BAGAIMANA TUMBUH DALAM IMAN

image

“Aku berharap punya iman yang lebih besar.” Ini adalah ucapan yang sering saya dengar dalam percakapan dengan orang-orang yang mencari sesuatu yang lebih dalam hubungan mereka dengan Allah. Kadang-kadang ucapan ini disertai helaan nafas atau sebuah re-komitmen, niat berusaha lebih keras. Dan respon saya?

“Jangan.”

Jangan bergantung kepada niat/keinginan atau mencoba berusaha lebih keras. Ini meletakkan beban memiliki iman yang lebih besar pada diri Anda, padahal diri Anda tidak diciptakan untuk itu. Mencoba untuk memiliki iman yang lebih besar mengubah kemitraan dengan Allah yang dirancang sebagai sesuatu yang dibagi (shared) dan ringan, menjadi sebuah one man show – “pertunjukan tunggal” yang seluruh tanggung jawabnya Anda pikul sendiri.

IMAN ADALAH RESPON KITA TERHADAP KEMAMPUAN ALLAH, BUKAN KEMAMPUAN KITA.

Iman adalah hasil alami dari mengetahui siapa Dia sebenarnya, bukan suatu tujuan yang harus dicapai. Pikirkan anak-anak yang tertawa senang saat diayun-ayunkan ke udara oleh ayahnya. Mereka tidak mempelajari aspek fisika dari kegiatan itu lebih dulu atau menghitung rasio jatuh dibanding ayunan sang ayah sebelumnya. Iman mereka terletak pada SIAPA yang mengayunkan mereka, yang adalah hasil dari hubungan seumur hidup yang mengatakan, “Aku bisa percaya kepada ayahku.”

Iman adalah sesuatu yang bersifat relasional, bukan informatif – iman bekerja melalui kasih, bukan melalui intelektual atau usaha kita (lihat Galatia 5:6). Kita hidup dalam perjalanan menuju iman yang lebih besar. Yakni sebuah proses “mengetahui karena mengalami” kasih, kesetiaan dan damai sejahtera Seseorang yang kita percayai. Dari situ, dengan senang hati kita akan melepaskan genggaman atas hidup kita karena tahu bahwa kita berada di tempat yang aman (2 Timotius 1:12).

IMAN KITA SEMAKIN BESAR SAAT KITA BERSYUKUR, KARENA UCAPAN SYUKUR ADALAH TINDAKAN MENERIMA.

Iman mengalami percepatan dalam atmosfir bersyukur. Kita mengatakan, “Aku percaya janji ini adalah milikku. Aku percaya Engkau benar-benar seperti yang Engkau katakan, ya Allah. Terima kasih untuk janji-Mu.” Saat saya dipenuhi dengan rasa syukur atas penyediaan-Nya, maka saya sepakat dengan-Nya bahwa penyediaan-Nya itu benar-benar milik saya – dan saya menerimanya. Anda tidak bisa menulis catatan terima kasih untuk hadiah yang Anda tolak.

Jadi buatlah sebuah perubahan dalam pemikiran Anda tentang iman dan jadilah merdeka dari beban mencoba memiliki iman lebih besar. Sebaliknya, tumbuhkanlah atmosfir batiniah penuh syukur dan berjemurlah dalam kasih sayang Allah yang mencintai Anda. Iman akan tumbuh secara alami dalam lingkungan yang demikian; dan keyakinan Anda kepada Allah yang berjanji selalu menangkap Anda akan menjadi kenyataan terbesar Anda di bumi – yang kebetulan juga adalah kenyataan terbesar di sorga.

– Allison Bown

Allison Bown: How to Grow in Faith; August 9, 2016.

http://brilliantperspectives.com/stop-wishing-faith/

Advertisements