KUASA MENGUCAP SYUKUR!

image

Yesus berkata, “yang diucapkan mulut meluap dari hati” (Matius 12:34). Saat saya memperhatikan dan menyimak ucapan orang percaya di seantero negeri, saya mendengar kata-kata yang meluap dari hati yang dipenuhi dengan ketakutan, stres dan kecemasan. Saya bertanya kepada Tuhan tentang masalah ini dan Dia menekankan satu kata kepada saya, “Mengucap Syukur (Thanksgiving).” Bukan liburan Thanksgiving, tetapi sikap hati.

Roh Kudus memperlihatkan kepada saya gambaran seorang Kristen yang sedang diperas dan berkata, “Ketika hidup memeras kita seperti alat pemeras memeras buah anggur, Yesuslah yang harusnya keluar dari diri kita karena kita dirancang untuk tinggal di dalam Dia.” Banyak ucapan yang keluar dari mulut orang percaya bertentangan nama yang kita sandang. Kita disebut “orang percaya (believers),” bukan tukang menggerutu atau mengeluh (complainers).

“Jika Anda tidak berdoa, berhati-hatilah; keluhan akan mengisi kekosongan doa Anda.”      

Kita jangan mengeluh tentang apa yang kita doakan. Contohnya, saya berdoa bagi pasangan saya satu jam setiap hari, saat saya melangkah keluar dari ruang doa saya, saya tidak akan mulai mengeluh tentang pasangan saya. Jika Anda memberitahu saya apa yang Anda keluhkan, saya akan tunjukkan kepada Anda apa yang tidak sedang Anda doakan.

Mengeluh adalah kebalikan dari mengucap syukur. Allah menginginkan kita mengucap syukur ketika kita “diperas.” Alkitab menyuruh kita “Mengucap syukurlah dalam segala keadaan, sebab itulah kehendak Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu” (1 Tesalonika 5:18 New International Version). Perhatikan bahwa ayat ini mengatakan, “di dalam,” bukan “untuk” segala keadaan. Kita tidak mengucap syukur ‘untuk’ segala keadaan karena tidak semuanya berasal dari Allah. Jika Anda sakit, jangan mengucap syukur atas penyakit Anda, karena penyakit datangnya bukan dari Allah, tetapi mengucap syukur di dalam (atau walaupun) kondisi sakit Anda adalah apa yang Allah perintahkan untuk kita lakukan.

      
Dalam Efesus 5:20 (New International Version), Allah memang memerintahkan kita untuk bersyukur ‘untuk’ segala sesuatu, tetapi kata Yunani yang digunakan adalah huper, yang merupakan akar dari kata ‘untuk’ pada ayat ini. Kata ini berarti ‘di atas,’ ‘melampaui’ atau ‘melebihi.’ Kami diperintahkan untuk bersyukur di atas, melampaui dan melebihi keadaan kita.

Ketika Yesus akan membangkitkan Lazarus dari kematian (Yohanes 11:41) atau melipatgandakan roti (Yohanes 6:11), Dia tidak mengucap syukur untuk situasi-Nya, Dia mengucap syukur di dalam situasi-Nya. Anda tidak harus mengucap syukur untuk situasi Anda, tetapi Anda perlu mengucap syukur di dalamnya. Itu akan melepaskan urapan Allah untuk mengatasi situasi Anda.

Nabi Daniel dikenal selalu mengucap syukur kepada Tuhan tiga kali sehari. Kita bisa belajar dari kehidupannya bahwa ketika Anda hidup dalam ucapan syukur, singa musuh tidak memiliki hak untuk mencaplok Anda. Atau siapa yang bisa lupa pada kisah Yunus? Saat ia mengeluh tentang tugasnya bernubuat atas Niniwe dan melarikan diri dari Allah, ia ditelan oleh ikan raksasa. Jika Anda perhatikan apa yang Yunus lakukan di dalam perut ikan, disebutkan dalam Yunus 2:9 ia menaikkan ucapan syukur. Pada ayat berikutnya, ikan itu memuntahkan Yunus ke darat. Prinsipnya adalah ini: jika mengeluh membawa Anda masuk ke dalam sebuah situasi, ucapan syukur adalah kunci yang membawa Anda keluar dari sana.

Kita harusnya menjadi manusia-manusia pendoa sehingga ketika hidup “memeras” kita, hati yang penuh syukur yang akan keluar. Sesuai dengan Yakobus 4:2, “kita tidak memperoleh apa-apa, karena kita tidak berdoa.” Jika kita menginginkan Tuhan bergerak dalam hidup kita, sekarang saatnya untuk kembali kepada hati yang berdoa dengan ucapan syukur.

     
“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus” (Filipi 4:6‭-‬7). Kita diperintahkan untuk berdoa dan mengucap syukur untuk jawaban doa kita sebelum jawaban itu datang.

Mengucap syukur mendatangkan damai sejahtera yang di luar akal (irasional) ke dalam hati kita. Kita harus bersyukur kepada Allah sebelum jawaban doa tiba, jangan hanya bersyukur setelah jawaban tiba. Di mana iman kalau begitu? Iman yang sejati mengatakan, ‘Terima kasih, ya Allah,” bahkan sebelum jawaban doa tiba.

Jika Anda ingin melihat terobosan rohani dalam keluarga Anda, keuangan Anda, tubuh jasmani Anda, hubungan Anda atau area lainnya, sekaranglah saatnya mulai mengucap syukur dalam doa-doa Anda. Mengucap syukur adalah kekuatan atau kuasa yang luar biasa di alam roh, dan kita diingatkan sekaranglah waktunya untuk melepaskan kekuatan itu di bumi. Selamat Hari Thanksgiving!

Jonathan Welton: The Weapon Of Thanksgiving!; November 26, 2013.

https://weltonacademy.com/blogs/jonathanwelton/50137857-the-weapon-of-thanksgiving

Advertisements