MENGHAKIMI

image

Saya perhatikan banyak orang yang gemar menghakimi akhir-akhir ini. Ini bisa jadi karena saya telah “membunuh dan memanggang” mitos-mitos favorit mereka yang suci dan sakral, atau bisa jadi karena mereka telah berkali-kali ditikam dari belakang oleh orang-orang yang mereka sebut sebagai “saudara dan saudari” dalam gereja. Yesus mengatakan bahwa apa yang keluar dari mulut adalah luapan dari hati. Jadi saya paham saat saya mendengar penghakiman, sebenarnya itu adalah luapan sakit hati yang menumpuk dalam hati seseorang. Salah satu hal mendasar-sederhana yang saya temukan adalah bahwa “orang yang merasa dihakimi akan menghakimi orang lain.”

Umumnya, orang-orang yang telah mendapatkan kemerdekaan sejati mereka, yang menghidupi penguasaan diri mutlak mereka, dan sadar dirinya sepenuhnya dikasihi; tidak akan menghakimi orang lain. Orang-orang yang gemar menghakimi orang lain biasanya telah mengalami penghakiman dan penganiayaan, mungkin untuk waktu yang sangat lama, bahkan beberapa dekade. Bukan hanya merasa dihakimi oleh orang lain, tetapi banyak juga yang merasa dihakimi oleh Allah Bapa. Entah dari seorang pemimpin rohani atau dari orang tua jasmani, banyak orang yang menerima gagasan bahwa Allah adalah hakim agung yang tidak punya kerjaan lain selain menghakimi Anda. Pandangan menyesatkan tentang Allah ini mengarah pada gagasan Allah menghakimi Anda, sehingga ujung-ujungnya Anda akan menghakimi diri sendiri lalu menghakimi orang lain. Penghakiman atas orang lain adalah luapan penghakiman internal, yakni penghakiman atas diri sendiri. Penghakiman atas diri sendiri akan meluap dan meluber atas orang lain.

Saya percaya satu-satunya cara untuk benar-benar memutus siklus ini adalah kembali ke akar dan mengubah pandangan Anda tentang Allah Bapa. Ya, orang lain mungkin telah mengacaukan pandangan Anda tentang-Nya dan Anda akan harus mengampuni mereka supaya bisa bergerak maju, tapi Anda juga harus menyeka lumpur dari kacamata Anda agar bisa melihat dengan jelas. Apakah yang telah Allah katakan tentang diri-Nya kepada kita? Saya rasa orang-orang yang gemar menghakimi perlu mendengar tiga hal tentang Allah ini, yang mungkin belum pernah mereka dengar dan pelajari dengan benar sebelumnya.

1. “Allah adalah kasih.” Ya, saya tahu, Anda telah mendengar ini, tetapi apakah Anda telah menyaksikannya? Apakah Anda telah mengenal Dia sebagai Allah Kasih, atau secara harfiah, Allah yang mengasihi? Apakah Anda mengerti bahwa Dia SELALU bertindak dalam kasih, Dia tidak akan pernah mempertentangkan hal ini. Anda aman bersama-Nya, Dia tidak akan pernah menyakiti Anda, Dia tidak menyimpan kesalahan Anda dan menggunakannya untuk melawan Anda, Dia tidak mendendam, Dia tidak akan pernah membiarkan dan meninggalkan Anda kesepian, bingung atau putus asa. (Lihat 1 Korintus 13, Yeremia 29:11)

2. “Di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan.” Di hadirat Allah, Anda sepenuhnya merdeka. Anda mungkin telah mengacau namun Dia tidak akan pernah bertindak ala pengendali. Anda memiliki kemerdekaan sepenuhnya, total. Kebanyakan orang Kristen BELUM PERNAH mengalami berada dalam sebuah lingkungan yang di dalamnya mereka merdeka sepenuhnya. Sebagian besar pemimpin hidup dalam ketakutan berbuat kesalahan. Tuhan sudah mati untuk membayar kesalahan Anda, sehingga Dia bisa menuangkan sepenuhnya kasih-Nya kepada Anda. Allah ingin Anda merdeka bahkan lebih dari keinginan Anda sendiri. Banyak orang menghindari Allah karena mereka menginginkan kemerdekaan dan merasa Dia akan mengendalikan. Ini adalah pesan yang telah diberitakan gereja, bukan pesan dari Alkitab. Allah ingin Anda benar-benar, sepenuhnya, seutuhnya merdeka menjadi diri Anda sendiri dan berjalan dalam identitas yang telah Ia taruh dalam DNA Anda.

3. “Buah Roh adalah … penguasaan diri.” Banyak orang mendefinisikan penguasaan diri sebagai “kemampuan untuk mengatakan tidak terhadap dosa.” Berdasarkan definisi ini, Anda akan merasa gagal dan gagal lagi. Definisi penguasaan diri seperti ini bercacat karena lingkupnya sungguh sempit. Penguasaan diri bukan sekedar kemampuan untuk mengatakan tidak terhadap dosa. Penguasaan diri lebih baik didefinisikan sebagai “menjadi satu-satunya orang yang menentukan respon/tanggapan Anda dalam hidup ini.” Allah tidak mengendalikan Anda, Dia mengasihi Anda dengan sempurna; karena itu Dia ingin Anda memiliki kemerdekaan total, jadi Dia memberi Anda penguasaan diri. Anda harus memutuskan apa yang akan Anda lakukan. Apakah Anda akan mengasihi-Nya atau menolak Dia. Apakah Anda akan mengasihi orang lain atau menghakimi mereka. Apakah Anda akan mengasihi diri sendiri sebesar Dia mengasihi Anda, atau sebaliknya menghakimi diri Anda sendiri.

Saya sepenuhnya mengerti apa yang saya bicarakan karena saya telah mengalaminya. Dulu saya menyimpan banyak penghakiman dalam hati saya. Saya memandang Allah sebagai pengendali, saya tidak mengenal-Nya sebagai Allah Kasih, saya tidak mengerti bahwa Dia sungguh menginginkan saya merdeka dan bahwa satu-satunya orang yang Dia inginkan mengendalikan saya, adalah saya! Allah adalah Kasih, Pembela kita, Penghibur kita, Penyedia kita, dan Penyembuh kita. Dia sungguh baik, kendati sering disalahpahami sebagai sosok yang gemar menghakimi. Ya, suatu hari di masa depan, Allah akan harus menghakimi kejahatan, yang merupakan bagian penting dari kasih dan keadilan, tetapi Allah ADALAH Kasih, itu adalah esensi dan identitas-Nya. Menjadi Hakim adalah sesuatu yang harus Dia lakukan suatu hari nanti. Tapi itu bukan identitas-Nya.

image

Jonathan Welton: Judgmental; April 12, 2012.

https://weltonacademy.com/blogs/jonathanwelton/50133697-judgmental

Advertisements