ZAMAN PERJANJIAN YANG LAMA TELAH BERLALU

Menurut statistik, kota modern Yerusalem memiliki sebelas gerbang, namun hanya tujuh gerbang yang dibuka. Gerbang timur telah lama ditutup sebagai lambang penolakan masuknya Mesias ke Yerusalem. Ini sangat kontras dengan Yerusalem Baru yang Yohanes lihat, yang akan memiliki dua belas gerbang terbuka, gerbang yang tidak akan pernah ditutup.

Ketika Romawi menghancurkan Bait Suci Israel pada tahun 70 Masehi, yang tersisa hanyalah dinding penahan bagian luar pelataran dan kompleks Bait Suci. Dinding luar penahan ini, orang Yahudi menyebutnya Kotel ha-Ma’aravi, dan orang Barat lazim menyebutnya Tembok Barat atau Tembok Ratapan. Selama brrabad-abad orang Yahudi dari seluruh dunia datang untuk berdoa di Tembok Ratapan. Mereka menempatkan potongan kertas yang disebut kvitlach yang berisi doa-doa ke celah-celah tembok setinggi 65 kaki (sekira 19 meter) itu, mengharapkan jawaban doa.

Sampai hari ini orang Yahudi masih berdoa demi perdamaian Yerusalem, sama seperti yang dilakukan nenek moyang mereka di Perjanjian Lama. Mereka berdoa tiga kali sehari selama ribuan tahun, “Kepada Yerusalem, kota-Mu, kami akan kembali dengan sukacita,” dan mengutip sumpah pemazmur: “Jika aku melupakan engkau, hai Yerusalem, biarlah menjadi kering tangan kananku!” (Mazmur 137:5).

Kitab 1 dan 2 Samuel, 1 dan 2 Raja-raja, serta 1 dan 2 Tawarikh, bersama hampir seluruh nabi Perjanjian Lama Israel menyampaikan kepada kita informasi rinci tentang ketidaksetiaan Israel terhadap perjanjian dengan Yahweh, yang menyebabkan orang Israel dibuang ke Babel dan mengapa Bait Suci pertama (yang dibangun Salomo) yang megah itu hancur. Nabi besar seperti Yeremia, Yehezkiel dan Yesaya dikirim oleh Allah untuk memperingatkan Israel tentang kejatuhan mereka. Bait Suci Salomo dibakar setelah jatuhnya korban jiwa yang besar tanggal 9 bulan Av 586 SM. Sebuah restorasi dinubuatkan oleh Allah melalui para nabi-Nya dan hal itu digenapi oleh pemulihan bertahap yang puncaknya adalah pembangunan kembali Yerusalem.

600 tahun kemudian Yesus sang Mesias tiba, Israel sekali lagi berada di tempat terendah di antara bangsa-bangsa di Timur Tengah. Tapi ada sesuatu yang terjadi yang dicatat oleh orang Yahudi. Sesuatu yang bisa kita lihat ke belakang dan perhatikan yakni yang Paulus katakan dalam 2 Korintus 3:7:

Pelayanan yang memimpin kepada kematian terukir dengan huruf pada loh-loh batu. Namun demikian kemuliaan Allah menyertainya waktu ia diberikan. Sebab sekalipun pudar juga, cahaya muka Musa begitu cemerlang, sehingga mata orang-orang Israel tidak tahan menatapnya.

Kekuatan militer besar Israel yang dinikmati bangsa itu di bawah pemerintahan Raja Daud telah berlalu. Israel telah menjadi negara bawahan (vassal state) kekuasaan asing selama berabad-abad. Bukan lagi kerajaan mulia seperti yang pernah mereka alami. Mereka berharap datangnya seorang mesias akan mengembalikan semua kejayaan itu. Mereka tidak menyadari rencana Allah melalui perjanjian-Nya dengan Abraham: menjadi berkat bagi semua bangsa.

Satu-satunya hal yang tersisa dari masa lalu adalah korban bakaran dan persembahan yang menjadi ciri Yudaisme. Imamat telah menjadi institusi bobrok, bahkan menghalang-halangi orang yang datang untuk menyembah Tuhan dengan rintangan sulit yang mereka taruh di pundak umat sebagai kuk berat. Terdapat begitu banyak intrik internal politis yang membuat mereka terbagi menjadi beberapa faksi: kalangan Herodian, Hellenis, Farisi, Saduki, Essenia, dan Ahli Taurat.

Seperti yang pernah penulis Ibrani katakan,

Kepada korban bakaran dan korban penghapus dosa Engkau tidak berkenan” (Ibrani 10:6).

Ketika murid-murid berbangga tentang kemegahan Bait Suci kepada Yesus di Matius 24, mereka mendapat tanggapan mengejutkan, yang merupakan nubuat Yesus yang paling panjang. Yesus bernubuat tentang akhir zaman Yahudi, juga melihat Bait dan kota itu akan terbakar seperti yang terjadi pada tahun 586 SM. Sayangnya, sebagian besar orang Kristen menganggap nubuat ini sebagai akhir dunia dan mengabaikan relevansi pesan ini kepada khalayak aslinya.

Dalam sebuah khotbah yang disampaikannya pada tahun 1865 (Tabernacle Pulpit, Vol. XXXVII, halaman 354), C.H. Spurgeon mengatakan:

Pernahkah Anda pernah menyesali ketiadaan korban bakaran, atau lembu merah, atau salah satu pengorbanan dan ritual orang Yahudi? Pernahkah Anda pernah merindukan Hari Raya Pondok Daun, atau bentuk dedikasi apapun? Tidak, karena, meskipun hal ini ibarat langit dan bumi bagi orang Yahudi, langit dan bumi itu telah berlalu dan sekarang kita hidup di bawah langit dan bumi yang baru, menurut dispensasi pengajaran ilahi. Yang sebenarnya telah datang, dan bayangannya telah berlalu; dan kita tidak mengingatnya lagi.”

Setelah kebangkitan Yesus, para rasul menerima amanat untuk memberitakan firman keselamatan yang tidak tersedia di zaman perjanjian yang lama. Pesan ini juga menyediakan kelepasan dan perlindungan bagi mereka dari malapetaka yang akan datang, yang dikenal sebagai pencurahan murka Allah. Lihatlah apa yang penulis Ibrani katakan:

Supaya oleh dua kenyataan yang tidak berubah-ubah, tentang mana Allah tidak mungkin berdusta, kita yang mencari perlindungan, beroleh dorongan yang kuat untuk menjangkau pengharapan yang terletak di depan kita” (Ibrani 6:18).

Para rasul menunjukkan kepada orang Israel betapa mereka buta mengenali rencana Allah dan bahkan membunuh rekan perjanjian mereka. Para rasul memperlihatkan kepada mereka betapa mereka telah benar-benar melewatkan lawatan Allah, lawatan yang dipersonifikasikan/menjelma dalam Putera tunggal-Nya, Yesus Kristus. Lihatlah yang Petrus katakan:

Hai saudara-saudara, aku tahu bahwa kamu telah berbuat demikian karena ketidaktahuan, sama seperti semua pemimpin kamu. Tetapi dengan jalan demikian Allah telah menggenapi apa yang telah difirmankan-Nya dahulu dengan perantaraan nabi-nabi-Nya, yaitu bahwa Mesias yang diutus-Nya harus menderita. Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan, agar Tuhan mendatangkan waktu kelegaan, dan mengutus Yesus, yang dari semula diuntukkan bagimu sebagai Kristus. Kristus itu harus tinggal di sorga sampai waktu pemulihan segala sesuatu, seperti yang difirmankan Allah dengan perantaraan nabi-nabi-Nya yang kudus di zaman dahulu. Bukankah telah dikatakan Musa: Tuhan Allah akan membangkitkan bagimu seorang nabi dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku: Dengarkanlah dia dalam segala sesuatu yang akan dikatakannya kepadamu. Dan akan terjadi, bahwa semua orang yang tidak mendengarkan nabi itu, akan dibasmi dari umat kita. Dan semua nabi yang pernah berbicara, mulai dari Samuel, dan sesudah dia, telah bernubuat tentang zaman ini” (Kisah Para Rasul 3:17‭-‬24).

Sekitar 40 tahun kemudian (32 Masehi hingga 70 Masehi), persis seperti yang dinubuatkan oleh Yesus Kristus, Bait Suci Herodes yang megah itu hancur total, tidak meninggalkan satu batu pun di atas batu lain. Hampir semua orang Yahudi terjebak dalam malapetaka yang sebenarnya dapat dihindari itu, yang telah dinubuatkan selama lebih dari 2.000 tahun.

Berikut pernyataan historis yang dibuat oleh Darrell G. Young, dalam artikelnya “Oh Yerusalem, Engkau yang Membunuh Para Nabi”:

Orang-orang fanatik Yahudi (kaum Zelot), bereaksi menentang kampanye Caligula dengan memulai sebuah pemberontakan melawan Roma, sebuah pemberontakan yang memancing tentara legiun Romawi dari Suriah menghancurkan persediaan makanan kaum Zelot dan penduduk Yahudi setempat. Penduduk kota Yerusalem meninggal dalam jumlah besar karena kelaparan (Lukas 21:20-23). Jenderal Romawi Titus (kemudian menjadi kaisar) mengepung kota tersebut, dimulai pada bulan April 70 Masehi. Dia menempatkan legiun ke-10 di Bukit Zaitun, persis di sebelah timur dan berhadapan langsung dengan ke Bait Suci. Legiun ke-12 dan ke-15 ditempatkan di Gunung Scopus, yang letaknya lebih ke timur dan menguasai semua jalan menuju dan dari Yerusalem dari timur hingga utara. Pada tanggal 10 Agustus 70 April (tanggal 9 bulan Av dalam perhitungan kalender Yahudi), persis hari ketika Raja Babel membakar Bait Suci pada tahun 586 SM, Bait Suci terbakar kembali. Titus menaklukkan kota itu dan membakarnya, membakar Bait Suci, tanpa meninggalkan satu batu di atas yang lain. Dengan demikian, Yerusalem benar-benar hancur dan seperti yang dinubuatkan Yesus, tidak ada satu batu pun berada di atas yang lain. Ketika Bait Suci dibakar, tentara Romawi membongkar batu-batu itu untuk mendapatkan emas yang meleleh. Menorah dan perkakas Bait Suci dibawa ke Roma dan perbendaharaan dirampok. Tetapi mungkin nubuat yang paling menakjubkan tentang penghancuran Yerusalem oleh Roma adalah nubuat Daniel, bahwa Bait Suci dihancurkan hanya setelah Mesias datang, bukan sebelum Dia menyatakan diri kepada Israel! (Daniel 9:26, Lukas 19:41-45).”

Ini menjelaskan mengapa Yohanes tidak melihat adanya bait suci di langit yang baru dan bumi yang baru dalam Wahyu 21:

Dan aku tidak melihat Bait Suci di dalamnya; sebab Allah, Tuhan Yang Mahakuasa, adalah Bait Sucinya, demikian juga Anak Domba itu” (Wahyu 21:22).

Akhir zaman perjanjian lama terjadi bersamaan dengan berdirinya Kerajaan Allah di bumi. Sejak itu kerajaan tersebut telah meluas dan dinyatakan di segala tempat di bumi. Pekabaran Injil telah menyebabkan transformasi dalam budaya yang akan berlanjut sesuai dengan kodrat Kerajaan. Zaman perjanjian lama memudar seiring berjalannya waktu, sementara zaman yang baru akan terus menyebar dan bertambah dalam kemuliaan dan kemegahan dan akan melampaui yang pertama sehingga yang pertama tidak akan diingat lagi dengan cara apapun.

Rayakanlah zaman perjanjian baru ini. Zaman yang tidak akan pernah berlalu.

Bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-lamanya. Amin” (Efesus 3:21).
Simeon Edigbe: How the Old Covenant World Aged Away; April 5, 2016.

http://reigninglife.blogspot.co.id/2016/04/how-old-covenant-world-aged-away.html?m=1

Advertisements