YESUS BUKANLAH MAWAR SARON


Kidung Agung 2:1-3 New International Version
(Mempelai perempuan)

Akulah bunga mawar dari Saron,
bunga bakung di lembah-lembah.

(Mempelai laki-laki)

Seperti bunga bakung di antara duri-duri,
demikianlah manisku di antara gadis-gadis.


Sahabat,

Harap dicatat Yesus bukanlah bunga mawar Saron dan bukan pula bunga bakung yang di lembah. Mawar memang umum ditemukan di dataran Saron sedangkan bunga bakung biasanya ditemukan di lembah. Penulis menunjukkan bahwa mawar Saron dan bunga bakung adalah seorang perempuan. Perempuan yang menganggap dirinya adalah sesuatu yang umum, yang jamak ditemukan. Pada pasal satu perempuan ini mengatakan bahwa dia berkulit hitam dan kasar karena dia dipaksa bekerja di ladang.

Kidung Agung 1:5-7 New International Version

5
Memang hitam aku, tetapi cantik,

hai puteri-puteri Yerusalem,


seperti kemah orang Kedar,


seperti tirai-tirai Salomo.


6
Jangan menatapku karena aku hitam,

karena aku terbakar oleh terik matahari.


Putera-putera ibuku marah kepadaku


dan menjadikan aku pemelihara kebun-kebun anggur;


kebun anggurku sendiri harus kuabaikan.


7
Ceriterakanlah kepadaku, kekasih hatiku,
dimanakah kakanda menggembalakan domba dan
dimanakah kakanda membaringkan domba-dombamu di tengah hari.
Mengapakah aku akan jadi serupa perempuan bertelekung di samping kawanan domba teman-temanmu?

Perempuan itu mengatakan dia tidak seperti perempuan lain pada zamannya. Dia mengatakan kulitnya tidak putih mulus, tangannya tidak lembut tetapi kasar karena dia juga harus mengurus kebun anggur keluarga, dia tidak disayangi oleh keluarganya, dia berkulit hitam. Dia jelas berpikir dirinya tidak layak. Dia tidak mengerti mengapa kekasihnya menganggap dirinya cantik. Dia katakan dirinya adalah sesuatu yang biasa ditemukan.

Sahabatku…
Perempuan itu adalah KITA. Kita-lah mawar Saron dan bunga bakung di lembah.

Seseorang yang memandang kita sebagai bunga bakung di antara duri-duri adalah Yesus. Dia memandang kita sebagai sesuatu yang spesial, tidak umum. Dia tidak pernah menganggap kita sebagai sesuatu yang ‘biasa.’ Dia menganggap kita sebagai sesuatu yang luar biasa. Dia melihat kita sebagaimana adanya kita.
Dia berseru kepada kita demikian:

“… perlihatkanlah wajahmu,

perdengarkanlah suaramu!

Karena merdu suaramu

dan elok wajahmu!”
(Kidung Agung 2:14)

Dia kemudian berbicara tentang kesempurnaan diri sang kekasih. Izinkan saya menyatakannya dengan bahasa saat ini …

Kidung Agung 4:1-7 New International Version

1
Betapa cantiknya engkau, cintaku!
Betapa cantiknya!
Matamu di balik telekungmu bagai merpati.

(Anda adalah pemandangan indah bagi mata yang sakit)

Rambutmu bagaikan kawanan kambing yang turun dari pegunungan Gilead.
(Rambut Anda seperti rambut gadis dalam iklan sampo)

2Gigimu bagaikan kawanan domba yang baru saja dicukur,
yang keluar dari tempat pembasuhan.

(Putih sempurna! Pikirkan iklan ‘Colgate’)

Yang beranak kembar semuanya;
tidak ada yang hanya beranak satu.


3
Bibirmu bagaikan seutas pita kirmizi,
dan mulutmu sungguh manis.

(Pikirkan bibir merah Angelina Jolie)

Pelipismu di balik telekungmu bagaikan belahan buah delima.

4
Lehermu seperti menara Daud, tersusun rapi dari batu-batu.
(Pikirkan leher Audrey Hepburn dalam ‘Breakfast at Tiffany‘)

Yang padanya tergantung seribu perisai,

semuanya perisai para pahlawan.


5
Buah dadamu bagaikan dua anak rusa,
(Hati-hati dengan imajinasi Anda)

seperti anak kembar kijang

yang makan rumput di tengah-tengah bunga bakung.


6
Saat hari berakhir dan bayang-bayang menghilang,
aku akan pergi ke gunung kemenyan dan ke bukit dupa.

(Tubuh Anda wangi sekali)

Engkau cantik sekali, manisku,

tak ada cacat cela padamu.

Yesus benar-benar tidak melihat ada cacat cela dalam diri Anda.
Dalam Surat Efesus Paulus menyatakannya dengan cara yang paling tidak romantis:

supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.”
(Efesus 5:27)
Salomo sang penyair menyatakannya demikian:

Kidung Agung 4:9

9
Engkau telah mencuri hatiku, dinda, pengantinku,
engkau telah mencuri hatiku dengan satu kejapan matamu,

dengan satu permata dari perhiasan lehermu.


Versi saya?

Yesus jatuh cinta kepada Anda pertama kali Dia memandang Anda.

Lihatlah cara Yesus mengasihi Anda, bukan sebagai sesuatu yang ‘biasa,’ tetapi sesuatu yang kudus dan tidak bercela.

Damai sejahtera!
Simon Yap: Jesus is not the Rose of Sharon; April 7, 2013.
https://hischarisisenough.wordpress.com/2013/04/07/jesus-is-not-the-rose-of-sharon/

Advertisements