JANGAN LAGI BERJERIH LELAH MERAIH BERKAT ANDA

image

Karena kepada kita diberitakan juga kabar kesukaan sama seperti kepada mereka, tetapi firman pemberitaan itu tidak berguna bagi mereka, karena tidak bertumbuh bersama-sama oleh iman dengan mereka yang mendengarnya. Sebab kita yang beriman, akan masuk ke tempat perhentian seperti yang Ia katakan:
“Sehingga Aku bersumpah dalam murka-Ku: Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku,” sekalipun pekerjaan-Nya sudah selesai sejak dunia dijadikan.
Sebab tentang hari ketujuh pernah dikatakan di dalam suatu nas: “Dan Allah berhenti pada hari ketujuh dari segala pekerjaan-Nya.” Dan dalam nas itu kita baca: “Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku.”
Jadi sudah jelas, bahwa ada sejumlah orang akan masuk ke tempat perhentian itu, sedangkan mereka yang kepadanya lebih dahulu diberitakan kabar kesukaan itu, tidak masuk karena ketidaktaatan mereka.
Sebab itu Ia menetapkan pula suatu hari, yaitu “hari ini”, ketika Ia setelah sekian lama berfirman dengan perantaraan Daud seperti dikatakan di atas:
“Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu!”
Sebab, andaikata Yosua telah membawa mereka masuk ke tempat perhentian, pasti Allah tidak akanc berkata-kata kemudian tentang suatu hari lain.
Jadi masih tersedia suatu hari perhentian, hari ketujuh, bagi umat Allah.
Sebab barangsiapa telah masuk ke tempat perhentian-Nya, ia sendiri telah berhenti dari segala pekerjaannya, sama seperti Allah berhenti dari pekerjaan-Nya.
Karena itu baiklah kita berusaha untuk masuk ke dalam perhentian itu, supaya jangan seorang pun jatuh karena mengikuti contoh ketidaktaatan itu juga.
(Ibrani 4:2‭-‬11)

Penulis Kitab Ibrani menuliskan kerinduan hatinya bagi bangsanya, orang-orang Yahudi, supaya bisa masuk ke tempat perhentian Allah. Ini adalah perhentian yang justru dilewatkan oleh umat Allah. Yakni perhentian yang membawa mereka kepada kualitas hidup ilahi. Sebuah posisi dengan jaminan yang mutlak dan damai sejahtera yang melampaui segala akal dan pikiran.

Orang Yahudi adalah orang-orang yang terbiasa hidup menurut hukum Musa. Mereka harus hidup dengan 613 hukum yang diwariskan kepada mereka. Hukum yang begitu ketat dan membosankan sehingga jika seseorang melanggar salah satunya itu sama dengan melanggar keseluruhannya. Mereka merayakan banyak perayaan dan mempersembahkan korban setiap hari berusaha menyenangkan Allah dan menghindari ditimpa kutuk. Intinya, semua tentang berusaha keras menegakkan kebenaran mereka sendiri.

Seperti dituliskan penulis Ibrani, saat Anda masuk ke dalam tempat perhentian Allah, Anda telah berhenti dari segala usaha Anda (Ibrani 4:10), sama seperti Allah berhenti dari pekerjaan-Nya pada hari ke-7, dan beristirahat. Memasuki tempat perhentian itu dan hidup di dalamnya adalah dua hal paling sulit yang baik orang tidak percaya maupun kita orang percaya pernah lakukan; karena kita sudah sedemikian terikat dengan cara leluhur kita Adam, yaitu berusaha “melakukan”, bukan beristirahat.

Ketika Allah menciptakan manusia pada hari ke-6, apa hal pertama yang Dia lakukan hari berikutnya? Dia juga mengambil bagian dalam perhentian-Nya – Allah berhenti dari pekerjaan-Nya pada hari itu. Pekerjaan pertama-Nya bukanlah memelihara taman tetapi menikmati perhentian. Pekerjaan-Nya dimulai setelah beristirahat.

Dosa Adam di Taman Eden membuat manusia mengeluarkan keringat dari dahinya dan mendatangkan kutuk ia harus hidup dari keringatnya (jerih lelahnya) sepanjang hidupnya. Jika sebelum kejatuhan, Adam hanya perlu memelihara Taman Eden, maka sekarang ia harus bekerja keras mengolah tanah supaya bisa memberi hasil. Hasil tanah merespon kerja kerasnya karena tanah sudah dikutuk. Semua kutuk atas bumi berakar dari kutuk Adam ini.

Saat Yesus mengalami penderitaan di Taman Getsemani sebelum naik ke kayu salib, Kitab Suci katakan Ia mengeluarkan titik-titik keringat darah. Darah berharga Sang Juruselamat selamanya membebaskan manusia dari keharusan hidup berdasarkan usahanya sendiri. Setiap orang yang menerima Kristus dengan iman bisa masuk ke dalam tempat perhentian karena Yesus telah membayar harga sangat mahal untuk mendapatkannya.

Kini manusia bisa menikmati berkat karena tanah sudah diberkati. Tanah bukan sebidang properti tetapi ‘seseorang,’ yakni Yesus Kristus. Itulah sebabnya penulis Ibrani katakan, “Sebab, andaikata Yosua telah membawa mereka masuk ke tempat perhentian, pasti Allah tidak akan berkata-kata kemudian tentang suatu hari lain.” Mereka mendapatkan tanahnya, tetapi tidak “Tempat Perhentian.”

Dalam Ibrani pasal 4 yang dianggap sebagai pasal “perhentian,” kata “perhentian” digunakan 9 kali. Pasal ini menceritakan tentang kegagalan umat Israel masuk ke dalam tempat perhentian Tanah Perjanjian ketika 10 orang mata-mata mengatakan mereka tidak akan bisa menaklukkannya. Paulus katakan mereka gagal masuk ke tempat perhentian karena “ketidakpercayaan” (Ibrani 4:6).

Sebagai orang percaya kita harus hidup dalam tempat perhentian berdasarkan karya paripurna Kristus, bukan berdasarkan usaha kita. Karya Kristus yang sempurna adalah posisi baru kita, tempat tanah tidak merespon keringat kita, tetapi merespon keringat-Nya di Getsemani. Kita harus berhenti berusaha meraih berkat dengan usaha kita sendiri. Upaya-upaya ini, segala perbuatan baik ini, memang baik, tetapi memperlihatkan bahwa kita percaya dan bersandar kepada kemampuan kita sendiri untuk menyelamatkan diri kita, dan tidak sepenuhnya percaya pada kemampuan-Nya.

Banyak orang telah terperdaya untuk percaya bahwa jika mereka tidak menaikkan doa-doa khusus, tidak berpuasa atau tidak melakukan kegiatan keagamaan lainnya maka Allah tidak akan memberkati mereka dengan kualitas hidup yang mereka inginkan. Karena itu kita menemukan banyak orang percaya yang menjadi seperti orang Yahudi yang berusaha keras melakukan perbuatan baik dan mempersembahkan korban untuk menyenangkan Tuhan supaya mereka diberkati.

Kita harus mencatat bahwa pekerjaan penciptaan Allah adalah sebuah karya yang sempurna, sama seperti segala sesuatu yang Allah kerjakan. Saat pekerjaan penciptaan-Nya benar-benar selesai, dan Dia memandangnya “baik” maka Dia bisa beristirahat pada hari ke-7. Karya penebusan Kristus adalah bentuk lain penciptaan yang juga adalah sebuah karya yang sempurna.

Saat Yesus berkata, “Sudah selesai” barulah kepala-Nya terkulai dan Ia menyerahkan nyawa-Nya. Hal ini berbeda dengan Perjanjian Lama. Jika para imam Perjanjian Lama tidak pernah duduk karena tidak ada kursi dalam Kemah Suci, maka Imam Besar kita Yesus telah duduk di sebelah kanan Bapa, dan sedang beristirahat dalam pekerjaan sempurna-Nya. Kita telah diselamatkan sehingga sekarang kita “didudukkan bersama Dia di sorga dalam Kristus Yesus” (Efesus 2:6).

Saudara terkasih, beristirahatlah dalam karya-Nya yang sempurna hari ini. Biarlah apapun yang Anda kerjakan adalah usaha yang berpusat dan berasal dari tempat perhentian. Berkaryalah dari posisi istirahat. Milikilah iman dalam karya paripurna-Nya dan duduklah bersama-sama dengan Dia dalam setiap aspek kehidupan Anda. Tempat perhentian Anda di sorga adalah tempat semua berkat tersedia: di dalam Kristus.

Jangan berusaha dan berjerih lelah melakukan perbuatan baik dengan harapan Allah memberkati Anda. Anda SUDAH diberkati di dalam Kristus. Hidup dengan mengerti hal ini akan membuat perbedaan sangat besar di dunia.

Simeon Edigbe: Stop Labouring for the Blessings; January 20, 2015.

http://reigninglife.blogspot.co.id/2015/01/stop-labouring-for-blessings.html

Advertisements