MICHAEL BROWN, HYPER-GRACE, DAN PENGAKUAN DOSA.

image

Telah terjadi perdebatan sengit menyangkut 1 Yohanes 1:9. Poin yang diperdebatkan adalah apakah orang Kristen perjanjian baru harus mengakui dosa supaya diampuni, atau tidak.

Asal mula perdebatan ini berasal dari buku Joseph Prince, Destined to Reign, yang merupakan asal-usul banyak ajaran kasih karunia modern. Saya pribadi berpendapat Joseph Prince adalah satu-satunya pembicara di TV Kristen yang ajarannya bisa saya terima. Dia adalah seorang pengajar Alkitab yang menakjubkan; yang mengalirkan kasih dan kasih karunia, dan melumat begitu banyak sistem kepercayaan yang salah. Saya juga membaca Destined to Reign beberapa tahun yang lalu, dan saya setuju dengan hampir semua yang dituliskan di dalamnya. Saya pasti menemukan hal yang tidak saya setujui di semua buku yang saya baca. Demikian pula dengan buku yang satu ini.

Perdebatan tentang 1 Yohanes 1:9 muncul karena Prince mengatakan Yesus telah mengampuni semua dosa di kayu salib: dosa masa lalu, dosa masa sekarang dan dosa masa depan; dengan demikian kita sudah diampuni dan satu-satunya hal yang perlu kita akui yaitu kita adalah kebenaran Allah di dalam Kristus. Mengaku dosa sama saja dengan membangkitkan “kesadaran akan dosa” (sin-consciousness). Sejak terbitnya buku Prince, telah muncul lusinan pengajar muda kasih karunia yang mengulang konsep ini.

Muncullah Dr. Michael Brown

Dr. Brown merilis buku tanggapannya berjudul Hyper-Grace pada bulan Januari 2014. Dia mengemukakan banyak keberatan terhadap “Gerakan Kasih Karunia.” Keberatan yang utama adalah terhadap pandangan Joseph Prince yang mengatakan pengakuan dosa tidak lagi diperlukan.

Kendati saya sangat tidak menyukai bukunya, Dr. Brown sebenarnya melakukan pekerjaan yang sangat baik dengan mengkaji dasar argumentasi Prince. Prince dan orang-orang yang sepaham dengannya berargumen bahwa 1 Yohanes 1:9 ditulis untuk kaum Gnostik dan bukan untuk orang Kristen. Dr. Brown meneliti dengan rinci argumen tersebut dan dengan mudah mematahkannya ibarat mematahkan tunggul pohon mati. Tidak ada alasan mempercayai pasal pertama pada surat Yohanes yang pertama ditulis untuk kaum Gnostik non-Kristen. Bahkan, saya setuju dengan Dr. Brown bahwa semua bukti mengarah kepada kebalikan dari kesimpulan tidak masuk akal tersebut. Walaupun saya tidak setuju dengan kesimpulan yang kemudian Dr. Brown munculkan, saya setuju bahwa adalah salah mengajarkan ada bagian dari surat Yohanes yang ditulis untuk kaum Gnostik. Berikut alasannya:

1. Gereja mula-mula berada di bawah penganiayaan yang luar biasa, sehingga tidak satu pun kitab Perjanjian Baru (New Testament) yang ditulis untuk non-Kristen. Kelompok Gnostik pada abad pertama tidak membaca surat-surat Yohanes. Konyol rasanya bahkan sekedar memikirkan teori semacam itu.

2. Argumen yang dikemukakan adalah bahwa 1 Yohanes 2:1 dimulai dengan, “Anak-anakku… ,” yang menunjukkan itulah awal tulisan Yohanes kepada orang Kristen. Namun Yohanes melanjutkan dengan mengatakan, “Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada KAMU, supaya KAMU jangan berbuat dosa, …” (penekanan dari saya). Yohanes mengaitkan pasal kedua dengan yang pertama dan memberitahu pembacanya mengapa ia menulis pasal pertama kepada MEREKA, supaya MEREKA jangan berbuat dosa. Yohanes menunjukkan kepada siapa ia menulis dalam pasal pertama dan mengapa.

3. Yohanes menulis dirinya dan pembaca Kristennya secara inklusif, “jika KITA mengaku dosa KITA, maka Ia adalah setia …” Jika Yohanes menulis kepada kaum Gnostik non-Kristen, ia pasti menulis “jika KAMU mengaku dosaMU, Ia adalah setia …”

Di atas ketiga alasan ini, saya merasa perdebatan tersebut telah berada di luar kerangka yang seharusnya. Perdebatan itu bukan tentang: “Apakah kita seharusnya mengaku kebenaran kita, atau mengaku dosa kita?” Bukan itu yang Yohanes sedang sampaikan dalam 1 Yohanes 1:9!

Jadi mari kita mulai dengan menempatkan ayat ini pada konteks yang tepat. Berikut ini adalah 1 Yohanes 1:5-2:2.

“Dan inilah pesan yang telah kami dengar dari Dia,dan yang kami sampaikan kepada kamu: Allah adalah terang; di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan. Jika kita mengatakan kita mempunyai persekutuan dengan Dia,namun hidup di dalam kegelapan, kita berdusta dan kita tidak hidup dalam kebenaran. Tetapi jika kita hidup di dalam terang, sama seperti Dia ada di dalam terang, kita mempunyai persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa.

Jika kita mengatakan kita tidak berdosa, maka kita menipu diri sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Jika kita mengatakan bahwa kita tidak ada berbuat dosa, kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita.

Anak-anakku, aku menuliskan hal-hal ini kepada kamu supaya kamu jangan melakukan dosa. Tetapi jika seorang melakukan dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa – Yesus Kristus, Yang Benar. Dialah korban pendamaian untuk semua dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia.
(1 Yohanes 1:5-2:1‭-‬2 New International Version).

Dalam bagian tentang hidup dalam terang ini, Yohanes membandingkan dua pemikiran yang ada di ayat 8 dan ayat 9. Dalam ayat 8, Yohanes mengatakan bahwa jika seseorang tidak mau terbuka dan jujur ​​tentang dosa mereka, maka mereka hidup menipu diri sendiri. Sedangkan dalam ayat 9, Yohanes mengatakan bahwa jika seseorang mau terbuka dan jujur ​​tentang dosa mereka, maka mereka akan diampuni dan disucikan.

Perbandingannya adalah antara berdusta atau mengaku; berdusta dengan mengatakan diri tidak berdosa (hidup dalam penyangkalan), atau mengaku bahwa Anda berdosa (menerima pengampunan).

Anda tidak akan bisa menerima pengampunan jika Anda tidak mau mengaku Anda telah membuat dosa. Orangtua dari bocah usia tiga tahun pasti memahami hal ini. Jika anak Anda berdiri di dapur dengan cokelat berlepotan di seluruh wajahnya dan bilang kepada Anda bahwa dia tidak makan cokelat, maka di hadapan Anda berdiri “anak yang tidak mengaku telah berbuat salah” dan dia menjadi pendusta. Jika anak Anda “mengaku dia memang makan cokelat” Anda akan membasuh wajahnya yang berlepotan coklat itu dan menyuruhnya kembali bermain di halaman.

image

Yohanes menulis tidak untuk mengatakan orang beriman tidak akan pernah bebas dari cengkeraman dosa; jika memang demikian, untuk apa dalam 1 Yohanes 2:1 ia mengatakan, “… hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa”?

Perspektif Yohanes adalah orang Kristen tidak perlu berbuat dosa, tetapi jika ternyata berbuat dosa (makan cokelat), mereka harus terbuka dan jujur ​​tentang hal itu sehingga mereka bisa menerima pengampunan dan penyucian. Ini bukan tentang apakah kita orang benar atau orang berdosa, tetapi tentang apakah yang kita lakukan jika kita berbuat dosa (makan cokelat): apakah kita akan berdusta, bersembunyi atau menutup-nutupinya? Atau apakah kita akan jujur, berterus terang, dan transparan?

Yohanes pada dasarnya mengatakan “Jika kamu makan cokelat, jangan berdusta tentang hal itu. Allah adalah Bapamu yang baik; Dia akan membasuh wajahmu dan membiarkanmu kembali bermain. Yesus adalah pembela-pengantaramu, Bapamu adalah sang hakim, seluruh ruang sidang berada di pihakmu, dan Yesus telah mati bagi pengampunan cokelatmu dengan sempurna. Berhenti menyembunyikan kesalahanmu, jadilah jujur dan transparan, tidak ada alasan menyembunyikan cokelatmu.”

Jonathan Welton: Michael Brown, Hyper Grace, and the Confession of Sin; March 31, 2014.

https://weltonacademy.com/blogs/jonathanwelton/50139201-michael-brown-hyper-grace-and-the-confession-of-sin

Advertisements