BENARKAH ALLAH MEMBENCI PERCERAIAN?

image

Joan berumur 19 tahun ketika ia menikah dengan Sam yang berumur 22 tahun. Beberapa tahun kemudian, Joan dan Sam menghadiri pelayanan penginjilan dan keduanya membuka hati kepada Injil dan memberi diri dibaptis. Keduanya tumbuh sebagai orang Kristen dan akhirnya Sam menjadi pemimpin ibadah di gereja setempat. Gereja mereka mengajarkan bahwa orang Kristen tidak boleh bercerai dengan pengecualian karena diabaikan/ditinggalkan atau karena perzinahan.

Diam-diam Sam dan Joan mengalami masalah dalam pernikahan mereka. Sam tidak pernah benar-benar mencintai istrinya dan ia ingin bebas menikah dengan orang lain. Tetapi karena keyakinannya tentang perceraian ia tahu keinginan itu tidak bisa terjadi. Jadi Sam terus menyindir sang istri mengenai berat badannya. Joan berolah raga, dia berhasil menurunkan berat badannya, dia melakukan diet ketat; tetapi tidak peduli betapa lebih langsing dan menariknya dia kini, suaminya tetap mengatakan dia gemuk dan jelek. Akhirnya Joan tak tahan dan meninggalkan suaminya, yang tetap tampil sebagai pahlawan di gereja. Sam mendapatkan apa yang dia inginkan … dia punya istri baru dengan tetap mempertahankan posisi pelayanannya di gereja.

Matt adalah pendosa profesional. Dia dibesarkan di jalanan dan menjadi anggota geng Crips. Dia mengedarkan narkoba. Dia tidur dengan pelacur. Suatu malam dia menembak dan membunuh seorang remaja dan dipenjarakan selama 20 tahun. Saat ia di penjara Matt mendengar Injil untuk pertama kalinya. Hidupnya berubah secara radikal dalam semalam dan kemudian ia dikenal sebagai pengkhotbah dalam penjara. Setelah 12 tahun ia mendapat remisi dan dibebaskan lebih awal dan ingin memulai pelayanan penuh waktu. Gereja yang ia hadiri menerimanya, melatihnya dan dia memiliki pelayanan yang berkuasa dan luar biasa.

John, di sisi lain, menghadiri gereja yang sama. John tidak pernah dipenjara, tidak pernah membunuh siapa pun, tidak pernah tidur dengan pelacur manapun dan tidak pernah menyentuh narkoba. Tetapi ia bercerai karena istrinya pergi begitu saja. John kemudian menikah lagi dengan seorang wanita Kristen yang luar biasa dan merasa terpanggil untuk pelayanan juga, namun karena dia pernah bercerai, gerejanya katakan dia tidak bisa berada dalam pelayanan. Sementara Matt yang pernah membunuh dan dulu sering tidur dengan pelacur boleh berada dalam pelayanan karena dia tidak pernah bercerai.

Cerita seperti itu terjadi dalam gereja sepanjang waktu.

Karena perceraian begitu umum terjadi, gereja merespon dengan menegakkan hukum Taurat lebih keras. “Kita harus menurunkan kecenderungan perceraian ini!” Apa yang tidak diketahui banyak orang adalah bahkan HUKUM TAURAT saja pun lebih ringan daripada aturan yang diterapkan gereja hari ini! Saya pribadi tentu ingin menurunkan kecenderungan perceraian ini, tetapi saya juga ingin menurunkan kecenderungan rasa bersalah yang palsu, legalisme dan rasa takut yang sering gereja gunakan untuk mencapai tujuannya. Saya juga tidak sedang berusaha mendorong siapa pun untuk bercerai. Sebaliknya, kami mengkonseling orang-orang untuk tetap berada dalam pernikahan.

image

APA YANG KASIH KARUNIA KATAKAN TENTANG PERCERAIAN?

Tidak cukup ruang bagi saya untuk menjelaskan setiap ayat Alkitab yang berkaitan dengan perceraian, tetapi saya ingin menunjukkan kepada Anda beberapa ayat yang keberadaannya mungkin tak pernah Anda ketahui.

Pertama-tama, ada ungkapan yang diajarkan berulang-ulang: “Allah membenci perceraian!” Betapa banyak pendeta dan orang Kristen yang telah mengajarkannya. Dikatakan bahwa tindakan perceraian adalah sesuatu yang membangkitkan kebencian terdalam Allah. Implikasinya, karena Allah membenci perceraian maka Allah tidak pernah berkehendak orang Kristen bercerai. Mari kita lihat Maleakhi 2:16 yang merupakan sumber pengajaran ini:

King James Version:
“For the LORD, the God of Israel, saith that he hateth PUTTING AWAY: for one covereth violence with his garment, saith the LORD of hosts: therefore take heed to your spirit, that ye deal not treacherously.”

New King James Version:
For the LORD God of Israel says That He hates DIVORCE, For it covers one’s garment with violence,” Says the LORD of hosts. “Therefore take heed to your spirit, That you do not deal treacherously.”

American Standard Version:
For I hate PUTTING AWAY, saith Jehovah, the God of Israel, and him that covereth his garment with violence, saith Jehovah of hosts: therefore take heed to your spirit, that ye deal not treacherously.”

• Terjemahan Baru:
Sebab Aku membenci perceraian, firman Tuhan, Allah Israel — juga orang yang menutupi pakaiannya dengan kekerasan, firman Tuhan semesta alam. Maka jagalah dirimu dan janganlah berkhianat!

Pertama-tama, saya ingin menjelaskan bahwa kata Ibrani yang umum digunakan untuk perbuatan hukum bercerai tidak digunakan di ayat ini. Yang digunakan adalah kata “putting away” (Ibrani: שׁלח shâlach H7971=menyingkirkan, mengusir, membuang). Ayat ini tidak mengatakan bahwa Allah membenci perceraian. Dengan kata lain, bukan perbuatan hukum perceraian itu yang jadi masalah. Yang Allah katakan dibenci-Nya adalah ketika seorang laki-laki membenci istrinya, berkhianat atau bertindak tidak setia kepada istrinya, memperlakukan istrinya dengan kejam dan penuh kekerasan dan melakukan tindakan yang menempatkan istrinya dalam posisi tersingkir, tanpa menceraikannya (menyingkirkan istrinya secara halus).

Allah sedang mengatakan, “Aku memiliki masalah dengan laki-laki yang menganiaya istrinya dan menempatkan istrinya itu dalam posisi “tersingkir” (yang akan kita bahas berikutnya). Aku memiliki masalah dengan laki-laki yang memanipulasi situasi yang menyebabkan si istri meninggalkannya.” Allah tidak menyoroti perceraian. Allah menyoroti perlakuan kejam (abuse). Allah memerintahkan agar laki-laki jangan bertindak tidak setia dan kejam kepada istrinya. Allah sedang menyoroti penyebab perceraian, bukan perceraian itu sendiri.

Jika Anda berpikir Allah sedang menyoroti perceraian, Anda akan sampai pada kesimpulan bahwa Allah tidak pernah berkehendak orang Kristen bercerai karena Anda pikir ayat tersebut mengatakan Allah membenci perceraian. Tetapi bukan itu yang dimaksud ayat ini. Perceraian sudah cukup sulit tanpa membuat Allah menjadi musuh Anda juga. Perceraian bukanlah kejahatan … kadang-kadang, tetap berada dalam sebuah pernikahan yang abusif/penuh kekerasan, itu yang merupakan kejahatan.

Saya berasal dari keluarga yang penuh kisah perceraian: ayah saya 6 kali bercerai, ibu saya 3 kali, nenek saya 4 kali, sehingga seseorang bisa mengatakan saya lunak terhadap perceraian karena saya telah melihat begitu banyak perceraian. Padahal yang benar adalah sebaliknya, karena saya telah melihat luka yang diakibatkan oleh perceraian, ketiadaan kehadiran orang tua dalam hidup saya, serta pertengkaran demi pertengkaran berikut segala dampaknya.

Namun, di sisi lain, saya juga telah melihat luka, penderitaan, rasa sakit dan kehidupan yang hancur karena pasangan suami-istri yang memaksakan diri tetap bersama. Banyak anak-anak bermasalah berasal dari keluarga utuh yang telah dilecehkan oleh orang tuanya, atau disiksa secara fisik; atau dari keluarga-keluarga yang jatuh miskin karena alkoholisme. Mereka memiliki masalah yang jauh lebih buruk ketimbang anak-anak yang berasal dari orang tua yang bercerai (broken home). Legalisme dalam pernikahan bisa benar-benar berbahaya!

Beberapa gereja mengajarkan Allah selalu berkehendak Anda tetap berada dalam pernikahan Anda. Ya, Anda memang harus memperjuangkan pernikahan Anda. Perceraian antara suami-istri seringkali disebabkan oleh penghakiman demi penghakiman yang menumpuk dalam hati masing-masing terhadap pasangannya. Ya, Anda harus mendapatkan konseling dan sedapatnya Anda hendaknya berdamai dengan semua orang. Tetapi Allah tidak pernah menginginkan Anda tetap berada dalam situasi yang di dalamnya Anda disiksa dan mengalami kekasaran secara fisik maupun mental. Tidak ada mahkota khusus di sorga bagi Anda karena telah membiarkan diri Anda disiksa sampai ke titik pasangan Anda membunuh Anda, dan berpikir bahwa itu adalah demonstrasi kasih. Maafkan saya, tetapi itu adalah demonstrasi roh kebodohan!

Tahukah Anda bahwa dalam Yesaya 50:1 dan Yeremia 3:8 dikatakan bahwa Allah menceraikan (memberikan surat cerai kepada) Israel? Tahukah Anda? Jika Allah memang membenci perceraian, dengan tindakan itu berarti Dia telah melanggar aturan-Nya sendiri, mengingkari karakter-Nya sendiri. Allah menunjukkan bahwa ada saat yang tepat untuk bercerai.

Tahukah Anda bahwa dalam Ezra 10, Alkitab katakan Allah memerintahkan orang Israel untuk menceraikan istri kafir mereka? Dia benar-benar memerintahkan perceraian. Jadi perceraian itu sendiri bukanlah kejahatan. Hal itu disetujui oleh Allah dan diperintahkan oleh Allah dalam keadaan tertentu.

Bahkan ada hukum tertentu dalam Taurat yang mengatur bagaimana untuk menceraikan dengan cara yang tidak melibatkan kekerasan dan memastikan bahwa hak masing-masing pihak terpenuhi dengan cara yang terbaik (Ulangan 24:1-2 American Standard Version).

Mungkin saat ini banyak yang mengira saya mencoba mempromosikan perceraian. Tidak, yang saya lakukan adalah menyatakan kebenaran. Kebenarannya adalah, jika satu-satunya alasan Anda tetap dalam pernikahan adalah karena Anda berpikir Allah akan marah kepada Anda, atau Anda takut malu … maka Anda tetap dalam pernikahan karena alasan yang salah. Jika demikian, bukan Anda yang mempertahankan pernikahan Anda, tetapi ketakutan agamawi Anda.

Tapi tunggu dulu.

TIDAKKAH YESUS MENGELUARKAN TEGURAN KERAS MENGENAI PERCERAIAN?

Tidakkah Yesus mengeluarkan teguran keras mengenai perceraian? Bukan begitu? Mari kita bahas hal ini. Sebelumnya kita perlu memahami budaya yang berlaku pada zaman Yesus dan konteks kata-kata Yesus; sebab tanpanya bisa-bisa kita -seperti banyak orang lain- salah menafsirkan apa yang Yesus ajarkan.

Pertama-tama, pada zaman Yesus terdapat beberapa sekte Yahudi seperti ahli-ahli Taurat, orang Farisi, orang-orang Zelot, dan masyarakat Qumran yang semua memiliki pemahaman yang berbeda tentang perceraian. Beberapa mengajarkan bahwa seseorang tidak pernah bisa bercerai atas alasan apapun. Lainnya, seperti dicatat dalam pengajaran Rabi Hillel, mengatakan bahwa seorang laki-laki dapat menceraikan istrinya dengan alasan apapun (Matius 19). Jadi dalam Matius 5 dan Matius 19 Yesus membahas hal ini. Perhatikan bagaimana Dia mengatakannya:

Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga. Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga” (Matius 5:19‭-‬20).

Apakah Anda bisa melihat tujuan Yesus dalam kata-kata-Nya ini? Dalam ayat 19 maksud-Nya adalah, “Hei guys, Aku akan tunjukkan bagaimana kamu telah meniadakan bagian terkecil dari hukum Taurat dan telah mengajarkan orang lain melakukan hal yang sama. Aku akan tunjukkan kepadamu bahwa kecuali kamu menemukan suatu kebenaran yang melampaui apa yang ahli-ahli Taurat dan orang Farisi tawarkan, kamu tidak akan bisa masuk sorga.” Isi khotbah Yesus ini adalah tentang bagaimana Ia menghormati hukum Taurat dan bagaimana pemikiran-pemikiran manusia telah memelintir hukum itu. Ia berkata, “Aku akan menerapkan hukum Taurat kepadamu pada tingkat tertinggi, yaitu tingkat hati, supaya kamu tahu kamu tidak bisa masuk sorga karena melakukan hukum Taurat.” Dengan cara itu mereka akan lapar dan haus akan kebenaran-Nya.

Itulah sebabnya Ia mengatakan, “Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum” (Matius 5:21‭-‬22). Yesus membawa hukum Taurat ke tingkat hati dan menunjukkan bahwa adalah suatu kemustahilan bagi manusia manapun untuk mengatakan dia bisa masuk sorga. Yesus melanjutkan, “Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya” (Matius 5:27‭-‬28). Yesus menunjukkan kepada mereka suatu kebenaran, bahwa pada standar Taurat mereka mungkin saja tidak melanggar perintah jangan berzinah, tetapi mereka telah melanggar perintah untuk tidak mengingini istri sesamanya.

Namun apa sebenarnya yang Yesus coba jelaskan ketika Ia berbicara tentang perceraian? Banyak terjemahan yang tidak menerjemahkan ayat ini dengan tepat, jadi saya ingin menggunakan satu terjemahan yang menerjemahkannya dengan tepat:

It was said also, Whosoever shall PUT AWAY HIS WIFE, let him give her a writing of divorcement: but I say unto you, that every one that putteth away his wife, saving for the cause of fornication, maketh her an adulteress: and whosoever shall marry her when she is put away committeth adultery” (Matthew 5:31‭-‬32 American Standard Version).

[Telah difirmankan juga: Barangsiapa yang MENYINGKIRKAN ISTRINYA harus memberikan kepadanya surat cerai; tetapi Aku berkata kepadamu: Siapapun yang menyingkirkan istrinya kecuali karena zinah, menjadikan isterinya pezinah; dan siapapun yang kawin dengan perempuan itu saat ia disingkirkan berarti melakukan zinah]

Ayat ini telah menjadi topik perdebatan bersama dengan Matius 19 yang berisi pengajaran Yesus tentang hal yang sama. Orang-orang Farisi sedang MENCOBAI Dia. Banyak yang mengajarkan bahwa Yesus mengatakan satu-satunya alasan Anda dapat menceraikan istri Anda adalah karena perzinahan. Tetapi bukan itu maksud ayat ini. Yesus berbicara tentang inti hukum Taurat.

Apakah Anda memperhatikan perbedaan antara “menyingkirkan istrinya” dan “menuliskan surat cerai”? Sama seperti dalam bahasa Ibrani, ada dua kata yang berbeda yang digunakan di sini. Menyingkirkan seorang istri (put away) adalah tindakan menyingkirkan/membuang seorang istri, membuatnya hidup dalam keterpisahan tanpa adanya dukungan/sokongan apapun dan tanpa ada tempat baginya untuk hidup. Pada masa Perjanjian Lama, bahkan hingga hari ini di Israel masih ada praktik licik yang Yesus bicarakan ini. Apakah itu? Yakni seorang laki-laki menyingkirkan/membuang istrinya (atau memanipulasi situasi sehingga istrinya terpaksa pergi darinya), bukannya menceraikannya. Jika seorang laki-laki menceraikan istrinya maka ia harus mengembalikan mahar yang telah ia terima dari keluarga istrinya; tetapi jika ia hanya menyingkirkan istrinya, dia tidak perlu mengembalikan mahar itu. Tindakan ini ujung-ujungnya adalah keserakahan.

Dengan tersingkirnya dirinya, sekarang sang istri tidak memiliki uang, dia tidak punya cara menyokong dirinya sehingga satu-satunya jalan baginya untuk tetap bertahan hidup adalah menikah lagi. Tetapi dia tidak bisa menikah lagi karena suaminya tidak menceraikannya (tidak memberinya surat cerai). Dengan kondisi demikian, laki-laki itu telah menempatkan istrinya dalam posisi terpaksa menikah lagi yang membuat dia berada dalam perzinahan.

Lihatlah Lukas 16:14-18 American Standard Version saat Yesus kembali berurusan dengan hal ini:

14And the Pharisees, who were LOVERS OF MONEY, heard all these things; and they scoffed at him. 15And he said unto them, Ye are they that justify yourselves in the sight of men; but God knoweth your hearts: for that which is exalted among men is an abomination in the sight of God. 16The law and the prophets were until John: from that time the gospel of the kingdom of God is preached, and every man entereth violently into it. 17But it is easier for heaven and earth to pass away, than for one tittle of the law to fall. 18Every one that PUTTETH AWAY his wife, and marrieth another, committeth adultery: and he that marrieth one that is put away from a husband committeth adultery.

[14Dan orang-orang Farisi, yang adalah HAMBA UANG, mendengar semuanya itu; dan mereka mencemooh Dia. 15Lalu Ia berkata kepada mereka: “Kamu membenarkan diri di hadapan orang; tetapi Allah mengetahui hatimu: sebab apa yang ditinggikan di antara manusia, adalah kekejian di mata Allah. 16Hukum Taurat dan kitab para nabi berlaku sampai kepada zaman Yohanes: sejak saat itu Injil Kerajaan Allah diberitakan, dan setiap orang berebut memasukinya. 17Tetapi lebih mudah langit dan bumi lenyap, daripada satu titik dari hukum Taurat batal. 18Setiap orang yang MENYINGKIRKAN isterinya dan kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah: dan siapapun yang kawin dengan perempuan yang disingkirkan suaminya, ia berbuat zinah.]

YUSUF DAN MARIA

Jangan lupakan kisah Yusuf dan Maria. Yusuf akan “menyingkirkan dia secara diam-diam,” bukan menceraikannya. Dalam kasus ini, mereka masih ditunangkan, belum melangsungkan pernikahan. Tujuan Yusuf adalah berusaha memperlakukan istrinya yang “curang” ini seterhormat mungkin.

KESIMPULAN:

Saya katakan lagi, saya tidak sedang membujuk siapapun agar bercerai. Pernikahan adalah dasar bangunan masyarakat. Pernikahan adalah tempat -Alkitab katakan- anak-anak saleh dilahirkan. Pernikahan adalah tempat Allah menempatkan dua orang bersama-sama untuk tujuan persahabatan, kemitraan, dan keintiman fisik. Saya ingin memperjuangkan setiap pernikahan! Allah peduli tentang pernikahan!

Tapi ada kalanya orang menolak apa yang Allah sedang lakukan. Menurut Yesus dalam Matius 19, perceraian bukanlah maksud Allah sejak semula yakni SEBELUM KEJATUHAN, tetapi Yesus mengakui ada kalanya kekerasan hati manusia sendirilah yang membuat mereka bercerai. Ada orang-orang yang benar-benar tidak cocok satu sama lain. Ada kalanya penganiayaan fisik dan mental telah melanggar perjanjian persahabatan, kemitraan dan keintiman fisik. Ada kalanya perceraian menjadi hal yang baik.

Jadi jika Allah mengijinkan perceraian di bawah hukum Taurat karena kekerasan hati manusia, dan jika Allah sendiri menceraikan Israel, dan Allah bahkan kadang-kadang memerintahkan perceraian; … mari kita berhenti menghakimi orang-orang yang bercerai. Apa iya Allah jadi kurang bersimpati di bawah kasih karunia?

Apakah Anda menyadari bahwa semakin Anda memberitakan hukum Taurat kepada seseorang, sebenarnya Anda sedang memberi kuasa kepada dosa dalam hidupnya? 1 Korintus 15:56 mengatakan bahwa kuasa dosa adalah hukum Taurat. Mungkin alasan tingkat perceraian semakin tinggi dalam gereja daripada tingkat perceraian secara umum di dunia adalah karena dalam gereja begitu banyak dikhotbahkan perceraian adalah dosa! Hanya pemikiran saja!

Apakah Yesus menghukum perempuan yang tertangkap basah sedang berzinah? Apakah kehancuran pernikahan Anda adalah kesalahan Anda? Maka bertanggungjawablah dan terimalah fakta bahwa Yesus tidak menghukum Anda. Ini adalah kekuatan “tidak ada penghukuman” yang akan membebat dan menyembuhkan hati Anda.

Apakah Yesus menyuruh perempuan yang ditemui-Nya di sumur untuk kembali dan menikah lagi dengan suami pertamanya untuk memperbaiki keadaan agar kemudian laki-laki itu menerimanya? Setiap kali Anda harus mencari celah bagaimana semua ini terjadi, Anda sedang menalar dari hukum Taurat, bukan dari kasih karunia.

Tidak, kasih karunia Tuhan Yesus Kristus menginginkan kita membantu orang-orang berjuang mempertahankan pernikahan mereka, dan jika perlu, untuk pulih dari perceraian … tanpa menumpukkan rasa bersalah, rasa malu atau penghakiman atas siapa pun!

Chuck Crisco: Spiritual Myth-Busters: God Hates Divorce?; February 23, 2015.

http://www.anewdaydawning.com/blog-1/2015/2/23/spiritual-myth-busters-god-hates-divorce

Advertisements