APAKAH SAAT INI ADALAH MASA ANIAYA?

image

Artikel ini adalah bagian dari edisi terbaru buku saya “Raptureless.” Sebuah bab pendek mengenai suatu topik penting. Selamat menikmati!

POLA PIKIR PENGANIAYAAN
Setelah kita membahas beberapa kesalahpahaman utama mengenai akhir zaman, saya ingin membahas sesuatu yang saya sebut “pola pikir penganiayaan.” Singkatnya, pola pikir ini didefinisikan demikian: Banyak orang Kristen barat percaya bahwa Kekristenan di negara-negara yang mengalami penganiayaan fisik adalah lebih baik daripada Kekristenan di negara-negara tanpa penganiayaan fisik. Bahkan beberapa orang menganggap kurangnya penganiayaan sebagai bukti Gereja sedang menderita anemia!

Biasanya, salah satu pemikiran yang segera terlintas saat membahas topik penganiayaan adalah kutipan populer dari Tertullian, “Darah para martir adalah benih gereja.” Saya menghargai sikap Glenn Penner atas kutipan ini:

“Banyak orang telah keliru mempercayai bahwa kata-kata ini dapat ditemukan dalam Perjanjian Baru (New Testament). Ternyata tidak. Ungkapan itu adalah parafrase sebuah pernyataan seorang pemimpin gereja mula-mula yang bernama Tertullian tahun 197 Masehi dalam bukunya yang berjudul “The Apology.” Di dalamnya, Tertullian menulis kepada gubernur Romawi di provinsinya, menyangkal berbagai tuduhan palsu yang dituduhkan kepada orang Kristen dan iman Kristen, dengan alasan bahwa para pengikut Kristus adalah orang-orang yang setia kepada kekaisaran, sehingga seharusnya tidak perlu dianiaya. Bagaimanapun, menurut pengamatan Tertullian, penganiayaan telah gagal menghancurkan Kekristenan. Dia menulis, “Silakan bunuh kami, siksa kami, hukum kami, hancurkan kami hingga menjadi debu; ketidakadilan Anda adalah bukti bahwa kami tidak bersalah. Karena penderitaan Allah (membuat sepantasnya) kami juga menderita. Jika Anda baru saja menghukum seorang perempuan Kristen dan menyerahkannya kepada “leno” (germo, yang artinya Anda menuduh dia sebagai pelacur), bukannya kepada “leo” (singa), Anda mengakui bahwa noda pada kemurnian kami dianggap sebagai sesuatu yang lebih mengerikan daripada hukuman dan kematian. Kekejaman Anda, seindah apapun itu menurut Anda; lebih merupakan cobaan bagi kami. Semakin sering kami dianiaya oleh Anda, semakin banyak jumlah kami; karena darah orang Kristen adalah benih.”

Seperti halnya dengan banyak pernyataan populer, kalimat ini telah ditelan mentah-mentah begitu lama sehingga untuk mengkritisinya itu, dalam benak sebagian orang, sama dengan meragukan kata-kata Kitab Suci sendiri. Gagasan bahwa penganiayaan selalu menyebabkan Gereja bisa tumbuh demikian luas dianggap tak terbantahkan oleh sebagian kalangan. Sebuah asumsi yang menyertainya adalah bahwa penganiayaan biasanya membuat Gereja semakin murni, dan membuat orang-orang percaya berjalan lebih dekat dengan Allah. Dengan demikian, penganiayaan terlihat memiliki manfaat untuk Gereja.

Orang yang berpikir dengan pola pikir penganiayaan akan mengatakan (atau mempercayai) hal-hal seperti, “Kalau saja di Amerika terjadi penganiayaan; maka gereja-gereja kita akan memiliki orang-orang Kristen yang “lebih baik.””

Namun, seperti kita lihat dari penjelasan Penner, ini sama sekali bukanlah yang Tertullian maksudkan. Yang dia gambarkan adalah kenyataan bahwa penganiayaan tidak bisa membunuh dan menghancurkan Gereja, bukan mengatakan penganiayaan sebagai kekuatan di balik pertumbuhan  dan kekudusan Gereja.

Banyak ayat-ayat Alkitab berbicara tentang penganiayaan yang dialami Gereja mula-mula, tetapi kita harus berhati-hati dan membaca ayat-ayat ini dalam konteks sejarah mereka. Kita tidak bisa menerapkan kenyataan sejarah yang mereka hadapi untuk semua generasi, untuk semua waktu. Berikut adalah beberapa ayat yang berbicara tentang penganiayaan:

“Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu” (Matius 5:10‭-‬12).

Tetapi Aku berkata kepadamu: “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Matius 5:44)

“Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu. Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu. Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu; jikalau mereka telah menuruti firman-Ku, mereka juga akan menuruti perkataanmu. Tetapi semuanya itu akan mereka lakukan terhadap kamu karena nama-Ku, sebab mereka tidak mengenal Dia, yang telah mengutus Aku. Sekiranya Aku tidak datang dan tidak berkata-kata kepada mereka, mereka tentu tidak berdosa. Tetapi sekarang mereka tidak mempunyai dalih bagi dosa mereka! Barangsiapa membenci Aku, ia membenci juga Bapa-Ku. Sekiranya Aku tidak melakukan pekerjaan di tengah-tengah mereka seperti yang tidak pernah dilakukan orang lain, mereka tentu tidak berdosa. Tetapi sekarang walaupun mereka telah melihat semuanya itu, namun mereka membenci baik Aku maupun Bapa-Ku. Tetapi firman yang ada tertulis dalam kitab Taurat mereka harus digenapi: Mereka membenci Aku tanpa alasan” (Yohanes 15:18‭-‬25).

“Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yohanes 16:33).

Di tempat itu mereka menguatkan hati murid-murid itu dan menasihati mereka supaya mereka bertekun di dalam iman, dan mengatakan, bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara (Kisah Para Rasul 14:22).

“Tetapi engkau telah mengikuti ajaranku, cara hidupku, pendirianku, imanku, kesabaranku, kasihku dan ketekunanku. Engkau telah ikut menderita penganiayaan dan sengsara seperti yang telah kuderita di Antiokhia dan di Ikonium dan di Listra. Semua penganiayaan itu kuderita dan Tuhan telah melepaskan aku dari padanya. Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya, sedangkan orang jahat dan penipu akan bertambah jahat, mereka menyesatkan dan disesatkan” (2 Timotius 3:10‭-‬13).

Ayat-ayat ini dapat dengan mudah disalahartikan berlaku untuk semua orang Kristen sepanjang waktu. Padahal, konteksnya jelas-jelas adalah “hari-hari terakhir” Yerusalem (tahun 30-70 Masehi), seperti yang ditunjukkan oleh 2 Timotius 3:1, sembilan ayat sebelumnya.

“Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan” (Yakobus 1:2).

“Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan” (1 Petrus 1:6).

“Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu” (1 Petrus 4:12).

Dengan mempertimbangkan konteks sejarah mereka dan dengan memahami bahwa sebagian besar peristiwa “akhir zaman” yang dinubuatkan dalam Alkitab telah digenapi tahun 70 Masehi, kita dapat melihat bahwa ayat-ayat ini ditulis hanya untuk periode awal sejarah Gereja (tahun 30-70 Masehi). Selama periode itu, orang Kristen menghadapi penganiayaan yang mengerikan di bawah para pemimpin jahat Bait Allah. Orang-orang seperti Saulus (yang kemudian menjadi Paulus) menganiaya jemaat rumah demi rumah dan menyeret laki-laki dan perempuan ke luar dan menyerahkan mereka untuk dimasukkan ke dalam penjara (lihat Kisah Para Rasul 7:54-8:3).

Kendati penganiayaan belum berakhir sepenuhnya dengan penghancuran Yerusalem pada tahun 70 Masehi, kita tidak bisa begitu saja secara umum menyimpulkan adanya penganiayaan di segala waktu. Gagasan yang demikian menggeser ayat-ayat ini sama sekali dari konteks mereka.

Berikut adalah empat hal yang kita pelajari dari ayat-ayat tersebut:

1. Kita mengakui keberanian Gereja mula-mula untuk tegak berdiri sebagai saksi Kristus, bahkan sampai mati.

2. Kita belajar bahwa kita harus mengasihi semua orang, bahkan mereka yang menjadi musuh kita. Gereja mula-mula tidak membenci penganiaya mereka, tetapi tetap mengasihi.

3. Kita belajar bahwa kita harus mau mengikuti teladan Gereja mula-mula dan bersedia menderita penganiayaan jika memang harus.

4. Kita melihat bahwa, seperti ditunjukkan oleh konteks, mereka (Gereja mula-mula) memang menghadapi api pencobaan, tetapi itu tidak berarti kita mengharapkan setiap orang Kristen harus menghadapi penganiayaan setiap hari dalam hidup mereka sepanjang waktu. Itu adalah kekeliruan orang Kristen modern.

Perjanjian Baru ditulis mengenai kenyataan yang terjadi pada abad pertama. Perjanjian Baru TIDAK mengajarkan pengharapan semua orang Kristen harus menderita penganiayaan di sepanjang waktu. Bahkan Yesus tidak dianiaya sebanyak yang dikatakan para pendukung pola pikir penganiayaan harus alami. Hal ini membawa kita kepada pertanyaan, Jika Yesus adalah “model” kita, maka siapa yang harus menganiaya kita?

Yesus adalah sahabat terkasih orang-orang berdosa, dan bahkan para pemimpin pemerintahan tidak menemukan kesalahan pada diri-Nya (lihat Matius 27:23-24). Pada awalnya, hanya pemimpin agama Yahudi yang membenci dan menganiaya Yesus. Gereja mula-mula mengalami penganiayaan terutama dari orang-orang Yahudi sampai tahun 64 Masehi, ketika Nero membakar sepertiga kota Roma dan dengan penuh semangat mulai menganiaya Kristen.

TEKS BUKTI
Teks bukti pola pikir penganiayaan ditemukan dalam perintah Yesus untuk memikul salib dan mengikut Dia. Saya telah membahas bacaan yang disalahpahami ini dalam buku saya sebelumnya, “Eyes of Honor.”

Banyak orang telah diajar bahwa “diri” (self) harus disalibkan setiap hari dan bahwa “diri” adalah jahat dan harus disangkal. Sekalipun Yesus ada mengatakan menyangkal diri, definisi “diri” telah menjadi sangat berbelit-belit. Ketika Yesus menyebut “diri,” Ia tidak berbicara tentang jiwa (soul). Juga, Dia tidak berbicara tentang “diri” sebagai sesuatu yang identik dengan daging. Kita tahu hal ini karena Yesus berkata untuk menyangkal diri, sedangkan satu-satunya jawaban untuk daging adalah penyaliban Kristus (lihat Galatia 2:20).

Cara terbaik untuk memahami “diri” adalah mendefinisikannya sebagai reputasi seseorang. Mari kita lihat kembali apa yang Yesus katakan tentang menyangkal diri dengan definisi baru ini:

Lalu Yesus memanggil orang banyak bersama dengan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya dan memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil akan menyelamatkannya” (Markus 8:34‭-‬35 New International Version).

Kata-Nya kepada mereka semua: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku akan menyelamatkannya” (Lukas 9:23‭-‬24 New International Version).

Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku akan memperolehnya” (Matius 16:24‭-‬26 New International Version).

Jelas dalam ayat-ayat ini Yesus sedang berbicara kepada orang yang tidak percaya dan memberitahukan kepada mereka bagaimana menjadi pengikut-Nya. “Menyangkal diri” adalah sesuatu yang Yesus katakan kepada orang-orang yang sedang mempertimbangkan menjadi pengikut-Nya. Dia mengatakan kepada mereka “biaya mengikut Yesus” yang harus mereka keluarkan. “Biaya” itu berarti mereka mungkin harus menyerahkan hidup mereka dan kendali atas hidup mereka. Poin ini lebih jelas lagi terdapat dalam Lukas 14:

25Pada suatu kali banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka: 26“Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. 27Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.

28Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu? 29Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, 30sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya.

31Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang? 32Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian. 33Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku” (Lukas 14:25‭-‬33).

Dengan terus terang Yesus berbicara dalam ayat ini mengajar calon pengikut potensial-Nya untuk tidak mengharapkan kehidupan mengikut Dia pasti akan mudah. Pemahaman abad pertama tentang “memuikul salib” berarti bersedia untuk melepaskan reputasi/nama baik dan bersedia dicap oleh masyarakat sebagai penjahat. Yesus mengalami kematian sebagai penjahat di kayu salib dan pengikut-Nya harus menghitung “biaya” melepaskan reputasi mereka dan mengalami  penolakan dari masyarakat.

Jelas, ayat-ayat ini tidak berarti kita harus merangkul penganiayaan dalam kehidupan kita sehari-hari – seperti ditafsirkan beberapa orang.

DI BUMI SEPERTI DI SORGA
Begitu banyak orang yang menganggap penganiayaan sebagai kualitas orang kudus dalam kehidupan Kekristenan, tetapi mari kita berpikir tentang hal ini dalam kaitan dengan pertumbuhan Kerajaan Allah. Jika doa-doa kita efektif dan jika Yesus menjawab doa-doa itu, maka dunia ini akan menjadi “di bumi seperti di sorga” (Matius 6:10), yang tentunya akan mencakup semakin berkurangnya penganiayaan. Kita bisa berasumsi tidak ada orang Kristen yang dianiaya di sorga. Logikanya, jika Doa Bapa kami memang dijawab, hasilnya seharusnya bumi akan menjadi semakin dan semakin seperti sorga. Dengan demikian, semakin Kerajaan meluas di bumi ini dan orang-orang kudus yang dewasa menghidupi panggilan mereka sebagai utusan-utusan Kerajaan, harusnya penganiayaan yang dihadapi orang-orang Kristen semakin berkurang.

Saat kehendak Allah (di bumi seperti di sorga) berlaku sepenuhnya, penganiayaan akan tidak ada lagi. Kondisi itu tidak terjadi di Taman Eden, dan juga bukan akan terjadi di sorga. Antara titik sejarah dan tujuan masa depan kita, banyak orang Kristen telah mengalami penganiayaan. Itu tidak membuat penganiayaan sebagai sesuatu yang suci. Sebaliknya, sementara kita hidup garis waktu sementara antara Taman Eden dan Yerusalem Baru di Wahyu 22, kita berdoa sorga hadir di bumi. Dan syukurnya, hasil dari perluasan Kerajaan Allah ini akan mencakup peniadaan semua bentuk penganiayaan.

Poin-Poin Bab
• Ayat-ayat Perjanjian Baru tentang penganiayaan diterapkan kepada orang-orang dan keadaan tertentu secara historis, dan ayat-ayat itu seharusnya tidak dibaca sebagai pernyataan yang berlaku untuk semua orang untuk semua waktu.

• Dalam konteks sejarah mereka, ayat-ayat ini memberitahu kita tentang penganiayaan berat yang dihadapi orang Kristen sebelum penghancuran Jerusalem tahun 70 Masehi.

• Sekalipun penganiayaan selalu ada, tidak berarti kita harus mengharapkannya, atau menyebutnya bukti kehidupan Kristen yang radikal, atau mempercayai bahwa penganiayaan itu adalah persemaian benih Kekristenan.

• Sebagian besar penganiayaan yang Yesus dan Gereja mula-mula alami berasal dari para pemimpin agama Yahudi.

• Saat Yesus berkata mengenai “menyangkal diri,” Dia berbicara kepada para petobat potensial (bukan orang percaya), memberitahu mereka tentang “biaya” menjadi pengikut-Nya dan cemoohan yang akan menyertai status sebagai pengikut-Nya pada masa itu.  

• Sorga adalah zona bebas penganiayaan, dan secara alami, penganiayaan akan berkurang ketika Gereja membawa budaya sorga turun ke bumi.

Jonathan Welton: Is It Persecution Time?; March 19, 2013.

https://weltonacademy.com/blogs/jonathanwelton/50136449-is-it-persecution-time

Advertisements