ALLAH DAN WAKTU

image

Saya memperhatikan akhir-akhir ini banyak teori yang muncul membahas tentang Allah dan waktu.

Para ahli teologi telah membahas dan memperdebatkan topik mengenai waktu selama bertahun-tahun dan karena saya semata-mata menulis artikel, saya tidak akan menggali topik ini terlampau dalam. Baru-baru ini saya terlibat dalam beberapa percakapan mengenai waktu dan masalah penafsiran yang sama muncul lagi dan lagi. Saya ingin membawa kejelasan untuk tiga ayat yang telah menimbulkan banyak kebingungan.

1. Waktu Tidak Ada Lagi? Argumen yang muncul dari ayat ini adalah bahwa di alam roh tidak ada waktu karena ayat ini mengatakan bahwa di masa depan, waktu tidak ada lagi.

“Dan bersumpah demi Dia yang hidup sampai selama-lamanya, yang telah menciptakan langit dan segala isinya, dan bumi dan segala isinya, dan laut dan segala isinya, bahwa waktu tidak ada lagi!” (Wahyu 10:6 King James Version).

Namun ayat ini diterjemahkan secara keliru. Dan New International Version memberikan penerjemahan yang jauh lebih baik. Tidak akan ada penundaan lagi!

“Dan ia bersumpah demi Dia yang hidup sampai selama-lamanya, yang telah menciptakan langit dan segala isinya, dan bumi dan segala isinya, dan laut dan segala isinya, dan berkata: “Tidak akan ada penundaan lagi! (Wahyu 10:6 New International Version).

2. Disembelih Sebelum Dasar Dunia Diletakkan? Dalam kasus ini Allah dianggap hidup di zona tanpa waktu (timeless zone) karena Yesus adalah Anak Domba yang disembelih sebelum dasar dunia diletakkan (sebelum dunia dijadikan).

“…, yaitu setiap orang yang namanya tidak tertulis di dalam kitab kehidupan Anak Domba yang telah disembelih sejak dasar dunia diletakkan” (Wahyu 13:8 King James Version).

Sekali lagi para penerjemah telah merusak makna sebenarnya dari ayat ini. Saya tidak memperdebatkan apakah Allah berada di luar waktu atau tidak, tetapi ayat ini tidak membuktikan hal itu jika diterjemahkan dengan benar, sebagai berikut.

“…, yaitu setiap orang yang namanya tidak tertulis sejak dunia dijadikan di dalam kitab kehidupan Anak Domba, yang telah disembelih” (Wahyu 13:8 English Standard Version).

Nama-nama itu yang ditulis sebelum waktu, Anak Domba tidak disembelih sebelum waktu. Hal ini adalah pergeseran besar dalam pemikiran saya, saya tahu hal ini mungkin merupakan pergeseran besar untuk Anda juga, namun saya harap Anda mempertimbangkannya.

3. Satu Hari Sama Seperti Seribu Tahun? Jika ada satu ayat yang begitu sering disalahgunakan lebih dari yang lain, 2 Petrus 3:8 inilah ayatnya.

“Tetapi jangan biarkan satu hal ini luput dari perhatianmu, saudara-saudaraku yang kekasih, bahwa di hadapan Tuhan satu hari adalah seperti seribu tahun dan seribu tahun adalah seperti satu hari” (2 Petrus 3:8 New American Standard Bible).

Tak terhitung banyaknya orang yang telah menggunakan ayat ini untuk membuat matematika kenabian dalam teori liar mereka. Padahal Petrus sedang mengutip Mazmur 90:4, bukan sedang mengusulkan rumus yang dapat digunakan untuk menduga-duga atau meramalkan akhir dunia.

“Sebab di mata-Mu seribu tahun sama seperti hari yang baru berlalu, atau seperti suatu giliran jaga di waktu malam” (Mazmur 90:4 New International Version).

Petrus TIDAK sedang mengatakan bahwa bagi Allah, waktu bersifat samar-samar atau relatif. Petrus sedang mengutip Mazmur, yang menunjukkan kepada kita bahwa waktu adalah sesuatu yang tidak terlalu penting bagi Allah yang kekal tanpa batas.

Waktu adalah sesuatu yang nyata bagi Allah, tetapi tidak dengan cara yang sama seperti bagi kita. Saya berharap apa yang telah saya tuliskan membawa kejelasan atas ayat-ayat ini dan menghadirkan diskusi yang lebih cerdas mengenai Allah dan waktu.

Jonathan Welton: God and Time; March 6, 2012.

https://weltonacademy.com/blogs/jonathanwelton/50132929-god-and-time

Advertisements