BAGAIMANA PERASAAN ALLAH TERHADAP KEGAGALAN KITA

image

Cara kita memandang Allah akan menentukan bagaimana kita menjalani hidup kita. Tak kalah pentingnya, cara kita memandang diri kita sendiri, dalam hubungan kita dengan Dia, akan menggerakkan keberadaan kita dan apa yang kita lakukan di dunia ini.

Kita hidup di dalam dunia berbasis kesuksesan. Jadi, mengetahui bagaimana pandangan dan perasaan Allah tentang kegagalan adalah benar-benar penting.

“Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang. Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, …” (1 Korintus 1:26‭-‬28)

Jelas sekali. Allah tidak alergi terhadap kegagalan! Dia, tampaknya, tidak ingin keindahan sifat-Nya dan kemuliaan Kerajaan-Nya semata-mata diwakili oleh yang hebat, yang baik dan yang cerdas. Dia tidak ingin seorang manusia pun menjadi penggambaran tunggal segala kebesaran-Nya. Dia memilih dan terus memilih orang-orang yang memiliki sejarah gagal.

Saya percaya Dia memilih mereka karena Dia ingin mengasihi mereka sedemikian rupa sehingga mereka akan selalu merasa aman dan utuh, entah mereka berhasil atau tidak. Dia memilih mereka sehingga kasih-Nya bisa menyembuhkan kebodohan mereka.

DIA MEMILIKI RENCANA MEMBUAT KITA BERHASIL DENGAN MEMAKAI KEGAGALAN KITA DEMI (KEBERHASILAN) KITA, BUKAN UNTUK MENJEGAL KITA.

Bagian besar rencana itu adalah dengan mengasihi kita dengan cara yang persis seperti Dia mengasihi Yesus. Kita dikasihi bukan hanya karena kita berhasil dalam Kristus. Kita dikasihi sepenuhnya dan seutuhnya karena kita ada di dalam Dia.

Allah mengasihi saya karena saya – bukan karena apa yang saya mampu lakukan. Kasih Allah yang tidak terbatas ini adalah suatu hal yang paling memampukan, yang dapat saya internalisasi dalam hidup saya. Dalam kelemahan saya, saya tetap indah di mata Allah. Dia mengijinkan saya gagal ketika Dia sebenarnya bisa mencegah hal itu – mungkin karena Dia ingin saya melihat betapa saya sangat dikasihi saat saya tidak mampu melakukan apapun dengan benar. Dia memberi saya kebebasan untuk gagal untuk menunjukkan kepada saya bahwa saya tetaplah kesayangan-Nya. Kasih-Nya kepada saya tidak berdasarkan seberapa berhasil saya melakukan sesuatu!

DALAM KASIH ALLAH, KITA TIDAK BISA GAGAL; KITA HANYA BISA MEMBUAT KESALAHAN, DAN SEGALA KESALAHAN KITA SUDAH DITUTUPI DAN DISELESAIKAN DI SALIB.

Jenis kasih yang demikian menolong kita untuk tenang mengenai diri kita dan kehidupan kita. Dalam kesalahan, kita mengerti bagaimana kita tetap indah di mata Tuhan. Itulah yang memampukan kita untuk mengatasi kegagalan sebagai sesuatu yang negatif dan menjadikannya senjata yang mendorong kita mengembangkan tujuan kita.

Semua yang Allah lakukan bersifat relasional. Dia bertekad membalikkan setiap situasi di sekeliling kita sehingga kita mengalami betapa tinggi, betapa dalam, betapa panjang dan dan betapa lebar kasih-Nya.

Kita adalah karya yang masih dalam pengerjaan. Tidak ada orang yang mencibir seorang seniman atas karya yang belum selesai. Sebaliknya, saat melihat karya itu, seperti Allah, kita menyukai karya itu sebagaimana karya itu tampak hari ini dan membayangkan seperti apa karya itu jadinya nanti. Kita bertanya-tanya, kita membayangkannya dan kita bergirang atas segala kemungkinan yang bisa terjadi!

Graham Cooke: How God Feels About Failure; August 30, 2016.

http://brilliantperspectives.com/god-feels-about-failure/

Advertisements