PERJANJIAN BARU TERANG

image

Banyak orang Kristen yang diajar bahwa terang umat Allah dan kegelapan kerajaan setan berkembang secara bersamaan. Pengajaran ini berkembang dari sesuatu yang saya anggap sebagai kesalahmengertian atas Yesaya 60:

Bangkitlah, menjadi teranglah (bersinarlah), karena terangmu telah datang, dan kemuliaan Tuhan terbit atasmu. Lihatlah, kegelapan menutupi bumi dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa, tetapi TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya muncul atasmu. Bangsa-bangsa akan datang kepada terangmu, dan raja-raja kepada cahaya fajarmu (Yesaya 60:1‭-‬3 New International Version).

Saya paham darimana kebingungan ini muncul. Tampaknya, dari pembacaan sekilas, Yesaya melihat kegelapan dan terang hidup bersama-sama layaknya paralel. Namun dengan pembacaan lebih seksama, kita temukan Yesaya tidak menganggapnya demikian. Mari kita lihat kembali ayat 1.

Bangkitlah, menjadi teranglah (bersinarlah), karena terangmu telah datang, dan kemuliaan Tuhan terbit atasmu (Yesaya 60:1).

Perhatikan kala kata kerja/verba, “Bangkitlah, bersinarlah.” Keduanya adalah perintah menyuruh seseorang yang saat ini tidak sedang dalam keadaan berdiri untuk bangkit, dalam kala akan datang (future tense). Bangkit dan bersinar adalah sesuatu yang si pendengar harus lakukan sesaat lagi. Ayat berikutnya adalah komentar atas situasi saat ini. “Lihatlah, kegelapan menutupi bumi dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa …” (Yesaya 60:2a).

Kata lihatlah berarti “tengoklah ke sekeliling atau perhatikanlah” dalam kala kini (present tense). Bersama mari kita bayangkan Yesaya mungkin sedang mendapat penglihatan. Dalam penglihatan itu, ia melihat bahwa pada saat itu “kegelapan menutupi bumi dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa.” Lalu dia mendengar suara Roh Kudus menyatakan, “Bangkitlah! Bersinarlah! Karena terangmu telah datang dan kemuliaan Tuhan terbit atasmu!” Karena urutan kedua ayat ini, kita telah melewatkan fakta bahwa kala kata kerja mereka sebenarnya tersusun terbalik. Dengan menaruh ayat 2 sebelum ayat 1, kita akan lebih mudah memahami ayat ini.

Jika kedua ayat ini diparafrasekan sesuai dengan kronologinya, bunyinya akan seperti ini, “Hei Yesaya, tengoklah ke sekelilingmu dan perhatikanlah kegelapan ini. Sekarang lihatlah ke sana ke arah terang kemuliaan Tuhan yang sedang terbit. Tak lama lagi kemuliaan-Ku akan mengusir kegelapan dan bangsa-bangsa akan datang kepada terang-Ku.”

Apa yang Sedang Yesaya Lihat?

Masalah lain yang muncul dari bacaan ini adalah penafsiran kalimat, “kegelapan menutupi bumi dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa.” Sepanjang sejarah, nabi-nabi suram-muram selalu menyatakan kesudahan dunia sudah dekat karena begitu pekatnya kegelapan rohani. Namun, bisa jadi Yesaya tidak sedang berbicara tentang kegelapan rohani atau yang sifatnya kiasan. Bagaimana jika secara profetis ia sedang mendapat penglihatan tentang kegelapan secara fisik? Jika begitu, kita harus bertanya: Apakah ada saat dalam sejarah saat kegelapan menutupi bumi? Jika kita dapat menjawab pertanyaan ini, kita bisa mengetahui saat mana yang Yesaya lihat. Saya menduga Yesaya sedang melihat dan bernubuat atas peristiwa ini.

Ketika itu hari sudah kira-kira jam keenam, dan kegelapan meliputi seluruh tanah itu sampai jam kesembilan, sebab matahari tidak bersinar. Dan tabir Bait Suci terbelah dua (Lukas 23:44‭-‬45 New International Version).

Hari orang Yahudi dimulai pada pukul 6 pagi. Jadi jam keenam berarti pukul 12 siang, dan jam kesembilan berarti pukul 3 sore. Artinya matahari tidak bersinar dari tengah hari hingga pukul 3 sore, jam-jam paling terang-terik sepanjang hari, terutama di iklim gurun seperti di Israel. Saya minta Anda mempertimbangkan kemungkinan Yesaya secara profetis sedang melihat satu hari khusus saat kegelapan secara harfiah menutupi bumi (lihat Lukas 23), kemudian ia melihat Allah berbicara kepada umat-Nya, “Bangkit, bersinarlah, karena terangmu telah datang dan kemuliaan Tuhan terbit atasmu!” (Yesaya 60:1).

Kapankah kemuliaan Tuhan ini terbit atas umat-Nya? Saya yakin hari Pentakosta sangat pas dengan gambaran ini.

Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya (Kisah Para Rasul 2:1‭-‬4).

Peristiwa ini menggenapi Yesaya 60:3-5, yang bernubuat begitu terang itu terbit atas umat-Nya, bangsa-bangsa akan datang kepada terang itu.

Bangsa-bangsa berduyun-duyun datang kepada terangmu, dan raja-raja kepada cahaya yang terbit bagimu. Angkatlah mukamu dan lihatlah ke sekeliling, mereka semua datang berhimpun kepadamu; anak-anakmu laki-laki datang dari jauh, dan anak-anakmu perempuan digendong. Pada waktu itu engkau akan heran melihat dan berseri-seri, engkau akan tercengang dan akan berbesar hati, sebab kelimpahan dari seberang laut akan beralih kepadamu, dan kekayaan bangsa-bangsa akan datang kepadamu (Yesays 60:3‭-‬5).

Inilah sebabnya Yesus memerintahkan murid-murid-Nya untuk “… jadikanlah semua bangsa murid-Ku” (Matius 28:19). Dia tahu bahwa Lukas 23 akan menggenapi nubuat tentang kegelapan yang Yesaya lihat dan hari Pentakosta akan memancarkan kemuliaan Tuhan seperti yang dinubuatkan Yesaya. Tak lama lagi murid-murid akan melihat Yesaya 60:3-5 – saat bangsa-bangsa berduyun-duyun datang kepada terang – digenapi. Karena itu, mereka harus siap sedia memuridkan bangsa-bangsa itu.

Perjanjian Baru Terang

Setelah melihat penggenapan Yesaya 60, kita perlu memikirkan bagaimana ayat ini diterapkan pada kita saat ini. Walaupun hari Pentakosta membawa kemuliaan ke dalam Gereja, Gereja masih harus “Bangkit dan menjadi terang.” Proses ini membutuhkan waktu transisi dari kegelapan kepada terang. Sebagai contoh, Yesus meresmikan perjanjian baru saat di atas salib dan menyatakan penegakan perjanjian tersebut sudah selesai. Namun perjanjian yang lama masih bertahan selama Perjanjian Baru hingga akhirnya dihapuskan sama sekali dalam peristiwa penghancuran Yerusalem tahun 70 Masehi. Itulah sebabnya Ibrani 8:13 berkata, “Dengan menyebut perjanjian ini sebagai perjanjian yang baru, Ia membuat yang pertama menjadi perjanjian yang telah menjadi tua, dan apa yang telah menjadi tua dan usang, telah dekat kepada kemusnahannya.”

Itulah sebabnya, sepanjang Perjanjian Baru, hari-hari sebelum perjanjian baru disebut sebagai kegelapan dan perjanjian baru disebut terang. Contoh:

Ilah zaman ini telah membutakan pikiran orang-orang yang tidak percaya, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil yang memancarkan kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah. … Sebab Allah telah berfirman: “Bersinarlah terang di tengah kegelapan,” telah membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita untuk memberikan kita terang pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang terpancar pada wajah Kristus (2 Korintus 4:4‭, ‬6 New International Version).

Saat Yesus berkata lagi kepada orang banyak, kata-Nya: “Akulah terang dunia. Barangsiapa yang mengikut Aku tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan akan mempunyai terang hidup (Yohanes 8:12).

Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya (Yohanes 1:4‭-‬5).

Oleh rahmat dan belas kasihan dari Allah kita, dengan mana Surya pagi dari tempat yang tinggi akan melawat kita, untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut, untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera (Lukas 1:78‭-‬79).

Injil Yesus Kristus adalah cahaya terang yang bersinar dalam kegelapan! Yesus sungguh-sungguh adalah Terang Dunia! Dia adalah Terang bagi seluruh umat manusia; Surya pagi dari tempat tinggi!

Sebelum perjanjian baru terang ditegakkan, dunia tersandung-sandung dalam kegelapan rohani. Para penyembah berhala hidup dalam ketakutan terus menerus jangan sampai menimbulkan amarah dewanya, karena kemarahan dewa akan mendatangkan kekeringan, badai yang memporakporandakan, gagal panen, kemandulan, dan lain-lain. Rasul Paulus, dalam perdebatannya dengan para filsuf Atena, menyebut era kegelapan zaman dulu ini sebagai masa mencari-cari tanpa Allah:

Allah yang menjadikan bumi dan segala isinya adalah Tuhan atas langit dan bumi tidak hidup dalam kuil-kuil buatan tangan manusia. Dia juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah Ia kekurangan sesuatu. Sebaliknya Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu. Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa, untuk mendiami seluruh bumi; dan Ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka. Allah melakukan hal ini supaya mereka mencari Dia dan mungkin mencari-cari [“menjamah dan menemukan Dia,” Weymouth Literal Translation] dan menemukan Dia, walaupun Ia tidak jauh dari kita masing-masing. Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada, seperti yang telah juga dikatakan oleh pujangga-pujanggamu: Sebab kita ini dari keturunan Allah juga. … Di masa lalu Allah tidak memandang kebodohan seperti itu, tetapi sekarang Allah memerintahkan kepada semua manusia di mana pun supaya bertobat (Kisah Para Rasul 17:24‭-‬28‭, ‬30 New International Version).

Tentang terbitnya cahaya fajar di tengah kegelapan, ahli teologi David Chilton menuliskan pendapatnya dengan menarik:

Era perjanjian baru disebutkan dalam Kitab Suci sebagai era Terang yang semakin bersinar secara progresif, berbanding terbalik dengan kegelapan era pra-mesianik. Secara mutlak, Terang akan datang hanya pada akhir dunia, saat Kristus kembali. Namun, seperti yang dimaksudkan para rasul pada akhir era perjanjian lama, saat bangsa-bangsa diperbudak oleh roh kegelapan, mereka menyebut Fajar yang akan datang sebagai zaman kebenaran, ketika kuasa Injil menyapu seantero bumi, menghancurkan penyembahan berhala dan membanjiri bangsa-bangsa dengan Terang kasih karunia Allah. Secara relatif, seluruh sejarah dunia: sejak kejatuhan Adam hingga kenaikan Kristus adalah Malam; secara relatif, seluruh masa depan dunia adalah Siang hari yang terang benderang. Hal ini mengikuti pola yang telah ada sejak penciptaan, saat langit dan bumi bergerak dari kegelapan malam menuju cahaya fajar.

Era perjanjian lama adalah saat Malam dunia yang gelap; bersama dengan kelahiran Yesus Kristus datanglah era Terang, Hari Besar Tuhan, ditegakkan saat kenaikan-Nya dan peresmian perjanjian baru.

Dengan memahami transisi dari gelap kepada terang, kita bisa melihat kuasa yang ada dalam perintah Paulus untuk mengenakan senjata perjanjian baru, yang adalah senjata terang:

Tetapi kamu, saudara-saudara, kamu tidak berada dalam kegelapan sehingga hari itu tiba-tiba mendatangi kamu seperti pencuri. Kamu semua adalah anak-anak terang dan anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan. Jadi, jangan kita seperti orang-orang lain, yang tertidur, tetapi marilah kita berjaga-jaga dan sadar. Sebab mereka yang tidur, tidur waktu malam, dan mereka yang mabuk, mabuk waktu malam. Tetapi karena kita adalah orang-orang siang, baiklah kita sadar, mengenakan iman dan kasih sebagai baju zirah, dan pengharapan keselamatan sebagai ketopong (1 Tesalonika 5:4‭-‬8).

Dan lakukanlah ini, mengertilah keadaan waktu sekarang: Sudah saatnya bagi kamu untuk bangun dari tidur, sebab keselamatan kita sekarang sudah lebih dekat daripada waktu kita pertama menjadi percaya. Malam sudah hampir usai; siang sudah menjelang. Karena itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang (Roma 13:11‭-‬12 New International Version).

Inilah kenyataan kita sekarang! Terang Kerajaan bersinar semakin bercahaya, mengusir kegelapan. Jika orang Kristen berbicara mengenai betapa gelapnya dunia ini – betapa kelamnya dan pekatnya kegelapan dan adanya kegelapan politik yang menuju hari depan yang suram – itu artinya mereka belum paham bahwa kegelapan sudah sejak lama digantikan oleh terang perjanjian baru! Kemuliaan dan terang Yesus sudah terbit, dan kegelapan semakin terusir dan terdesak hari demi hari.

Jonathan Welton: The New Covenant Age of Light; June 28, 2012.

https://weltonacademy.com/blogs/jonathanwelton/50134465-the-new-covenant-age-of-light

Advertisements