MAKSUD DARI UJIAN

Memahami karakter Allah sangat penting saat kita berhadapan dengan masalah hidup sehari-hari. Ini adalah hal pertama yang harus kita pahami, sebab tanpanya kita tidak akan mengerti bagaimana menjalani kehidupan.

Ujian (trials) dan pencobaan (temptations) pasti akan ada selama manusia berada di dunia. Manusia menghadapi masa-masa sulit tanpa memandang status atau posisi. Kehadiran ujian bukan berarti ketiadaan hadirat Allah. Hadirat-Nya tetap bersama kita tak peduli apapun situasi kita. Masalahnya terletak pada kesadaran kita akan hadirat-Nya di tengah masa sulit tersebut.
Topik ini adalah topik yang butuh waktu berjam-jam untuk diajarkan. Kita akan fokus pada beberapa bagian penting yang akan menolong kita mendapatkan kebaikan dalam situasi apapun yang kita hadapi.

Sebuah fakta yang penting kita ingat adalah Allah mengizinkan kita melewati ujian. Dia tidak melindungi kita darinya. Dia melindungi kita DI DALAMNYA. Masa-masa ujian adalah periode yang memungkinkan kita mengembangkan karakter sejati yang mencerminkan kepribadian-Nya.

Sungguh disayangkan banyak orang yang memiliki perspektif keliru mengenai Allah dan tujuan ujian yang mereka hadapi, dan itu menempatkan mereka pada posisi harus mengalami segala kesulitan dan kepedihan yang sebenarnya tidak perlu.

Kitab Suci dipenuhi teladan orang-orang yang sedang menghadapi ujian. Tuhan Yesus adalah contoh sempurna. Sikap-Nya sungguh melampaui apa yang diduga oleh dunia. Di tangan para penyiksa-Nya, Ia mendoakan pengampunan mereka.

Poin-poin berikut ini sangat penting dalam menghadapi ujian.

• Anda tidak pernah sendirian. Musuh suka memperdaya Anda agar mempercayai bahwa Anda sendirian saja dalam menghadapi masalah Anda. Ingatlah bahwa Anda punya Imam Besar yang mengerti benar kondisi Anda.

Ibrani 4:15

Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.

Saat ini, di sebelah kanan Bapa, kita memiliki Seseorang yang istimewa, yang datang sebagai Manusia untuk menebus kita, dan yang memahami sepenuhnya apa yang kita hadapi dan alami.

Saat Yesus ada di dunia, Dia mengalami semua emosi manusia sehingga Ia dapat mengidentifikasi diri-Nya dengan kita dalam SEGALA hal. Di hadapan Bapa Ia mewakili kita sebagai Manusia.

Tidak seorang pun paham benar bagaimana situasi telah memojokkan Anda, tetapi Dia tahu persis apa yang Anda alami, Dia memahami dan merasakan kelemahan-kelemahan Anda karena Ia pun telah dicobai dalam segala hal, hanya tidak berbuat dosa.

Tidak satu pun dari kita yang pernah mengalami ujian dalam segala hal hingga ke titik yang Dia alami. Tetapi Allah izinkan Yesus mengalami ujian dalam segala hal sehingga Ia memahami dan turut merasakan pergumulan dan pergulatan setiap orang di dunia ini. Inilah cara proaktif Bapa menangani masalah dalam hidup ini. Dia merasakannya demi kita.

Yesus dapat dijamah oleh kemanusiaan kita – kelemahan kita, tetesan air mata kita, kekecewaan kita, duka kita … dalam segala hal!

Tidak ada ujian, kesulitan, tantangan, atau pencobaan yang Anda hadapi yang Yesus tidak hadapi!

Inilah pewahyuan yang memampukan Anda tinggal dan tenang dalam Dia, karena Anda tahu perwakilan macam apa yang Anda miliki: Yesus! Yang adalah kasih Allah yang menarik Anda mendekat kepada takhta kasih karunia (bukan takhta penghakiman) untuk menemukan kemurahan dan anugerah pada saat kita membutuhkannya (baca Ibrani 4:15-16).

Allah katakan dalam Yesaya 41:10,

janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau,
janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu;
Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau;
Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.

Jadi, dimanapun Anda hari ini, entah itu di ujung perkawinan, tantangan keuangan atau masalah kesehatan, ketahuilah bahwa Allah bersama Anda.

Sahabat, Dia ada bersama Anda melewati itu semua. Allah yang adalah pemilik Sorga juga adalah Allah yang berada di lembah dan Dia berkata kepada Anda, “Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.”

Tangan kanan-Nya adalah Yesus, yang selalu bersama Anda. Anda mungkin tidak melihat fisik-Nya tetapi Dia jauh lebih nyata ketimbang apapun yang Anda dapat sentuh, rasakan atau pegang.

• Setiap ujian yang Anda hadapi adalah kesempatan bagi Anda melihat Yesus dan kasih karunia-Nya dengan cara yang baru. Setiap kali Anda menghadapi ujian, Anda mengalami Dia dalam dimensi yang baru.

Allah mengizinkan Anda menghadapi ujian bukan supaya Ia dapat mengajarkan kerendahan hati dalam kekalahan atau mengajar Anda pelajaran moral. Ia mengizinkannya supaya kasih karunia-Nya disingkapkan dengan cara baru, supaya Anda dapat mengalami kasih-Nya dan merasa tenang di dalam kasih itu.

Ada hal menarik yang saya temukan mengenai Allah yang membuat saya terpaku dalam kekaguman yakni ketika Ia berjalan bersama umat Israel dalam perjalanan ke Tanah Perjanjian, Ulangan 8:1-5:

Segenap perintah, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, haruslah kamu lakukan dengan setia, supaya kamu hidup dan bertambah banyak dan kamu memasuki serta menduduki negeri yang dijanjikan Tuhan dengan sumpah kepada nenek moyangmu. 2Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak Tuhan, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, yakni, apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak.

Perhatikan ayat 3-5:

3Jadi Ia merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna, yang tidak kaukenal dan yang juga tidak dikenal oleh nenek moyangmu, untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan Tuhan. 4Pakaianmu tidaklah menjadi buruk di tubuhmu dan kakimu tidaklah menjadi bengkak selama empat puluh tahun ini. 5Maka haruslah engkau insaf, bahwa Tuhan, Allahmu, mengajari engkau seperti seseorang mengajari anaknya.

Perjalanan orang Israel menempuh padang gurun adalah cara Allah memperlihatkan bagaimana Ia mengajar (chastens). Sayang sekali pemahaman kita mengenai pengajaran (chastisements) bukan seperti yang Alkitab katakan. Pengajaran bukan berarti Allah membalas atau menghukum kesalahan kita.

Kata yang digunakan untuk menggambarkan bagaimana Allah mengajar kita adalah ‘scourge‘ (yang disalahterjemahkan sebagai menghajar, mencambuk), padahal artinya adalah menyelidiki secara mendalam untuk kepentingan memberi arahan dan melatih/mengajar/mendidik (anak).

Pelatihan Allah adalah terkait dengan posisi kita sebagai anak (Sonship) lewat ujian. Inilah yang penulis Ibrani maksudkan saat ia menulis pasal 12 tentang Allah mendidik orang yang dikasihi-Nya.

Anakku, jangan engkau menolak didikan Tuhan...”

Didikan dalam kalimat ini diterjemahkan dari kata ‘paideo‘ – pendidikan atau pelatihan anak.

Ibrani 12 katakan Allah mendisiplin atau mendidik kita layaknya seorang ayah mendidik anaknya. Tidak ada ayah, baik atau buruk, yang akan menghajar atau mencambuk anaknya, seperti prajurit Romawi mencambuk Yesus. Itu kiasan yang tidak layak diterapkan kapanpun dimanapun pada usia berapapun. Allah tidak mendidik kita dengan cambuk. Dia mengasuh kita.

Konteks Ibrani pasal 12 adalah orang Kristen yang sedang dalam penganiayaan karena iman mereka (lihat Ibrani 11, saat menyebutkan nama-nama pahlawan iman). Adalah suatu pemutarbalikan jika mengatakan kepada orang percaya yang sedang berada di bawah ancaman aniaya Allah-lah oknum yang sedang menganiaya mereka.

Penulis Ibrani sedang menguatkan dan memberi mereka semangat (Ibrani 12:3, 5). Mendengar bahwa Allah-lah yang sedang menganiaya mereka pasti bukan sesuatu yang menguatkan dan memberi semangat. Itu mematahkan semangat. Tidak cocok dengan konteksnya.
• Allah mengizinkan kita melewati ujian karena Dia sudah mengalahkannya demi kepentingan kita. Kita berjalan melewati ujian untuk mengalami dan menikmati kemenangan-Nya. Saat kita menikmati kemenangan itu, status kita sebagai anak mengalami manifestasi yang semakin besar dan nyata, yang adalah untuk kepentingan kita sendiri, yakni menyingkapkan karakter sejati -dalam proses penuh kesabaran- menghasilkan buah kebenaran yang sempurna di dalam kita.
Simeon Edigbe: The Purpose of Trials; February 7, 2017.
http://reigninglife.blogspot.co.id/2017/02/the-purpose

Advertisements