KITA BUTUH IMPARTASI

image

Ada banyak blog yang muncul belakangan ini yang berusaha mengkoreksi ekses-ekses aneh gerakan Karismatik. Sebagian blog ini benar-benar bagus dan bermanfaat, sedangkan sebagian lainnya berusaha mengkoreksi ekses tetapi tanpa sengaja telah menghilangkan hal yang baik juga. Karena hal ini belum diajarkan dengan jelas saat ini, saya membagikan kembali bab tentang “impartasi” dari buku saya, “The School of the Seer.” Selamat menikmati!

Untuk memahami arti impartasi, Anda harus memahami arti urapan/pengurapan, yang dalam Alkitab berarti “mengolesi.” Dalam Alkitab, minyak adalah simbol Roh Kudus. Ketika seorang nabi atau imam menuangkan, mengusapkan, atau mengoleskan minyak di atas kepala seseorang, hal itu dianggap sebagai pengurapan atas orang tersebut. Tindakan ini membuat orang yang diurapi memiliki sejumlah bagian urapan yang dimiliki oleh nabi atau imam yang mengurapi dirinya. Hal ini sering disebut sebagai transfer/perpindahan pengurapan.

Dalam Perjanjian Lama (Old Testament), minyak digunakan untuk menandai perpindahan pengurapan. Dalam Perjanjian Baru (New Testament) kita melihat bahwa urapan Roh Kudus dapat diteruskan atau dipindahkan lewat penumpangan tangan karena pengurapan berdiam dalam diri kita: “Tetapi pengurapan yang telah kamu terima dari pada-Nya tetap ada [abide] di dalam diri kamu...” (1 Yohanes 2:27 New International Version).

IMPARTASI ADALAH HAL MENDASAR

Penulis Kitab Ibrani menuliskan penumpangan tangan sebagai salah satu dari enam doktrin Kristen mendasar yang harus dipahami. Ini menempatkan penumpangan tangan dalam fondasi dasar keyakinan Kristen kita. Dalam banyak kalangan Gereja modern, impartasi diabaikan, bahkan dapat dikatakan disangkali; padahal pada abad pertama, penumpangan tangan dianggap sebagai kebenaran mendasar:

Karena itu marilah kita tinggalkan asas-asas dasar ajaran tentang Kristus dan berlanjut kepada kedewasaan, tidak lagi meletakkan dasar … yaitu ajaran tentang pelbagai pembaptisan, penumpangan tangan, kebangkitan orang-orang mati dan hukuman kekal” (Ibrani 6:1‭-‬2).

Rasul Paulus juga berpikir bahwa impartasi adalah bagian dari proses menjadi dewasa dan kuat. Dia mengimpartasikan karunia rohani kepada orang percaya di Roma untuk memberikan mereka dasar yang lebih baik: “Aku … akhirnya beroleh kesempatan untuk bertemu dengan kamu, sehingga aku dapat mengimpartasikan beberapa karunia rohani kepadamu, agar kamu dikuatkan…” (Roma 1:10‭-‬11 New International Version).

IMPARTASI ADALAH SESUATU YANG DISENGAJA

Dalam Perjanjian Lama, pengurapan adalah peristiwa yang sangat bertujuan dan sangat penting. Impartasi terjadi bukan hanya karena sentuhan, tapi karena seseorang menumpangkan tangannya atas Anda oleh tuntunan Roh Kudus dengan suatu tujuan dalam pikirannya. Secara disengaja, impartasi terjadi.

Mengatakan bahwa impartasi terjadi setiap kali sentuhan terjadi sama dengan mengatakan jika buli-buli minyak seorang nabi Perjanjian Lama bocor maka segala sesuatu yang terkena tetesan minyak itu diurapi menjadi raja. Jika impartasi terjadi hanya dengan sentuhan, maka setiap kali Anda menjabat tangan seseorang, ada bagian urapan Anda yang tak sengaja “terimpartasi” kepada orang itu. Hal ini tidak alkitabiah, dan kita tidak mendukung takhayul yang demikian. Kita dengan sengaja memberikan/mengimpartasikan apa yang kita miliki, dengan tuntunan Roh Kudus, seperti dikatakan Petrus: “… apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu …” (Kisah Para Rasul 3:6).

IMPARTASI ADALAH SESUATU YANG ALKITABIAH

Ada banyak contoh lain dalam Alkitab mengenai individu atau kelompok orang yang menerima impartasi dari Tuhan melalui orang lain. Berikut contohnya:

Yosua dan Musa:
Dan Yosua bin Nun penuh dengan roh kebijaksanaan, sebab Musa telah meletakkan tangannya ke atasnya. Sebab itu orang Israel mendengarkan dia dan melakukan seperti yang diperintahkan Tuhan kepada Musa (Ulangan 34:9).

Musa dan para tua-tua bangsa Israel:
Lalu Musa pergi ke luar, dan menyampaikan kepada bangsa itu firman Tuhan, dan ia mengumpulkan tujuh puluh orang dari para tua-tua bangsa itu dan menyuruh mereka berdiri di sekeliling kemah. Lalu turunlah Tuhan dalam awan dan berbicara kepada Musa, kemudian diambil-Nya sebagian dari Roh yang hinggap padanya, dan ditaruh-Nya atas ketujuh puluh tua-tua itu; maka terjadilah, ketika Roh itu hinggap pada mereka, bernubuatlah mereka … (Bilangan 11:24‭-‬25 New King James Version).

Elia dan Elisa:
Dan sesudah mereka sampai di seberang, berkatalah Elia kepada Elisa: “Mintalah! Apa yang bisa kulakukan kepadamu, sebelum aku diangkat dari padamu?” Jawab Elisa: “Biarlah dua bagian dari rohmu atasku” (2 Raja-raja 2:9 New King James Version)

Petrus:
Tetapi Petrus berkata: “Perak dan emas tidak kupunyai, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Dalam nama Yesus Kristus orang Nazaret itu, bangkitlah dan berjalanlah!” (Kisah Para Rasul 3:6 New King James Version).

Paulus dan Timotius:
Jangan melalaikan karunia yang ada padamu, yang telah diberikan kepadamu oleh nubuat dan dengan penumpangan tangan sidang penatua” (1 Timotius 4:14).

Timotius sangat dipengaruhi oleh impartasi. Sebagai akibat dari impartasi, secara khusus ia telah menerima karunia rohani melalui penumpangan tangan dan nubuat sidang penatua: “Karena itu aku mengingatkanmu untuk mengobarkan karunia Allah yang ada didalammu lewat penumpangan tanganku” (2 Timotius 1:6).

IMPARTASI BERSIFAT PERORANGAN/INDIVIDUAL

Apakah setiap orang menerima impartasi dengan takaran yang sama ketika terjadi penumpangan tangan? Beberapa orang berpikir bahwa jika seorang pemimpin terkenal Kristen menumpangkan tangannya pada seseorang, maka si penerima akan mendapatkan impartasi yang secara instan memberi dia porsi urapan yang sama.

KARAKTER KITA HARUS MAMPU “MENANGGUNG” TAKARAN KUASA YANG KITA BAWA.

Rahmat Allah melindungi kita menerima lebih besar daripada yang mampu kita tangani. Seperti dikatakan Pastor Bill Johnson dari Redding, California, “Pewahyuan selalu disertai oleh tanggung jawab, dan rasa lapar adalah hal yang mempersiapkan hati kita untuk menanggung beban tanggung jawab itu.” Karakter kita harus mampu menanggung kuasa yang kita bawa, jika tidak kita akan menjadi ancaman bagi orang-orang di sekitar kita. Jadi jawabannya adalah tidak. Tidak semua orang menerima tingkat urapan atau impartasi yang sama. Allah tahu apa yang Anda butuhkan, dan apa yang mampu Anda tangani.

IMPARTASI ADALAH BENIH, BUKAN TANAMAN YANG SUDAH DEWASA

Perumpamaan tentang penabur (lihat Lukas 8:4-15) mengajar kita bagaimana penabur menaburkan benih untuk keselamatan, dan juga mengajar kita prinsip bagaimana kita menerima sesuatu dari Tuhan. Hati kita adalah tanah, dan Allah Bapa adalah penabur yang menaburkan benih, yaitu Firman Allah (atau, sebagai analogi, adalah impartasi). Bapa menaburkan impartasi ke dalam tanah hati kita. Kemudian burung, yang adalah serangan setan, datang untuk mencuri, membunuh dan membinasakan.

Di sinilah variasi impartasi dapat terjadi. Bagaimana setiap benih bertumbuh tergantung pada tanah tempat benih itu ditanam dan seberapa siap tanah itu untuk ditumbuhi benih. Setelah benih ditanam, ia dapat tumbuh sangat cepat jika diberi air yang tepat (waktu dalam hadirat Roh Kudus – lihat Yohanes 7:38-39) dan sinar matahari (Yesus adalah cahaya yang benih butuhkan untuk tumbuh – lihat 2 Korintus 4:4).

Setahu saya, orang-orang yang memiliki impartasi yang paling kuat adalah orang-orang: yang menginginkan lebih lagi dari Allah, para gembala yang letih dan lesu, dan yang putus asa untuk terobosan dalam pelayanannya. Mereka adalah orang-orang yang tanah hatinya merindukan benih, dan begitu benih itu jatuh ke tanah, ia segera berkecambah. Tanah hati mereka sudah dipersiapkan dengan air dan sinar matahari, tetapi impartasi diperlukan untuk mampu memberi hasil. Sebaliknya, ada orang-orang yang tidak memiliki rasa lapar terhadap Allah, tidak menghabiskan waktu dengan Roh Kudus, dan tidak berjalan dalam terang Kristus, membuat hati mereka keras seperti tanah berbatu. Biasanya, Allah harus membajak tanah ini sebelum benih apapun dapat tumbuh di sana.

Salah satu faktor lain dalam menabur benih adalah tekanan tanah yang dibutuhkan untuk menekan benih sehingga cangkangnya terbuka dan benih dapat mulai tumbuh. Ada benih yang tidak pernah berkecambah, karena mereka tidak pernah ditanam di tanah, yang ditemukan di makam firaun. Sebagian benih ini – yang usianya sudah lebih dari 4.000 tahun – ketika ditanam di tanah, kemudian tumbuh dan menghasilkan. Itulah sebabnya ada benih keselamatan yang setelah ditabur ke tanah hati orang hari demi hari tidak jua memberi hasil, namun ketika cobaan hidup memberikan tekanan yang dibutuhkan, cangkang benih retak terbuka dan benih mulai berkecambah dan hidup.

Tekanan ini penting karena tidak hanya orang yang lapar rohani saja yang mendapatkan impartasi kuat. Kadang-kadang impartasi yang luar biasa malah dialami oleh orang yang nyaris kehilangan pelayanannya, atau seseorang yang hampir menyerah kepada kesulitan. Seseorang yang sedang berada di bawah tekanan luar biasa dalam hidup bisa jadi adalah yang paling siap menerima benih impartasi untuk ditanam dalam hatinya.

ANDA HANYA BISA MENGIMPARTASIKAN APA YANG ANDA MILIKI

Sangat penting bagi kita untuk memahami poin berikut ini: Anda hanya bisa mengimpartasikan apa yang Anda miliki – jika Anda memilikinya, Anda dapat mengimpartasikannya. Jika Anda tidak memilikinya, jangan tumpangkan tangan Anda atas orang lain dan menyatakan impartasi. Jika yang Anda miliki dalam buli-buli Anda adalah urapan minyak zaitun, maka Anda tidak dapat menyatakan dan mengimpartasikan kepada orang lain urapan minyak aras. Ya, berdoalah agar Allah memberikannya kepada mereka. Tapi jangan mengklaim memberikan apa yang Anda sendiri tidak miliki dalam hidup Anda. Anda tidak dapat mengimpartasikan kuasa membangkitkan orang mati kepada seseorang jika Anda sendiri tidak pernah membangkitkan orang mati; tetapi Anda dapat mendeklarasikan dan menubuatkannya atas orang tersebut jika memang Tuhan menuntun Anda.

“Porsi ganda” (the double portion) yang berkaitan dengan impartasi, adalah frasa yang umum terdengar di kalangan gereja. Untuk memahami porsi ganda dengan benar, coba pikirkan skenario berikut. Misalkan seorang nabi Perjanjian Lama diutus untuk mengurapi seorang raja dan ia membawa sepuluh kati minyak urapan dalam buli-bulinya, ia hanya bisa mengurapi raja dengan sepuluh kati minyak itu. Jika raja meminta dia untuk mengurapinya dengan porsi ganda, berarti raja itu meminta 20 kati. Nabi tidak bisa memberikan 20 kati karena dia hanya memiliki 10 kati. Yang diminta adalah porsi ganda dari apa yang sang nabi miliki.

Inilah yang terjadi ketika Elisa meminta porsi ganda urapan Elia. Elia menanggapi permintaan ini dengan mengatakan, “Yang kauminta itu adalah sukar” (2 Raja-raja 2:10a). Karena tidak seorangpun memiliki kemampuan untuk memberikan porsi ganda pengurapan kepada orang lain, Elia “melemparkan” tanggung jawab itu kepada Allah dengan mengatakan, “Yang kauminta itu adalah sukar. Tetapi jika engkau dapat melihat aku terangkat dari padamu, akan terjadilah kepadamu seperti yang demikian, dan jika tidak, tidak akan terjadi” (2 Raja-raja 2:10b). Inilah pemahaman yang benar tentang konsep pengurapan ganda Elisa. Perhatikan bahwa bahkan Nabi Elia tidak dapat memberikan pengurapan ganda; jawabannya, pada dasarnya, mengatakan bahwa Allahlah yang harus melakukannya. Jika kita mempelajari kehidupan Elisa, kita akan menemukan bahwa dia memang melakukan mukjizat dua kali lebih banyak daripada mentornya Elia. Jadi Tuhan memang memberinya dua kali lipat urapan yang ada pada Elia.

JANGAN TERBURU-BURU

Surat Satu Timotius 5:22 menimbulkan pertanyaan penting lain mengenai praktik impartasi: “Janganlah engkau terburu-buru menumpangkan tangan atas seseorang dan janganlah terbawa-bawa ke dalam dosa orang lain. Jagalah kemurnian dirimu.” Jika ditarik keluar dari konteks aslinya, ayat ini bisa tampak sangat bertentangan dengan segala sesuatu yang telah disajikan dalam bab ini. Sebagian besar Satu Timotius berisi pengaturan kepemimpinan gereja. Dalam pasal 3 terdapat penjabaran rinci kualifikasi orang yang boleh didudukkan dalam kepemimpinan. Beberapa ayat sebelumnya, Paulus menulis, “Penatua-penatua yang baik pimpinannya patut dihormati dua kali lipat, terutama mereka yang dengan jerih payah berkhotbah dan mengajar. Bukankah Kitab Suci berkata: “Janganlah engkau memberangus mulut lembu yang sedang mengirik,” dan lagi “seorang pekerja patut mendapat upahnya.” Janganlah engkau menerima tuduhan atas seorang penatua kecuali kalau didukung dua atau tiga orang saksi. Mereka yang berbuat dosa hendaklah kautegor di depan semua orang agar yang lain itu pun takut” (1 Timotius 5:17‭-‬20).

Dalam Satu Timotius, Paulus menulis tentang penumpangan tangan untuk menetapkan para pemimpin/penatua dalam posisi otoritas. Ini tidak ada hubungannya dengan konsep impartasi. Tidaklah masuk akal jika Paulus menulis dalam Ibrani 6 (jika ia yang menulis Kitab Ibrani) dan dalam Roma 1 bahwa ia ingin menumpangkan tangan pada orang Kristen yang masih bayi rohani untuk “menguatkan mereka” (lihat Roma 1:11), namun memberi peringatan dalam Satu Timotius bahwa Timotius dapat terbawa-bawa dosa orang lain jika menumpangkan tangan atas mereka. Jika Paulus memang mengacu kepada jenis penumpangan tangan yang sama pada kedua ayat ini, maka tidakkah ia akan mengatakan untuk “jagalah kemurnian dirimu” dengan tidak menumpangkan tangan atas bayi-bayi rohani yang belum “kuat” (1 Timotius 5:22; Roma 1:11)?

Ada dua jenis penumpangan tangan: yang pertama adalah untuk menetapkan pemimpin, dan yang kedua untuk mengimpartasikan dan mentransfer/memindahkan pengurapan. Ada kualifikasi dan batasan pada jenis pertama, namun bagi jenis kedua Anda memenuhi syarat. Pemindahan pengurapan oleh penumpangan tangan diperuntukkan bagi setiap orang Kristen dan tidak akan dibatasi; bahkan, kenyataannya, pengurapan itu ada untuk membantu Anda tumbuh!

Jonathan Welton: We Need Impartation; June 28, 2016.

https://weltonacademy.com/blogs/jonathanwelton/we-need-impartation

Advertisements