PONDOK DAUD

image

Jika Anda adalah seorang sarjana Alkitab yang berpengalaman atau setidaknya akrab dengan Kitab Suci terutama Perjanjian Lama, Anda tidak akan menemukan struktur bangunan fisik yang bernama Pondok (Kemah atau Tabernakel) Daud. Yang segera muncul di benak kita saat berpikir tentang kemah atau tabernakel adalah Kemah Musa.

Namun kita menemukan nubuat dalam Amos 9 yang menyebutkan tentang pendirian kembali Kemah Daud, pada ayat 11 dan 12:

“Pada hari itu Aku akan mendirikan kembali pondok Daud yang telah roboh;
Aku akan menutup pecahan dindingnya, dan akan mendirikan kembali reruntuhannya;
Aku akan membangunnya kembali seperti di zaman dahulu kala, supaya mereka menguasai sisa-sisa bangsa Edom dan segala bangsa yang Kusebut milik-Ku,” demikianlah firman Tuhan yang melakukan hal ini.

Daud ingin Tabut Perjanjian yang dirampas dari Yerusalem pada era kekuasaan Saul dikembalikan ke Kota Kudus. Kemah Musa memang didirikan di Gibeon, tetapi Daud ingin membawa hadirat Tuhan ke ibukota Israel dan Yehuda. Dia menyuruh orang membuat sebuah kereta yang ditarik lembu yang akan mengangkut Tabut kembali ke Israel. Dalam perjalanan, salah seorang bawahan Daud menyentuh Tabut saat kereta pengangkut tergelincir, membuatnya mati di tempat. Karena ketakutan akan kuasa Tabut, Daud dan orang-orangnya membawanya ke rumah penduduk terdekat yang merupakan seorang Gat bernama Obed-Edom.

Nama Obed-Edom berarti, “Hamba Edom”. Edom adalah nama lain Esau, menunjukkan kepada kita bahwa orang ini sebenarnya keturunan kakak Yakub yakni Esau. Saat Tabut itu berada di sana selama tiga bulan, ada berkat yang nyata atas Obed-Edom dan seisi rumahnya. Daud mendengar betapa Obed-Edom diberkati dan muncul kecemburuan dalam hatinya. Ia ingin Allah memberkatinya dengan cara demikian juga.

Saya bisa bayangkan raut wajah Obed-Edom ketika Daud dan orang-orangnya datang menjemput Tabut itu …

Hal ini mendorong Daud membawa Tabut dari rumah Obed-Edom setelah meminta nasihat. Dia membawanya ke Yerusalem, kali ini dengan cara dipanggul oleh para imam, seperti yang Musa perintahkan.

Daud menempatkan Tabut dalam Kemah yang ia dirikan khusus, dicatat dalam 1 Tawarikh 15:1.

Daud membuat bagi dirinya gedung-gedung di kota Daud, lalu ia menyiapkan tempat bagi tabut Allah dan membentangkan kemah untuk itu.

Daud tidak berniat menempatkan Tabut di Ruang Mahakudus, di Kemah Suci di Gibeon. Dia tidak berusaha melakukannya. Sebaliknya, ia menempatkannya di Yerusalem, dengan harapan berkat-berkat dan kemakmuran yang ada atas Obed-Edom dan seisi rumahnya, juga akan terlihat di Yerusalem.

Daud telah belajar bahwa berkat Allah tidak berada pada kemah, tetapi pada Tabut. Kemah tidak ada apa-apanya tanpa Tabut. Dia telah melihat bahwa Allah memberkati siapa saja yang mendekatinya, bahkan seorang Gat, bangsa kafir yang tidak masuk hitungan. Tabut ini adalah gambaran Yesus, Tuhan kita.

Bertahun-tahun kemudian, dinasti Daud tumbang dan bangsanya dibawa ke pembuangan Babel dan orang asing memerintah atas orang Yahudi. Amos kemudian melihat suatu masa saat takhta Daud akan dipulihkan dan keturunan Daud akan balik memerintah bangsa-bangsa lain. Nubuat ini tampaknya mulai digenapi dengan kembalinya bangsa itu dari pembuangan Babel, tetapi jika kita melihat lebih dekat, jelas bahwa nubuat ini lebih dari sekedar pemulihan suatu bangsa tetapi pemulihan rohani di dalam Kristus. Banyak nubuat Perjanjian Lama (Old Testament) yang mengikuti pola serupa. Rasul Paulus dengan baik menjelaskannya dalam surat-suratnya. Tanpa pemahaman yang benar tentang hal ini, orang akan melihat negara Israel saat ini sebagai penggenapan nubuat, padahal yang dimaksudkan adalah Israel Allah, yakni Tubuh Kristus.

Dalam Kisah Para Rasul 15, Rasul Yakobus berbicara kepada para rasul dan penatua-penatua yang berkumpul dalam sidang di Yerusalem. Sidang ini digelar agar para rasul Yahudi bisa mencapai kata sepakat mengenai doktrin yang harus diterapkan kepada orang non-Yahudi yang baru bertobat terkait dengan penerapan hukum Yahudi.

Dalam sambutannya, Yakobus mengutip ayat dari Kitab Amos dan menempatkan nubuat Amos di zaman Perjanjian Baru (New Testament), bukan di masa depan yang jauh dan tidak pasti kapan. Perhatikan Yakobus mengutip Amos 9:12:

“Supaya semua orang lain mencari Tuhan dan segala bangsa yang tidak mengenal Allah, yang Kusebut milik-Ku,
demikianlah firman Tuhan yang melakukan semuanya ini.”
(Kisah Para Rasul 15:17)

Yakobus melihat bahwa karya paripurna Yesus dan peresmian perjanjian baru (new covenant) menjangkau jauh lebih luas daripada hanya bangsa Israel secara jasmani, termasuk bangsa-bangsa lain. Ini adalah inklusi yang tidak mungkin dihasilkan dari melaksanakan hukum Musa.

Di bawah perjanjian yang lama (old covenant), Allah adalah sosok yang ditakuti dan ditempatkan jauh-jauh. Hanya Imam Besar yang bisa melihat Tabut di dalam Kemah Suci, dan itupun sekali setahun. Daud menjangkau kepada suatu perjanjian yang lebih baik yang dibangun di atas janji-janji yang lebih baik, ketika semua umat Allah dapat dengan berani menghampiri hadirat Allah dan Tutup Pendamaian Sorga, yang diperciki oleh darah yang berharga, darah Anak Domba yang tak bercacat cela.

Pemulihan ini adalah untuk membawa manusia kembali kepada hubungan Taman Eden, yakni hubungan tanpa keterpisahan. Perseteruan, yakni dinding pemisah yang bernama Taurat sudah dirubuhkan sehingga semua orang bisa berhubungan dan menerima kasih Bapa yang tanpa syarat.

Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu. Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang “jauh” dan damai sejahtera kepada mereka yang “dekat”, karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa.
(Efesus 2:14‭-‬18)

Inilah penyembahan yang benar yang Yesus bicarakan. Agama menyembah tuhan yang tidak dikenalnya. Sedangkan dalam penyembahan yang benar tidak ada jarak dan tidak tersisa ruang bagi rasa takut, rasa bersalah dan penghukuman. Hadirat-Nya yang berdiam di dalam kita adalah penggenapan nubuat pendirian kembali Pondok Daud. Ini bukan tentang struktur fisik gedung atau pola ibadah. Ini adalah tentang kita menjadi kediaman kekal Tritunggal.

Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata: “Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka.”
(Wahyu 21:3)

Sama seperti pada Kemah Daud, berkat bukan ada pada kemah, tetapi pada Tabut yang ada di dalam kemah. Yesus adalah Tabut yang menjelma lewat karya-Nya yang paripurna. Berkat yang kita terima dan alami bukan karena kita, tetapi karena Yesus yang ada di dalam kita! Oleh karena itu, berkat Allah tidak tergantung pada seberapa baiknya atau seberapa kudusnya kita, melainkan bergantung pada seberapa baiknya Yesus.

Haleluya!

Simeon Edigbe: The Tabernacle of David; January 11, 2017.

http://reigninglife.blogspot.co.id/2017/01/the-tabernacle-of-david.html?m=1

Advertisements