KASIH KARUNIA MENYATAKAN KEBENARAN ALLAH

image

Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: “Orang benar akan hidup oleh iman.”
(Roma 1:16‭-‬17)

Banyak orang Kristen diajar bahwa mereka hanya bisa dibenarkan dengan melayani Tuhan Allah. Malangnya banyak orang Kristen bahkan tidak bisa menerima kenyataan bahwa mereka dibenarkan berdasarkan definisi ini. Mereka sadar pelayanan mereka tidak sempurna, oleh karena itu tidak mungkin mereka bisa dibenarkan.

Kita dibenarkan (dijadikan benar) melalui iman kita dalam Yesus Kristus, bukan karena perbuatan kita. Posisi benar dalam perjanjian yang baru (new covenant) tidak dicapai melalui usaha kita menyenangkan Allah. Karena itulah penulis Kitab Ibrani mengatakan, “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah” (Ibrani 11:6). Seumur hidup mereka, orang Yahudi membaktikan diri berdasarkan hukum Musa, yang menuntut mereka berbuat baik menyenangkan Allah agar bisa menikmati berkat-Nya. Perjanjian baru menawarkan sesuatu yang berbeda, yakni kebenaran sebagai anugerah yang terlepas dari perbuatan.

Perbuatan baik tidak membuat seseorang menjadi orang benar, tetapi orang benar pasti melakukan perbuatan baik. Orang benar akan beribadah di gereja, berdoa, dan melayani Tuhan Allah, karena menyadari bahwa dirinya benar hanya karena Yesus, bukan karena apa yang dia lakukan.

Pelajaran sangat penting dari ayat di atas adalah: Di dalam Injil kebenaran Allah dinyatakan. Injil tidak menyatakan kebenaran manusia. Kebenaran manusia tidak lebih dari kain kotor.

Injil adalah kekuatan Allah yang membuat manusia berdosa menjadi orang benar. Kebenaran kita dinyatakan bukan dari perbuatan baik kepada perbuatan baik, tetapi dari iman kepada iman. Iman Anak Allah yang ada di dalam kita menyatakan/menyingkapkan kodrat ilahi yang kita terima dari Bapa.
Injil adalah pewahyuan progresif tentang kodrat ilahi dan anugerah yang telah kita terima. Semakin pewahyuan ini tersingkap kepada kita, Injil akan semakin berdampak dalam pikiran dan persepsi kita tentang kehidupan. Pada gilirannya Injil akan membawa kita kepada transformasi atau pembaharuan sejati sebagai hasil iman kita terhadap anugerah atau kasih karunia Allah terhadap kita.

Apapun selain hal ini bukanlah Injil yang diberitakan gereja mula-mula. Kekristenan bukan berarti memakai pakaian khusus yang lain daripada yang lain, mempertahankan potongan rambut kuno atau tidak mendengarkan musik sekuler atau duniawi. Kekristenan bukanlah preferensi pribadi seseorang. Injil tidak sebanding dengan apa yang agama tawarkan – yakni perkenanan ilahi yang diberikan berdasarkan usaha manusia memenuhi persyaratan dan standar.

Sejak zaman Adam semua manusia gagal dalam upaya mereka menyenangkan Allah berdasarkan sumber daya atau kekuatan manusiawinya. Karena ketidakmampuan itu, jalan menuju kehancuran terbuka lebar. Injil menawarkan kepada kita kuasa Allah yang membalik arah gelombang. Yesus -Adam terakhir- meniadakan apa yang Adam lakukan dan akhirnya mencapai sesuatu yang tidak pernah tercatat dalam sejarah manusia: menyenangkan hati Allah, berkenan kepada-Nya.

Yesus mencapainya bahkan sebelum Dia memulai pelayanan-Nya dan sebelum Dia mati. Bapa menyatakan, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan” (Matius 3:17). Akhirnya seorang manusia bisa berkenan kepada Allah bukan karena perbuatan.

Injil tidak akan mendapat kesempatan membuat pembaharuan atau transformasi jika “aku” atau “diri” (self) ditinggikan. Saat kita meninggikan diri karena perbuatan kita dan memandang rendah orang lain karena perbuatan kita, itu namanya kebenaran diri (self-righteous). Nama lainnya “kesombongan.” Injil benar-benar merupakan pukulan keras bagi seseorang yang percaya kepada perbuatan baiknya supaya bisa terhitung dalam kitab Allah.

Inilah sebabnya Paulus dengan gencar menulis topik ini, untuk memastikan saudara-saudara Yahudinya mengerti bahwa Allah sudah selesai dengan pembenaran sistem lama. Lihatlah bagaimana perikop Roma 9:20-33 ini disajikan dengan luar biasa oleh Eugene H. Peterson dalam terjemahan The Message:

Kamu pikir siapa dirimu sehingga berani meragukan Allah? Apakah terlintas olehmu sekejap saja kita ini cukup pintar untuk mempertanyakan Allah? Tanah liat tidak berbicara kepada tangan yang membentuknya, “Mengapa engkau membentuk aku seperti ini?” Bukankah seorang tukang periuk berkuasa mutlak atas segumpal tanah liat miliknya untuk membuatnya menjadi vas bunga dan atas gumpalan lainnya untuk menjadikannya periuk penanak kacang? Jika Allah menggunakan cara pembuatan yang satu untuk memperlihatkan murka-Nya dan menggunakan cara lain untuk memperlihatkan kemuliaan kebaikan-Nya, bukankah itu sah saja?
Kedua cara itu berlaku bagi orang Yahudi, juga bagi bangsa-bangsa lain. Hosea menyatakannya dengan baik sekali:

“Aku akan memanggil yang bukan umat-Ku dan menjadikan mereka umat-Ku;
Aku akan memanggil yang tidak dikasihi dan membuat mereka yang dikasihi.
Di tempat orang berteriak kepadamu: “Kamu bukan siapa-siapa,” di sana mereka akan mengatakan kepadamu: “Anak-anak Allah yang hidup.”
Yesaya menyerukan hal yang sama:
“Walaupun seluruh pasir di laut dihitung dan dijumlahkan dan disebut “umat pilihan Allah,”
mereka hanya angka, bukan nama;
karena keselamatan datang oleh pilihan.
Allah tidak menghitung kita, Dia memanggil kita sesuai nama kita. Bukan hitung-hitungan yang menjadi fokus-Nya.
Yesaya telah melihat ke depan dan mengatakan kebenaran:
“Jika saja Allah kita yang perkasa tidak menyediakan bagi kita warisan sebagai anak Allah yang hidup,
Kita pasti menjadi kota hantu,
seperti Sodom dan Gomora.”

Apa yang bisa kita simpulkan dari hal ini? Semua bangsa lain yang nampaknya tidak tertarik pada apa yang Allah kerjakan ternyata menerima apa yang dikerjakan-Nya itu saat Dia meluruskan hidup mereka. Sementara Israel, yang kelihatannya sangat tertarik membaca dan membicarakan apa yang sedang Allah kerjakan, malah melewatkannya. Mengapa bisa demikian? Karena bukannya mempercayai Allah, mereka justru mengambil alih pekerjaan Allah. Mereka begitu terikat dengan “pekerjaan Allah” sehingga tidak menyadari Allah yang berdiri persis di hadapan mereka, bagai batu besar yang merintang di tengah jalan. Dan mereka tersandung karena Dia dan jatuh terjerembab. Yesaya (lagi-lagi!) memberikan satu perumpamaan untuk menjelaskan hal ini:
“Berhati-hatilah, Aku meletakkan sebuah batu besar di tengah jalan menuju Gunung Sion,
sebuah batu yang tidak bisa engkau hindari,
Dan batu itu adalah Aku! Jika engkau mencari Aku, engkau akan menemukan-Ku dalam perjalanan, bukan di tengah jalan.”

Banyak orang Kristen masih tersandung di batu sandungan yang sama karena membiarkan hukum perjanjian lama menentukan arah Kekristenan. Itulah sebabnya mereka gampang tersinggung saat melihat orang lain menyatakan kasih karunia Allah dengan radikal. Mereka ingin menyeimbangkannya karena mereka pikir kasih karunia saja akan mematikan. Mereka membawa serta dan menambahkan perbuatan baik dan pelayanan untuk membuat diri mereka sibuk berjerih lelah bagi Allah. Padahal jelas Yesus menawarkan sesuatu yang berbeda kepada semua orang yang berada di bawah kuk berat hukum Taurat.

Orang percaya baru cenderung lebih sering tersandung karena mereka berada di tahap awal perjalanan iman mereka. Perjalanan iman adalah sesuatu yang bersifat progresif. Alkitab katakan bahwa anak-anak Allah dipimpin oleh Roh. Roh ini menuntun mereka di dalam perjalanan yang dimulai saat kelahiran baru yang akan terus berlangsung seumur hidup. Roh menyingkapkan kebenaran Allah di dalam kita dengan menyingkapkan keindahan Yesus dan kasih karunia-Nya. Tanpa pewahyuan ini tidak ada orang percaya yang bisa menikmati kuasa Allah untuk tiba pada kesempurnaan, kepenuhan, kelepasan, keberlimpahan dan kemerdekaan; yang kita kenal sebagai keselamatan.

Simeon Edigbe: Grace Reveals the Righteousness of God; January 5, 2015.

http://reigninglife.blogspot.co.id/2015/01/grace-reveals-righteousness-of-god.html

Advertisements