BAGAIMANA JIKA KITA SENGAJA BERBUAT DOSA? (Ibrani 10:26)

image

Jika Yesus bersedia mati bagi saya ketika saya adalah pendosa kotor hina, lantas mengapa tampaknya Allah tidak semurah hati itu terhadap kita setelah kita menjadi anak-anak-Nya?

Saya telah mendengar pertanyaan ini diungkapkan dalam seribu cara berbeda. Kebingungan ini bermula dari ayat dalam Kitab Ibrani. Contoh:

“Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu” (Ibrani 10:26).

Saya pribadi telah diajar dan telah mengajarkan selama bertahun-tahun bahwa kasih karunia yang Allah miliki bagi saya saat saya masih orang berdosa, adalah sama dengan kasih karunia yang dimiliki-Nya bagi saya setelah saya menjadi orang kudus. Bahwa bahkan saat saya tersandung sebagai orang kudus, nilai saya di mata Allah tetaplah sama, saya tetap “layak ditebus dengan nyawa.” Saya tetap percaya hal ini benar.

Masalahnya adalah ayat dalam Ibrani ini tidak diletakkan pada konteks alkitabiah yang benar. Khususnya untuk Ibrani pasal 8, 9, dan 10, diperlukan sebuah pemahaman yang tanpanya kita akan dengan gampangnya menyimpulkan Allah adalah Bapa yang sangat penuh penghakiman atas anak-anak-Nya yang sedang tersandung.

Konteks: Pertama-tama, mari kita lihat konteks pasal-pasal ini. Kitab Ibrani ditulis antara tahun 30 Masehi dan 70 Masehi. Selama masa pelayanan-Nya, Yesus memperlihatkan bahwa Dialah Sang Raja dan Ia membawa serta Kerajaan-Nya dan menegakkannya di bumi agar bertumbuh dan memperlebar wilayah kekuasaan-Nya dari waktu ke waktu (Matius 13:31-33). Lalu pada Perjamuan Malam (Last Supper) Yesus mengumumkan kehadiran perjanjian baru-Nya (His new covenant) yang akan ditegakkan keesokan harinya di hari kematian-Nya. Sang Raja sudah datang, berikut Kerajaan-Nya dan perjanjian yang baru, namun perjanjian yang lama (old covenant) masih bergentayangan.

Pada tahun 30 Masehi, Yesus menyatakan bahwa Bait dan Kota Suci Yerusalem akan dihancurkan dalam waktu satu angkatan (yaitu 40 tahun; Matius 24). Penghancuran itu terjadi tahun 70 Masehi dengan cara yang persis seperti yang Ia nubuatkan, dan persis dalam kerangka waktu yang Ia nubuatkan. Namun Ibrani ditulis sebelum peristiwa tahun 70 Masehi, yakni peristiwa yang menghapuskan perjanjian lama.

Itulah alasan mengapa Anda menemukan ayat-ayat seperti dalam Ibrani 8. Ibrani 8:1-12 mengatakan bahwa perjanjian baru sama sekali berbeda dengan perjanjian lama. Perjanjian yang baru lebih mulia dan didasarkan atas janji yang lebih tinggi. Lalu ayat kunci muncul di ayat 13, “Oleh karena Ia berkata-kata tentang perjanjian yang baru, Ia menyatakan yang pertama sebagai perjanjian yang telah menjadi tua. Dan apa yang telah menjadi tua dan usang, telah dekat kepada kemusnahannya.

Meskipun Yesus Sang Raja telah datang dan menegakkan Kerajaan-Nya, telah memeteraikan sebuah perjanjian baru dengan darah-Nya dan membuat perjanjian lama menjadi tua dan usang, tetapi perjanjian yang lama masih saja berlangsung. Orang Yahudi murtad masih terus mempersembahkan hewan korban, mereka masih memelihara Sabat, mereka masih terus merayakan perayaan atau hari raya. Ibrani 8:13 mengarah kepada fakta bahwa peristiwa tahun 70 Masehi akan datang dan akan segera menghapus perjanjian lama selamanya. Dan benar saja, 1,1 juta orang Yahudi dibantai, Bait Suci dihancurkan hingga rata dengan tanah dan seluruh imam dibunuh.

Lalu ketika Ibrani 9:1-9 berbicara tentang tempat kudus perjanjian lama, maka di ayat 10 kita menemukan kunci itu lagi: “Karena semuanya itu, di samping makanan minuman dan pelbagai macam pembasuhan, hanyalah peraturan-peraturan untuk hidup insani, yang hanya berlaku sampai tibanya waktu pembaharuan. Lagi-lagi kita menemukan penulis berbicara tentang bagaimana perjanjian yang tua dan usang itu akan berakhir pada waktu “pembaharuan.” Kitab Ibrani berulang-ulang menegaskan transisi dari perjanjian yang lama kepada yang baru.

Ayat-ayat berikutnya dalam pasal sembilan memperlihatkan bahwa darah Yesus adalah darah perjanjian baru, yang menggantikan darah domba jantan dan darah anak lembu perjanjian lama.

Pada pasal sepuluh tema ini terus digaungkan dengan menjelaskan Yesus sebagai Imam Besar yang menggantikan semua imam besar perjanjian lama. Pada ayat 9 kita menemukan, “Dan kemudian kata-Nya: ‘Sungguh, Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu.’ Yang pertama Ia hapuskan, supaya menegakkan yang kedua.” Tema perjanjian yang lama digantikan oleh yang baru sangat jelas dan tidak terbantahkan. Tetapi sayangnya banyak orang percaya masa kini yang mencoba menyeret-nyeret yang lama ke dalam yang baru.

Pasal sepuluh melanjutkan pembahasan tentang perjanjian baru yang menakjubkan ini sampai kita bertemu dengan ayat 25, “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.”

Ayat yang indah ini telah digunakan oleh banyak pendeta selama bertahun-tahun untuk mendorong jemaat untuk rajin ke gereja, tapi yang demikian adalah penerapan yang salah.

Konteks ayat ini adalah bahwa pertemuan ibadah Gereja mula-mula berlangsung dari rumah ke rumah setiap hari, lalu tahun 70 Masehi semua rumah mereka akan habis terbakar dan rata tanah dalam penghancuran Yerusalem. “Hari Tuhan” yang oleh penulis dikatakan “mendekat” adalah penghancuran Yerusalem. Yesus sebenarnya telah memberi peringatan kepada mereka dalam Matius 24 dan Lukas 22 bahwa ketika mereka melihat Yerusalem dikelilingi oleh tentara, para pengikut-Nya harus melarikan diri ke pegunungan. Mereka melakukan hal itu dengan patuh dan Josephus mencatat bahwa “tidak satu orang Kristen pun yang mati pada peristiwa penghancuran Yerusalem.”

Mengikuti Ibrani 10:25 adalah ayat 26 yang mengawali diskusi kita hari ini: “Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu.”

Jadi konteksnya adalah Yesus telah menghadirkan perjanjian baru yang luar biasa ini ke hadapan kita dan perjanjian lama yang tua dan usang, perjanjian yang tidak sama dengan yang baru, perjanjian yang Yesus “hapuskan” akan segera dihancurkan dan dimusnahkan oleh “hari Tuhan yang mendekat.” Dalam Ibrani 10:26-39, isi pasal 10 selanjutnya berbicara tentang orang-orang yang berbalik dari perjanjian baru kembali ke perjanjian lama. Tentang bagaimana Tuhan akan datang untuk “menghakimi umat-Nya” (ayat 30). Dalam ayat 37 kita menemukan indikator waktu lainnya. “Sebab sedikit, bahkan sangat sedikit waktu lagi, dan Ia yang akan datang, sudah akan ada, tanpa menangguhkan kedatangan-Nya.” Hal ini bukan mengacu pada kedatangan Tuhan yang kedua (yang ada di masa depan kita), tetapi mengacu kepada “kedatangan” Yesus membawa penghakiman atas Yerusalem. Sepanjang Alkitab, kata “datang” merujuk kepada kedatangan Allah membawa penghakiman. Contohnya:

Ucapan ilahi terhadap Mesir. Lihat, Tuhan mengendarai awan yang cepat dan datang ke Mesir, maka berhala-berhala Mesir gemetar di hadapan-Nya, dan hati orang Mesir, merana hancur dalam diri mereka (Yesaya 19:1).

Jika kita tidak menempatkan Ibrani 10:26 dalam konteks yang tepat, maka akan terjadi pertentangan antara ayat ini dengan ayat lain, seperti:

“Anak-anakku, aku menuliskan hal-hal ini kepada kamu supaya kamu tidak berbuat dosa. Tetapi jika seseorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa – Yesus Kristus, Yang Benar (1 Yohanes 2:1 New International Version).

Saya merasa diteror oleh Ibrani 10:26-39 selama bertahun-tahun sampai saya mengerti konteksnya. Bagian ini adalah tentang orang-orang Yahudi abad pertama, yang tidak mau menerima apa yang darah Yesus telah lakukan bagi kita sebagai darah yang mahal dan dengan demikian menginjak-injak Anak Allah. Jika Anda berbuat dosa, Yesus adalah pengantara Anda, Dia ada di sisi Anda, Dia adalah pembela Anda terhadap pendakwa saudara kita.

Jadilah merdeka.

(Perhatikan juga Ibrani 10:27 mengatakan, “Tetapi yang ada ialah kematian yang mengerikan akan penghakiman dan api yang dahsyat yang akan menghanguskan semua musuh Allah.” Hal ini merujuk kepada terbakarnya Yerusalem, bukan tentang neraka. Menurut banyak ahli teologi, neraka tidak menghanguskan (consume), neraka adalah tempat penyiksaan tetapi tidak menghanguskan. Jika pendapat ini benar, maka kita dapat dengan mudah melihat bahwa api yang menghanguskan di ayat ini lebih cocok melambangkan pembumihangusan Kota Suci pada tahun 70 Masehi.)

Jonathan Welton: What If We Deliberately Keep on Sinning… (Heb 10:26); May 9, 2012.

https://weltonacademy.com/blogs/jonathanwelton/50133889-what-if-we-deliberately-keep-on-sinning-heb-10-26

Advertisements