PELANGI: WARNA-WARNI KASIH KARUNIA ALLAH

image

Setelah banjir penghakiman surut pada zaman Nuh, Allah membuat suatu perjanjian dengannya yang dilambangkan oleh pelangi.

Berfirmanlah Allah kepada Nuh dan kepada anak-anaknya yang bersama-sama dengan dia: “Sesungguhnya Aku mengadakan perjanjian-Ku dengan kamu dan dengan keturunanmu, dan dengan segala makhluk hidup yang bersama-sama dengan kamu: burung-burung, ternak dan binatang-binatang liar di bumi yang bersama-sama dengan kamu, segala yang keluar dari bahtera itu, segala binatang di bumi. Maka Kuadakan perjanjian-Ku dengan kamu, bahwa sejak ini tidak ada yang hidup yang akan dilenyapkan oleh air bah lagi, dan tidak akan ada lagi air bah untuk memusnahkan bumi.” Dan Allah berfirman: “Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup, yang bersama-sama dengan kamu, turun-temurun, untuk selama-lamanya.
(Kejadian 9:8‭-‬12)

Saat bertumbuh sebagai orang Kristen, saya selalu bertanya-tanya, apa sih arti pelangi? Hingga suatu ketika pewahyuan kasih karunia Allah membanjiri hati saya, saya mulai memahami dan belajar kodrat sejati Allah. Pewahyuan ini membawa saya melewati banyak momen kekaguman karena dapat mengenal bagaimana Allah mengungkapkan kasih-Nya lewat banyak cara terhadap manusia bahkan pada masa Perjanjian Lama (Old Testament). Yesus datang dan menjadi ungkapan kasih Allah dosis penuh, karena Dia adalah cahaya kemuliaan Bapa.

Jika Anda perhatikan apa yang Alkitab katakan, pelangi adalah tanda perjanjian. Bahasa Ibrani untuk pelangi adalah qesheth, קשׁת (H7198) yang berarti busur panah. Saya menemukan bahwa pada zaman dahulu ketika seorang ksatria (jika ia adalah seorang pemanah) menyerah atau ingin berdamai, ia akan meletakkan busur panahnya menghadap ke arah dirinya sebagai tanda menyerah atau berdamai.

Janji Allah kepada Nuh dilambangkan dengan Dia menyerahkan alat penghakiman-Nya, digantikan dengan sebuah perjanjian berdasarkan damai sejahtera.

Pelangi adalah busur, namun tanpa anak panah, dan tidak mengarah ke bawah ke arah bumi, namun ke atas ke arah sorga. Ini adalah gambaran sorga menanggung penghakiman atas dosa sehingga kebenaran bisa dikenakan kepada manusia dalam berbagai nuansa warna. Inilah gambaran perjanjian yang baru (new covenant).

Tentang pelangi, sarjana Alkitab John Gill mengatakan, “Berbagai warna indah yang terkandung di dalamnya, adalah gambaran Kristus, yang penuh kasih karunia dan kebenaran, yang sulung dari seluruh umat manusia, yang adalah lambang pendamaian dan rekonsiliasi, yang kepada-Nya Allah berkenan, dan yang karena Dia Allah mengingat perjanjian anugerah-Nya yang dibuat-Nya dengan Dia dan orang-orang pilihan-Nya yang ada di dalam Dia; yang adalah pelangi yang melingkungi takhta Allah, dan yang adalah satu-satunya jalan masuk kepada takhta itu.”*

Pelangi adalah gambaran dan tipologi Yesus dalam Perjanjian Lama. Pelangi adalah lambang perjanjian kasih karunia. Allah “menyerah” dan berdamai bukan karena Dia lemah dan kalah, tetapi karena Dia ingin kemurahan dan rahmat-Nya menang sehingga kebaikan-Nya akan menuntun kita kepada Dia.

image

Hal menarik lainnya tentang pelangi adalah warna-warninya yang sungguh indah dipandang. Namun ada hal yang lebih indah dari sekedar warna-warni itu. Petrus mengatakannya dalam 1 Petrus 4:10:

“Karena kamu masing-masing telah menerima karunia, gunakanlah itu untuk melayani seorang akan yang lain, sebagai pengelola yang baik dari kasih karunia Allah yang berlipat-ganda [as good stewards of the manifold grace of God].”
(1 Petrus 4:10 New King James Version)

Petrus menggunakan kata berlipat-ganda/berkali-lipat (‘manifold‘) dalam menggambarkan kasih karunia Allah. Kata dalam bahasa Yunani untuk ‘manifold’ adalah ‘poikilos’, ποικίλος (G4164), yang juga bisa diterjemahkan sebagai beragam, berbagai macam, bervariasi, rupa-rupa.

Dalam ayat ini Petrus katakan setiap orang Kristen menerima karunia anugerah, dan setiap orang Kristen bertanggung jawab mempergunakan anugerah atau kasih karunia itu satu kepada yang lain, “sebagai pengelola yang baik dari kasih karunia Allah yang berlipat-ganda.” Kasih karunia Allah memiliki banyak spektrum warna alias berwarna-warni, yang bermanifestasi pada orang-orang yang berbeda saat mereka melayani budaya dan situasi yang berbeda.

Sering sekali kita manusia membatasi Allah dan kasih karunia-Nya, menempatkan Dia dalam kotak agama kita, budaya kita, ras kita, status kita, denominasi kita, dll. Padahal kasih karunia-Nya sungguh tak terselami dan sungguh jauh di luar kemampuan pemahaman kita, dan tersedia dengan limpahnya jauh di atas kemampuan kita untuk menggunakannya. Karya salib yang sempurna tersedia bagi setiap kebutuhan dan Allah menganugerahkan kasih karunia-Nya bukan sesuai dengan perbuatan manusia, tetapi menurut kekayaan kasih-Nya.

Saat Yohanes menerima Wahyu, ia melihat sesuatu yang semakin memperlihatkan hati Allah yang terdalam.

“Segera aku dikuasai oleh Roh dan lihatlah, sebuah takhta terdiri di sorga, dan di takhta itu duduk Seorang. Dan Dia yang duduk di takhta itu nampaknya bagaikan permata yaspis dan permata sardis; dan suatu pelangi melingkungi takhta itu gilang-gemilang bagaikan zamrud rupanya.”
(Wahyu 4:2‭-‬3)

Allah menghiasi takhta-Nya dengan pelangi, bukan dengan persenjataan perang untuk menjatuhkan penghakiman. Dia menghiasi ruang “kantor-Nya” dengan busur yang tergantung supaya Anda tahu bahwa Anda bisa menghampiri Dia dengan penuh keberanian, tanpa rasa takut atau tertuduh. Kita tidak akan menemukan buku debet-kredit atau kalender dosa di dinding kantor-Nya. Yang kita temukan adalah tanda perjanjian damai-Nya. Haleluya!

Yesaya bernubuat tentang zaman kita saat ini dalam Yesaya 54:8-10:

“Dalam murka yang meluap Aku telah menyembunyikan wajah-Ku terhadap engkau sesaat lamanya, tetapi dalam kasih setia abadi Aku telah mengasihani engkau, firman Tuhan, Penebusmu. Keadaan ini bagi-Ku seperti pada zaman Nuh: seperti Aku telah bersumpah kepadanya bahwa air bah tidak akan meliputi bumi lagi, demikianlah Aku telah bersumpah bahwa Aku tidak akan murka terhadap engkau dan tidak akan menghardik engkau lagi. Sebab biarpun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang, tetapi kasih setia-Ku tidak akan beranjak dari padamu dan perjanjian damai-Ku tidak akan bergoyang, firman Tuhan, yang mengasihani engkau.”

Yesus datang dan menggenapi setiap tuntutan hukum Taurat dan secara sukarela menyerahkan hidup-Nya sebagai korban yang sempurna untuk menghapus dosa dunia. Dia adalah tebusan, dan kita tidak lagi melihat Allah sebagai Allah “yang murka.”

Perjanjian yang baru ini sama seperti pada zaman Nuh, yakni perjanjian damai yang tidak akan beranjak atau bergoyang. Anda selamanya aman di dalam Dia dan Dia tidak akan memperhitungkan dosa Anda terhadap Anda.

Pelangi Allah mewakili perjanjian dengan Nuh. Pelangi kasih karunia Allah masih tergantung di langit dan kini merupakan lambang perjanjian antara Bapa dan Anak. Anda ada dalam di Kristus, jadi warna-warni kasih karunia-Nya ada di dalam Anda.

*John Gill: John Gill’s Exposition of the Entire Bible, diadaptasi dari Online Bible.

Simeon Edigbe: The Rainbow: God’s Color of Grace; January 28, 2015.

http://reigninglife.blogspot.co.id/2015/01/the-rainbow-gods-color-of-grace.html?view=timeslide

Advertisements