk mendapatkan bukti bahwa apa yang dikeluhkan tentang kota itu memang benar.

Dalam Kejadian 14 dijelaskan bahwa Sodom dan beberapa kota lain baru saja terlibat dalam perang yang brutal dan kejam, menjarah kota-kota sekitarnya dan menumpahkan darah orang tak berdosa. Masuk akal bagi saya jika para korban yang bertahan hidup dari kekejian Sodom seperti berteriak karena sifat mereka yang doyan perang, suka kekerasan, dan penuh nafsu untuk menaklukkan. Pada gilirannya, Sodom juga diserbu dan dijarah, terperangkap dalam siklus peperangan dan kekerasan. Kota itu adalah sebuah masyarakat yang menceburkan diri ke dalam penghancuran-diri, di dalam struktur sesat dan penuh kekerasan yang berlaku saat itu.

Darah Habel menangis untuk keadilan, suara-suara di Sodom menangis untuk keadilan, tetapi darah Yesus berbicara hal-hal yang lebih baik. Darah itu menyatakan “Sudah lunas! Sudah dilepaskan! Sudah diampuni!”

Peristiwa Sodom dan Gomora lebih seperti tanggapan Allah terhadap teriakan menuntut keadilan. Allah tidak menghakimi menurut hukum Taurat karena Sodom dan Gomora ada sebelum Taurat diberikan di Gunung Sinai. Kita menemukan alasan sebenarnya mengapa Sodom dihancurkan dalam Yehezkiel 16:49-50:

Lihat, inilah kesalahan kakakmu Sodom: Dia dan anak-anaknya perempuan hidup dalam kecongkakan, makanan yang berlimpah-limpah dan kesenangan hidup, tetapi ia menahan tangannya dari menolong orang-orang sengsara dan miskin. Dan mereka menjadi tinggi hati dan melakukan kekejian di hadapan-Ku; maka Aku menjauhkan mereka sesudah Aku melihat itu” (Yehezkiel 16:49‭-‬50 New King James Version).

Yesaya 1:9-11, Yeremia 23 dan 49, Ratapan, dan Matius 10:14-15 memuat daftar kolektif dosa Sodom sebagai berikut: pemutarbalikan keadilan, kekejaman dan pengabaian orang miskin, tertindas, yatim piatu dan janda, menumpahkan darah orang tidak bersalah, kekikiran, keserakahan, kesombongan, nubuat palsu, berdusta dalam nama Allah, menyalahgunakan kekuasaan, mengabaikan kawanan domba Allah, membiarkan orang kelaparan, menyesatkan orang lain, mengarang-ngarang penglihatan, dan kanibalisme.

Menarik untuk dicatat nasib Sodom dan Gomora itu disamakan dengan bangsa Israel lama. Itulah sebabnya Israel disebut sebagai Sodom dalam Kitab Wahyu. Ada seruan tangis atas Israel karena bangsa itu telah membunuh para nabi dan para rasul Tuhan.

Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang kelima, aku melihat di bawah mezbah jiwa-jiwa mereka yang telah dibunuh oleh karena firman Allah dan oleh karena kesaksian yang mereka miliki. Dan mereka berseru dengan suara nyaring, katanya: “Berapa lamakah lagi, ya Penguasa yang kudus dan benar, Engkau tidak menghakimi dan tidak membalaskan darah kami kepada mereka yang diam di bumi?” (Wahyu 6:9‭-‬10).

Yesus berkata dalam Matius 23:32-36:

Jadi, penuhilah juga takaran nenek moyangmu! Hai kamu ular-ular, hai kamu keturunan ular beludak! Bagaimanakah mungkin kamu dapat meluputkan diri dari hukuman neraka? Sebab itu, lihatlah, Aku mengutus kepadamu nabi-nabi, orang-orang bijaksana dan ahli-ahli Taurat: separuh di antara mereka akan kamu bunuh dan kamu salibkan, yang lain akan kamu sesah di rumah-rumah ibadatmu dan kamu aniaya dari kota ke kota, supaya kamu menanggung akibat penumpahan darah orang yang tidak bersalah mulai dari Habel, orang benar itu, sampai kepada Zakharia anak Berekhya, yang kamu bunuh di antara tempat kudus dan mezbah. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya semuanya ini akan ditanggung angkatan ini!” (Matius 23:32‭-‬36).

Dan mayat mereka akan terletak di atas jalan raya kota besar, yang secara rohani disebut Sodom dan Mesir, di mana juga Tuhan mereka disalibkan (Wahyu 11:8).

Ketika murid-murid-Nya bertanya tentang kehancuran Bait Allah yang segera datang, Yesus menggunakan contoh Lot yang melarikan diri dari api dalam Lukas 17:29-32:

Tetapi pada hari Lot pergi keluar dari Sodom turunlah hujan api dan hujan belerang dari langit dan membinasakan mereka semua. Demikianlah halnya kelak pada hari, di mana Anak Manusia menyatakan diri-Nya. Barangsiapa pada hari itu sedang di peranginan di atas rumah dan barang-barangnya ada di dalam rumah, janganlah ia turun untuk mengambilnya, dan demikian juga orang yang sedang di ladang, janganlah ia kembali. Ingatlah akan isteri Lot! Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya.”

Lot dan penduduk Sodom diberi kesempatan untuk melarikan diri, tetapi penduduk Sodom tidak memanfaatkan kesempatan itu dan tetap tinggal. Orang-orang Yahudi memiliki kesempatan untuk melarikan diri dari murka yang akan datang atas perjanjian lama, perjanjian yang sedang memudar. Yohanes Pembaptis dan bahkan Peter memohon kepada kerabat mereka untuk bertobat dari kejahatan mereka, untuk menerima “waktu kelegaan” dan melarikan diri dari bencana yang segera datang ini. Tetapi mereka menolak hingga menemui kematian mereka sendiri tahun 70 Masehi. Seluruh kota Yerusalem dihancurkan oleh api pada saat itu, seperti yang dialami Sodom dan Gomora.

Saat ini kita berada di bawah perjanjian yang baru. Tidak ada lagi murka Allah di masa depan. Apa yang menjadi pembenaran murka-Nya telah diselesaikan. Satu-satunya darah yang berseru saat ini adalah darah Yesus di Bukit Sion. Karya Yesus yang paripurna telah menempatkan Allah “dalam suasana hati yang baik selamanya” bahkan terhadap orang-orang berdosa. Dia tidak murka terhadap siapa pun. Dia penuh rahmat dan kasih karunia, dan itulah pesan yang harus kita beritakan.

Simeon Edigbe: Sodom and Gomorrah was not about the Wrath of God; August 12, 2015.

http://reigninglife.blogspot.co.id/2015/08/sodom-and-gomorrah-was-not-about-wrath.html?m=1

Advertisements