TUJUAN PENCOBAAN

image

“Allah menganugerahkan kemerdekaan hanya bagi orang-orang yang menyukainya, dan selalu siap menjaga dan mempertahankannya.”
-Daniel Webster

Suatu hari saat saya sedang dicobai, saya meminta Roh Kudus menyingkapkan kepada saya dusta apa yang saya percayai saat itu. Berikut ini adalah sinopsis percakapan yang terjadi dalam hati saya saat saya berdoa.

Roh Kudus: “Dusta yang engkau percayai adalah bahwa engkau dicobai oleh dosa seksual.”
Jonathan: “Em … ya, aku dicobai oleh dosa seksual. Bukan berarti aku ingin berdosa, tapi tidakkah aku akan selalu dicobai oleh dosa seksual?”
Roh Kudus: “Bukankah Aku telah menyalibkan kodrat manusia lamamu di kayu salib di dalam Kristus?”
Jonathan: “Ya.”
Roh Kudus: “Bukankah Aku telah membuat engkau mengambil bagian dalam kodrat Ilahi?”
Jonathan: “Ya.”
Roh Kudus: “Karena Allah tidak pernah dicobai oleh dosa, bagian mana dari dirimu yang tertarik dan dicobai oleh dosa?” (lihat Yakobus 1:13.)
Jonathan: “Apakah maksud-Mu aku tidak akan pernah dicobai lagi?”
Roh Kudus: “Bukan begitu. Pencobaan akan selalu ada. Tetapi karena manusia lamamu sudah digantikan oleh kodrat Ilahi, maka tidak ada bagian dirimu yang tertarik terhadap dosa.”
Jonathan: “Jadi pencobaan akan lalu lalang di hadapanku, tetapi aku tidak akan dicobai oleh hal itu?” Roh Kudus: “Persis!”

Banyak orang telah diajar bahwa sebagai orang Kristen kita akan selalu dicobai oleh dosa, tetapi kemenangan dalam Kristus berarti bahwa kita tidak perlu menyerah kepada cobaan lebih lama lagi. Saya setuju kemenangan dalam Kristus termasuk tidak berbuat dosa lagi, tetapi saya berpendapat mungkin kita telah terlalu merendah dengan menerima gagasan kita akan selalu merasa dicobai dan selalu tertarik ke arah dosa. Setelah percakapan mengejutkan dengan Roh Kudus ini, saya mengkaji ulang setiap ayat Perjanjian Baru tentang pencobaan. Dalam bab ini saya akan menyajikan temuan saya. Beberapa dari temuan itu cukup mengejutkan.

Peirazo

Ada lima kata dalam Perjanjian Baru yang berasal dari akar kata Yunani yang sama: prove, examine, test, trial dan temptation, semua berasal dari kata peirazo. Saat penerjemah menerjemahkan peirazo ke Alkitab berbahasa Inggris, cara terbaik menentukan yang mana dari kelima kata bahasa Inggris ini yang digunakan adalah melihat konteksnya. Jika kita tidak benar-benar mengerti hal ini, maka sangat mudah tercipta kontradiksi yang sebenarnya tidak ada dalam teks. Sayangnya, dalam beberapa kasus, penerjemah gagal menggunakan padanan kata bahasa Inggris yang tepat untuk peirazo, dan ini telah menyebabkan kebingungan dalam memahami bagian tertentu Alkitab.

Sebagai contoh, kita lihat dalam kitab Yakobus bahwa Allah tidak pernah mencobai ciptaan-Nya untuk berdosa:

Janganlah hendaknya seseorang berkata saat dicobai: “Aku dicobai oleh Allah!”; sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun (Yakobus 1:13 New King James Version).

Namun dalam Doa Bapa Kami, Yesus mengajarkan agar kita berdoa:

dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat (Matius 6:13).

Untuk apa kita berdoa demikian, sebab kata Yakobus Allah tidak pernah mencobai kita?

Jika kita memahami bahwa akar kata yang sama dapat diterjemahkan menjadi lima kata yang berbeda, jelas Doa Bapa Kami akan lebih baik diterjemahkan demikian, “janganlah membawa kami ke dalam ujian [trials].” Ini hanyalah salah satu contoh bagaimana kita harus memahami penggunaan kontekstual kata mencobai. Contoh lain yang berkali-kali disebutkan dalam Alkitab adalah supaya kita jangan mencobai Allah; yang akan lebih akurat jika menggunakan kata menguji, “jangan menguji Allah,” karena Yakobus 1:13 katakan Allah tidak bisa dicobai.

Setelah kita mengerti penggunaan yang berbeda kata peirazo, kita bisa mulai membedakan dua konsep yang sangat berbeda: cobaan (godaan, temptation) dan ujian (trial).

Pencobaan versus Ujian

Alkitab mengajarkan bahwa Allah menangani cobaan dan ujian secara berbeda. Ujian adalah proses yang harus kita lalui, sedangkan pencobaan adalah kejadian dan peristiwa. Saat kita bertemu dengan pencobaan atau godaan, Allah selalu memberikan jalan keluar, semacam sebuah pintu belakang. Baik Paulus maupun Petrus menjelaskan hal ini:

Tidak ada pencobaan yang melebihi kekuatanmu, namun hanya pencobaan biasa bagi manusia; tetapi Allah setia, yang tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu, tetapi bersama dengan pencobaan akan ada jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya (1 Korintus 10:13 New King James Version).

Tuhan tahu bagaimana melepaskan orang-orang saleh dari pencobaan dan untuk menyimpan orang-orang jahat untuk disiksa pada hari penghakiman (2 Petrus 2:9 New King James Version).

Berbeda dengan pencobaan/godaan, ketika kita menghadapi ujian, Allah tidak selalu memberikan jalan keluar. Inilah sebabnya Yesus mengajar kita berdoa meminta tidak dibawa ke dalam ujian. Mari kita lihat contoh Yesus dan Paulus:

Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi (Lukas 22:42).

aku menahan diriku [dari bermegah], supaya jangan ada orang yang menghitungkan kepadaku lebih dari pada yang mereka lihat padaku atau yang mereka dengar dariku. Karena itu, untuk menjaga supaya aku tidak meninggikan diri, maka aku diberi suatu duri dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menyiksa aku. Tiga kali sudah aku memohon kepada Tuhan untuk menyingkirkan utusan Iblis itu. Tetapi Tuhan menjawab aku: “Kasih karunia-Ku cukup bagimu, karena kuasa-Ku menjadi sempurna dalam kelemahan.” Karena itu aku lebih gembira bermegah atas kelemahan-kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itulah, demi Kristus, aku senang dalam kelemahan, dalam kehinaan, dalam kesukaran, dalam penganiayaan, dalam kesusahan. Karena saat aku lemah, maka aku kuat (2 Korintus 12:6‭-‬10).

Baik Yesus maupun Paulus berdoa agar Allah menyingkirkan ujian yang sedang mereka alami. Dalam kedua kasus, Allah memberi mereka kekuatan yang diperlukan untuk bertahan dalam ujian, namun Ia tidak memberi mereka jalan keluar supernatural. Sebaliknya dengan pencobaan, Allah tidak menyuruh kita bertahan menghadapinya. Ia menyediakan jalan keluar! Kita selalu punya jalan keluar dari pencobaan.

Perbedaan ini sangat jelas dalam Firman, dan sangatlah penting menemukan kemerdekaan dari pencobaan. Jika Allah menempatkan Anda melewati suatu ujian, Anda boleh berdoa meminta Ia melepaskan Anda. Tetapi, ketika Anda menghadapi godaan untuk berdosa, Anda tidak perlu berdoa meminta jalan keluar; Allah telah menjanjikan jalan keluar (lihat 1 Korintus 10:13 New International Version).

Dalam pencobaan, Iblis datang kepada Allah seperti anak bandel tetangga bertanya kepada ayah Anda apakah Anda ada di rumah. Allah, Bapa Anda, bertanya “Memangnya ada apa?” Iblis menjawab ia punya petasan ilegal dan ingin tahu apakah Anda ingin bergabung dengannya bermain petasan.

Allah Bapa Anda tahu bahwa Anda sudah cukup besar, cukup bijaksana, dan cukup terlatih sehingga Ia bisa mempercayai Anda dalam pencobaan ini-karena Ia tahu Anda akan mengatakan tidak.

Allah mengizinkan pencobaan karena pencobaan adalah tes yang baik untuk membuktikan diri Anda. Dia percaya Anda akan menang melawan pencobaan setiap waktu!

Jadi, Dia hanya mengizinkan Anda menghadapi pencobaan yang untuk mengalahkannya Anda sudah diperlengkapi-Inilah jalan keluar Anda!

Dalam ujian, Allah terlibat dalam cara yang jauh lebih intim. Saya membayangkan Dia melayang di atas kita saat kita berjalan melewati kesulitan dan rasa sakit dalam hidup kita. Bahkan walau kita tidak menyadarinya saat itu, saat menengok ke belakang kita akan melihat tangan-Nya dalam ujian kita, karena Dia selalu berjalan di samping kita saat kita melewati ujian itu. Dia menyediakan kasih karunia dan kekuatan yang kita butuhkan.

Tujuan utama Allah adalah mendisiplin kita sebagai anak-Nya dan menghasilkan lebih banyak buah melalui kehidupan kita. Inilah yang penulis Ibrani katakan:

Dan apakah kamu sudah lupa akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti seorang bapa berbicara kepada anaknya? Dikatakan, “Anakku, jangan menganggap enteng disiplin Tuhan, dan jangan putus asa bila Ia menegur kamu, karena Tuhan mendisiplin orang yang dikasihi-Nya, dan Ia mendidik orang yang diakui-Nya sebagai anak.”

Sabarlah menanggung kesukaran sebagai sebuah disiplin; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Karena anak apakah yang tidak didisiplin oleh bapa mereka? Jika kamu tidak didisiplin-padahal setiap orang harus didisiplin-maka kamu bukan anak sah, sama sekali bukan anak lelaki dan anak perempuan sejati. Terlebih lagi, kita semua mempunyai bapa jasmani yang mendisiplin kita dan kita menghormati mereka. Betapa lebih lagi kita harus taat kepada Bapa segala roh dan hidup! Mereka mendisiplin kita dalam waktu yang singkat sesuai dengan apa yang mereka anggap terbaik, tetapi Allah mendisiplin kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya. Tidak ada disiplin yang tampak menyenangkan pada saat dijalani, melainkan terasa menyakitkan. Tetapi kemudian, disiplin itu menghasilkan tuaian kebenaran dan damai sejahtera bagi mereka yang dilatih olehnya (Ibrani 12:5‭-‬11)

Tujuan disiplin dan ujian adalah agar kita berbuah atau menghasilkan tuaian. Tujuan yang mengagumkan! Banyak orang yang menyamakan disiplin dengan hukuman, tetapi disiplin Allah adalah pelatihan, bukan hukuman. Allah sungguh-sungguh sedang membentuk kita sesuai dengan gambaran Anak-Nya (lihat Roma 8:29).

Pencobaan Mengajar Kita

Saya telah memahami bahwa pencobaan atau godaan hadir semata sebagai sarana untuk memeriksa (examine) atau membuktikan (prove) kita. Pencobaan kita mirip dengan menaruh pedang pada gerinda atau batu asah. Gerinda itu tidak pernah dimaksudkan untuk merusak pedang; melainkan hanya menajamkannya. Demikian pula, pencobaan hadir bagi kebaikan kita, untuk menajamkan kita. Kita tidak boleh tunduk kepada keinginannya; tetapi keberadaan pencobaan pada hakikatnya memberikan pilihan yang dibutuhkan untuk membuktikan kemerdekaan kita dan melatih penguasaan diri kita.

Allah sesungguhnya menggunakan pencobaan untuk menguji dan membuktikan kita. Coba pikirkan bahwa sebenarnya Roh Kudus-lah yang memimpin Yesus ke padang gurun agar Ia dicobai oleh Iblis:

Segera sesudah itu Roh memimpin Dia ke padang gurun. Di padang gurun itu Ia tinggal empat puluh hari lamanya, dicobai oleh Iblis. Ia berada di sana di antara binatang-binatang liar dan malaikat-malaikat melayani Dia (Markus 1:12‭-‬13; lihat juga Matius 4:1-11).

Allah mengizinkan pencobaan bukan untuk mengesampingkan kehendak bebas kita. Ada orang yang berkata bahwa pencobaan yang mereka hadapi terlalu berat sehingga mereka tidak punya pilihan selain berdosa. Ini sungguh-sungguh tidak benar karena “Allah adalah setia, Dia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu” (1 Korintus 10:13 New King James Version).

Namun Allah akan mengizinkan pencobaan untuk menguji batas-batas kita. Allah menggunakan pencobaan untuk memeriksa dan membuktikan kita. Dia tidak akan pernah mengizinkan pencobaan yang tidak mampu kita kalahkan, dan Dia selalu menyediakan jalan keluar. Seluruh tes ini dibuat sedemikian rupa dengan memikirkan kemenangan kita; itu ada dalam anugerah atas kita dalam segala cara!

Allah Ingin Membuktikan Anda kepada Anda

Pencobaan sebenarnya adalah sebuah tes untuk memperlihatkan kepada kita betapa kuatnya kita. Dalam upaya membuktikan kemerdekaan sejati yang telah kita terima dalam Kristus, beberapa orang mengatakan bahwa pencobaan bukanlah dosa dan pencobaan tidak membuktikan apa-apa tentang karakter kita. Pernyataan ini adalah setengah-kebenaran.

Pencobaan bukanlah sebuah dosa, tetapi sungguh memperlihatkan karakter kita. Semakin besar pencobaan, semakin positif pernyataan Allah tentang kita. Pencobaan yang bisa kita atasi memperlihatkan seberapa besar Allah bisa mempercayai kita.

Mengingat ada pencobaan di Taman Eden dan bahkan Yesus dicobai (lihat Matius 4:1-11), kita tahu bahwa pencobaan bukanlah hal yang buruk. Saya percaya bahwa tujuan utama Allah mengizinkan pencobaan datang dalam hidup kita adalah untuk membuktikan sesuatu kepada kita. Hal itu bukanlah, seperti yang banyak orang kira, suatu pembuktian kepada Dia. Dia tidak butuh kita membuktikan diri kepada-Nya; Dia tidak seperti itu. Sebaliknya, Dia tahu kita tidak mengerti apa yang telah dilakukan-Nya dalam hidup kita, sehingga Dia mengizinkan pencobaan untuk membuktikan kepada kita betapa menakjubkannya diri kita.

Allah menginginkan baik Adam maupun Yesus sadar bahwa mereka mampu berhadapan muka dalam pertarungan jarak dekat melawan Iblis dan sepenuhnya mengalahkan pencobaan. Sayangnya Adam tidak menyadari hal ini, dan ia gagal. Tetapi sekarang kita telah dibuat menjadi ciptaan baru dalam Kristus (lihat 2 Korintus 5:17). Allah telah memerdekakan kita sepenuhnya dari daging, dan Dia ingin membuktikan hal ini kepada kita. Bukankah Allah memang sengaja memakai salah satu senjata Iblis yang paling hebat, yang dirancang untuk mendatangkan rasa malu dan tertuduh, dan menggunakannya untuk membuktikan kepada kita kebenaran kita dalam Kristus? Kebenarannya adalah, kita benar dalam Kristus.

Pencobaan bukan dosa. Pencobaan hadir untuk membuktikan betapa merdekanya kita!

Jonathan Welton: The Purpose of Temptation; August 5, 2016.

https://weltonacademy.com/blogs/jonathanwelton/the-purpose-of-temptation-1

Advertisements