KETIKA TEMBOK TAMPAKNYA TAK JUA RUNTUH

image

Penulis tamu kita hari ini, Allison Bown, adalah direktur the Warrior Class – sekelompok orang-orang hebat yang berdoa bagi saya secara pribadi dan bagi semua even yang kami lakukan dalam Brilliant Perspective.

Allison adalah pemikir besar, sahabat yang baik dan pendamping spiritual yang luar biasa. Saya yakin Anda akan menyukai perspektifnya, seperti kami.

-Graham

Semua orang pernah menghadapi masa-masa saat tantangan tetap menantang, saat harapan tidak sesuai dengan kenyataan dan saat doa yang kita naikkan tampaknya tidak berdampak. Apa sebenarnya yang sedang terjadi selama masa itu dan bagaimana mungkin masa ini adalah sesuatu yang baik?

Beberapa tahun yang lalu, saya sedang berada dalam masa seperti itu dan mendapati diri saya membaca Kitab Yosua … lagi.

Yosua adalah “sahabat lama” dan Yerikho adalah salah satu cerita kesukaan saya. Sebagian besar dari kita pasti tahu cerita ini. Israel akhirnya menyeberang ke Tanah Perjanjian dan Allah telah memberikan rencana pertempuran konyol kepada sang komandan baru: Berbarislah mengelilingi kota besar bertembok tebal itu satu kali sehari selama enam hari dengan para imam dan tabut perjanjian berjalan di depan. Pada hari yang ketujuh, kelilingi kota itu tujuh kali. Tiuplah sangkakala tanduk domba. Orang-orang harus bersorak dengan sorak yang nyaring dan tembok itu akan runtuh.

Oh, saya lupa bilang ya? Tidak boleh berbicara sepatah kata pun. Sampai pada waktunya harus bersorak.

Serius? Inikah yang disebut dengan “rencana”? Orang Israel pasti bingung saat Yosua mengumumkan rencana ini.

Saya jadi bertanya-tanya: MENGAPA BEGITU PENTING MEREKA TIDAK BOLEH BERBICARA SEPATAH KATA PUN?

Tetapi dengan gaya-Nya yang klasik, Roh Kudus tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Sebaliknya, Ia menunjukkan sesuatu yang tampaknya bukanlah detil yang relevan: bahwa tembok Yerikho tidak runtuh sedikit demi sedikit setiap hari. Tidak tampak ada tanda-tanda kemajuan setelah setiap putaran. Pada hari yang ketujuh, tidak ada apapun (tampak) berubah. Tidak satu batu atau gerbang pun yang bergeser … sedikitpun tidak.

Hmmm …. tunggu sebentar. Bagaimana jika semua berjalan keliling Yerikho selama enam hari pertama itu sebenarnya tidak ada hubungannya dengan tembok kota tersebut sama sekali?

(Ini adalah pertanyaan aneh yang saya tanyakan kepada Allah pukul 2 dinihari)

Bagaimana jika sebenarnya yang sedang diruntuhkan adalah “tembok” di dalam diri para pejuang ini – bukan tembok yang di luar?

Coba pikirkan – sangat sedikit dari orang-orang ini yang mengingat kedahsyatan dan kemuliaan Allah saat menghancurkan Mesir. Ya memang, Allah baru saja membelah Sungai Yordan supaya mereka bisa lewat beberapa hari sebelumnya, dan mereka telah melihat secuil kuasa-Nya selama berada di padang gurun – tetapi itu berbeda.

BAGAIMANA JIKA MOMEN ITU ADALAH MOMEN BAGI SETIAP PEJUANG UNTUK MEMUTUSKAN BAGI DIRINYA SENDIRI: “SIAPA ALLAH BAGIKU SAAT INI?”

Saya pikir mungkin pertanyaan inilah yang ada di benak setiap laskar Israel saat mereka mengedari Yerikho, saat mereka punya banyak kesempatan menatap tembok tebal yang tidak bergerak sama sekali. Tidak ada waktu untuk melakukan jajak pendapat dari teman-temannya, atau bergantung kepada sejarah yang dialami orang tuanya. Dalam keheningan, sambil menatap kemustahilan, setiap orang harus membuat keputusan yang berasal dari hubungannya dengan “AKULAH AKU”:

“Siapakah Allah bagiku di Tanah Perjanjian ini?”

– Allison

Allison Bown: When Walls Don’t Seem to Move; May 24, 2016.

http://brilliantperspectives.com/walls-dont-seem-move/

Advertisements