KUASAILAH DIRIMU

image

Biasanya saat “penguasaan diri” disebutkan, kebanyakan orang membayangkan seseorang yang mengatupkan mulut rapat-rapat dan memaksa dirinya melakukan apa yang benar meskipun hatinya ingin melakukan yang sebaliknya. Bayangan yang melelahkan tentang penguasaan diri membuat buah Roh ini (Galatia 5:23) tampaknya hampir tak terjangkau.

Penguasaan diri disebutkan dalam tujuh belas ayat Perjanjian Baru dan terdapat pengertian yang mengejutkan saat kita mempelajari ayat-ayat ini.

Paulus sebenarnya sedang membicarakan penguasaan diri saat ia berbicara di hadapan Felix:

Tetapi ketika Paulus berbicara tentang kebenaran, penguasaan diri dan penghakiman yang akan datang, Feliks menjadi takut dan berkata: “Cukuplah dahulu dan pergilah sekarang; apabila ada kesempatan baik, aku akan menyuruh memanggil engkau” (Kisah Para Rasul 24:25).

Pastikan Anda berhubungan seks secara teratur dengan pasangan Anda, karena jika Anda menunggu terlalu lama, penguasaan diri Anda akan menyerah:

Jangan menjauh satu sama lain, kecuali karena persetujuan bersama dan untuk sementara waktu, supaya kamu mendapat kesempatan untuk berdoa. Sesudah itu hendaklah kamu kembali hidup bersama-sama, supaya Iblis jangan menggodai kamu karena kurangnya penguasaan dirimu (1 Korintus 7:5 New International Version).

Jika Anda adalah seorang lajang yang sedang bergumul dengan penguasaan diri, mungkin Anda perlu segera kawin:

Tetapi kalau mereka tidak dapat menguasai diri, baiklah mereka kawin. Sebab lebih baik kawin dari pada hangus karena hawa nafsu (1 Korintus 7:9).

Tujuan kita memperluas Kerajaan adalah sangat-sangat penting. Kita harusnya lebih bisa menguasai diri ketimbang atlet profesional karena yang kita lakukan adalah perkara yang abadi:

Setiap orang yang bertanding dalam pertandingan melatih menguasai diri dalam segala hal. Mereka melakukannya untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi (1 Korintus 9:25).

Penguasaan diri adalah salah satu buah Roh:

Tetapi buah Roh ialah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri. Terhadap hal-hal ini tidak ada hukum yang menentang (Galatia 5:22‭-‬23 New International Version).

Paulus mendorong para perempuan untuk lebih fokus kepada penguasaan diri daripada penampilan luar:

… dan aku ingin perempuan berdandan dengan pantas, dengan sopan dan penguasaan diri, bukan dengan rambut yang berkepang-kepang atau dengan memakai emas atau mutiara ataupun pakaian yang mahal-mahal, … Tetapi perempuan akan diselamatkan karena melahirkan anak, asal ia bertekun dalam iman dan kasih dan kekudusan, dengan penguasaan diri (1 Timotius 2:9‭, ‬15 New International Version).

Demikian pula, isteri-isteri mereka hendaklah orang terhormat dan tidak boleh memfitnah orang lain. Mereka harus dapat menguasai diri dan setia dalam apapun yang mereka lakukan (1 Timotius 3:11 New International Version).

Salah satu kualifikasi atau persyaratan penilik jemaat adalah penguasaan diri:

Karena itu penilik jemaat haruslah seorang yang tak bercacat, setia kepada isterinya, tenang, dapat menguasai diri, terhormat, ramah, cakap mengajar orang (1 Timotius 3:2 New International Version).

Yang luar biasa adalah kurangnya penguasaan diri merupakan gambaran hari-hari terakhir:

Tetapi ingatlah hal ini: Akan datang masa yang sukar di hari-hari terakhir. Manusia akan mencintai dirinya sendiri, cinta uang, suka membual, sombong, suka menyakiti, suka memberontak terhadap orang tua, tidak tahu berterima kasih, tidak kudus, tanpa kasih, tidak mau mengampuni, pemfitnah, tanpa penguasaan diri, brutal, tidak menyukai yang baik, pengkhianat, gegabah, berlagak tahu, pecinta kenikmatan bukannya mengasihi Allah-secara lahiriah mengenakan kekudusan tetapi menyangkali kekuatannya. Jangan bergaul dengan orang seperti itu (2 Timotius 3:1‭-‬5 New International Version).

Dalam suratnya kepada Titus, Paulus menekankan pentingnya penguasaan diri bagi para pemimpin, untuk laki-laki, dan perempuan:

Sebaliknya, ia harus ramah [suka menerima tamu dengan tangan terbuka], suka akan yang baik, menguasai diri, adil, kudus dan disiplin (Titus 1:8 New International Version).

Ajarlah laki-laki yang tua untuk hidup sabar, terhormat, menguasai diri, sehat dalam iman, dalam kasih dan dalam ketekunan (Titus 2:2).

Sehingga mereka dapat mendidik perempuan-perempuan yang lebih muda untuk mengasihi suami dan anak-anaknya, untuk dapat menguasai diri dan suci, supaya rajin mengatur rumah tangganya, agar baik hati dan agar tunduk kepada suaminya, supaya tidak seorangpun bisa menjelekkan firman Allah. Demikian pula, doronglah orang-orang muda supaya mampu menguasai diri (Titus 2:4‭-‬6).

Daftar berikut ini adalah semacam “buah Roh” versi Petrus yang tepat di tengahnya kita menemukan penguasaan diri:

Karena alasan inilah, berusahalah dengan segenap tenaga untuk menambahkan kepada imanmu, kebajikan; dan kepada kebajikan, pengetahuan; dan kepada pengetahuan, penguasaan diri; kepada penguasaan diri, ketekunan; dan kepada ketekunan, kesalehan; dan kepada kesalehan, kasih sayang; dan kepada kasih sayang, kasih (2 Petrus 1:5‭-‬7 New International Version).

TIGA AYAT FAVORIT SAYA MENGENAI PENGUASAAN DIRI

image

Kasih karunia sesungguhnya mengajarkan kita untuk hidup menguasai diri! Kasih karunia bukan izin untuk berbuat dosa, kasih karunia memampukan kita untuk tidak berbuat dosa. Kasih karunia mendidik, melatih dan mengubah kita menjadi orang-orang yang hidup benar.

Kasih karunia sejati membuat kita hidup dalam buah penguasaan diri:

Karena kasih karunia Allah sudah nyata yang memberikan keselamatan kepada semua manusia. Kasih karunia itu mendidik kita supaya kita mengatakan “Tidak” kepada kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi, dan supaya kita hidup penuh penguasaan diri, adil dan saleh dalam zaman sekarang ini (Titus 2:11‭-‬12).

Banyak versi dari ayat berikut ini mengatakan “pikiran yang sehat” [TB: ketertiban] tetapi saya lebih suka terjemahan praktisnya, yang menggunakan kata penguasaan diri. Kita memiliki pilihan: dikuasai oleh rasa takut atau menguasai diri:

Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh kuasa dan kasih dan penguasaan diri (2 Timotius 1:7 New International Version).

Saya suka betapa praktisnya ayat terakhir berikut ini. Begitu jelas mengatakan apa yang kita semua perlu dengarkan. Penguasaan diri bukanlah sprint atau lari jarak pendek, jadi dibutuhkan “latihan rutin penguasaan diri.” Terutama sebagai pemimpin, kita harus terlatih menguasai diri:

Tetapi bagi kamu, kamu harus melatih kebiasaan menguasai diri, dan tidak hidup dalam kehidupan memuaskan diri, tetapi lakukanlah tugas sebagai pemberita Injil dan tunaikanlah segala tugas pelayananmu! (2 Timotius 4:5 Weymouth New Testament).

RANGKUMAN

Penguasaan diri adalah sebuah hal yang indah. Penguasaan diri bukanlah tentang mengatupkan mulut rapat-rapat dan memerangi keinginan batin Anda. Tetapi adalah tentang mengarahkan pilihan-pilihan Anda, kemampuan dan kebebasan untuk membuat keputusan Anda.

Ketika kita masih orang berdosa, kita dikuasai oleh dosa kita: oleh obat-obatan, alkohol, kemarahan, nafsu, keserakahan, dll. Tetapi sekarang karena kita ada di dalam Kristus, kita tidak dikuasai atau dikendalikan oleh Allah; sebaliknya, sesungguhnya Dia menempatkan kembali kuasa atau kendali atas hidup kita ke tangan kita sendiri dan mengatakan bahwa dengan kasih karunia-Nya yang memampukan, kita akan bisa menguasai diri. Kita tidak berpindah dari penguasaan atau pengendalian oleh Iblis kepada pengendalian oleh Allah. Tidak. Allah sungguh-sungguh memerdekakan kita, memampukan kita dan memberi kita kesanggupan untuk membuat pilihan, yang dulunya tidak sanggup kita buat ketika kita masih hidup sebagai korban perbudakan dosa kita.

Saya ingat ketika saya mengikuti kompetisi yudo saat saya masih seorang pemuda. Penguasaan diri bukan sekedar kemampuan untuk tidak menghabiskan sekotak donat; penguasaan diri adalah kemampuan untuk menggerakkan tubuh saya dengan cara yang sempurna dan melakukan gerakan yang ada dalam benak saya.

Penguasaan diri itu “demi” sesuatu, bukan sekedar “anti” sesuatu.

Jonathan Welton: Control Yourself; October 25, 2016.

https://weltonacademy.com/blogs/jonathanwelton/control-yourself

Advertisements