ANTIKRISTUS DAN PRESIDEN AMERIKA: SEBUAH HUBUNGAN YANG TERPUTUS

image

Presiden Amerika Serikat pertama yang dicurigai sebagai Sang Antikristus adalah Franklin Delano Roosevelt. Pengaruh Roosevelt yang luar biasa dan keinginannya membentuk negara-dunia-bersatu (united nations) membangkitkan kecurigaan banyak orang Kristen konservatif.

Kecurigaan yang sama juga pernah muncul saat Abraham Lincoln menjabat Presiden AS, dia dianggap berada di bawah pengaruh Sang Antikristus.

Orang-orang ini mengatakan bahwa Ronald Reagan adalah Sang Antikristus pada tahun 1988, terlihat dari masing-masing dari tiga kata dalam namanya terdiri dari 6 huruf (Ronald Wilson Reagan).

Beberapa pemimpin Kristen sangat yakin bahwa Presiden Bill Clinton adalah Sang Antikristus, sebagaimana mereka juga sangat yakin tanpa ragu bahwa Jimmy Carter adalah Sang Antikristus.

Pada tahun 2000, giliran Presiden George Bush yang disebut sebagai “salah satu tokoh kunci terkemuka yang membawa gereja jauh dari Yesus” dan karena itu dirinya adalah Sang Antikristus.

Kemudian giliran Presiden Obama disebut Sang Antikristus karena beberapa kebijakannya yang tidak populer dan latar belakangnya yang terkait Muslim. Dia bahkan dianggap sebagai tokoh paling “Antikristus.”

Apa benang merah semua ini? Orang-orang Kristen konservatif itu gagal memahami kebenaran. Mengapa? Karena mereka mencari seseorang di luar kerangka waktu, konteks situasi dan pembaca relevan. Ini seperti mencari kereta perang Mesir kuno di showroom atau ruang pamer BMW.

Gereja mula-mula telah mendengar bahwa antikristus (antichrist, yakni ajaran sesat) sedang menyusup, tetapi mereka tidak pernah mendengar bahwa Sang Antikristus (the Antichrist, penguasa tunggal dunia) akan datang. Penyisipan “the” dan kapitalisasi atau pembubuhan huruf kapital pada kata Antikristus ditambahkan 1.500 tahun kemudian oleh para penerjemah.

Bagi Yohanes, istilah antikristus merujuk kepada Gnostisisme (pengajar-pengajar palsu) dan terkait sangat erat dengan fakta bahwa Yesus telah memperingatkan murid-murid-Nya dalam Matius 24 tentang kemunculan pengajar-pengajar palsu. Paham Gnostisisme yang Yohanes sebutkan dalam suratnya yang pertama dan kedua adalah ajaran palsu yang telah Yesus nubuatkan. Pada surat Satu Yohanes 2 ayat 18 dikatakan, “… sekarang telah bangkit banyak antikristus.” Dengan kata lain, banyak ajaran palsu sedang muncul: Gnostisisme, juga bid’ah Nicolatian (pengikut Nikolaus), dan ajaran sesat Judaizers yang disebutkan dalam Wahyu 2:6, 9,15; 3:9. Yohanes menutup ayat ini dengan, “Itulah tandanya, bahwa waktu ini benar-benar adalah waktu yang terakhir.” Sekali lagi hal ini menunjukkan bahwa Yohanes mengacu pada nubuat Yesus dalam Matius 24 bahwa salah satu tanda penghancuran yang akan datang atas Yerusalem adalah munculnya pengajar-pengajar palsu.

Jadi kemunculan ajaran sesat Gnostik dan pengajar-pengajar palsu lainnya adalah tanda bahwa masa itu adalah waktu terakhir atau akhir zaman Musa.

Orang-orang Kristen saat ini mewarisi dusta-dusta agamawi dan ketakutan, bukan yang terbaik dari Kerajaan Allah. Kerajaanlah satu-satunya solusi di dunia saat ini. Ketakutan ini baru bisa dihentikan ketika kebenaran disuarakan dari puncak-puncak gunung.

Yesus datang untuk mendirikan Kerajaan-Nya, dan Dia mengatakan bahwa Kerajaan-Nya terus akan bertumbuh. Inilah yang harus menjadi pedoman gereja saat berada di tengah-tengah kesusahan dan ekstremisme dari sekte Islam seperti ISIS. Kerajaan sorga seumpama biji sesawi yang ditanam di ladang. Biji ini adalah benih yang terkecil dari semua benih, tetapi menjadi yang tumbuh menjadi pohon terbesar dari semua tanaman di ladang, dan burung-burung datang dan membuat sarang pada cabang-cabangnya (lihat Matius 13:31-32).

Simeon Edigbe: The Antichrist and American Presidents: A Loose Connection; July 23rd, 2016.

http://reigninglife.blogspot.co.id/2015/07/the-antichrist-and-american-presidents.html?m=1

Advertisements